(BAB 20)

1129 Kata
Setelah mendapatkan isi pesan chat modelan begitu dari Lian, gue udah diem gak berkutik seolah beneran kehabisan kata, apa ucapan gue tadi gak bisa dimengerti Lian sama sekali? Apa omongan gue tadi masih kurang jelas sampai bisa bikin Lian belum berubah pikiran kaya gini, sekeras apa kepala tu anak? Bukannya gue udah ngejelasin panjang kali lebar kalau gak ada yang harus diperjuangin dalam hubungan kita berdua, gak ada sama sekali, gue gak mau berjuang itu artinya Lian juga gak harus ngelakuin apapun, hidup gue aja udah berat jadi jangan nambah rusuh bisakan? Gue bahkan udah minta tolong tadi sewaktu bicara secara langsung sama Lian, apa Lian gak mencoba memahami posisi gue sedikitpun? Disaat gue udah milih itu artinya gue udah gak mau membahas apapun lagi, gue udah milih diem yaudah berarti, gak ada yang harus diterisin lagi, gue udah milih merelakan perasaan gue ke Lian bukannya itu berarti Lian juga udah harus nyerah? Mau sampai kapan Lian keras kepala kaya gini? Sikap Lian sekarang cuma akan nambah beban gue, kalau Lian tetap memaksakan diri untuk berjuang, gue yang akan semakim kesusahan, gue yang akan merasa terbebani, gue yang akan merasa bersalah, apa gak bisa gue sama Lian saling paham situasi? Kalau memang keadaan kita berdua udah gak memungkinkan yaudah jangan dipaksain, ujung-ujungnya tar yang ada malah capek sendiri. Setelah duduk menatap layar handphone gue lama, pada akhirnya gue gak membalas apapun pesan chat Lian, gue pikir jawaban gue udah cukup jelas, sangat jelas malah jadi mau Lian berjuang atau enggak itu bukan urusan gue lagi tapi andai kata Lian ingin membantu, gue berharap kalau Lian akan sedikit mau sejalan pemikirannya sama gue, jangan keras kepala, gak baik kalau terus memaksakan diri, gue juga gak mau kalau perasaan gue nanti akan semakin gue, gue udah milih dan gue gak mau ngubah keputusan gue lagi, gue gak bisa bareng-bareng Lian kalau harus mengorbankan perasaan keluarga gue, itu gak mungkin makanya gue minta tolong, berhenti bersikap kaya gini. Melemparkan asal handphone gue diranjang, gue mengusap kasar wajah gue dan melepaskan hijab gue asal, gue bahkan kembali mencepol rambut gue tinggi sangkit gerahnya dengan keadaan gue sekarang, gue pikir setelah gue ngomong dan jujur ke Lian mengenai perasaan gue keadaannya akan berubah menjadi lebih baik tapi kenyataannya lagi-lagi gak sesuai harapan, bukannya membaik tapi malah makin runyam menurut gue, belum lagi kalau gue inget Mas Rian juga udah tahu perasaan gue ke Lian gimana sekarang, otak gue makin kelimpungan, gue berasa mabok udara coba, pusing sendiri kaya nyamuk nyium pengharum ruangan. Gak ada satupun rencana yang berjalan sesuai dengan keinginan dan harapan gue, semuanya malah makin ngebuat gue bingung, gue udah mutusin untuk merelakan perasaan gue ke Lian lah tu anak malah mau berjuang untuk hubungan kita berdua, bukannya itu udah gila? Competitor ini, gak sejalan sama sekali, yang satu menghindar tapi yang satunya malah mengejar bukannya bikin capek? Siapa yang gak capek kalau disuruh main kejar-kejaran terus coba? Kan kebangetan banget, gue udah nyerah nah Lian bukannya pasrah tapi malah gilanya makin marah. Kalau memang Lian gak mau berubah pikiran, kayanya rencana lain harus gue ambil sekarang, gue ngajar udah gak lama lagi di kampus, awalnya gue pikir gue akan tetap stay jadi anggota prodi tapi kayanya sekarang keinginan gue itu sangat sulit terealisasikan, gue berencana berhenti dan pindah balik ke rumah keluarga gue yang dulu, rumah dimana tempat kita sekeluarga tinggal sewaktu Ayah masih ada, gue akan belajar hidup mandiri, gue juga mau tahu rasanya hidup jauh dari keluarga dan gue pikir kalau gue pindah, akan semakin kecil gue ketemu Lian nantinya, gue gak harus berpaspasan atau bicara banyak sama Lian, semuanya akan terasa jauh lebih mudah. Menghindar memang bukan pilihan terbaik tapi saat ini gue gak punya pilihan lain, gue gak mungkin menghadapi Lian yang masih terus berpikir untuk memperjuangkan perasaan kita berdua, gue udah bilang kalau gue gak akan mengecewakan keluarga gue jadi gue juga akan melakukan semua hal terbaik yang gue bisa untuk melupakan perasaan cinta gue sama Lian, banyak hal yang masih harus gue urus, gak cuma masalah perasaan gue sama Lian, gue juga harus memberikan waktu untuk Mas Rian memikirkan perasaannya sendiri, semakin sedikit kesempatan kita ketemu, gue rasa akan semakin mudah untuk gue, Lian dan Mas Rian saling melupakan, gak akan ada yang merasa tersakiti lebih dalam lagi, ini adalah rencana cadangan yang udah gue pertimbangkan, gue harap ini akan menjadi jalan lain yang jauh lebih baik lagi untuk kita semua. Dilain sisi, gue juga sama sekali belum menceritakan keinginan dan niat gue untuk pindah sama keluarga, Bunda sama Mas Ali gak tahu ya Mbak Lia apalagi, gue belum cerita sama siapapun, ini murni pemikiran gue sendiri, disaat gue mulai terasa sangat lelah, menghindar sesaat gue rasa bukan pilihan buruk, menghindar hanya supaya suasananya bisa jauh lebih tenang, bisa jauh lebih baik, gak harus ada yang namanya ribut-ribut cuma karena membahas masalah hati dan perasaan yang seakan gak ada habisnya, gue akan sangat kewalahan kalai harus terus hidup dalam situasi kaya gitu, gue juga butuh ketenangan. Hal gue pilihan sekarang dan hal yang gue rencanain sekarang hanyanya jalan untuk gue bertahan, ini hanya cara untuk gue melindungi diri gue sendiri, mengitakan diri gue sendiri kalau masih ada banyak hal indah didunia ini yang belum gue tahu, hidup terlalu sayang kalau hanya untuk dihabiskan dengan terus meratapi keadaan, meratapi situasi yang gak kunjung terlihat jauh lebih baik, gue akan pindah sebentar bukan untuk selamanya, hanya sampai gue benar-benar udah bisa menata ulang hati dan perasaan gue, hanya untuk menenangkan suasana hati gue, kalau suatu saat gue ngerasa kalau semuanya udah jauh lebih baik, gue akan pulang dan tinggal lagi bareng keluarga gue, ini rencana yang gue pikirkan udah lama, pemikiran lama yang seperti harus sudah mulai gue realisasikan. Tapi permasalahannya sekarang adalah apa gue bisa mengwujudkan rencana kedua gue itu? Bisakah gue menenangkan perasaan gue sekarang dan berhasil melupakan perasaan gue untuk Lian nantinya? Jawabannya itu semua gak ada jaminan, perasaan orang gak ada yang tahu apalagi yang namanya masa depan, itu semua rahasia Allah, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa tapi gimanapun hasilnya ya tetap, selebihnya takdir yang akan menentukan, gue udah berusaha sebaik mungkin menjaga perasaan semua orang tapi gue tetap gak akan bisa membahagiakan semua orang sekaligus, pasti bakalan ada yang kecewa karena gue lebih mementingkan pihak yang lain. "Pletuk." Gue melirik handphone yang gue lempar sembarangan di ranjang barusan dan menatap layar handphone gue lama, lagi-lagi yang masuk adalah pesan chat dari Lian, gue menghembuskan nafas panjang dan mengusap kasar wajah gue, rasanya tetap bakalan percuma gue menghindar kalau orang yang gue hindarin itu modelannya kaya Lian begini, susah dikasih tahu sama keras kepala banget. "Kakak gak perlu ngelakuin apapun, Ian yang akan berusaha tapi ingat, jangan menghindar apalagi punya pemikiran untuo kabur, Ian gak akan ngebiarin Kakak ngelakuin itu."   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN