Jeda Keduapuluh Satu

1098 Kata

Eda menyapa dan bertanya dari mana aku pergi. Aku menjawab apa adanya. Kupersilakan dia duduk dan mengambilkan air minum untuknya dan untukku. “Kalau capek, Abang harusnya istirahat saja.” Aku meletakkan segelas air di  meja kecil dan melihat Eda menguap beberapa kali, wajah lelahnya tidak bisa membohongi. “Kalian dekat?” Eda bertanya to the point saat aku baru saja menempelkan pantatku di kursi. “Atau ada yang Abang enggak tahu di antara kalian?” “Aku enggak pacaran diam - diam sama Kelvin.” Aku menjawab pertanyaan tak terlontarkan Eda. Setelah hening beberapa saat, kurasa sudah waktunya Eda tahu alasanku memutuskan hubungan kami. “Aku pikir kita enggak akan berhasil, Bang. Aku enggak pernah tahu apa yang Abang pikirkan, masalah – masalah Abang. Abang enggak pernah terbuka ke aku.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN