Jeda Keduapuluh Empat

1673 Kata

Waktu siaran masih akan dimulai satu jam lagi, namun perutku sudah kram karena tertawa. Kuajak Kelvin beranjak dari kafe dan siap berangkat ke kantor. “Masih ada waktu Ra, mau nongkrong di mana lagi?” “Beli kopi aja sebentar terus otewe kantor ya Vin, nggak apa – apa nunggu sebentar di studio daripada terlambat.” Kelvin menyetujui ideku, kami pun menyusuri jalan raya dan mencari coffee shop terdekat dari kantor. “Feeling better, Ra?” Tanya Kelvin dengan senyum puas di wajah. Dan senyumnya menular, kini aku bisa menarik ujung – ujung bibirku dengan tulus dan mengangguk semangat. “Makasi Vin.” Kelvin meraih kepalaku dan mengelusnya lembut. “Dari semua ekspresi wajah yang lo punya, senyum lo adalah yang tercantik. Keep it up, Ra.” Aku pikir, sudah waktunya berhenti mengasihani diri.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN