Aku memikirkan tentang ucapan Kelvin malam tadi. Memutuskan Eda dan memulai kisah baru dengannya. Tapi aku perlu bicara dulu dengan Eda, dari hati ke hati. Tapi mengapa melihat balasan pesannya yang singkat, membuatku semakin bertekad untuk memutuskannya. Ya, Eda tidak akan berubah. Dia akan selalu se-pasif itu. Membuatku muak karena harus selalu menjadi yang pertama menghubungi, pertama bertanya, pertama bicara. Tatapanku kembali ke layar ponsel yang menampilkan pesan terakhir Eda. Ketika aku bertanya mengenai jadwalnya libur, jawabannya hanya satu kata. ‘Minggu.’ Tidak ada kata – kata lain yang mengiringi sebagai bentuk kerinduannya padaku, mungkin. Atau bentuk perhatian yang lain, selain rutin membawakanku multivitamin. Entah apa yang merasukiku, kutulis pesan padanya. ‘Bang, aku m

