Bakso Mang Gendut

1024 Kata
Bakso Mang Gendut, seperti kata Bagas, dari pintu masuk pasar bagian selatan sudah terlihat stannya. Seperti yang direncanakan Dinda datang membawa kedua adiknya dan Rangga yang awalnya tidak mau ikut, tetapi sudah terlanjur berkata ikut waktu itu pada Dinda. Meski ia sedang perang dingin dengan Candra, ia berusaha untuk baik-baik saja. Rangga yang sering ke sana kemudian memimpin di depan dengan percaya diri. Langsung saja ia memasuki stand dengan santai dan menyapa seorang pria gendut yang berkumis tebal sedang melayani seorang pelanggan. Untung saja situasiny sedang sepi. "Assalamu'alaikum, Pak Ndut!" sapa Rangga. "Wa'alaikumsalam, eh Rangga, sama siapa?" Pria yang disapa Pak Gendut itu menoleh ke belakang dan melihat ada tiga orang lain yang dibawa Rangga. "Oh ini Candra yah?" tanya Pak Gendut menunjuk Candra. Candra langsung maju dan menyalami Pak Gendut yang ternyata namanya bukan Pak Gendut. "Assalamu'alaikum Pak Wawan, apa kabar?" "Wa'alaikumsalam baik alhamdulillah, kamu juga kelihatan bugar. Ini bawa siapa?" tanya Pak Wawan menunjuk Dinda dan Andi. "Saya Dinda, Kakaknya Candra dan ini Andi adik bungsu kami." "Oh iya iya, kemarin yang Bagas ke rumahmu ya Can, yang bawa roti enak itu." "Hehe iya Pak," jawab Candra cengengesan. "Owalah, pantesan Bagas betah ke tempat kamu Can, makanannya enak dan Kakakmu baek." Semua terkekeh mendengar itu, Pak Wawan memang orang yang supel, meski tampangnya seram, ia lucu dan banyak senyum. Tipe ayah yang hangat dan penuh wibawa. Lalu Dinda, Candra, Andi dan Rangga memesan bakso sesuai dengan keinginan masing-masing. Dinda memesankan untuk kedua adiknya dan dirinya sendiri, ia lalu bertanya pada Rangga. "Rangga mau pake mi?" Rangga malah gelagapan, "Eh iya Kak, lengkap." ujarnya tersenyum cerah. "Minumnya?" "Es teh aja, Kak." Sesekali ia melirik Candra yang sudah menatapnya dengan sengit, memang sejak ia datang ke rumah Candra, ia tak berbicara dengannya. Sudah dua hari ini mereka tak bicara dan sering saling memisahkan diri dari teman-temannya. "Kak Rangga sama Mas Candra lagi marahan ya?" tanya Andi ketika Dinda baru duduk setelah memesan makanan dan minuman. Candra dan Rangga saling pandang, sementara Dinda juga menatap keduanya. Berarti bukan hanya ia ia merasa kalau dua pemuda ini sedang marahan, Andi yang biasanya cuek juga merasakannya. "Eng ... nggak kok, Kak," ujar Rangga gugup. Candra hanya diam sambil memainkan sambel di depannya. "Gak papa lagi, di dalam setiap hubungan pasti ada kalanya marahan, tapi jangan lama-lama. Maksimal 3 hari, inget loh." Rangga dan Candra hanya mengangguk, tapi masih diam. Untung saja Dinda bukan tipe yang kepoan, sehingga ia tak terlalu mendesak. ••• Setelah sampai di rumah, Rangga yang memang membawa mobil agar ia bisa membawa Candra, Andi dan Dinda. Candra duduk di samping Rangga, sementara Andi di belakang bersama Dinda. Dinda dan Andi masuk ke dalam rumah, tapi Rangga mengajak Candra bicara di suatu tempat. Mereka sampai di taman komplek, lalu duduk di bangku taman dan mulai berbicara serius. "Kenapa lo ke sini?" tanya Candra. Rangga menghela napas, "Gue awalnya gak mau ikut, tapi Andi WA gue kata Kak Dinda kemarin aku ngajuin mau ikut ke warung baksonya Pak Gendut." "Tapi lo ngapain tetep ikut?" "Gue gak enak sama Kakak lo," jawab Ranga jujur. "Alesan lo, mau ketemu Mba Dinda kan lo?" "Terserah deh Can, gue dari awal udah salah, jadi salah terus tindakan gue. Tapi serius, gue udah dua hari ini kan gak ke sini, itu susah banget buat gue tapi gue lakuin karena hormatin lo." "Cuma dua hari doang," gumam Candra. "Dahlah, gue balik ...." Rangga tak tau lagi harus bagaimana, ia pamit pulang dan meninggalkan Candra sendiri di taman yang tak jauh dari rumahnya. Tidak enak rasanya marahan dengan orang-orang yang sudah seperti keluarga sendiri, tetapi keadaan ini sangat sulit dirasakan dan Candra masih belum menerima kenyataan bahwa Rangga menyukai kakaknya. Meski kakaknya sebentar lagi akan menikah, entah kenapa firasatnya menunjukan hal buruk akan terjadi, tapi apa? ••• Di kampus Dinda dan teman-temannya selesai melakukan kuis. Vita dan Karin mengajaknya ke mall untuk jalan-jalan sebentar. Mengingat kesibukan persiapan pernikahan akhir-akhir ini yang membuat Dinda penat, akhirnya ia menyetujui saja. Sampai di mall, Vita dan Karin mengajak Dinda melihat-lihat baju, kerudung, sepatu, tas dan make up. Tapi akhirnya mereka hanya membeli kerudung dan satu lipstik. Aneh memang, mereka melihat banyak hal yang dibeli hanya satu barang. Dinda sendiri tak merasa membutuhkan apapun, ia akhirnya memilih mengajak mereka makan saja ke sebuah cafe terkenal di daerah dekat mall. Cafe Ala Kadarnya, brand cafe yang merakyat meski konsep arsitekturnya khas USA, membuat Dinda terkagum sedikit. Lalu ketiganya masuk ke cafe yang sedang ramai itu, memesan kopi dan kue dengan jenis masing-masing berbeda. Dinda Americano dengan red velvet, Karin Capucino dengan kue vanilla, sementara Vita kopi s**u full cream dengan kue coklat. Mereka duduk di meja nomor 7, dari kasir tertutup oleh kaca dan sedikit tembok kayu. Posisi Dinda juga berada di pojok, jadi tidak terlihat. "Eh rencana lo yang nikah itu gimana, Din, udah setengah perencanaannya?" tanya Vita membuka topik. Dinda tersenyum, "Udah, tapi sampai sekarang calon gue belum nemuin gue. Gue jadi ragu," ujarnya. Vita dan Karin meringis mendengarnya, mereka langsung paham kalau ini tidak akan berjalan mulus nantinya. "Saran gue sih, usaha aja lagi buat ketemu dan mastiin ke dia. Soalnya yang ngejalanin nanti kan kalian berdua, gak bisa cuma lo sama orang tuanya yang bicarain ini," ujar Karin. "Setuju gue sama lo, Rin. Emang harusnya gitu Din, gue takutnya nanti dia emang gak bisa sama lo. Kan kalian dijodohin bukan karena lo gak layak atau apa gitu ...." ujar Vita merasa prihatin. "Iya, kalo di udah ada cewek lain gimana. Lo ynag dirugikan," lanjut Karin. "Iya sih, bingung gue." "Hem, sabar yah Say, gue bantu sebisanya," ujar Vita. "Gue juga," ujar Karin tersenyum. Dinda ikut tersenyum, "Maka ...." Belum selesai bicara ucapannya sudah disela oleh pelayan cafe yang mengantar kopi mereka. "Hallo Kak, ini pesanannya yah. Americano, capuccino, kopi s**u full cream, lalu red velvet, kue vanilla dan kue coklat." Suara itu agak familiar, Dinda langsung mendongak dan terkejut bukan main. Pria itu jug terkejut dengan Dinda, bagaimana bisa mereka bertemu seperti ini. Vita dan Karin tak melihat situasi itu, mereka sudah terlanjur tersihir oleh ketampanan makhluk di depan mereka. Makhluk itu sungguh tampan dan terlalu mewah untuk menjadi manusia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN