Tak Direstui

1536 Kata
"Nih, bola bekel," ujar Candra menyerahkan bola bekel miliknya. Rangga menerimanya dengan kebingungan, ia tak mengerti dengan sikap Candra yng tiba-tiba itu. "Kenapa sih, lo?" tanya Rangga bingung. Candra menunjuk kursi belajarnya agar Rangga duduk, lalu ia duduk di tepi ranjang yang memiliki seprai kasur berwarna maroon gambar lambang club bola entah club bola mana. "Gue yang harusnya tanya ke lo, Ga. Gue gak ngerti kenapa gue perhatiin sejak tadi lo selalu merhatiin dan caper sama Kakak gue?" Mendengar pertanyaan bernada dingin itu, Rangga langsung mematung dan memberikan reaksi yang membuat Candra tambah yakin kalau tebakannya benar. "Lo mungkin bisa boongin sahabat kita yang lain, tapi tentu aja lo gak bisa boongin gue, Ga." Rangga masih diam, ia tak tau harus berbuat apa, ia sudah tertangkap basah kalau begitu. Ia juga tak bisa membohongi Candra, ia tau resikonya, ia harus mengaku dan siap dimarahi atau dijauhi Candra. "Gue ... minta maaf, gue gak bermaksud boongin siapapun, tapi gue ...." "Shiiiit!" Oke, Candra sudah marah maksimal, jarang sekali Candra mengumpat seperti itu. Ia sangat tidak mengerti dengan dirinya sendiri, ia tau Candra pun begitu. "Kenapa harus Mba Dinda, woy! Dia Kakak gue, please, jangan dia ...." ujar Candra menggeram tak terima dengan kenyataan itu. "Gue sedang mencoba untuk ngilangin perasaan ini, Can. Gue bakal ngelakuin hal yang bikin gue lupa, gue sedang usaha, bukan gue gak mau, tapi belum bisa. Lo tau kan cinta gak bisa diusir dengan mudah, semudah ketika datang. Gue tau diri gue siapa, gue gak pantes buat Kak Dinda yang terlalu baik itu. Maafin gue," jelasnya panjang lebar. Matanya berkaca-kaca, ia tak mengerti dengan dirinya sendiri. Canda juga begitu, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya merasa hancur. Ia tak mengerti dengan serangkaian kejadian yang menimpanya. Dinda pun begitu, mereka memang sedang berusaha sembuh dari luka ketika kedua orang tua mereka pergi, lalu mereka berusaha untuk menghibur diri dengan teman dan keluarga, tetapi mengapa semua menjadi rumit. Ia memang dekat dengan Rangga, ia tau Rangga seperti apa. Rangga memang prik, ia jahil, ia kesepian, ia berani, ia kuat, ia bertanggung jawab, ia tak memiliki skandal tentang perempuan, image-nya bersih, ia luar biasa tampan, tetapi Candra tak bisa menerima jika ia menjadi kakak iparnya. Ia takut hubungan mereka jadi berubah dan canggung, ia hanya ingin Rangga menjadi sahabatnya selamanya, begitupun sahabatnya yang lain. "Can, gue minta maaf. Gue bakal ngejauhin Kakak lo, gue janji, gue bakal kurangin interaksi sama Kak Dinda, tapi please jangan jauhin gue. Gue salah, gue minta maaf ...." ujar Rangga. Ia lalu berdiri dan pergi dari kamar Rangga setelah mengusap air matanya yang entah sejak kapan jatuh. Candra hanya diam, ia merasa bersalah juga jika membuat Rangga merasa bersalah begitu. Rangga tak salah, dia hanya jatuh cinta, itu lumrah dan ia tak berhak menghakiminya. Menghakimi dan membuat pemuda kesepian itu sedih. Saat Rangga turun dari tangga dan berpapasan dengan Dinda yang masih sibuk bersih-bersih. "Hey, Rangga udah mau pulang?" Rangga agak canggung, ia hanya mengangguk dan tersenyum lebar seperti biasanya. "Nah, ini ada bingkisan buat keluarga yah. Terima kasih udah datang," ujar Dinda menyerahkan bingkisan berupa sekotak kue. Lagi-lagi Rangga hanya mengangguk dan tersenyum, melihat itu Dinda tak berani bertanya, aplaagi terlihat matanya agak memerah, apa yng terjadi padanya dan adiknya. "Kak, kau pulang dulu yah, assalamu'alaikum." Dinda mengangguk, "Wa'alaikumsalam, hati-hati." Pemuda itu menjauh membawa bingkisan pemberiannya, ia tak mengerti dengan emosi anak laki-laki, ketika mereka memiliki masalah, mereka cenderung lebih tertutup, padahal ia ingin membantu sedikit. Ia lalu menatap pintu kamar Candra agak penasaran dengan apa yang terjadi. Tapi ia berpikir lagi, apakah bijak kalau ia langsung bertanya? Ia tak bisa seperti ini terus, mungkin besok ia akan bertanya pada Candra. Pun ketika Candra tak ingin memberi tahu, ia hanya cukup mengerti dan percaya bahwa adiknya akan bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik. Saat mereka sudah tidak kuat menanggung beban, mungkin mereka akan mendekat dan bersandar padanya sebagai pengganti orang tua. Meski ia bukan sosok sekuat hulk, ia siap menjadi sosok paling kuat untuk kedua adiknya. Tekad itu hadir setelah kedua orang tuanya tiada. Ia yakin, ujian yang menimpanya adalah bagian dari bentuk percayanya Allah padanya kalau ia mampu menghadapinya. ••• Di sebuah cafe, Rangga datang menyerahkan sekotak kue bingkisan dari Dinda tadi pada barista yang sedang main HP karena tidak ada yang memesan lagi. "Apaan nih, Bro?" tanya Xavier si pemilik cafe. Ia terkejut atas kedatangan sepupunya dengan wajah kecut lalu meletakan kue itu pada Xavier. "Liat aja sendiri!" "Dih, bisa PMS juga lo, Ujang?" "Berisik, gue tidur sini yah," ujar Rangga naik ke lantai dua. "a*u, jangan woy!" "Kenapa sih? Kalo pacar lo mau nginep batalin aja, pokoknya kamar lo punya gue malam ini." Xavier hampir berteriak kalau tak ingat ada banyak pelanggan yang sesekali melihat ke arah mereka. Sepupunya yang satu itu memang priknya minta ampun, Xavier terpaksa membatalkan janji dengan pacarnya gara-gara bocah prik itu. Ia heran juga dengan sepupunya itu, lihat saja baru saja masuk, ia sudah menjadi pusat perhatian. Dulu ia pernah menawari Rangga untuk menjadi brand ambasadornya, tapi bukannya setuju, bocah itu melah memberinya tambahan uang untuk mencari brand ambasador dari kalangan artis terkenal. Itu adalah bentuk penolakan keras versi Rangga, seolah ia berkata, 'Mau lo kasih gue pabrik emas yang ada di Papua, gue ogah jadi BA cafe lo!' Siapalah yang bisa mengerti jalan pikiran bocah prik itu, sungguh menyusahkan memang. Namun, Xavier melihat sekotak kue yang dibawa Rangga tadi. Tumben ia datang membawa bingkisna, biasanya dia datang hanya membawa maslah yang merepotkan. Ia membuka bingkisan itu dan melihat isinya kue bundar dengan krim berwarna putih agak ke-unguan, ditaburi toping keju dan mesis coklat. Warna kuenya berwarna ungu gelap dan kuning kunir, agak unik. Lalu dengan iseng Xavier memotongnya dan memakannya, ia kira rasanya akan sama seperti kue sejenisnya yang pernah ia makan, tetapi .... "Gile, dia beli dimana nih?" gumamnya mendelik kaget dengan rasanya. "Cil, sini ada makanan buat kalian!" panggilnya pada ketiga karyawannya yang sedang bekerja memberishkan meja. Mendengar ada makanan, mereka langsung mendekat dan makan bersama. Komentar mereka sama dengan Xavier, luar biasa. "Gimana rasanya?" tanya Xavier. "Ini kue mahal, Kak?" tanya Tami salah satu karyawan Xavier. "Gak tau ...." Tapi Kiki, si cowok macho menemukan tempelan harga di kotaknya. "Gak mahal, harganya 50.000 doang." "Hah?!" Kiki menunjukan price tag kertas pada mereka bertiga, "Nih, 50.000." Xavier dengan otak bisnisnya tak mau ketinggaln, ia langsung mencari produk yang dibawa Rangga itu di internet. Ada media sosialnya jadi mereka mudah menemukannya. Produk denga merk, 'Rasa Keluarga' namanya merakyat dan murah. Sudah begitu bentuk dan pengemasannya rapih dan indah. Moto dari produk ini sendiri 'Enak bukan kata lain dari mahal, tapi ketulusan dalam rasa.' Sederhana sekali, ini memang bagus dan menyasar ke dalam hati konsumen. Memang bisnis bukan hanya tentang uang, tapi bagaimana kita bisa menyayangi konsumen dari hati ke hati. ••• Bintang malam ini tak terlihat satupun, bulan juga secara perlahan tertutup awan. Mendung malam ini, membuat Rangga semakin sedih. Tiba-tiba pintu diketuk, lalu tanpa menunggu jawaban, pintu dibuka dan datanglah Xavier membawa Americano dan sepiring kecil berisi 3 potong kue yang dibawa Rangga tadi. Ia melihat Rangga masih termenung di samping jendela menatap langit. Xavier sebenarnya ingin mengomel, tapi melihat wajah sedih Rangga, ia tak jadi. "Ada masalah sama Bonyok lu?" tanya Xavier pelan. Rangga menoleh, lalu menggeleng, "Lo gak bakal percaya kalo gue cerita." "Jadi penasaran gue," gumamnya. "Gue jatuh cinta ...." "What?!" Inilah respon yang diprediksi Rangga, untung saja Xavier tak terjungkal. "Gue jatuh beneran, tapi ke Kakak temen gue. Gue pingin berjuang tapi temen gue gak setuju, gue gak mau hubungan kami renggang." "Paham sih gue, tapi lo bisa bujukin tuh temen lo biar restuin lo." "Dia lebih keras kepala dari gue dan temen gue sayang banget sama Kakaknya, mana bisa gue berjuang. Ada malah gue dijauhin," balas Rangga tak ada harapan. "Jadi lo mu move on setelah jatuh cinta untuk pertama kalinya?" Rangga mengangguk, "Makanya gue mau kerja buat ngalihin perasaan gue. Gue kerja di cafe lo yah?" Xaviee menghela napas, langsung menggeleng. "Digorok bisa-bisa gue sama Bonyok lo, serem woy!" "Gue pingin lepas dari perasaan ini, lo tega banget." "Bukannya tega Bambang, gue gak mau nanggung resiko, belum nikah gue." "Huft, terus lo bisa bantu cariin kerja?" "Oke deh, nanti gue cariin. Tapi jangan bilang-bilang karena bantuan gue," ujar Xavier. "Tenang, gue aja gak pernah ngobrol sama Bonyok, gimana mau cerita." Xavier mengedikkan bahu sebelum pergi meninggalkan bocah prik yang baru mengenal cinta dan langsung galau gara-gara tak mendapat restu. Tak ada sang salah dari cinta, hanya kadang siapa yang kita cintai itu yang membuat semua jadi rumit. Dinda layak dicintai, tapi apakah ia layak mendapatkan gadis lembut itu? Ia sungguh tulus mencintainya, tapi ia tak layak. Baru kali ini status sosial, kekayaan, kepintarn, ketampanan dan pesonanya tak berguna di hadapan cinta seorag gadis seperti Dinda. Kini ia tau, mengapa orang-orang mudah galau karena cinta. Selain menyerang hati, cinta juga mengganggu pikiran. Mencintai Dinda membut Rangga sering berkaca diri, siapa ia, bagaimana ia layak bersanding dengan Dinda, apakah kalau ia berjuang Dinda juga bisa menerimanya atau tidak. Semakin malam ia semakin overthingking, ini tak boleh diteruskan, ia harus tidur dan lupakan sejenak masalah dunia ini. Melihat di luar mulai gerimis, Rangga menutup jendela dan pergi ke alam mimpi daripada menggalau berkepanjangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN