"Mas kenapa bisa ada disini?" Tanya gue sangat kaget, dengan mata yang masih berkaca-kaca, gue mengusap sisa air mata gue cepat dan menatap Mas Rian masih sangat kaget sekaligus bingung, gue gak ngerti kenapa Mas Rian bisa ada di taksi yang sama bareng gue, kenapa gue gak sadar kalau di dalam taksinya ada orang lain, ini gue duluan yang naik atau Mas Rian duluan? Tapi selama gue yang naik, taksinya gak ada berhenti dimanapun, apa gue yang salah sekarang? Gue gak sadar kalau gue nyetop taksi orang? Tapi kalau beneran memang ada orangnya ngapain berhenti coba? Kan bisa aja jalan terus.
"Mas gak sengaja ngeliat kamu berdiri sedikit kebingungan di samping jalan tadi makanya Mas minta supir taksinya berhenti didepan kamu, begitu masuk Mas mau nyapa tapi kamu malah udah nangis duluan, kamu kenapa Syi? Kamu baik?" Jelas Mas Rian sekaligus nanya gue ulang, gue mengangguk pelan dan mengusap wajah gue sekilas, gue tahu Mas Rian pasti udah ngeliat gue nangis dari tadi tapi kenapa Mas Rian gak langsung negur? Kalau Mas Rian negurkan gue bisa segera sadarkan diri kalau ada Masnya Lian disini, gue gak akan sembarangan nyebut nama Adiknya kaya tadi, apa Mas Rian denger gue ngomong apa barusan?
Gue mau nanya tapi gue gak berani, gue sedang gak mau menjelaskan apapun sekarang, gue gak nanya karena gue gak mau Mas Rian nanya banyak, kalaupun Mas Rian denger gue ngomong apa dan gue nangis kenapa, gue tetap gak akan nanya apapun, kenapa? Sekarang gue terlalu lelah untuk mengerti perasaan orang lain, gue terlalu malas untuk meluruskan kebingungan orang lain, gue udah cukup capek menghadapi Lian barusan jadi gue menolak untuk mempersulit keadaan gue sekarang di depan Mas Rian, kalau memang Mas Rian paham akan situasi gue sekarang, gue yakin Mas Rian gak akan nanya banyak apapun yang mengganjal di hatinya sekarang.
Gue menghadapi sifat keras kepala Lian aja udah cukup susah, apa gue juga harus menjelaskan kebingungan Mas Rian? Gue bukan gak menghargai kehadiran Mas Rian tapi gue rasa kebingungan Mas Rian gak terlalu mendesak untuk gue jelaskan, ada hal lain yang harus lebih gue pikirkan, gue sudah harus membuat persiapan untuk mulai menghindar dari Lian kalau memang Lian serius dengan ucapannya tadi, kalau Lian beneran berusaha memperjuangkan perasaannya, gue akan sangat kekelahan, waktu gue akan semakin sulit, menghadapi keluarga gue dan menghadapi Lian disaat yang bersamaan, apa gue bisa? Gue yakin bisa tapi jalannya gak akan mudah sama sekali.
"Kamu gak akan nangis kalau kamu baik-baik aja." Mas Rian kembali memberikan sehelai tisu dan gue terima gitu aja.
"Kamu kenapa? Kamu jangan ngebuat Mas khawatir Syi, apa pertanyaan Mas terlalu sulit? Kamu bisa cerita sama Mas masalah kamu, siapa tahu Mas bisa bantu, Mas juga bisa lebih tenang." Ucap Mas Rian yang entah kenapa terdengar seperti sedikit memaksa ditelinga gue, Mas Rian meminta gue menceritakan sesuatu yang udah jelas-jelas gak akan gue ceritakan ke siapapun, apa gue akan cerita ke Mas Rian cuma karena Mas Rian minta gue cerita? Memang gue siapanya? Mas Ali aja gak akan maksa kalau gue udah bilang gak mau, apa Mas Rian gak paham maksud ucapan gak papa gue tadi?
"Mas! Syia gak papa, lagian Mas harus khawatir kenapa? Mas harus gak tenang kenapa?" Apa Mas Rian sama Lian adalah tipe-tipe orang yang akan sangat khawatir kalau tetangganya kenapa-napa? Apa hubungannya? Apa mereka bisa bersikap sesuka hati datang dan menanyakan apa yang mereka mau cuma untuk menghilangkan rasa khawatir mereka? Apa mereka gak mau tahu, yang ditanya itu bersedia menjawab atau enggak? Bersedia diperhatikan atau enggak? Kenapa kesannya malah sangat berlebihan, kalau memang Mas Rian khawatir karena gue ini tetangganya, yaudah tetangga yang lain masih banyak tetangga lain yang perlu dikhawatirin, gak harus gue.
"Kamu beneran gak tahu Mas khawatir kenapa atau memang kamu gak mau tahu sama sekali alasan Mas bisa sekhawatir ini kenapa Syi?" Pertanyaan gue yang malah dijawab dengan pertanyaan balik dari Mas Rian, apa Mas Rian lagi becanda sama gue? Mana gue tahu Mas Rian kenapa? Apa ada tetangga yang modelan begini kalau khawatir? Kalaupun ada yang khawatir tapi itu udah gak wajarkan? Gue bukan pacar apalagi istrinya, Mas Rian gak harus sepanik itu cuma karena ngeliat gue nangis apalagi sampai maksa gue untuk cerita semuanya, gue juga gak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaannya.
"Syia nanya kenapa malah Mas tanya balik? Syia yang duluan nanya kenapa Mas harus sekhawatir itu? Apa cuma karena Syia tetangga Mas, kalau memang itu alasan Mas, Mas gak perlu khawatir, Syia baik, ini masalah Syia jadi Mas gak harus tahu alasannya apa." Jawab gue sedikit tegas, walaupun mungkin akan menyinggung perasaan Mas Rian tapi gue mau membuat batas yang sangat jelas antara kita berdua, Mas Rian itu memang cuma gue anggap sebagai tetangga gue dan gak akan lebih dari itu, alasannya juga sangat jelas, karena dia adalah Kakaknya Lian, laki-laki yang gue cintai saat ini.
"Apa kamu beneran gak tahu perasaan Mas ke kamu selama ini? Apa kamu pikir itu memang hanya sebuah kebetulan makanya Mas selalu berdiri di depan rumah setiap paginya? Apa kamu gak pernah mau tahu alasan kenapa Mas gak pernah menolak ketika di panggil menantu sama Bunda kamu?" Gue membulatkan mata kaget dengan ucapan Mas Rian barusan, Mas Rian gak mungkin punya perasaan yang sama kaya guekan? Perasaan yang ternyata sama seperti apa yang dirasain Lian selama ini, alasan Lian khawatir ke gue selama ini juga bukan cuma karena gue ini tetangganya, bukan cuma karena gue dosennya, bukan cuma karena gue Kakaknya tapi karena Lian punya perasaan yang lebih dari itu.
"Mas! Mas jangan aneh-aneh, Mas itu tetangga Syia, lagian ucapan Bunda itu cuma becandaan Bunda doang Mas, gak mungkin serius, Syia gak akan bersama seseorang cuma karena itu pertanyaan Bunda Syia, Mas kenapa kaya gini?" Tanya gue gak habis pikir, beban gue sekarang udah berat jadi jangan nambah beban gue dengan kenyataan kalau Mas Rian juga punya rasa sama gue, perasaan gue sendiri aja udah kelimpungan gue urus jadi gak mungkin gue juga harus ngurusin perasaan orang lainkan? Gue gak siap dan gue gak akan mau, gue menolak keras.
"Tapi ini apa adanya perasaan Mas, kamu bener, Mas gak mungkin sekhawatir ini sama kamu cuma karena kamu tetangga Mas, sikap Mas sekarang juga bukan karena ucapan Bunda kamu atau bahkan Ali, ini tulus keingianan Mas sendiri, ini murni perasaan Mas sendiri, Mas cinta sama kamu Syi, sangat, dari dulu, untuk waktu yang sangat lama yang bahkan gak mungkin kamu tahu." Bukan cuma gue yang terdiam kehabisan kata, supir taksi yang memang terlihat sangat fokus dengan kemudinya masih sempat menyunggingkan senyuman, apa ucapan Mas Rian barusan itu dianggap lucu? Enggak sama sekali menurut gue.
"Mas! Syia gak bisa memberikan apapun yang Mas mau, yang bisa Syia tawarkan hanya pertemanan dan sampai kapanpun gak akan bisa lebih dari itu, mencintai memang hak siapapun tapi maaf! Syia gak bisa nerima perasaan Mas." Tolak gue tegas, gue gak mau Mas Rian berharap untuk apapun dan untuk alasan apapun juga.
"Kenapa? Apa karena kamu terlanjur mencintai Lian? Adik Mas sendiri?"