Kami kembali ke kost setelah makan malam bersama dengan dua keluarga yang akan bersatu. Tidak ada istilah pingit – pingitan, menurut Eda itu semua tergantung kepercayaan kita saja. Memang katanya ujian orang yang menikah itu besar, tapi menurut Eda manusia paling logis se-antero Jakarta, itu karena beban dan kelelahan mengurus ini – itu. Maka dari itu, alih – alih melamarku dengan romantis seperti di film – film, Eda memilih membicarakannya dengan ayah. Saat kutanya alasannya, “ya yang nikahi kamu nanti kan Ayah. Beliau enggak mau, enggak ada yang bisa nikahin kamu Ra.” Benar juga sih. “Tapi aku juga punya hak suara Bang, hak berpendapat.” “Beda cerita kalau Abang enggak kenal kamu dalam hitungan tahun Ra. Abang yakin kamu enggak akan nolak kok.” Aku merapatkan bibir. Percaya diri sek

