"Apa kamu benar-benar jatuh cinta dengan Lian? Kenapa kamu diem? Bukannya tebakan Mas benar? Kamu menolak perasaan Mas karena kamu terlanjur jatuh cinta dengan adik Mas sendiri, apa Mas salah?" Tanya Mas Rian ulang, gue menyunggingkan senyum sinis gue dengan pertanyaan Mas Rian barusan, Mas Rian bener-bener denger ucapan gue dari tadi makanya bisa bersikap kaya gini, kalau Mas Rian udah denger dan tahu semuanya? Maksud Mas Rian masih nanya ke gue itu apa? Apa yang di dengarnya dari tadi belum cukup? Apa gue harus mengulang ucapan gue supaya Mas Rian merasa jauh lebih yakin dengan apa yang didengarnya barusan? Apa itu yang Mas Rian mau?
"Kalau Mas udah tahu kenapa Mas masih nanya sama Syia?" Tanya gue balik, bukannya Mas Rian cuma buang-buang waktu nanya pertanyaan yang dia udah tahu pasti jawabannya itu apa, gaka da hal yang harus gue perpanjang lagi sekarang, karena apa? Karena bagi gue semuanya juga udah cukup jelas, Mas Rian udah tahu jawaban gue apa, Mas Rian udah tahu perasaan gue gimana dan Mas Rian juga udah sangat tahu alasan gue menolak perasaannya karena apa? Gak ada yang harus gue jelasin lagi, udah cukup banget menurut gue.
"Kamu bahkan berani mengakui perasaan kamu ke Lian didepan Mas? Syi, apa kamu sama sekali gak mempertingkan perasaan Mas? Gimana bisa kamu suka sama Adik Mas sendiri? Apa orang tua kamu akan setuju? Apa kamu gak memikirkan pendapat orang lain kalau sampai mereka tahu kamu suka dengan mahasiswa kamu sendiri? Dengan laki-laki yang jauh lebih muda? Apa kamu gak mempertimbangkan apapun?" Tanya Mas Rian seolah gak habis pikir dengan pemikiran gue, Mas Rian bahkan gak tahu apa yang udah gue alami makanya bisa ngomong kaya gini, karena gue terlalu memperdukilakan pendapat orang lain makanya sekarang hidup gue berantakan kaya gini, apa Mas Rian pikir hidup gue baik-baik aja sekarang?
Merelakan orang yang kita cintai itu gak mudah, kalau memang melupakan seseorang bisa semudah itu, gue gak akan kelimpungan kaya sekarang cuma karena Lian ternyata juga punya perasaan yang sama kaya gue, dalam bayangan gue selama ini tu cinta gue cuma cinta sepihak dan selama gue gak berisi keras untuk berjuang, semuanya gak akan ada masalau, gue hanya perlu mengurus perasaan gue sendiri dan meminta Lian memberikan gue sedikit waktu untuk menata ulang perasaan gue tapi kalau udah kaya gini, semuanya juga udah beda, keadaannya udah gak baik-baik aja asal Mas Rian tahu, gue kesusahan kalau Lian juga bertindak aneh-aneh nanti.
"Mas! Tanpa harus Mas kasih tahupun Syia akan selalu ingat status Lian sama Syia itu apa, Mas gak harus ambil pusing, lagian walaupun Syia suka sama Lian, bukan berarti Syia akan pacaran atau sampai menikah dengan Liankan? Pendapat orang lain udah cukup bikin Syia pusing, dan ternyata Mas juga sadar, Syia gak mungkin bareng-bareng sama Lian karena Syia mikirin perasaan keluarga Syia, mikirin perasaan Mas juga jadi hal yang sama juga berlaku untuk Mas, Syia gak mungkin bisa bareng-bareng sama Mas karena Syia mikirin perasaan Lian nanti gimana." Jelas gue untuk membuat Mas Rian ngerti, apa dan kenapa gue gak bisa milih salah satu dari mereka.
Lagian suka sama pacaran itu adalah hal yang beda, bukannya cinta gak harus memiliki, mungkin sekarang gue sama Lian memang saling cinta tapi saling cinta gak mewajibkan gue sama Lian harus hidup bersamakan? Gak ada peraturannya yang kaya gitu, semuanya udah cukup rumit untuk gue jadi jangan nambah beban dengan ikut mempertanyakan hal yang sama seperti yang orang lain tanyakan, jawabannya udah cukup jelas juga.
"Jadi apa sekarang Mas ngerti perasaan Syia? Apa Mas pikir Syia sangat bahagia sekarang? Apa Mas pikir keadaan Syia sekarang baik? Terlalu banyak hal yang harus Syia lewatin dan Mas gak akan tahu rasanya gimana, jangan menilai hidup Syia ataupuj hidup Lian, masalah perasaan Syia ke Lian itu cuma antara kami berdua, gak ada sangkut pautnya sama siapapun, Mas gak berhak ikut campur dan Mas gak berhak memberikan penilaian apapun." Dan gue rasa ucapan gue udah sangat jelas, gue harap Mas Rian bakalan ngerti dengan maksud ucapan gue barusan itu apa.
"Pak! Tolong berhenti di depan." Ucap gue ke supir taksinya, begitu taksinya berhenti gue berniat turun tapi Mas Rian turun lebih dulu, membiarkan gue menaiki taksinya sedangkan Mas Rian berganti nyari taksi lain, gue cukup kaget tapi gue tetap membiarkan, gue gak akan nahan Mas Rian kalau memang menurutnya itu yang terbaik, supir taksi yang sekarang juga masih menatap gue dengan tatapan anehnya, Si Bapaknya pasti udah denger semua omongan gue sama Mas Rian dari tadi, supirnya gak mungkin pake headset dadakankan? Omongan gue sama Mas Rian dari tadi pasti udah kedengeran jelas banget.
.
.
.
"Udah beres Dek mobilnya?" Tanya Mbak Lia begitu gue memasuki rumah, gue mengangguk pelan dan ikut mendudukkan tubuh gue disamping Kakak Ipar gue sekarang, menyandarkan tubuh gue disofa dengan tatapan menengadah menatap langit-langit ruang keluarga gue sekarang, gue memejamkan malah lelah dan menghembuskan nafas pasrah, berat banget perjalanan hidup gue hari ini, udah kudu nyiapin mental buat bikin pengakuan sama Lian, nah pulangnya malah dilabrak lagi sama Mas Rian, gimana gak kelimpungan otak gue coba? Mikirnya kudu mikir ekstra terus dan gue juga kudu ngadepin kekecewaan dua bersaudara itu juga, hidup gue resmi gue nyatakan jauh lebih berat mulai sekarang.
"Dari tadi Mas kamu nelfonin Mbak terus nanyain kamu udah dirumah apa belum? Kamu gak bilang sama Mas Ali kalau udah ngambil mobilnya? Mas kamu khawatir Dek." Ucap Mbak Lia nepuk pelan bahu gue, gue yang awalnya memejamkan mata lelah membuka mata gue perlahan dan berbalik menatap Mbak Lia, gue cuma mau tahu apa Mbak Lian serius dengan ucapannya barusan? Mas Ali harus khawatir kenapa? Bukannya kalau mobil mogok juga gue ambil sendiri? Terus Mas Ali kudu khawatir sampai sebegitunya atas dasar apa? Khawatir gue pulang sendirian? Memang biasanya gue pulang segerombolan gitu? Kan enggak juga, apa yang perlu Mas Ali khawatirin coba?
"Kenapa kamu natap Mbak kaya gitu Dek?" Tanya Mbak Lia merasa aneh dengan tatapan gue sekarang, ya sama Mbak, gue juga ngerasa aneh dengan ucapan Mbak Lia barusan, ia kali Mas Ali khawatir sampai sebegitunya.
"Mbak serius Mas Ali nelfonin Mbak terus cuma untuk nanyain Syia udah pulang apa belum? Mas Ali kesambet apaan Mbak? Mas Ali salah makan apa kepala kepentok sesuatu? Aneh tahu gak." Jawab gue tertawa kecil, ya bukannya apa-apa, sikap Mas Ali itu beneran aneh, khawatir ya khawatir tapi gak sampai sebegononya jugakan? Heran gue kadang-kadang sama sikapnya Mas gue sendiri, mencurigakan.
"Abang khawatir sama Adiknya kamu anggap aneh dibagian mananya Dek? Kamu yang jangan aneh-aneh, Mas Ali ngerasa bersalah Adek sadarkan? Mas Ali memang beneran mau yang terbaik untuk kamu Dek, walaupun caranya salah tapi Mas Ali gak ada niat apapun, Mas kamu gak ada niat untuk nyakitin hati kamu sama sekali." Jelas Mbak Lia yang lagi-lagi gue iyakan, gue juga tahu kalau Mas Ali ngelakuin ini semua untuk gue, mereka mau yang terbaik untuk gue dan gue paham, makanya sekarang gue milih mengorbankan perasaan gue karena gue menganggap perasaan keluarga gue itu yang jauh lebih penting.
Menurut gue sekarang, gue mungkin bisa menemukan cinta yang lain tapi gue gak akan bisa menggantikan kasih sayang keluarga, sekecewaan apapun gue dengan sikap Mas Ali maupun Bunda, ikatan darah gak akan pernah bisa putus, hanya karena cara mereka mengkhawatirkan gue yang salah bukan berarti gue harus ikut menyalahkan mereka semua, ini juga ada andil gue sendiri, kasih sayang keluarga gue terlalu berharga untuk gue tukar dengan cinta yang gue belum tahu akhirnya akan seperti apa, gue gak bisa mengorbankan perasaan keluarga hanya untuk laki-laki yang gue cinta, terlebih itu belum menjadi siapa-siapa gue, harusnya gue berpikiran kaya gini dari dulu, kalau gue mikir kaya gini mungkin keadaannya akan jauh lebih baik.
"Syia tahu Mbak, Mas Ali ataupun Bunda itu sayang sama Syia, karena Syia tahu makanya Syia sangat mempertimbangkan pendapat mereka tapi terkadang cara yang mereka pilih malah membuat beban Syia terasa semakin berat Mbak, Syia bukan mengeluh tapi ada saatnya Syia lelah dengan keadaan, ada saatnya kemarahan Syia udah gak terkondisikan makanya Syia berakhir ngomong kaya kemarin, bukan cuma Bunda atau Mas Ali, Mbak juga tahu kalau Syia ngerasa bersalahkan?" Tanya gue yang di angguki Mbak Lia pelan, gue juga sama gak enaknya karena udah terlanjur ngomong begitu sama Mas Ali atau Bunda.
Rasa bersalah yang gue rasain sekarang mungkin gak jauh berbeda dengan apa yang dirasain Mas Ali sama Bunda sekarang, kita semua sama-sama merasa kalau ucapan kita udah keterlaluan tapi ada sisi baiknya juga, Mas Ali atau Bunda bisa lebih mengkondisikan ucapan mereka ketika menuntut gue dan gue sendiri bisa lebih pengertian dengan perasaan mereka, mengerti kalau sikap mereka itu hanya karena mau memberikan gue yang terbaik, walaupun gue kesal atau bahkan marah sekalipun, itu hanya untuk sementara, gue gak bisa mengabaikan keluarga gue untuk waktu yang lama dan mereka juga gak mungkin mengabaikan gue juga.
Tapi alasan gue pulang sendiri dan milih gak ngabarin Mas Ali dulu sewaktu pulang tadi ya memang karena gue gak perlu di jemput, gue harus bicara sama Lian dan mengenai mobil gue juga biasa ngurus itu sendiri, gue gak mau Mas Ali muter-muter terus bolak-balik kantor kampus cuma untuk nganter jemput gue, taksi banyak bus ada, ojek online juga bisa, kenapa Mas Ali harus khawatir apalagi sampai mikir aneh-aneh, gue udah gak mengjindar dari Mas Ali, kalau memang gue berencana menghindar, gue gak akan ikut Mas Ali yang mau nganterin gue ke kampus tadi pagi, kalau mau menghindar itu jangan setengah.
"Makanya kabarin Mas kamu, ngomong yang jelas biar dia gak khawatir." Dan gue langsung angkat tangan sama ucapan Mbak Lia sekarang, kalau soal beginian gue gak mau, ngelapor itu bukan kebiasaan gue, walaupun gak habis berantem tanpi canggungnya juga bakalan tetap kerasa jadi jangan minta hal aneh-aneh, misalnya minta gue nelfon Mas Ali cuma untuk bilang kalau gue udah dirumah, duh, gue gak siapa lahir bathin kalau begitu mah, lebih baik gue diceramahin tar kalau orangnya udah di rumah dari pada disuruh nelfon dan ngabarin Mas Ali sekarang, ogah banget, makasih, gue menolak keras.
"Kalau Mbak mau ngabarin Mas Ali dan ngasih tahu Syia udah dirumah Syia bakalan beterimaksih banget tapi kalau Mbak mau Syia yang ngasih tahu langsung, wo wo, Syia angkat tangan, sekian dan terimakasih." Gue tertawa kecil dan bangkit dari duduk gue sekarang, gue gak mau memperpanjang obrolan kalau cuma akan berakhir dengan harus diintrogasi lagi, gue sama Mas Ali beneran udah okey, gue udah gak mempermasalahkan apapun, gue mengerti alasan Mas Ali ngelakuin itu apa dan gue hatap Mas Ali juga akan ngerti gue bersikap kaya kemarin kenapa.
"Memang dasar ya Dek, Abang sama Adiknya sama aja, keras kepala." Gue tertawa cukup lepas sekarang, ya namanya juga Kakak Adik, sedikit banyaknya kelakuan ya bakalan sama, kalau beda mah itu baru patut dipertanyakan.
"Bunda mana Mbak?" Tanya gue karena gak ngeliat Bunda juga dari tadi, Bunda di kamarkah atau memang lagi ada kegiatan diluar? Biasanya Bunda kalau jam segini selalu dirumah sih.
"Bunda ada arisan sama Ibu-Ibu komplek Dek, palingan bentar lagi juga pulang." Gue mengangguk mengiyakan dan pamit naik ke atas sama Mbak Lia, berjalan menaiki tangga masuk ke kamar, masalah gue hari ini udah gue gantung di depan pintu kamar dan gak bakalan gue bawa masuk ke kamar tapi kalau itu masalah masih juga ikut masuk, gue jamin itu masalah minta gue ngasih pelajaran, kebangetan memang, gak bisa apa ngebiarin gue istirahat sebentar, lemes gue mikirin urusan hati terus, lelah.
Tapi baru juga gue menyalakan handphone gue lagi, itu panggilan masuk sama spam chat dari Lian udah bejibun, belum lagi pesan chat sama panggilan dari Mas Ali, mata gue langsung melotot gak karuan, tangan gue udah gatel pingin ngelepar barang yang gue genggam sekarang tapi sayang harganya lumayan, kalau ini gue lempar sekarang belum ada jaminan gue akan mendapatkan penggantinya dalam waktu dekat, proses pengajuan dana ulang ke Mas Ali atau Bunda pasti bakalan lama jadi dengan terpaksa harus gue urungkan, gue harus cari cara lain untuk melampiaskan kekesalan gue sekarang, tidur atau mendrama misalnya, otak gue butuh hiburan, mata gue harus liat yang bening-bening sejenak.
Gue cuma ngasih tahu Mas Ali kalau gue udah dirumah dan selebihnya gue mengabaikan semua panggilan dan pesan chat yang masuk, mendiamkan handphone gue dan mulai beberes, sholat sama setelahnua turun untuk nyari cemilan, gue beneran udah mau nyari hiburan, mendrama adalah waktu istirahat terbaik gue, begitu nonton, ngantuk gue akan langsung datang menghampiri dan gue bisa mnegistirahatkan otak gue kalau udah kaya gitu, kinerja otak gue hari ini udah mencapai batas maksimum kayanya, lelah? Sangat, bahkan kata lelah mungkin udah gak tepat untuk menggambarkan keadaan gue sekarang karena yang gue rasain lebih parah dari satu kata itu.
Masih gue fokus memperhatikan layar laptop gue, layar handphone gue yang terus menyala juga membuat tatapan gue terusik, menarik nafas jengah, gue melirik hanphone gue sekilas dan mendapati nama Lian terpampang sangat jelas dalam segala bentuk, entah itu pesan chat atau panggilan sekalipun, semuanya lengkap banget, gue bahkan gak bisa berkata apapun sekarang, mau kesal salah, mau marah nanggung, semuanya kecampur aduk banget ngeliat handphone udah kaya tong sampah, isinya udah kaya spam bahkan mata gue udah empet pas ngebacanya tahu gak, ini tu gak akan membantu sama sekali, yang modelan begini cuma bisa dilakuin sama Lian, dengan sifat kekanak-kanakannya.
Awalnya gue berniat mengabaikan isi chat Lian tapi tetap gak bisa, kalimat terakhir yang masih bisa gue baca dilayar handphone gue sekarang beneran membuat gue kebingungan sendiri, apa yang Lian mau sebenernya? Apa rencana Lian sekarang? Kenapa gue lebih mengkhawatirkan keadaan Lian ketimbang keadaan gue sendiri? Sifat keras kepala Lian membuat gue takut untuk menghadapi kenyataannya nanti, sikap Lian yang berkata ingin berjuang membuat nyali gue menciut seolah Lian benar-benar akan mempertaruhkan semuanya hanya untuk bisa bersama dengan gue, gue bahkan mulai takut dengan diri gue sendiri, gue takut kalau gue akan luluh karena semua usahanya Lian nanti, seperti sekarang, kalimat singkat yang di kirimkan Lian aja bisa membuat hati gue sangat bergetar.
"Kakak gak perlu berjuang! Lian yang akan melakukannya."