Dinda semakin bingung dengan keadaannya sekarang, sebenarnya orang seperti apa yang akan ia nikahi?
Ia lalu meminta profil lengkap calon suaminya yang merupakan seorang pebisnis yang meneruskan bisnis orang tuanya.
_____________________________________________
Nama Lengkap : Radika Airlangga Sutresno
Tempat/Tanggal Lahir : Temanggung, 23 Januari 1994
Lulusan Terakhir : S2 / Master Bisnis di London University
Tempat Tinggal : Jakarta Selatan
Pekerjaan : Pebisnis Toserba yang tersebar di 24 Kota di Indonesia
Status : Lajang
Media Sosial : @radikaairlangga_s5
Radika telah menyelesaikan gelar master di usia 27 tahun, sekitar setahun yang lalu. Ia kemudian melanjutkan bisnis keluarga dan telah menambah dua cabang setelah dikelolah olehnya, yakni di Magelang dan Kuningan.
_____________________________________________
Membaca profil itu, Dinda merasa tak ada yang salah, tapi ia merasa bahwa ada yang salah dari rencana pernikahan mereka. Ia segera mengotak-atik hpnya, mencari akun i********: Radika dengan foto yang ada di profilnya.
Lalu ia membuka satu persatu dari semua nama yang sama, tapi tak sulit mencari akun pengusaha muda itu. Ia melihat ada kejanggalan di sana, yakni Radika selalu memasang foto bersama seorang wanita cantik dengan rambut yang berganti warna setiap fotonya.
Dinda baru mengerti, inilah Radika yang selamanya tidak ingin menikah dengannya, tetapi ia harus melakukan apa agar bisa meyakinkan diri. Ia harus bertemu dengan Radika ini secara langsung.
Ia mengetikan pesan DM di profil akun milik Radika.
Dinda || Assalamu'alaikum, Kak Radika. Ini Dinda, orang yang akan dijodohkan dengan Anda. Bisa kita ketemu untuk membahas kelanjutan perjodohan ini, untuk memperjelas?
Lama tak dibaca oleh Radika, atau mungkin ia dikira salah satu fans dari Radika yang sudah sering mengisi seminar bisnis itu. Jaman sekarang memang orang dinilai dari ijazah atau profil depan semata, orang yang beum beres secara moral dijadikan orang terhormat. Menggelikan.
Jelas di sini Dinda merasa dipermiankan oleh keluarga Sutresno, Radika jelas tak ingin dijodohkan karena ia sudah memiliki kekasih. Tapi kedua orang tua Radika secara egois menjodohkan anaknya tanpa memikirkan perasaan si anak dan calon yang akan dijodohkan. Di sini yang harus dipikirkan bukan hanya Radika, tapi perasaannya juga.
Dua jam beralu, Radika baru online dan membaca pesan Dinda, ia lalu membalas meski Dinda belum memegang HP lagi karena sedang mempersiapkan untuk daganga besok.
Radika || Wa'alaikumsalam. Baik aku bakal atur jadwalnya dulu.
Radika || Selasa sore, jam 4. Di cafe Ala Kadarnya dekat Mall Sinarbiru
•••
Esok harinya Candra dihampiri oleh Kris yang baru saja datang.
"Tumben lu datangnya nggak mepet jam, biasanya aja siangan," ujar Kris.
"Biarin,.suka-suka gua."
Kris hanya tersenyum, Candra masih belum mood ternyata.
"Oh ya Sebenarnya gua udah lama pengen tanya ya ke lu sama Rangga, tapi si Bagas katanya udah tanya sama lo dan Rangga tapi lu berdua masih belum mau cerita. Apa masalah kalian? Kami ngelihatnya nggak enak, kalian kayak musuhan. Nggak biasanya, padahal kalian termasuk yang paling akrab, istilahnya udah kayak couple."
"Terus masalahnya apa, kenapa kalian harus tau?"
"Iya masalahnya harus diselesaikan."
"Ya gue juga lagi berencana gitu sih."
"Nah bagus, udah cepet biar masalahnya. Jangan berlarut-larut begini, kami nggak enak lihatnya, kalau terus marahan gini. Gue juga kasihan banget si Rangga sampe langsung kerja, habis sekolah, nggak bisa nongkrong lagi sama kita."
"Itu kan pilihan dia mau kerja, kan dia juga udah cerita sama kita mau menghindari perasaannya dia sama Kakaknya temennya itu."
"Iya sih, tapi nggak gimana ya ... gue curiga juga, soalnya si Rangga ini kan kayak temenannya cuma sama kita. Meskipun kita nggak tahu sih di belakang dia akrab sama siapa lagi, mungkin temen SMP-nya dia itu. Tapi kan kalau dilihat dari seringnya nongkrong, dia itu seringnya nongkrong sama kita."
"Emang."
"Lah terus lu emang percaya kalau dia suka ya sama Kakak temen SMP-nya dia, bukan temen dia sekarang ini, di antara kita."
"Iya, itu biar nanti dia yang jawab, gue nggak ngerti masalahnya."
Kris hanya menganggut-manggut saja. Kemudian mereka menuju ke kelas dan anggota geng mereka seling berganti datang sampai bel masuk berbunyi.
•••
Setelah pulang sekolah, Bagas mengajak geng mereka untuk mengobrol bersama mereka semua dan mulai menyelesaikan masalah antara Rangga dan Candra.
Ia juga merasa risih dengan apa yang sudah mereka jalani sampai saat ini. Duduk di tribun basket, membuat mereka pergi.
"Rangga, Candra, gini ya ... lu berdua dari kemarin, kami lihat tuh udah lebih dari seminggu ini, kalian diam-diam terus udah kayak cowok sama cewek lagi, ngambekan ada nggak sih? Kalian tuh akrab banget, terus tiba-tiba ngambekan dan itu lebih dari seminggu loh kalian. Nggak biasanya, kalau misalnya ada masalah biasanya sehari juga selesai kan. Nggak sampai berlarut-larut, terus ini kenapa kok, jadi kalian kayak ada hal yang dipermasalahkan di belakang dan kami nggak tahu. Sebenarnya ada apa?" tanya Bagas.
Candra menghilangkan nafas, sebenarnya ia tidak nyaman ditanyain seperti itu, tapi ia kemudian menyerahkan semuanya pada Rangga.
"Untuk masalah ini biar Rangga yang jujur aja," ujarnya.
"Kok gue, terus emang boleh kalau gue jujur?" tanya Rangga.
"Ya silakan kalau lu nggak malu."
"Ya kenapa gua harus malu? Gue nggak malu dengan perasaan itu, ya walaupun sekarang gue lagi coba untuk mengabaikan perasaan itu. Tapi kan itu bukan sesuatu yang memalukan."
"Udahlah, malah debat lagi nih orang dua. Gini ya kalau misal kalian kiranya nggak bisa damai, kalian cerita sama kita-kita siapa tahu kita bisa bantu gimana nyelesaiin masalah kalian. Kalau kalian cuma panteng-pantengan kayak gitu lama-lama nggak jadi, si Candra ya keras kepala si Rangga enggak mau ngalah, dua-duanya nggak ada yang bener," ujar Bagas kesal sendiri.
"Iya bener tuh," kata Ares.
"Jadi gimana, kalian mau cerita atau enggak," desak Kris yang sudah gemas dari tadi.
Rangga akhirnya memutuskan untuk jujur daripada ia menyembunyikannya, ia juga tidak enak untuk dirinya sendiri, terutama karena ia juga tertekan menyembunyikan rahasianya kepada teman-temannya itu.
"Jadi sebenarnya yang pertama ini salah gue, dari awal gua sebenarnya suka sama Kak Dinda."
Mereka semua hampir terjungkal kalau saja di belakang tempat duduk mereka tidak ada undakan lain saking syoknya.
"Jadi lu suka sama Kak Dinda?!" shock Ares.
"Srius?!" tanya Kris yang tidak peka.
"Sebenarnya gue udah nebak itu sih dari kemarin waktu di ulang tahunnya Andi, tapi gue nggak berani ngomong," ujar Wisnu.
"Pantesan lu godain Kak Dinda terus, nggak bosen-bosen lagi. Terus apa masalahnya kalian jadi berantem gini?" tanya Bagas.
"Ya jelaslah gue gak kasih restu. Anjir, padahal gua gak ikhlas kalau kakak gue sama Rangga," balas Candra membuat Rangga sedih.
"Iya sih, tapi kan kakak lu bukannya mau nikah?" tanya Kris mengingatkan.
"Emang iya sih, tapi kan sebel aja kok bisa Rangga suka sama Mbakku, di antara cewek-cewek lain ya ...." protes Candra lagi.
"Iya, gue kan juga nggak minta perasaan ini kan perasaan itu timbul begitu aja dan ketika gue mau berusaha ngelupain itu susah banget. Kalian tuh ngerti nggak sih, paham nggak sih maksud gua?" kesal Rangga setres.
"Ya gua juga paham, tapi kan gue nggak terima aja kalau lu suka sama Kakak gua," balas Candra tak mau kalah.
"Ck, gua enggak ngerti lu itu posesif atau gimana ya Can sama Kakak lu. Cuman bukannya enggak apa-apa kalau misalkan Rangga suka sama Kakak lu?" tanya Bagas.
"Iya, lagian nanti setelah kakak lu menikah juga perasaannya Rangga bukan apa-apa, ya kan?" sambung Ares."
"Gini ya, kita kan sahabat, apalagi Rangga dekat banget sama gua kan, rasanya nggak rela aja gue. Takut aja kalau misal beneran, tapi kan gue cuma nggak mau hubungan persahabatan kita rusak. Enggak cuma itu doang sih, gue masih sadar kok kalau Kak Dinda udah mau nikah, tapi nggak tahu kenapa feeling gue ya pernikahan Kak Dinda itu nggak bakalan lancar, soalnya calon suaminya juga nggak pernah nemuin dia itu yang bikin gue ngerasa waspada dengan hal lain dan mungkin ini juga yang buat gue terlalu impulsif untuk menanggapi perasaannya Rangga."
Akhirnya mereka paham kenapa Candra bersikap seperti itu, semua tak lain karena ia merasa khawatir pada kakaknya yang hampir menikah.
Hal itu ditangkap oleh Rangga dan membuat Rangga juga ikut khawatir bahwa gadis pujaan hatinya hampir merasakan pengalaman gagal menikah karena ia juga merasa dalam posisi calon suami Dinda yang tidak pernah menemuinya.
Itu adalah bentuk penolakan secara tidak langsung, karena perjodohan mereka yang membuat adalah orang tua, sementara anak-anak yang menjalankannya. Mungkin orang tua juga tidak mempertimbangkan apakah anak-anak yang mereka bersedia jodohkan, dengan egois mereka tidak melihat apakah mereka mau dan ikhlas dengan semua yang mereka rencanakan.