Aku masih bolak – balik ke kantor sebelum cuti dan resign. Selepas siaran, Bianca memaksaku untuk ikut ke salah satu kafe yang katanya rekomen banget. Aku hubungi Eda dan bertanya, dia mengatakan tidak apa – apa. Akhirnya kuturuti saja permintaan Bianca dan berpesan agar tidak pulang terlalu malam. “Yailah, dijemput Eda juga kan?” Aku menggeleng. Eda tadi mengatakan akan mengurus sesuatu. “Yaudah gue antar. Gue udah ajak Kenny, dia ada di sana.” Bianca mengemudikan mobilnya ke tempat tujuan. Sesampainya di sana, ternyata sudah berkumpul beberapa teman kami yang lain. Ada Mas Romi, Irza, Aga, Kenny, Iqbal bahkan Kelvin. Aku menatap Kenny penuh arti, karena biasanya dia tidak mau hadir jika ada Aga. Namun Kenny menjawab dengan berbisik, “kali ini aja gue tahan amarah demi lo.” Aku ter

