Pesona Sang Madu 4
Zahra
Pov Zahra
Sudah hampir dua tahun aku berpisah dengan Mbak Zaimah, Mbak ku itu terpaksa mengikuti suaminya ke Jambi. Aku tidak bisa ikut bersama mereka karena tempat kerja Mas Gun bukanlah di kota melainkan di perkampungan yang sangat jauh dari pusat kota, sebuah perkebunan yang jauh di pedalaman. Akses kesana juga mesti melewati jalanan tanpa aspal, susah jaringan telepon dan kantornya hanya menyediakan mess yang terdiri dari satu kamar tidur, ruang tamu, dapur dan satu kamar mandi. Aku memutuskan untuk tetap tinggal di kampungku karena tidak mungkin aku terus menumpang hidup pada mereka sementara kondisi yang mereka hadapi bukanlah kondisi yang tepat untuk menampungku.
Mbak Zaimah sebenarnya bersikeras membawaku supaya mau ikut bersama mereka. Bagaimanapun, kami hanya tinggal berdua, orang tua kami sudah lama meninggal dunia. Wajar jika ia sangat mempedulikanku dan tidak tega meninggalkanku seorang diri. Namun, aku berhasil meyakinkannya jika aku bisa menjaga diriku dengan baik, meskipun aku hidup sendiri. Karena aku sudah terbiasa hidup susah dari kecil dan aku cukup mandiri di usiaku saat itu.
Beruntung di kampung sebelah, sebuah toko sembako membutuhkan seseorang untuk membantu mereka melayani pembeli. Atas bantuan Pak RT di kampungku yang berteman baik dengan Pak Hendra, bapak pemilik toko, aku di pekerjakan disana atas rekomendasi dari beliau. Pak Hendra menyediakan sebuah kamar kecil di bagian belakang ruko untuk aku tempati di malam hari. Sangat menguntungkan bagiku yang tidak punya apa-apa lagi. Sementara Pak Hendra dan keluarganya tinggal tidak jauh dari toko. Mbak Zaimah sangat senang mendengarnya, jadi aku bisa yakinkan kalau dia tidak perlu mencemaskanku lagi. Setidaknya, aku sudah punya tempat untuk berlindung dan aku bisa memenuhi kebutuhanku dari gaji yang aku dapat dari pelayan toko.
Satu tahun pertama aku bekerja bersama Pak Hendra, aku berusaha bekerja sebaik mungkin. Aku tidak ingin mengecewakan beliau dengan hasil kerjaku yang buruk, karena satu-satu nya yang aku punya sekarang hanya tempat ini. Tidak mungkin aku mengecewakan nya, karena aku takut jika dia kecewa, dia akan mencari penggantiku. Kemana aku akan pergi jika hal itu terjadi? Karena itu, aku harus menjadi karyawan yang patuh dan dipercaya. Istri Pak Hendra juga sangat baik padaku, dia menganggap aku seperti anaknya sendiri. Jika megantarkan makan siang untuk suaminya, dia selalu melebihkan makanan tersebut untukku. Aku sangat menghormati mereka, menganggap mereka pengganti orang tuaku yang sudah lama meninggal dunia.
Beberapa bulan terakhir, aku merasakan ada hal yang aneh pada sikap Pak Hendra kepadaku. Dia sering menatapku, tidak hanya menatap, bahkan dia dengan sengaja menyentuh tanganku. Dengan berpura-pura memberikan uang pelanggan dan menyuruhku mengambilkan kembaliannya, aku sadari ketika saat itulah, dia mulai berani menyentuh jemari tanganku.
Aku mencoba bersikap biasa saja, tidak mau berfikir negatif pada orang yang telah bersedia menampungku. Namun, sikap Pak Hendra semakin lama semakin tidak terkendali. Ia bahkan dengan bebas masuk ke kamar tidurku dengan alasan ia ingin tidur siang dan beristirahat sebentar. Hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini. Semua perlakuannya itu membuat aku tidak nyaman. Aku bahkan tidak berani masuk ke kamarku jika masih ada dia di toko.
Siang ini, Mbak Zaimah mengirimiku sebuah pesan. Seperti inilah aku berkomunikasi dengan kakakku satu-satunya. Dia mengirimiku pesan, lalu aku membalasnya. Pesan yang aku balas bisa sampai tiga jam bahkan satu hari untuk bisa di terimanya, katanya tergantung jaringan yang ada di daerahnya. Jika Mbak Zaimah berjalan ke arah bukit maka ia akan mendapat sinyal, tapi sinyal yang di dapatnya tidak bisa dipakai untuk berbicara lewat telepon karena jaringan yang buruk suara kita tidak terdengar dengan baik saat bertelepon. Jadi kami hanya berkirim pesan untuk saling bertukar kabar.
[Dek, teman mbak, Lyra, ingin bertemu denganmu. Mbak udah kasih nomor Hp mu. Kamu masih ingat dia, kan?]
Hanya itu isi pesannya padaku. Benar saja, Mbak Lyra menghubungiku. Katanya ada yang mau disampaikan padaku. Aku menerima ajakannya untuk makan siang tidak jauh dari toko sembako tempat aku bekerja. Aku meminta izin pada Pak Hendra untuk menemui Mbak Lyra, awalnya dia menolak tidak memberiku izin, tapi aku bersikeras dengan alasan aku akan memakai jam istirahatku untuk makan siang bersama Mbak Lyra, akhirnya dia mengizinkan aku keluar.
