(BAB 46)

1108 Kata
Setelah pembicaraan gue, Mas Ali sama Bunda kemarin, gak ada satupun solusi yang akan berakhir baik menurut gue, walaupun Mas Ali sudah mencoba menengahi, memberikan penjelasan, menasehati dan sebagainya tapi perbedaan pendapat antara gue sama Bunda beneran udah gak terelakkan lagi, Bunda yang selalu tetap dengan pendiriannya dan gue yang akan tetap dengan pendirian gue juga, gue gak bisa maksa Bunda untuk mengikuti mau gue itu apa dan gue juga sama, Bunda gak bisa memaksa gue untuk mengikuti keinginannya akan seperti apa, gue juga udah gak mau mencoba membuat Bunda mengerti keadaan gue lagi, ini adalah keputusan terbaik menurut gue setidaknya untuk sekarang, karena apa? Karena apapun yang sedang dan akan gue perbuat, dengan semua sifat keras kepala gue, sifat keras kepala Bunda juga, gak akan ada jalan keluarnya sama sekali, gue sama Bunda bakalan sulit sejalan. Terlepas dari sifat Bunda yang pilih kasih antara gue sama Mas Ali, mungkin ada beberapa orang yang akan nanya, kenapa gak gue aja yang ngalah sama Bunda? Bukannya Bunda itu Ibu gue? Bukannya yang muda harusnya bisa mengalah? Mungkin bisa dalam hal lain tapi gak bisa dalam hal ini, gue gak setuju sama sekali, gue gak bisa mengikuti semue keinginan Bunda gue kalau udah begini caranya, rasanya gue gak harus menceritakan apapun, hampir seluruh keluarga gue udah tahu akar permasalahannya apa, gue yang batal menikah sama Mas Galang, terus gue yang nolak Mas Rian, gue yang suka sama Lian, masih banyak lagi, kalau sikap Bunda masih tetap kaya gini, tinggal tunggu aja seluruh keluarga tahu masalah tuduhan Bunda sama Kak Fikri. Gue juga sempat mikirin solusi gila lain sebenarnya, kalau memang Bunda gak percaya kalau gue sama Kak Fikri gak ada hubungan seperti yang Bunda pikirkan, gue berniat minta Kak Fikri segera menikahi perempuan lain sesegera mungkin, itu mungkin bisa mengubah pandangan Bunda gue tapi itu juga ide yang beneran gila, gak mungkin gue minta Kak Fikri menikah sama orang lain juga cuma untuk menyenangkan hati Bunda gue, gue gak mungkin minta Kak Fikri lepas masa lajang cuma untuk membuat Bunda gue merasa lebih tenang, itu bukan cuma gila tapi gila beneran, mana bisa gue mengorbankan masa depan Kak Fikri segampang itu? Ide gila gue gak cuma minta Kak Fikri ngelakuin sesuatu yang aneh tapi itu menikah, pernikahan, suatu ikatan yang akan mengharuskan Kak Fikri hidup bersama perempuan lain, perempuan yang harus dia jaga, dia pastikan kebahagiannya juga, itu bukan pekara mudah dan gue malah punya niat meminta Kak Fikri menikah segampang itu? Gue gila dan kalau sampai gue berani menyampaikan niat gue dan minta Kak Fikri ngelakuin itu, gila gue kebangetan, ada satu tahap lagi yang tingkat kegilaannya udah diatas rata-rata, kalau sampai gue berani menyampai pemikiran gila gue dan saat itu Kak Fikri malah setuju, kegilaannya udah patut gue pertanyakan, udah gak diatas batas aman soalnya, levelnya udah mengerikan. Karena gue sadar itu adalah ide gila, sebagai seseorang yang masih memiliki sedikit kewarasan, gue mengurungkan niat gue yang itu, gak ada gunanya berpikir terlalu lama kalau cuma soal beginian, gue gak mau gila beneran soalnya, ngadepin Bunda gue udah sangat sulit jadi gue gak berani nambah masalah kalau cuma untuk rencana gue barusan, gue memang tersiksa dengan sikap Bunda gue sekarang tapi gue gak harus ikut nyiksa Kak Fikri cuma untuk menyelesaikan masalah gue, masalah gue bukan tanggung jawab siapapun jadi gue gak boleh egois. Mengingat hasil pembicaraan gue sama Bunda gak berjalan baik, gue udah mutusin untuk tinggal dirumah lama keluarga gue lebih lama, gue juga gak mau ditemenin siapapun, gue udah gak punya keberanian ngadepin mukanya Om sama Tante gue setelah tuduhan yang Bunda layangkan, kalau awalnya gue juga belum mastiin akan tinggal berapa lama, kali ini gue mutusin untuk tinggal selamanya, seeumur hidup gue ini akan menjadi tempat tinggal utama gue sekarang, gue tetap akan pulang ke rumah Bunda seperti biasa, itu gak akan berubah jadi untuk sekarang ini adalah keputusan gue. Kali ini gue beneran gak akan menghindar, gue akan memulai hidup gue yang baru, gue akan menjalani apapun yang gue yakin akan menjadi pilihan terbaik gue, gue juga udah mulai usaha gue jadi gue gak akan bisa pindah lagi, gue gak mau ninggalin toko es krim gue lama-lama, gue akan mencoba menjalani kehidupan gue sebaik mungkin, dengan keinginan gue sendiri, dengan kerja keras gue sendiri, gue akan benar-benar belajar hidup mandiri mulai sekarang, tinggal seorang diri dan gak akan berbuat hal aneh apapun, yang gue butuhin sekarang cuma dukungan Mas Ali untuk semua keputusan gue sekarang. Mendengar keinginan gue, Bunda jelas gak setuju, Tante Ratih juga gak setuju, Tante Ratih ingin tetap membantu gue, menemani gue tinggal disini tapi gue udah gak bisa nerima niat baiknya sekarang, gue terlalu malu untuk nerima semua sikap baik Tante Ratih setelah Bunda memperlakukan mereka begitu, Bunda gue gak ada rasa bersalahnya sama sekali jadi gimana gue bisa bersikap seolah gak terjadi apapun, Tante Ratih gak memperpanjang urusan ini aja harusnya gue udah berterimakasih, karena Tante Ratih udah paham sama sifat dan kelakuan Bunda gue jadi walaupun kecewa, Tante Ratih gak akan berdebat lama dan mencoba mengerti, gue sangat-sangat bersyukur untuk itu. Dan mengenai penolakan Bunda, gue gak mempertimbangkan apapun lagi, ucapan gue sata itu udah sangat jelas, Bunda bersikap dengan sesuka hatinya dan gue juga akak bersikap sesuka hati gue, keras kepala memang tapi gue beneran gak bisa terima dengan sikap Bunda, gue gak ingin berdebat juga jadi cukup kaya gini, gue dengan keputusan gue dan Bunda dengan keputusannya, gak perlu ada yang dibahas lagi, udah cukup semua perdebatan dan masalah yang muncul dalam hidup gue, gue ingin berhenti sekarag, masalah gue sama Lian udah cukup tenang walaupun gue gak tahu akhirnya bakalan kaya apa tapi saat ini, perasaan gue ke Lian terasa jauh lebih baik, gue gak akan bingung karena apapun. Gue akan mencoba menjalani hari-hari baru gue, melakukan semua yang ingin gue lakukan tanpa harus mempertimbangkan perasaan orang lain, gue juga udah mutusin untuk menutup buku cinta gue sementara, membuat perasaan gue jauh lebih tenang, membuat perasaan Bunda gue jauh lebih tenang, membuat keadaan disekeliling gue jauh lebih tenang, ini adalah keputusan dan rencana yang udah gue pikirkan sebaik mungkin, gue juga udah nanyak pendapat Mas Ali dan setelah Mas Ali setuju, gue rasa gak akan ada masalah besar apapun lagi sekarang, cukup berusaha menjalani hari-hari gue dengan jauh lebih baik, itu udah lebih dari cukup. Mas Ali cuma mengingatkan, jangan terlalu memaksakan diri dan cerita sama Mas Ali kalau gue ada masalah apapun, mengingat gue akan mulai tinggal sendiri juga, Mas Ali mutusin untuk ngejengukin gue sesering mungkin dan gue setuju, Insyaallah gak akan ada masalah besar kedepannya, biarkan gue sendiri dan kalau memang jodoh gue udah dekat, akan ada jalan dan cara terindahnya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN