"Rangga?"
'Sial! Pingin menghindar malah ketemu terus, adooh!'
Rangga berusaha semampunya untuk tetap tersenyum, lalu ia balik menyapa dengan debaran jantung yang tak bisa ditolong lagi. Dokter saja tidak mampu, apalagi Rangga.
"Eh, Kak Dinda kebetulan ketemu."
"Iya, kamu kerja di sini?" tanya Dinda tak menyangka.
"Hehe iya Kak," jawab Rangga cengengesan.
"Oh gitu, bagus udah mulai mandiri yah."
"Iya Kak, biar belajar jadi orang dewasa," ujarnya menyindir diri sendiri.
"Wah keren, boleh kenalan?" tanya Karin genit.
Rangga sudah mencium bau-bau bangkai, eh maksudnya bau-bau fansgirl yang membagongkan. Namun, sebelum ia sempat menanggapi, panggilan dari dalam terdengar.
"Rangga, sini!" panggil orang itu.
'Oh yes, penyelamatku!' girangnya dalam hati.
"Maaf Kakak-kakak, saya mau lanjut kerja. Permisi," ujarnya sebelum pergi.
Vita dan Karin merasa kehilangan, jelas mereka langsung naksir pada Rangga yang super tampan itu. Semua kaum hawa di cafe juga menatap Rangga penuh minat, mereka iri saat Dinda berbicara pada Rangga dengan santai, padahal sedari tadi mereka menarik perhatian Rangga tapi bocah itu menolak.
"Siapa tuh Din, kamu kenal?" tanya Vita.
"Iya, temennya Adekku, sering main ke rumah jadi kenal," ujar Dinda seadanya.
"Lo kok gak bilang kalo ada kenalan seganteng itu, dia artis yah?" tanya Karin.
"Enggak, bukan, dia orang biasa aja," jawab Dinda.
"Kenalin dong," ujar Vita.
"Iya, ganteng banget sumpah," dukung Karin.
"Aku izin dulu kalo gitu," ujarnya.
Karin dan Vita setuju saja, mereka tak ingin mendesak terlalu jauh, toh mereka memang tau batasan, Rangga saja tadi menolak perkenalan mereka secara tidak langsung.
Di saat yang sama Rangga menoleh ke arah Dinda yang masih mengobrol dengan teman-temannya, hingga jam 14.30 WIB, mereka terlihat keluar dari cafe.
Rangga merasa sedikit kehilangan, tetapi inilah tujuannya, menjauh dari Dinda. Berkali-kali ia mengingatkan diri sendiri, bahwa ia tidak menginginkan cinta ini dan segera menghapus nama Dinda di hatinya.
•••
Di rumah, Dinda melihat Candra yang terlihat sekali tak bersemangat, bahkan di meja makan biasanya ia suka menjahili adiknya, kini ia terlihat murung.
Saat ia menoleh ke arah Andi, Andi hanya mengedikkan pundaknya tanda tak tau.
"Can!" panggil Dinda.
Candra tak menjawab, pandangannya kosong, ia tak fokus sepertinya.
"Can!" panggil Dinda lagi.
Brak!
"Apa woy!" teriak Candra kaget.
Andi kesal dan gemas, jadi ia segera menggebrak meja agar Candra bangun dari lamunannya.
"Kamu kenapa dari tadi Mbak liat kayak murung terus, kenapa?" tanya Dinda halus.
Candra menggeleng, ia belum mau menceritakan unek-uneknya. Tapi bukankah itu menjadi beban, sekarang bahkan ia terlihat tak bersemangat dalam hal apapun.
"Kalo ada masalah cerita, please deh."
"Iya, Mas. Apa jangan-jangan belum baikan sama Mas Rangga?" tanya Andi.
Candra masih diam, hal itu membuat Dinda lelah melihat bagaimana adiknya uring-uringan tetapi diajak menyelesaikan masalah menolak.
Memang ABG tak bisa diajak kompromi kalau ada masalah, apalagi ABG laki-laki yang lebih tertutup.
"Kalo kamu gak mau cerita, nanti Mbak tanya langsung ke Rangga."
Candra langsung mendelik, "Gak usah, ck!"
"Ya daripada kamu uring-uringan gini," balas Dinda.
"Iya nanti aku ceritain, tapi Mba jangan nemuin Rangga."
Dinda ingin protes tetapi segera diurungkan, ia tak mengerti dengan adiknya. Maksudnya ia tak boleh ketemu dengan Rangga itu bagaimana. Tak taukah kalau tadi siang ia juga bertemu dengan Rangga.
•••
Di kamar Candra, Dinda datang meletakkan nampan berisi dua gelas s**u putih dan sepiring biskuit coklat kesukaan Candra.
Kamar Candra yang didominasi oleh warna biru dongker dan maroon itu terlihat sangat laki-laki, apalagi bau maskulin yang dihasilkan dari parfum pemuda itu. Candra merupakan salah satu pemuda yang cukup bersih karena memang sudah diajarkan sejak dini oleh kedua orang tuanya.
Dinda kemudian langsung mengajukan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya membuat Candra uring-uringan.
"Jadi kenapa?" tanya Dinda setelah menyeruput s**u di gelasnya.
Candra tak menjawab, ia masih belum ingin cerita meski tadi ia bilang berkata ingin jujur.
"Gini ya, aku tuh lihat kamu mulai uring-uringan, sejak ulang tahunnya Andi yang kamu abis bicara sama Rangga itu loh. Kamu bicara dengan dia di kamar, yang teman-teman kamu pulang duluan, terus kamu ajak Rangga ke atas. Kenapa, ada masalah apa kalian berdua? Rangga juga abis itu kelitan banget nggak terlalu ceria kayak biasanya. Aku nggak tahu siapa yang salah di antara kalian dan masalahnya apa, Mbak nggak tahu. Tapi Mbak nggak enak aja lihat kalian kayak gitu."
Candra cemberut, melihat itu Dinda heran sendiri.
"Nah kamu kan udah dewasa Can, bicarain lah baik-baik. Ini udah lebih dari 3 hari dan kalian masih ngambekan. Ada apa? Udah seminggu loh ini."
Candra kemudian mengheran nafas sebelum menjawab.
"Ya ada lah Mbak. Sebenarnya aku mau jujur juga susah sama Mbak, soalnya ini berkaitan dengan Mbak juga."
"Berkaitan dengan Mbak gimana? Kayaknya agak aneh aja kalau Mbak ada kaitannya sama alasan kalian berantem. Kenapa sih ... udah deh sekarang jujur aja. Entah nanti hasilnya kayak apa, kamu nggak usah pikirin itu, Mbak nggak akan marah kok."
"Ya udah, ya udah ... hem jadi masalahnya ...."
Candra sampai menjilat bibirnya berkali-kali sebelum jujur kepada kakaknya, itu kebiasaannya saat ia gugup.
"Seperti yang udah aku bilang sama Mbak waktu itu, kalau Rangga itu suka sama Mbak. Ini bukan cuma rasa suka yang kayak ABG labil gitu ngefans atau gimana, ini udah kayak cowok ke cewek. Mbak ngerti nggak sih, paham kan maksudku?"
"Iya paham, tapi masa sih?"
"Nah kan udah aku duga, Mbak gak bakal percaya," gumam Candra.
"Mbak pikir maksudnya ... yang sering ngobrol sama Mbak juga nggak cuma Rangga aja Can, ada juga teman kamu yang lain, geng kamu itu, semuanya juga kalau misalnya dalam takaran akrab ... semuanya akrab. Terus masalahnya di mana, kok kamu bisa mikir kalau dia itu suka sama Mbak dalam pandangan cowok ke cewek, itu gimana maksudnya?"
"Gini loh, waktu setelah acara ulang tahunnya Andi itu, aku ajak Rangga buat ke kamar, karena dari awal acara sampai selesai acara, Rangga itu selalu lihatin Mbak, pandangannya kayak cowok prihatin cewek yang dia suka."
"Kayak apa maksudnya?" tany Dinda polos.
Candra menghela napas, "Cowok tau gimana cara cowok lain mandang cewek yang dia suka."
Dinda mengangguk, "Oke, lanjutkan."
"Bener-bener dia suka sama Mbak, bukan cuma karena Mbak waktu itu tampil cantik atau gimana, dia emang udah suka sama Mbak. Itu udah dari awal ketemu Mbak. Aku udah bilang kan sama Mbak, tapi Mbak selalu mengabaikan hal itu," ujarnya menggebu.
"Ya udah sekarang maksudnya dia suka sama Mbak, terus ... pas kamu sama Rangga itu bicara di kamar berdua. Kalian bicarain apa sih?"
"Aku kan udah bilang kalau dia itu suka sama Mbak, terus aku pastiin lagi perasaannya itu kayak apa. Nah pas aku tanyain, dia jujur sama aku kalau dia emang cinta sama Mbak."
Dinda agak terkejut dengan kenyataan itu.
"Dia itu paling deket sama aku Mbak, di antara geng kita. Jadi dia nggak bakal bisa bohong sama aku dan kebetulan, ini kasusnya berhubungan sama aku. Jadi aku nggak bisa dibohongin dia, walaupun dia mungkin masih nutupin perasaannya ke semua orang."
Sebenarnya dalam kasus ini Dinda agak syok mendengar kenyataannya. Ia tidak pernah berpikir atau peka dengan perasaan orang lain kepadanya karena akhir-akhir ini memang fokusnya adalah tentang pernikahannya saja. Sehingga ia tidak memperhatikan sekitar dan faktor lain.
"Ya terus yang buat kamu kelihatan marah sama dia tuh gimana? Udah beberapa hari juga kan dia nggak ke sini, terakhir ketemu kan pas kita makan bakso bareng di tempatnya Bapaknya Bagas itu."
"Iya, karena itu Candra yang minta sama dia buat jauhin Mbak Dinda."
"Terus dari dia, gimana menanggapi perasaannya ke Mbak?"
"Ya dia bilang kalau dia lagi berusaha buat ngelupain perasaannya itu, karena emang jatuh cinta sama Mbak adalah perasaan pertamanya. Maksudnya dia baru aja ngenal yang namanya cinta pertama kali, Mbak cinta pertamanya Rangga. Sebelumnya dia nggak pernah jatuh cinta sama cewek manapun, meskipun banyak cewek cantik yang ngejar-ngejar dia sampai sekarang. Aku juga nggak ngerti kenapa dia justru jatuh cinta sama Mbak Dinda yang biasa aja menurut aku dan lebih tua."
"Hem, kalau itu sih kita emang nggak bisa tahu Can, yang kita harus lakuin sekarang ya... Ingatkan dia pelan-pelan, kita juga nggak bisa maksa dia buat lupain perasaannya tapi menyarankan aja. Kamu juga nggak bisa egois sama dia, marah gitu sama dia. Cinta kan bukan kesalahannya dia."
"Ya sih, Mbak."
"Ya Mbak juga nggak mau kalau dia suka sama Mbak, karena ya ... selain perbedaan usia, perbedaan latar belakang, dia masih muda, cowok lagi, dia masih punya banyak hal yang harus dia kejar dan lagi pula kan Mbak juga udah mau nikah bentar lagi. Meskipun ya ... dia suka sama Mbak, itu nggak berlaku apa-apa dalam kasus ini, karena Mbak juga mau terikat dengan pria lain."
"Iya sih."
"Ya udah kalau gitu, kamu jangan terlalu maksa dia lah. Kamu bilang sama dia, maaf-maafan sana! Biar kamu plong juga. Mbak yakin dia juga udah mulai menjauh kok, seolah nggak terlalu akrab sama Mbak. Melihat dari cara dia berinteraksi sama Mbak terakhir ketemu. Kelihatan banget kalau dia udah jaga jarak, meskipun itu juga nggak terlalu efektif menurut Mbak, tapi niatan yang udah dia tekadkan juga itu udah jadi langkah yang bagus. Artinya dia emang bener-bener nggak pengen hubungan kalian jadi renggang gini, soalnya kalian udah deket banget kan? Masa cuma gara-gara perasaannya dia ke Mbak, kamu jadi kayak gitu. Ya menurut Mbak sih, dia juga tertekan dengan rasa yang dia punya. Dia nggak pengen punya perasaan cinta itu, tapi siapa yang tahu kalau perasaan itu bakal datang ke dia dan objeknya Mbak ini."
Candra mengangguk, "Iya sih, Mbak, tapi aku tetap khawatir."
"Coba ya, apa yang kamu khawatirin tentang teman kamu yang suka sama Mbak. Kamu sampai musuhin dia kayak gitu loh ... kamu kan yang bilang sendiri kalau dia orang yang kesepian, terus kamu juga bilang sendiri kalau dia cuma ngerasain senang kalau bareng geng kalian. Ngelihat dari interaksi kamu sama dia yang jauh-jauhan gini, pasti keadaan di geng kalian renggang juga."
"Iya ...."
"Kamu pikir sendiri, deh Can. Lagian kalau Mbak single, Mbak juga nggak mau sama Rangga karena Mbak nggak suka sama berondong. Mbak nggak mau sama yang lebih muda. Apalagi dari karakternya Rangga yang kayak bocah, bukan tipe Mbak banget. Kalau misal Mbak suruh milih ya, Mbak lebih suka sama orang yang lebih dewasa, bahkan 10 tahun lebih dewasa juga nggak apa-apa, tapi enggak mau sama yang lebih muda bahkan jika jaraknya hanya setahun. Mbak nggak mau sama sekali, ingat ... berondong bukan tipe Mbak banget."
"Iya, paham."
"Hem, udah deh kamu hentikan kekhawatiran kamu itu dan baikan sama Rangga. Mbak nggak mau cuma gara-gara ini kalian jadi musuhan dan geng kalian jadi nggak hangat lagi seperti dulu. Mbak udah anggep Rangga kayak Adek sendiri, dia hanyalah ABG labil di mata Mbak."
Candra hanya diam tapi Dinda tahu kalau Candra juga merasa bersalah atas sikapnya sejauh ini. Dinda sudah melihat juga progres dari Rangga. Ia bahkan bekerja di salah satu cafe yang kemarin dia temui, tapi ia tidak akan bicara dengan Candra tentang itu. Ia takut kalau ia cerita pertemuan itu, justru ia malah membuat Candra makin khawatir dengan Rangga dan tak jadi baikan.