“Mbak melamarku untuk menjadi istri kedua?” tanyaku dengan alis terangkat. Aku cukup heran dengan permintaanya. Tidak pernah aku temui seorang istri mencarikan istri lain untuk suaminya.
“Iya Dek, mbak ingin kamu menjadi adek madu mbak.” Mbak Lyra menjawab pertanyaanku dengan tenang.
Tentu saja aku langsung menolaknya. Aku tidak pernah punya cita-cita untuk menjadi istri kedua, kecuali istri pertama orang itu sudah meninggal.
“Aku tidak mau Mbak, maaf.” kataku tegas.
Mbak Lyra memandangku sejenak, lalu dia menghirup nafasnya sebentar kemudian melepaskannya.
“Dek, dengarkan dulu penjelasan mbak.” katanya kemudian.
Lalu dia menceritakan kisah rumah tangganya kepadaku, suaminya yang anak tunggal, mama mertuanya yang sudah meminta cucu, lalu keadaannya yang mandul sehingga tidak memungkinkan untuk memeberi keturunan pada suaminya. Sebuah kisah yang dirahasiakannya pada keluarga besarnya sehingga ia mencari aku supaya bisa menikah dengan suaminya dan memberikannya seorang anak.
“Mbak meminta aku untuk menyerahkan anak kandungku sendiri?” tanyaku gusar.
“Begini Dek, jangan salah paham dulu.” Mbak Lyra terlihat berusaha mencari kata-kata yang baik dulu sebelum melanjutkan ucapannya.
“Kami akan memberi apapun yang kamu minta. Asalkan kamu mau membantu mbak.”
Begitulah jawaban yang diberi Mbak Lyra ketika aku mempertanyakan perihal memberikan anakku padanya.
“Tidak akan pernah, Mbak. Aku tidak akan menjual anak kandungku dengan apapun di dunia ini. Aku tidak menyangka mbak bisa sekeji ini. Mbak tidak punya perasaan!”
Lalu aku pergi meninggalkan Mbak Lyra yang terdiam di sudut rumah makan.
Pak Hendra memandang tidak senang ketika aku memasuki toko, aku memang terlambat beberapa menit. Setelah mengucapkan kata maaf, aku langsung mengambil alih pekerjaanku dari Pak Hendra. Ia kemudian duduk di meja kasir sambil menatapku dengan pandangan yang tidak bisa aku artikan.
***
“Pak, sudah malam. Tokonya tidak di tutup?” tanyaku.
“Sebentar lagi, masih ada yang mau saya kerjakan.” jawabnya sambil menghitung beberapa nota pembelian dengan kalkulator besar.
Aku melirik jam yang tergantung di tengah dinding yang luas ini, sudah jam delapan malam, biasanya jam segini toko sudah tutup dan Pak Hendra sudah pulang ke rumahnya dan pekerjaan hitung menghitung tersebut selalu dibawa Pak Hendra kerumahnya.
“Kalau mau tidur, tidur saja. Biar saya yang tutup toko nanti.” katanya lagi.
Aku segera masuk ke kamarku dan mengunci pintu dari dalam. Perasaanku tidak enak malam ini, setelah sholat Isya aku berdoa kepada tuhan, meminta perlindungan dari siapapun yang ingin berniat jahat kepadaku.
Aku terbangun ketika menyadari seseorang meraba-raba tubuhku. Mataku melotot dan aku nyaris saja berteriak jika tangan besar itu tidak menyumpal mulutku. Entah bagaimana caranya Pak Hendra berada di dalam kamarku sekarang. Kedua tangan dan kakiku sudah terikat di kedua sisi ranjang. Aku benar-benar tidak bisa bergerak.
“Jangan berteriak, atau saya akan membunuhmu.” Dia mengancamku sambil mengacungkan sebuah pisau dengan tangan satunya lagi. Lalu dengan cepat, ia menciumku dengan paksa. Aku berusaha menolak dengan menggigit bibirnya
Apa yang bisa aku lakukan saat ini selain berdoa? Aku benar-benar mengharapkan datangnya kekuatan doa.
‘Ya tuhan, mohon lindungi aku dari laki-laki ini.’ jeritku di dalam hati.
Air mataku jatuh bersamaan dengan bibir pak Hendra menyapu wajah dan leherku. Ya tuhan, aku benar-benar tidak kuat menerima takdir yang ada di depanku sekarang. Sembari menangis, aku memohon keajaiban pada tuhan.
Buukkk...
Pak Hendra jatuh terkulai di sampingku. Di belakangnya, istrinya berdiri dengan memegang sebuah balok kayu. Seketika aku bernafas lega,
“Bu...” Aku menatap istrinya, menyebut namanya sambil memohon. Menyatakan jika aku tidak bersalah.
“Pergilah, pergi jauh dari sini.” katanya sambil melepaskan ikatan kaki dan tanganku.
Tanpa berfikir panjang, aku langsung berlari keluar dari bangunan tersebut. Hanya satu tempat tujuanku saat ini, yaitu, Mbak Lyra.