(BAB 17)

1541 Kata
"Kamu berencana melawan keluarga kamu dengan memaksakan perasaan kita? Apa itu layak untuk memberikan arti keluarga bagi hidup kamu Ian?" Tanya gue gak habis pikir, mungkin dalam hidup kita bisa menghindari orang lain seumur hidup kita, itu bisa terjadi tapi selama kamu masih hidup, menghindar keluarga itu hampir gak mungkin, memang gak ada yang gak mungkin selama Allah berkehendak tapi cukup banyangkan, ribut dan berakhir saling mendiamnya saudara kamu aja itu gak nyaman, apalagi kalau kamu melakukan sesuatu yang menolak pendapat mereka seumur hidup kamu? Apa itu akan mudah? Jawabannya jelas gak akan mudah, arti kekeluarga tidak sesederhana itu untuk gue. Ribut sedikit itu wajar, beda pendapat apalagi, dua kepala gak mungkin sama semua isinya tapi jangan egois, saudara itu mempunyai ikatan darah, sama halnya gue sama Mas Ali yang lagi ribut kemarin, hanya karena kami berdua berbeda pendapat bukan berarti gue bisa mengabaikan semua ucapan Mas Ali, selama gue belum menikah, setelah Ayah gak ada, gue sama Bunda adalah tanggung jawab Mas Ali, gak gue membenci Mas Ali hanya karena Mas Ali menentang keinginan gue, gue gak mau egois, walaupun gue tahu kalau Mas Ali sifatnya keras tapi beban yang Mas Ali tanggung gak sebanding dengan beban yang gue tanggung sekarang. Gue selalu ngomong kalau Mas Ali berubah drastis setelah Ayah gak ada dan gue bersyukur, kenapa? Karena seburuk apapun sifat Mas Ali dulu, Mas Ali tetap terpuruk begitu kehilangan Ayahnya, Mas Ali tetap jatuh ketika kehilangan keluarganya, tanggungjawab yang Ayah tinggalkan membuat Mas Ali gak punya pilihan lain selain berubah, tanggung jawab menuntut Mas Ali untuk selalu kuat, kuat menjaga Bunda, gue menjaga gue dan setelah menikah, Mas Ali juga harus kuat menjaga keluarganya, apa gue harus membenci hanya karena Mas Ali menolak keinginan gue? Apa gue harus tetap berisi keras disaat tahu kalau tanpa berdebat dengan guepun, beban Mas Ali udah berat. Darah yang mengalih dalam tubuh gue sama Mas Ali itu sama, keras kepala kita berdua sama, dan setelah kemarin gue kembali mengingatkan Mas Ali tentang kesalahannya dimasa lalu, apa mereka pikir gue gak menyesal? Gue menyesal, dan penyesalan gue semakin menjadi begitu Mas Ali sama Bunda mulai diam untuk perasaan gue ke Lian, itu tandanya ucapan gue kamarin udah cukup keras dan cukup untuk membuat Mas Ali sama Bunda berakhir mendiamkan gue seperti itu, gue sangat menyesal untuk ucapan gue, sangat, andai bisa gue nebus kesalahan gue, gue akan menebusnya dengan apapun, kalau memang merelakan perasaan gue untuk Lian itu harus, gue akan melakukan itu. Karena, seberapa baikpun Ian ke gue selama ini, seberapa cintapun gue ke Ian sekarang, gue gak akan bisa berpaling dari keluarga gue, gue tumbuh dan dirawat dengan kasih sayang mereka, rasanya gak akan adil kalau gue mengabaikan perasaan keluarga gue hanya untuk memperjuangkan seorang laki-laki, itu gak akan pernah adil, gue gak biss mengorbankan perasaan keluarga gue kaya gitu, sama halnya mereka yang mau gue hidup bahagia, gue juga mau seluruh keluarga gue hidup sama bahagianya, gue gak akan bisa berhenti memikirkan keluarga gue, gue gak akan pernah bisa melepaskan diri gue dari mereka. Cinta atau keluarga? Jawaban gue akan sangat jelas, gue memilih keluarga gue, melepaskan cinta mungkin memang sulit tapi melepaskan keluarga itu gak akan bisa, gue ketemu Ian diumur gue berapa? Tapi keluarga, mereka adalah orang-orang yang gue lihat pertama kalinya begitu gue