"Ian gak akan pernah membiarkan Kakak menjauh, itu yang harus Kakak ingat." Gue udah gak heran dengan isi pesan chat Ian sekarang, dibilang becanda, gue yakin ni anak memang gak lagi becanda sama sekali, becandaan model apaan yang gak behenti sampai kaya gini? Gue mau bales males, gue ladenin juga percuma, yang gue pikirin sekarang itu cuma satu, bisa gak gue menghindar bahkan narik diri menjauh dari Lian setelah pesan chat Lian yang modelan begini bentukannya? Bisa gak gue menjalankan rencana gue sesuai keinginan? Gimana gue gak khawatir sama bingung sendiri, belum apa-apa aja rencana gue udah terancam punah duluan, apa gak makin pusing kepala gue.
Gue juga gak bisa menganggap remeh ucapan Lian, hanya karena Lian mahasiswa gue, hanya karena Lian lebih muda dari gue bukan berarti Lian itu masih anak kecil yang gak tahu apapun, nyatanya terlepas dari status dan umur gue sama Lian yang terpaut cukup jauh, Lian masih tetap seorang laki-laki dewasa, Lian udah berhak menentukan pilihannya sendiri, Lian udah berhak memilih jalan hidupnya sendiri, walaupun perempuan yang dicintai Lian adalah gue, bukan berarti gue berhak untuk menentukan jalan hidup dan pilihan Lian nanti, semuanya punya hak masing-masing, Lian juga sama, Lian berhak menentukan pilihannya.
Yang paling gue takutkan sekarang adalah diri gue sendiri, kenapa? Karena kalau Lian udah bersungguh-sungguh ingin berjuang, bukannya itu berarti gue juga harus menyiapkan mental baja? Kalau Lian udah mulai bertindak, gue sama sekali gak bisa ngebayangin hal apa aja yang akan dilakukan Ian nanti untuk memperjuangkan perasaan kita berdua, walaupun Ian gak menuntut apapun dari gue dan cuma minta gue diam ditempat, tapi gue juga gak mungkin beneran jadi penonton budiman menyaksikan Lian berjuang seorang diri seperti apa yang Lian mau, masalahnya yang sedang diperjuangkan itu gue, buka orang lain jadi gimana mungkin gue diem aja gak berbuat apapun.
Aaaaaa, hidup kenapa begini amat, berasa kaya hidu segan, mati tak mau, maju salah, mundur juga salah, menghidar salah, ninggalin juga bakalan lebih salah lagi, Lian udah ngasih peringatan supaya gue menghindar dari dia apalagi sampai kabur, itu ancaman yang sangat tepat disaat keinginan gue adalah pergi sejauh mungkin untuk sementara, bukannya aneh? Apa Ian udah tahu rencana gue makanya sampai ngomong kaya gitu? Ian tahu gue bakalan menghindar dari masalah makanya Ian ngancem gue kaya tadi, apa gue masih akan pergi sesuai rencana gue sebelumnya? Jawabannya sekarang gue gak tahu, udah ngeblank banget semuanya, gak ada yang bener.
Lagian, apa bisa gue mengabaikan ancaman Lian gitu aja? Ian kalau udah mutusin sesuatu juga bakalan bertahan sampai akhir, gak akan nutup kemungkinan kalau Lian memang bakalan bisa ngelakuin apapun untuk memperjuangkan perasaan kita berdua, bukannya apa-apa, gue malah takut Ian ngerencanain hal aneh-aneh dan malah berakhir dengan membuat Bunda sama Mas Ali makin gak setuju dengan perasaan kita berdua, gue kenal Lian itu gimana dan yang pasti gue juga sangat kenal sifat keluarga gue bakalan kaya apa, Lian sama Keluarga gue itu sama-sama api, panas dua-duanya, kalau ada yang nambahin bensin sedikit aja bisa meledak detik itu juga.
.
.
.
Besoknya gue udah berniat untuk ngomong ke Bunda sama Mas Ali mengenai keinginan dan rencana gue untuk pindah tinggal di rumah lama kita, walaupun agak sedikit jauh tapi setidaknya gue gak harus berhadapan sama Mas Rian atau Lian terlalu sering, gue juga akan minta tolong keluarga gue diem-diem aja kalau ada yang nanya gue mau pindah kemana, mereka gak perlu ngasih tahu siapapun kalau memang bukan hal mendesak apalagi hal penting, gue juga akan berhenti ngajar setelah semester ini, gue mau buka usaha kecil-kecilan aja, keingin Ayah yang belum sempat gue penuhi adalah buka toko es krim, dan gue rasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk gue memulai semuanya.
Terus gimana sama Lian, bukannya Lian udah minta gue jangan narik diri menjauh? Lian bahkan minta gue untuk gak menghindar tapi gue tetap gak bisa, gue gak mingkin bertahan dengan keadaan gue yang sekarang untuk waktu yang lebih lama lagi, gue gak akan bisa ngelakuin itu, lagian kalau memang Ian menghargai keputusan gue dan Ian mau mencoba mengerti keadaan gue, semuanya bakalan baik-baik aja, semuanya akan jauh lebih mudah, gak akan ada yang merasa terbebani karena harus saling menahan perasaan sewaktu bertemu, semakin kecil gue sama Lian bertatap muka, semakin besar pula kesempatan gue untuk melupakan Lian nantinya.
Setelah menetapkan hati dengan keputusan gue sekarang, gue melangkahkan kaki gue keluar kamar dan turun ke bawah untuk menemui Bunda, sama Mas Ali, Mbak Lia paling jam segini lagi nganterin Dara sekolah dan bener aja, begitu gue turun, Bunda sama Mas Ali lagi menyantap sarapan mereka dengan tenang, gue yang awalnya berniat ngomong malah balik meragu, apa gak papa kalau gue bahas masalah kaya gini pagi-pagi? Pas orang rumah lagi pada sarapan lagi, Bunda bakalan mikir apa? Tapi kalau bukan sekarang kapan? Nunggu Mas Ali pulang kerja? Mas Ali pulangnya aja udah jam berapa? Belum lagi beberesnya, gue yakin bakalan susah.
"Kamu mau merhatiin Mas sama Bunda sarapan berapa lama lagi Dek?" Tanya Mas Ali yang melirik gue sedang menuruni tangga dan berdiri mematung di tempat, gue barusan lagi mikir tapi gak sadar kalau ternyata Mas Ali sama Bunda udah merhatiin dari tadi, begong duluan gue, mendapati pertanyaan Mas Ali barusan, gue milih duduk dimeja makan dan memperhatikan Bunda sama Mas Ali bergantian dengan tatapan gak yakin gue, apa sekarang aja? Toh ini juga pekara bagus, ini berita bagus karena gue memang beneran berniat merelakan perasaan gue untuk Lian juga.
"Nda, Mas! Syia mau ngomong sebentar." Ucap gue yang membuat Mas Ali sama Bunda berhenti menyuap makanannya dan berbalik menatap gue fokus, gue langsung nelan ludah gugup mendapatkan tatapan gak karuan modelan begini, rada gak yakin tapi tetap harus ngomong, gak bisa ditunda lagi, ini udah cukup mendesak menurut gue, gue gak tahu apa yang bakalan Lian lakuin kalau memang bener-bener Lian berniat memperjuangkan perasaan kita berdua di depan Bunda sama Mas Ali nanti, gue gak bisa membayangkan apapun dan gue gak berani membayangkan apapun juga, semua gak ada dalam rencana gue sama sekali.
"Ngomong ya ngomong Dek! Kenapa keliatannya jadi serius begitu? Kamu sakit?" Lanjut Mas Ali yang membuat gue tersenyum kecut, iya kali gue sakit cuma karena mau nanya soal beginian doang, yang ada bukan sakit tapi mengkerut, bingung sendiri gue mau mulai ngomong dari mana, apa langsung to the point aja? Bunda sama Mas Ali gak akan terima gitu aja kemauan gue, apa mereka akan setuju kalau gue berencana pindah dan hidup sendiri di rumah lama kita berdua? Bunda sama Mas Ali rasanya akan keberatan tapi gue harus bisa meyakinkan mereka, itu harus, gue gak punya pilihan lain sekarang karena Lian juga gak mau mundur.
"Memang serius! Mas! Nda! Syia mau izin pindah tinggal dirumah lama kita." Dan detik itu juga Bunda gue langsung keselek parah, benerkan tebakan gue, belum apa-apa aja reaksi Bunda gue udah begini.