(BAB 22)

1514 Kata
"Apa alasannya? Apa karena Lian lagi?" Kali ini Mas Ali yang nanya setelah menenangkan Bunda, Mas Ali mengusap kasar wajahnya dan menatap gue serius, walaupun raut wajahnya terlihat sangat keberatan dengan keinginan gue tapi Mas Ali juga terlihat mencoba menahan emosinya dan menanyakan alasan gue ingin pindah secara baik-baik, bagi gue sikap dan respon Mas Ali jauh baik dari biasanya karena kalau ngikutin sifat keras kepala keluarga gue, Mas Ali gak akan bereaksi setenang ini, Mas Ali akan telrihat sama seperti keadaan Bunda sekarang, terlihat sangat shock dan jelas menolak keras keinginan gue sekarang, Bunda bahkan menatap gue solah kehabisan kata. "Alasannya memang karena Lian tapi Mas Rian juga iya, Syia gak bisa berhadapan atau berpaspasan sama mereka setiap hari Mas, mana mungkin Syia bisa menghindar kalau Syia masih tinggal disini, semakin sering Syia ketemu Mas Rian sama Lian, semakin sulit Syia ngatur perasaan Syia sendiri, Mas bisa ngertikan alasan kenapa Syia mau pindah?" Karena menurut gue ini yang terbaik, lagian gue gak akan pindah selamanya, kalau keadaan udah tenang dan perasaan gue udah lebih baik, gue akam balik tinggal disini, sesekali gue juga pasti masih tetap bakalan mampir ke rumah, gue gak akan bikin Bunda sama Mas Ali khawatir. "Kalau memang itu alasan kamu, Mas bisa ngerti tapi Dek, Mas sama Bunda juga gak mungkin ngebiarin kamu tinggal sendirian di rumah lama kita, Mas sama Bunda gak mungkin tenang melepaskan kamu hidup sendiri, jauh dari Bunda, jauh dari Mas, apa kamu gak bisa mempertimbangkan ini lagi, masih banyak cara lain, gak harus dengan pindah kaya gini." Gue sangat-sangat mengerti kalau memang Bunda sama Mas Ali khawatir tapi gue juga bukan anak kecil lagi yang harus dijagain satu kali dua puluh empat jam, gue juga bisa sekalian belajar hidup mandirikan disana, gue gak harus bergantung sama Bunda dan Mas Ali terus, gue juga bisa memikirkan hidup gue sendiri dengan lebih baik, tanpa harus ada ribut-ribut sama siapapun, gue bisa berpikir lebih tenang. "Lagian kenapa kamu harus menghindari Rian juga? Kalian punya masalah?" Tanya Bunda yang akhirnya kembali buka suara, gue menatap Bunda bingung untuk sesaat dengan pertanyaannya barusan, apa gue harus ngasih tahu Bunda sama Mas Ali kalau ternyata Mas Rian juga suka sama gue? Apa mereka gak akan semakin berharap kalau hubungan gue sama Mas Rian akan berhasil nantinya? Gue gak mau keluarga gue menggantungkan harapan apapun lagi dan dengan siapapun lagi, terlebih kalau orang itu adalah Mas Rian, gue sama Mas Rian bareng-bareng itu gak bakalan bisa gue bayangin kejadiannya bakalan kaya apa, itupun gimana kalau sampai Lian tahu. Gue sama sekali gak bisa membayangkan kalau seandainya Lian tahu perasaan Mas Rian ke gue itu gimana? Sekarang Mas Rian udah tahu perasaan gue ke Lian, apa Lian bakalan ngasih tahu Masnya juga gimana perasaannya ke gue? Kalau iya itu beneran akan jadi pekara baru, gue gak mau Mas Rian sama Lian berantem cuma karena gue, gue gak sepenting itu, lagian kalaupun Ian sama Mas Rian berantem sampai titik darah penghabisan, gue juga gak akan bisa milih salah satu dari mereka, itu gak bakalan kejadian, mungkin harus ada banyak kejadian lain yang harus gue lewati lebih dulu kalau gue mau berakhir dengan salah satu dari mereka. "Nda, untuk sekarang Syia gak bisa ngasih tahu alasannya tapi Syia cuma minta tolong, jangan terus manggil Mas Rian calon menantu atau apapun, hati orang gak ada yang tahu Nda." Jelas gue, walaupun Mas Rian udah ngejelasin kalau perasaannya sama sekali gak menyangkut dengan ledekan atau usaha keluarga gue untuk mendekatkan gue sama dia, tapi gue tetap gak mau keluarga gue bersikap kaya gitu, terkadang rasa bisa timbul dari cia ciean orang-orang yang sebenernya cuma menganggap itu sebuah becandaan, apalagi sekarang kejadiannya keluarga gue serius bukannya lagi becanda, apa Mas Rian gak akan semakin kesusahan? Andai kata Mas Rian gak kesusahan, gue yang kewalahan. "Sekarang apalagi sih Dek? Kamu gak cukup bikin masalah sama Lian dan sekarang malah nambah masalah lain sama Rian juga? Kam__" "Kapan memangnya Adek mau pindah? Kerjaan kamu gimana? Jarak rumah sama kampus lumayan jauh Dek, bukannya kuliah masih ada sekitaran satu bulan lagi? Kamu mau bolak-balik dengan jarak sejauh itu?" Ucap Mas Ali nahan lengan Bunda, Mas Ali menatap gue tenang dengan pertanyaan seperti itu, untuk pertama kalinya gue cukup terpaku dengan sikap Mas gue sendiri, apa begini rasanya mendapatkan pengertian dari Abang gue sendiri? Apa begini rasanya di dukung oleh keluarga gue sendiri? Gue bahkan gak bisa menyembunyikan perasaan bahagia gue sekadang. "Syia maunya sesegera mungkin Mas tapi sekarang Syia lagi minta tolong sama temen untuk ngegantiin Syia ngajar selama sebulan terkahir ini, seterusnya Syia memang mau keluar." Jawaban gue yang lagi-lagi dihadiahi tatapan kaget Bunda, penolakan jelas tercetak jelas diraut wajah Bunda gue lagi, Bunda pasti kebertaan gue melepaskan kerjaan gue sekarang, Bunda memang lebih suka gue ngajar dari dulu tapi ini hidup gue, gue yang menjalani, gue mau melakukan sesuatu yang memang gue suka, bukan atas permintaan siapapun. "Kamu bahkan mau keluar dari kerjaan kamu sekarang Dek? Apa itu gak berlebihan? Apa kamu sama sekali udah gak mikirin masa depan kamu?" Tanya Bunda gue terlibat jelas sangat kecewa dengan keputusan gue sekaran tapi lagi-lagi, dengerin penjelasan gue dulu sebelum marah atau kesal kaya gini, gue juga mikirin masa depan gue, gue sangat memikirkannya makanya itu gue mempertimbangkan hal ini semua lama, gue merencanakan ini semua lama jadi gak mungkin gue asal-asalan main keluar dari kerjaan tanpa ada persiapan apapunkan? "Nda! Syia juga mikirin masa depannya Syia, makanya itu Syia udah mutusin untuk nerusin keinginan Almarhum Ayah dulu, Syia mau buka toko es krim, ini juga rencana Syia sekarang." Dan yah, tatapan Bunda sama Mas Ali terlihat sangat takjub dengan jawaban gue sekarang, takjub sama kaget ya beda-beda tipislah, Bunda gue yang terdiam seakan gak ngerti lagi jalan pikiran gue udah kaya apa dan begitupun Mas Ali, walaupun mencoba mengerti keadaan gue tapi raut wajah kagetnya juga gak bisa nipu, mereka berdua seolah kehabisan kata dengan keinginan gue sekarang. "Kamu liat Adek kamu? Udah mau pindah baru ngomong kalau dia mau buka toko es krim seperti keinginan Ayah kalian dulu, kamu pikir buka usaha kaya gitu gampang Dek? Semua butuh persiapan." Gue mengangguk pelan untuk pertanyaan Bunda gue barusan, gue juga tahu kalau buka usaha itu butuh persiapan yang beneran mateng dan gak bisa dalam keadaan buru-buru kaya gini, semuanya gak akan bisa berjalan secepat itu tapi bukannya gue punya keluarga? Gue punya Mas Ali yang pastinya bakalan ngebantuin gue, lagian alasan gue keluar lebih cepat dari kampus ya karena gue mau mempersiapkan baik-baik usaha gue ini, gue juga bisa memamfaatkan kesibukan gue untuk gak terus mikirin Mas Rian sama Lian, gue bisa bejalar melupakan perasaan gue sendiri. "Kamu udah mikirin ini semua baik-baik Dek? Kamu udah yakin mau keluar dari kerjaan kamu sekarang dan bukan toko es krim? Buka usaha itu gak gampang." Tanya Mas Ali ulang tapi tidak menuntut seperti Bunda barusan, gue mengangguk pelan dan lagi-lagi menatap Mas gue yakin, dari awal gue memang gak berniat untuk ngajar lama, gue cuma dosen pengganti makanya gue mau mulai mikirin masa depan gue sendiri, buka usaha sendiri memang gak mudah tapi gue tetap yakin untuk nyoba, kita gak akan tahu gimana hasilnya kalau belum nyoba sama sekali, masa gue mau mundur sebelum nyoba, jadinya malah kalah sebelum berperang tar, gue gak sepengecut itu. "Kalau memang kamu udah mikirin ini baik-baik dan kamu udah yakin dengan keputusan kamu, Mas bantuin, kapan Adek mau pindah juga kabarin awal-awal, mungkin selama ini juga salah Mas karena gak pernah nanya apa yang kamu mau tapi mulai sekarang, tanya dulu sama Mas atau Bunda sebelum bikin keputusan penting kaya gini, pindah juga butuh persiapan, apalagi buka usaha, untuk sekarang Mas akan minta orang untuk ngeberesin rumah lama kita, Mas juga akan nyariin orang gaji untuk nemenin kamu disana, mengenai buka usaha, kita bicarain lain kali, untuk sekarang kaya gini dulu." Dan Mas Ali tersenyum sekilas memperhatikan gue. Wah! Gue sama sekali gak nyangka kalau Mas Ali bakalan setuju dengan keputusan gue, bahkan mau ngebantuin gue pindah, nyari orang untuk nemenin gue disana lagi, salut banget gue, perubahan sikapnya beneran bikin gue terharu, mata gue sampai berkaca-kaca malah mempertahikan Mas Ali sekarang, gue bahagia banget, asli, gue sesenang itu didukung sama Mas gue sendiri, Mas Ali berubah kaya gini gue beneran bersyukur, walaupun setiap kali gue ingat ucapan gue dulu gue akan merasa bersalah tapi gue akan melakukan yang terbaik untuk gak ngulangin kesalahan gue. "Tengkyu Mas." Cicit gue yang dihadiahi satu sentilan dari Mas Ali, Bunda gue udah menatap gue sama Mas Ali sambilan geleng-geleng kepala tapi ya gimana, begini jauh lebih baik ketimbang gue sama Mas Ali ribut teruskan? Bukannya saling pengertian adalah hal bagus, kalau Mas Ali bisa bersikap sepeduli ini sama gue, gue juga gak akan nutupin apapun lagi sama dia, gue bisa cerita dan nanya solusi, sama seperti yang gue lakuin ke Mbak Lia selama ini, jodoh itu memang mirip ternyata, walaupun yang satunya blusukan diawal tapi dengan menemukan pendamping terbaik, Mas gue aja bisa berubah kaya gitukan. "A satu lagi, masalah Syia mau berhenti ngajar dan Syia mau pindah, jangan sampai ada yang tahu terutama tetangga didepan kita, tolong!"   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN