"Mas udah yakin bener-bener? Mas udah yakin kalau Mas mau ngomong sama Bunda sekarang? Kalau Bunda makin marah lagi tar kita bakalan gi__"
"Dek! Bisa berhenti mikirin sesuatu pakai sudut pandang negatif kamu itu? Mas belum ngomong apapun sama Bunda jadi kamu tahu dari mana kalau Bunda bakalan marah? Bukannya itu cuma pendapat kamu doang?" Potong Mas Ali cepat dan menatap gue dengan tatapan gak habis pikirnya sekarang, ya kan gue itu cuma lagi berandai-andai, gue mikir negatif juga karena gue udah hafal sifat dan kelakuan Bunda gue jadi gue mau sikap antisipasi lebih dulu, apa ada yang salah? Enggak dong, gue kaya gini karena gue terlalu lelah berdebat, gue bersikap jujur karena gue udah gak yakin kalau Bunda bakalan mau denger omongan Mas Ali nanti, kecil kemungkinannya kalau Bunda mau merubah sikapnya dalam waktu dekat, bertahun-tahun aja gak bisa jadi gimana ceritanya bisa berhasil dalam satu hari?
"Syia hafal sifat Bunda makanya sulit buat Syia bisa mikir dari segi positifnya Mas, Mas gak ngerti sih." Jawab gue mempotskan bibir didepan Mas Ali, menatap Mas Ali dengan tatapan sok imut gue biar ni orang tua gak balik kesal ke gue lebih dulu, Mas Ali gue suruh bujuk Bunda bukan malah menabung kekesalan baru untuk jadi alasan berdebat sama gue lagi nanti, ini juga harus gue antisipasi berat.
"Muka kamu udah gak cocok dibikin sok imut begitu, umur juga udah tua, gak muda lagi." Balas Mas Ali nyentil kening gue, tersenyum kecil, Mas Ali turun dari mobilnya dan masuk ke rumah lebih dulu, gue juga gak mau kalah, gue turun dan mengikuti langkah Mas Ali untuk masuk ke rumah terburu-buru, setelah tadi ketemu Kak Fikri dan minta maaf lama, gue sama Mas Ali langsung pulang, Kak Fikri juga mau kuliah katanya, jadi rencana kita sekarang masih mencoba untuk meyakinkan Bunda gue, menjelaskan ke Bunda bahwa sikapnya sekarang udah gak bisa diterima, jangan sampai Tante Ratih tahu dulu baru mau merasa bersalah, itu udah gak guna jadi bisa di bilang Mas Ali yang nyoba ngebujuk dan memberikan perngertian ke Bunda adalah usaha terakhir kita berdua, semoga berhasil.
"Loh Tan, kenapa sendirian?" Tanya Mas Ali karena ngeliat Tante Ratih makan sendirian di dapur, suasana beneran udah aneh menurut gue, tatapan Tante Ratih seakan sangat terluka, apalagi begitu memperhatikan gue yang berjalan dibelakang Mas Ali, mata Tante Ratih langsung berkaca-kaca, kekhawatiran gue makin menjadi begitu beberapa bulir air mata lolos dari pelupuk mata Tante Ratih, gue berlari kecil dan memeluk Tante Ratih detik itu juga, ini sebenernya kenapa? Apa jangan-jangan Tante Ratih udah tahu semuanya? Cuma ini alasan yang bisa gue tebak disaat keadaan udah semengkhawatirkan ini.
"Tante kenapa?" Tanya gue lirih masih memeluk Tante Ratih erat, gue bahkan ikut menatap Mas Ali yang berdiri dihadapan kita berdua juga dengan tatapan terkejutnya.
"Apa Fikri berlaku buruk sama kamu selama ini? Apa Fikri pernah bersikap gak sopan sama kamu Syi? Kalau iya Tante minta maaf, kamu tahu Fikri kaya apakan? Fikri cuma becanda dan sama sekali gak bermaksud apapun sama kamu, Fikri gak akan berbuat aneh-aneh Syi, Tante yakin itu." Jawab Tante Ratih dengan nada bicara sedikit bergetar, gue langsung menggeleng cepat untuk semua pertanyaan Tante Ratih sekarang, kenapa Tante Ratih juga harus minta maaf sama gue? Memang salah mereka apa? Gue sangat kesal bahkan cuma karena memikirkan hal ini doang.
Setelah mendengarkan jawaban Tante Ratih sekarang, gue sama Mas Ali juga langsung bisa nebak akar permasalahannya, apa Bunda gue akan seketerlaluan ini? Gue pindah karena ingin menghindar dari masalah tapi sampai disini bukannya ngurangin masalah, nambag masalah yang ada, karena gue Tante Ratih sama Kak Fikri jadi dibawa-bawa, padahal mereka gak ada hubungannya sama sekali sama masalah gue sekarang, Bunda udah keterlaluan banget menurut gue.
"Tan! Tante ataupun Kak Fikri gak perlu minta maaf sama Syia, harusnya Syia yang minta maaf, karena Syia, Tante malah harus kecewa kaya gini, Syia minta maaf Tan tapi semuanya itu gak bener, Kak Fikri gak pernah melakukan kesalahan apapun, Syia tahu sifatnya dan Syia yakin kalau Kak Fikri tulus ngejagain Syia selama ini, jadi Tante gak perlu minta maaf untuk apapun." Gak ada satupun dari sikap Kak Fikri atau Tante Ratih yang salah gue artikan, gue tahu mereka tulus sama gue, gue tahu Tante Ratih menganggap gue layaknya putri kandung dan Kak Fikri juga menganggap gue layaknya Adik kandung, bukan mereka yang salah tapi keluarga gue yang salah, keluarga gue penyebabnya.
"Tante bersyukur kalau memang kamu berpikiran seperti itu." Jawab Tante Ratih membalas dekapan gue, gue mengusap air mata Tante Ratih sembari menatap Mas Ali yang sekarang juga terpaksa mengusap wajahnya bingung.
"Mas!" Gumam gue gak yakin dengan keadaan sekarang, kalau udah kaya gini kita harus gimana? Ini yang dari tadi kita bicarain sama Kak Fikri juga, kita nyari cara supaya Tante Ratih gak tahu tapi pada akhirnya itu juga sia-sia, walaupun gue sama Mas Ali gak ngerti gimana ceritanya Tante Ratih bisa tahu tapi keadaan udah kaya gini juga gak baik, keadaan Tante Ratih sekarang membuat rasa bersalah gue bertambah berkali lipat, gimana kalau sampai Kak Fikri tahu Bundanya nangis kaya gini? Apa Kak Fikri masih bisa bersabar?
"Tan! Ali minta maaf kalau memang sikap dan ucapan Bunda menyakiti hati Tante, atas nama Bunda, Ali minta maaf." Ucap Mas Ali tertunduk dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Bunda mana Tan?" Lanjut Mas Ali setelah tertunduk cukup lama, awal masalahnya memang Bunda sekarang jadi keberadaan Bunda yang harus Mas Ali tahu, Mas Ali yang akan bicara dan semoga ada penyelesaian terbaik, gue gak tega sama Tante Ratih kaya gini, malah Om juga belum pulang, kalau tar pulang dan tahu Tante nangis kaya gini, gue sama Mas Ali mau ngasih jawaban apa?
"Kayanya ada dikamar, tadi langsung naik ke atas soalnya." Jawab Tante Ratih yang langsung membuat Mas Ali naik ke atas terburu-buru, gue masih berdiri ditempat dan memeluk Tante Ratih menenangkan, Kak Fikri sama Tante Ratih hebat menurut gue, walaupun Tante Ratih nangis kaya gini tapi gue harus mengakui kesabaran mereka dalam menghadapi kelakuan Bunda gue, gak semua orang bisa bertahan dengan sikap keras Bunda gue sekarang, semuanya berat, gue masih terus mengusap bahu Tante Ratih dan menemani sambilan nunggu Mas Ali turun tapi begitu mendengarkan suara barang pecah dari lantai atas, gue langsung berlari cepat naik ke atas.
"Mau sampai kapan Bunda nyiksa Syia cuma karena Syia nolak laki-laki yang Bunda pilihkan?" Tanya Mas Ali yang masih bisa gue dengarkan dari depan pintu kamar Bunda, mendengarkan pertanyaan Mas Ali sukses membuat gue mengkaku ditempat, kaki gue bahkan terasa hampir gak sanggup untuk menopang tubuh gue sendiri lebih lama lagi.
"Kalau Adek bisa bersikap semaunya dengan pilihan dia sendiri, kenapa Bunda gak bisa bersikap semuanya dengan keinginan Bunda sendiri, menolak Rian mungkin adalah haknya Adek tapi bagimana cara Bunda memperlakukan laki-laki yang mendekati dia itu juga hak Bunda, bukannya cukup adil?" Gue tersenyum miris mendengarkan ucapan Bunda sekarang, jadi ini beneran cuma karena gue nolak perasaan Mas Rian? Alasan untuk semua sikap semaunya Bunda selama ini cuma semata-mata karena gue menolak laki-laki pilihannya? Apa Bunda becanda sama gue sekarang? Apa hidup gue gak penting sama sekali untuk Bunda?
"Nda! Pilihan apapun, Syia mau memilih siapapun itu haknya Syia, itu hidup Syia, Syia yang akan ngejalaninya nanti, bukan kita berdua, Ali keberatan dengan Lian bukan karena masalah Syia menolak perasaannya Rian tapi Ali keberatan karena memang cuma pekara umur mereka berdua, Ali takut umur Lian yang maish muda ditambah sikap Syia yang masih sangat kekanak-kanakan membuat mereka berdua terluka akhirnya tapi apa alasan Bunda bersikap kaya gini sama Fikri juga? Bunda gak kasian sama Tante Ratih? Bunda mikir apa sih Nda? Bunda kecewa karena Syia menolak Rian di bagian ini Ali ngerti tapi alasan Bunda memperlakukan Fikri sesuka hati, Ali keberatan Bunda, Fikri itu keluarga kita, apa Bunda akan merusak hubungan kekeluargaan cuma karena Syia menolak calon pilihan Bunda? Apa itu masuk akal." Tanya Mas Ali terdengar gak habis pikir, gue yang berdiri di tempat gue sekarang juga sama gak habis pikirnya, apa ini beneran cuma karena gue nolak Mas Rian?
"Itu supaya Adik kamu tahu dan sadar, selama Bunda masih ada, dia harus nurut apapun keputusan Bunda, Bunda yang membesarkan dan menjaga dia tapi apa ini balasan yang harus Bunda dapat? Membangkang dan selalu semaunya sendiri? Apa itu yang kamu mau dari hidup Adik kamu?" Tanya Bunda dengan nada bicara semakin meninggi, gue yang mendengarkan dari luar bahkan bisa tertawa miris sekarang, seburuk itukah gue? Apa menolakan gue ke Mas Rian bisa membuat semua yang gue lakukan untuk membanggakan Bunda udah gak ada gunanya? Apa itu adil untuk gue?
"Apa Bunda berharap balas budi dari Syia? Apa Bunda menuntut balasan untuk semua yang udah Bunda berikan ke Syia? Apa Bunda seorang Ibu?" Gue bahkan tercekat untuk pertanyaan Mas Ali sekarang, apa Bunda adalah seorang Ibu? Apa gelar Ibu bisa didapatkan hanya karena sudah melahirkan? Apa gelar Ibu didapatkan hanya karena sudah merawat dan membesarkan? Apa arti panggilan dari seorang Ibu bisa berubah menjadi sesederhana itu? Kenapa Bunda gak pernay berlaku adil sama gue dan Mas Ali? Bunda selalu bisa menerima kekurangan bahkan kesalahan Mas Ali sebesar apapun tapi kenapa gak bisa mengerti sedikit aja keinginan gue?
"Banyak hal yang gak Syia gak tahu ternyata." Ucap gue membuka pintu kamar Bunda gitu aja, gue bahkan berdiri dengan mata berkaca-kaca memperhatikan mereka bedua sekarang, gue kecewa dengan Bunda tapi gue lebih kecewa dengan diri gue sendiri, bukannya gue udah terbiasa dengan sikap Bunda sekarang tapi kenapa gue tetap bersedih mendengarkan semua ucapan Bunda gue barusan? Perasaan yang merasa diperlakukan secara tidak adillah yang membuat gue kecewa dengan diri gue sendiri, harus gue sudah teebiasa, harusnya gue bisa jauh lebih kuat, gak perlu berdiri bak orang bodoh didepan mereka berdua dengan mata yang berkaca-kaca kaya gini.
"Dek! Mas bisa je__"
'Mas gak perlu ngejelasin apapun, Syia udah denger sendiri, jadi alasan Bunda bersikap sesuka hati untuk semua laki-laki yang dekat dengan Syia adalah ini? Cuma karena Syia nolak perasaan Mas Rian, Mas Rian yang Bunda akan menjadi yang terbaik untuk menjadi pendamping Syia nanti, bukannya begitu?" Wah, gue bahkan udah gak bisa nangis sekarang, yang bisa gue lakukan hanya tertawa dengan tatapan yang sudah sangat berkaca-kaca, semiris dan sekacau itu keadaan gue sekarang.
"Dek! Bunda cuma kecewa karena kamu nolak Rian, cuma itu." Cuma? Cuma Mas Ali bilang? Apa semua sikap Bunda selama ini bisa dibuat sederhana hanya dengan satu kata cuma? Apa Mas Ali pikir gue sebodoh itu sampai gak bisa membaca situasi sama sekali?
"Cuma? Apa Mas gak salah? Apa semua sikap dan perlakukan Bunda yang udah Syia terima selama ini bisa Mas bilang cuma? Apa sikap Bunda ke Kak Fikri sama Rante Ratih itu cuma? Apa membuat hidup Syia kacau kaya gini bisa diselesaikan dengan satu kaya cuma? Enggak Mas!" Semuanya udah gak sesederhana itu, gimana bisa gue mengibaratkan semua sikap Bunda dengan kata cuma, cuma karena Bunda kecewa dengan keputusan gue apa bisa membuat Bunda berhak melakukan apapun? Apa bisa membuat Bunda berhak bersikap seperti apapun? Jawabannya jelas enggak!
"Cuma karena Syia mengecewakan dan gak sesuai dengan apa yang Bunda harapkan, Bunda udah gak peduli dengan hidup Syia, Mas, Bunda bahkan menghancurkan hidup Syia, apa kalau Mas ada diposisi Syia sekarang, Mas bisa melupakan semuanya cuma karena alasan itu? Semua yang udah Syia lakuin demi memberikan yang terbaik untuk Bunda udah gak ada gunanya, Bunda udah gak ngeliat itu." Gue bahkan udah gak natap Bunda sama sekali, sebegitu kecewanya gue memang, gak ada satu katapun yang bisa mewakili perasaan gue sekarang, gak ada sama sekali.
"Bunda gak adil Mas juga tahukan? Cara Bunda memperlakukan kita berdua itu beda, Bunda bisa memaafkan apapun kesalahan Mas dulu, seberapa besarpun rasa kekecewaan Bunda, Bunda selalu bisa meaafkan dengan lapang d**a, dulu Syia selalu mikir kalau Bunda adalah Bunda terbaik di dunia, Bunda adalah sosok yang sangat luar biasa, Bunda adalah seorang Ibu yang sangat tulus karena bisa memaafkan semua kesalahan anak dengan begitu mudahnya tapi sekarang, begitu masalah muncul atas diri Syia dan sikap Bunda kaya gini, semua pandangan Syia berubah Mas, gak ada yang perlu Syia banggakan lagi." Apa yang harus gue banggakan sekarang? Apa gue harus bangga melihat seorang Ibu mempersulit hidup anaknya sendiri karena terlanjur merasa dikecewakan? Apa ada yang hebat dari itu?
"Kenapa Mas diem? Syia benerkan? Bunda gak ada dalam memperlakukan kita berdua dan dari dulu." Walaupun sikap pilih kasih Bunda sudah terlihat dari dulu tapi setidaknya gue gak akan terlalu merasa dibedakan semasa Ayah masih ada, Ayah akan selalu berada dipihak gue, Ayah yang akan selalu membela gue tapi setelah Ayah gak ada, semua sikap Bunda perlahan mulai berubah, dan ini adalah yang terparah yang pernah gue rasain setelah Ayah gak ada, ini udah gak bisa gue toleransi lagi.
Selama ini gue gak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil kalau memang Bunda mau bersikap gak adil, gue gak semanja itu tapi kalau cuma karena gue nolak perasaan Mas Rian dan berakhir dengan membuat Bunda kecewa terus itu bisa membuat Bunda membenarkan semua sikapnya, bukannya Bunda sudah sangat keterlaluan? Apa yang membuat gue sama Mas Ali sangat dibedakan sampai seperti ini? Apa kesalahan gue sekarang jauh lebih besar dari kesalahan yang dilakukan Mas Ali dulu? Apa yang udah gue perbuat gak berhak mendapatkan pengertian sama sekali? Separah itukah kesalahan gue?
Gue udah mencoba mengabaikan semua sikap dan perlakuan Bunda, ke gue, ke Lian, ke Kak Fikri bahkan ke Tante Ratih tapi sekarang gue udah gak bisa diam gitu aja lagi, Bunda bahkan sama sekali gak sadar dengan kesalahan yang udah diperbuatnya, apa gue masih punya alasan untuk membiarkan semua sikap dan prilaku semena-mena Bunda? Gak masalah kalau yang menjadi target cuma gue tapi ini Bunda bahkan udah melibatkan orang-orang terdekat gue, bahkan keluarganya sendiri, apa Mas Ali masih ingin membenarkan sikap Bunda sekarang? Kalaupun Mas Ali bisa tapi maaf, gue udah gak bisa, gue akan menyelesaikan semuanya dengan cara gue sendiri.
"Ini bisa kita bicarain baik-baik Dek, kamu jangan ikutan emosi kaya gini." Ck! Ikutan emosi? Apa sikap gue sekarang cuma dikira ikut-ikutan Bunda? Yang seharusnya marah sekarang itu memang gue, gimana bisa gue tetap tenang setelah denger semua ucapan Bunda? Tatapan gak merasa bersalahnya sekarang bener-bener mengganggu gue, setelah Bunda ngelakuin banyak hal, gak ada sedikitpun rasa bersalah dan penyesalan dari raut wajahnya, sikap Bunda sekarang seolah membuat gue mikir kalau alasan Bunda bersikap kaya gini udah paling tepat, padahal enggak sama sekali.
Menuduh dan memperlakukan orang lain sesuka hati cuma karena dekat dengan gue, apa Bunda gak mikir sama sekali? Melakukan semuanya supaya gue sadar posisi gue sekarang, supaya gue sadar kalau sampai kapanpun gue gak akan bisa membantah ucapannya, sikapnya selama ini hanya untuk menyadarkan gue kalau sebenernya gue gak bisa melawan untuk semua permintaannya, cuma itu tapi Bunda juga melakukan kesalahan terbesarnya sekarang, membuat gue kecewa bahkan membenci diri gue sekarang adalah masalah Bunda selanjutnya, gue gak akan bersikap baik lagi, gue akan mengikuti apa yang Bunda lakuin juga.
"Apalagi yang mau Mas bicarain baik-baik? Omongan Mas aja gak didenger sama Bunda apalagi omongan Syia, Mas gak liat keadaan Syia sekarang? Mas gak inget gimana tatapan Kak Fikri sama Tante Ratih tadi? Mereka mendapatkan perlakukan kaya gitu cuma karena Syia nolak Mas Rian, sesederhana itu Mas tapi efeknya bisa sampai kaya gini, apa Mas masih minta Syia untuk tenang?" Jangan gila, orang waras gak akan berbuat kaya gitu, mengabaikan perasaan orang lain karena terlalu mementingkan perasaan diri sendiri itu gak ada baik-baiknya, gue gak mau ngelakuin hal yang sama dengan Bunda, gue gak akan ngelakuin itu, kalau Bunda marah dan kecewa sama gue yaudah lampiaskan ke gue aja, gak usah bawa-bawa susah hidup orang lain, cukup bermain dengan hidup gue.
"Sekarang udah percuma Mas, Syia udah gak punya kekuatan untuk berdebat lagi, biarin Bunda ngelakuin apa yang dia mau dan Syia akan ngelakuin apa yang Syia mau."