“Ra?” Kelvin menarik selimut yang kugunakan untuk menghangatkan kaki. Aku menoleh dan tersenyum padanya sambil mengangkat gelas berisi coklat panas. Kami sudah berada di penginapan, Irza sedang menelpon pacarnya di kamar. Sementara aku masih betah melamun di ruang tamu dengan segelas minuman hangat dan selimut tebal. “Mau popmi?” Tawar Kelvin, aku mengangguk antusias. “Lagi mikirin apa sih? Serius banget.” Pertemuan tak terduga dengan Ferry, teman satu almamater Eda membuatku banyak mengingat masa – masa pacaran kami. Informasi Ferry yang sulit kupercaya adalah bagaimana Eda menceritakan tentangku di hadapan teman – temannya. Bahkan jika mendengar cerita Ferry, tampak Eda dengan bangga mengakuiku sebagai kekasihnya. Tentu saja informasi ini cukup menggangguku. Namun, hanya gelengan kep

