(BAB 47)

1116 Kata
"Dua tahun kemudian." Gue melambaikan tangan gue ke arah seberang jalan lengkap dengan senyum sumringah gue, hari ini adalah tepat dua tahun gue merayakan pertemuan gue dengan seseorang, pertemuan yang terasa sangat kocak dan bisa dikatakan gue mungkin akan mengingat hari itu sebagai salah satu hari paling bersejarah dalam hidup gue. Siapa? Kata siapa pasti akan menjadi hal pertama yang terlintas dalam pikiran siapapun yang mendengarkan isi hati gue sekarang, siapakah gerangan yang bisa membuat seorang Syia mempunyai sejarah terbaru dalam hidupnya? Apa istimewanya seseorang tersebut sampai pertemuan pertama sekalipun harus gue rayakan? Apa dia sepenting itu? Apa dia selayak itu? Jawaban iya! Dia memang selayak itu. "Udah lama? Sorry, gue ketiduran, alarm lupa gue pasang terus Mas Fikri kebetulan gak ada dirumah juga jadi gue gak ada yang bagunin." Jelas Hawa masih dengan nafas terengah-terengah, gue tersenyum dan mengangguk mengiyakan, Hawa telat memang bukan kebiasaannya jadi apapun penjelasan yang Hawa kasih sekarang bakalan gue percaya, itu jelas bukan sekedar alasannya doang. Perkenalkan, Hawa Ziani Ramadhan, seseorang yang baru gue kenal dalam jangka waktu yang terbilang singkat tapi gue berani mengatakan kalau Hawa adalah sahabat gue, dua tahun adalah waktu yang sedikit untuk gue bisa mengenal seseorang tapi dalam dua tahun gue juga melalui banyak hal dengan Hawa, dua tahu mengenal Hawa gue bisa melihat semua sifatnya, baik buruknya, gue pikir gue tahu sekarang. Pernah gak sih lo baru ketemu orang baru tapi lo ngerasa nyaman dan kompak banget sama dia? Bahkan pertemanan yang udah lo bangun dengan begitu banyak orang bisa mengalahkan kepercayaan lo dengan orang yang baru lo kenal itu, bareng dia lo bisa jadi diri lo sendiri dan lo ngerasa nyaman kalau cerita apapun, yang pastinya itu juga cuma perasaan sepihak lo doang karena lo juga yakin kalau dia juga ngerasain hal yang sama, pertemanan yang sefrekuensi itu. Syarat kompak memang bukan mengenai waktu, berapa lama lo mengenal seseorang bukan jaminan kalau lo akan memahami orang itu sepenuhnya, karena terkadang orang yang baru lo kenal juga bisa sangat luar biasa kalau kalian ada dijalur yang sama, gue gak tahu orang lain akan ngerti dengan apa yang gue maksud tapi setidaknya ini adalah apa yang gue rasain sekarang. Ah satu lagi, Hawa itu istri Kak Fikri juga, Kak Fikri sama Hawa menikah sekitar setahun yang lalu, ini juga yang bisa membuat gue menganggap pertemuan pertama gue sama Hawa itu terbilang seru, gue yang saat itu pernah punya pikiran gila mau Kak Fikri nikah supaya Bunda gue berhenti salah paham malah beneran gila dengan berani nanya ke Kak Fikri hal itu? Gue didesak situasi dan gue nyoba mengutarakan ide gue, seperti apa yang gue duga, ada yang jauh lebih gila dari gue, kenyataannya Kak Fikri juga gila karena mengiyakan ide gila gue. Saat itu setelah gue sama Kak Fikri sepakat sama ide tersebut, dengan dibantu Mas Ali juga, gue sama Mas Ali langsung beralih profesi jadi mak comblang buat Kak Fikri sama Hawa, somplaknya dimana? Karena gue terlalu heboh dan antusias dengan rencana kita bertiga, waktu itu Hawa malah mikir kalau gue adalah istri pertamanya Kak Fikri yang lagi berusaha ngebujuk Hawa supaya bersedia untuk dijadikan istri ke dua, gila gila gila, ada yang lebih gila dari gue sama Kak Fikri ternyata. "Udah gak papa, yaudah buruan, lo gak mau kita gak kebagian makanannyakan? Kak Fikri katanya bakalan nyusul jadi kita disuruh duluan aja." Gue menggandeng lengan Hawa dan mengusap pipinya jail, muka ngos-ngosannya bikin gue kasian tapi mau ketawa juga, tega-tega gak rela lah istilahnya. Hari ini, gue, Hawa sama Kak Fikri janjian makan di tempat biasa cuma karena itu tempat lumayan terkenal didaerah sini jadi kalau telat takutnya tempatnya penuh dan kita gak bakalan kebagian, dari pada kita telat karena nungguin Kak Fikri pulang kerja, lebih baik gue sama Hawa jalan duluan dan nyari tempat untuk kita bertiga, setelah lulus, alhamdulillah Kak Fikri langsung dapet kerjaan makanya pas masa deket sama Hawa juga gak lama mereka langsung nikah. Awalnya Kak Fikri sempat ragu untuk ngelamar karena takut ditolak sama orang tua Hawa, gimanapun Kak Fikri saat itu baru mulai kerja jadi gajinya masih kecil dan tabungan juga gak banyak tapi setelah diyakinkan Hawa, Kak Fikri punya keberanian dan syukurnya orang tua Hawa juga gak mempermasalahkan apapun, menurut Hawa sendiri berjuang sama-sama itu jauh lebih baik dari pada Hawa nunggu Kak Fikri udah diatas. Gue sempat nanya sama Hawa, memang alasan Hawa gak keberatan apa sebenernya? Gimanapun ada beberapa perempuan yang gak mau susahkan? Tapi kenapa Hawa tetap nerima lamaran Kak Fikri padahal menurut gue saat itu, keadaan keluarga Hawa bisa dikatakan sangat mapan, Hawa bisa mendapatkan apapun yang dia mau dari orang tuanya. Dengan yakin Hawa memberikan jawaban, kenapa Hawa mau berjuang bersama? Karena suatu saat kalau Kak Fikri sukses, Hawa mau Kak Fikri mengingat kalau ada Hawa yang selalu setia berdiri dibelakangnya, pernah denger kalimat dalam sebuah rumahtangga, kesetiaan seorang istri dilihat ketika waktu tersulit suaminya tapi kesetian seorang suami dilihat ketika dia sudah punya segalanya, ya walaupun gak semua rumah tangga akan dihadapkan dengan permalahan seperti ini tapi Hawa mau merencanakan semuanya dengan sebaik mungkin, walaupun rencana bisa gak terjuwud tapi setidaknya Hawa gak akan menyesal karena sudah pernah mencoba melakukan yang terbaik, gue sangat salut waktu itu. Gak semua perempuan punya pemikiran kaya gini menurut gue, gue salut dengan pemikiran dewasa Hawa dan gue rasa pilihan Kak Fikri gak salah, Hawa adalah pasangan terbaik, walaupun yang terbaik belum tentu sempurna tapi itu bukan masalah, kesempurnaan akan hadir disaat Kak Fikri sama Hawa hidup bersama dan saling melengkapi, bukan menuntut kesempurnaan antara satu sama lain yang hanya akan berakhir dengan perdebatan yang gak ada ujungnya, gue ikut bahagia untuk Hawa sama Kak Fikri. Itu adalah perjalanan hidup Kak Fikri sama Hawa selama dua tahun terkahir, lalu gimana dengan perjalanan hidup gue sendiri? Apa dua tahun berlalu semuanya sudah membaik? Apa semua masalah gue sudah terselesaikan? Bagaimana dengan jodoh? Di umur gue yang susah genap berusia 30 tahun, apa gue masih betah sendiri? Apa gue gak berencana mencari pasangan hidup juga? Masih banyak pertanyaan yang gak bisa gue jelaskan satu persatu cerita panjangnya tapi yang pasti, dua tahun berlalu, kehidupan gue berjalan dengan jauh lebih baik, sangat baik malah. "Kenapa malah begong? Yaudah ayo jalan." Hawa berbalik menggandeng lengan gue yang membuat lamunan sesaat gue barusan buyar gitu aja, Hawa mendorong tubuh gue pelan untuk masuk ke mobil dan mulai melajukan mobil ke tempat tujuan kita berdua sekarang, banyak hal yang berubah dalam hidup gue dan akan gue ceritakan satu persatu nantinya. "Oya! Kata Mas Fikri, minggu depan tetangga depan rumah lo nikah dan lo diundang, katanya udah sempat ngomong sama Mas Ali juga tapi mungkin belum disampain aja, lo pulang gak?" Tanya Hawa melirik gue sekilas dan kembali fokus dengan kemudinya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN