Eda yang sudah selesai sholat kembali dan meletakkan sajadah di tempat tadi ia mengambilnya. Dia mengambil peralatan dokternya yang baru kulihat berada di atas meja. Eda memintaku membuka mulut dan meletakkan ujung termometer di bawah lidahku selama beberapa menit hingga alat itu berbunyi tanda selesai mengukur suhu tubuh. “Cek darah ya Ra. Demam kamu belum turun juga.” Sekarang Eda mengeluarkan tensi meter dan mulai mengukur tekanan darahku. “Nanti juga sembuh. Kecapekan mungkin dari Bromo kemarin.” Jawabku lemah. Eda menekan perutku pelan, namun terasa sangat sakit bagiku hingga tanpa sengaja aku mengaduh. Dia memintaku membuka mulut serta mengeluarkan lidah. “Ini gejala tipes.” Eda menggulung lengan bajuku dan menunjukkan ruam merah di beberapa titik. “Ini juga.” “Demam berdarah?”