belajar melihat dunia, Bunda adalah perempuan yang melahirkan gue dan Mas Ali adalah wali gue, bukan cinta yang mengalihkan dunia gue tapi keluargalah yang menjadi seluruh seluruh dunia gue sekarang, mereka semua sangat penting, gue gak bisa memilih Ian hanya karena gue mencintainya, karena kalau cinta adalah alasan gue berjuang, maka udah seberapa banyak cinta yang gue dapatkan dari keluarga yang mengharuskan gue untuk bertahan? "Kak! Ian gak akan melawan tapi Lian akan meyakinkan mereka, melawan dengan meyakinkan itu jelas dua pekara yang berbeda." Ian terlihat sangat yakin dengan ucapannya barusan, ya gue tahu kalau melawan dengan meyakinkan itu dua hal yang berbeda tapi gue juga udah nyoba untuk meyakinkan keluarga gue lebih dulu, gue memberikan penjelasan tapi gak ada satupun dari mereka yang mau mengerti, gue pikir, kalau mereka gak bisa mengerti keadaan gue, apa salahnya kalau gue yang mencoba mengerti keadaan mereka? Gue gak keberatan karena sekarang gue juga sadar, gue sama egoisnya kalau memaksa mereka untuk mengerti keadaan gue, lagi pula alasan mereka menolak hubungan gue sama Ian juga sangat jelas, mereka gak gue kesusahan dan berada dalam keadaan sulit, mereka melakukan itu untuk memastikan kebahagian gue. "Kamu mungkin akan berhasil meyakinkan keluarga kamu tapi Kakak udah coba menyakinkan keluarga Kakak tapi itu gak berhasil Ian, Kakak gak bisa terus berdebat dengan mereka hanya karena masalah perasaan, kalau dengan merelakan perasaan Kakak ke kamu bisa membuat semuanya menjadi lebih mudah, Kakak gak akan berdebat untuk apapun lagi." Jawab gue juga sangat yakin, walaupun pilihan gue akan menyakiti Lian dan pilihan gue sekarang akan sangat dianggap pengecut, gue gak keberatan mendapatkan ucapan seperti itu, gue udah sangat lelah, andai bisa gue mengabaikan semua orang, gue akan ngelakuin itu tapi gue tahu kalau gue gak mungkin mengabaikan mereka semua karena suatu saat akan ada saatnya gue butuh mereka, dan lagi-lagi balik ke keluarga, keluarga yang sangat gue butuhkan. "Terus gimana dengan kita? Apa Kakak gak mau memperjuangkan Lian sama sekali? Apa perasaan Kakak ke Ian cuma sebatas itu? Apa ini juga yang Kakak lakuin ke Mas Galang dulu makanya Mas Galang pergi dengan perempuan lain gitu aja? Ngeliat Kakak begitu mudahnya mengabaikan perasaanbIan, mungkin sebenernya bukan Mas Galang yang bermasalah tapi itu Kakak sendiri." Ucap Ian yang ternyata sangat menyakitkan untuk gue dengarkan sekarang, ini pertama kalinya Ian menyakiti perasaan gue dengan ucapannya. Apa dimata Lian gue perempuan seperti itu? Apa Ian akan membenarkan sikap Mas Galang sekarang, gue diselingkuhi karena kesalahan gue sendiri, apa itu yang ingin Lian ucapin? Gue gak pernah tahu kalau Lian bisa berbicara seburuk ini sama gue, nyatanya, siapapun dan dimanapun, semua orang akan menyakiti balik begitu dirinya merasa tersakiti, Ian juga melakukannya sekarang, Ian menyakiti gue dengan ucapannya karena Ian merasa gue menyakiti perasaanya dengan pilihan gue, gue terima alasan Ian melakukan itu, walaupun gue kecewa tapi gue juga gak akan protes untuk apapun lagi, semuanya udah cukup jelas untuk gue sekarang. "Kamu bener, mungkin sikap Kakaklah yang membuat Kakak pantas untuk diselingkuhi." Balas gue menyunggingkan senyuman dengan tatapan berkaca-kaca, dulu gue berpikir kalau tersenyum dengan tatapan berkaca-kaca itu adalah hal yang mudah dilakukan tapi begitu gue merasakannya sendiri, gue baru tahu kalau senyuman itu akan terasa lebih menyakitkan, sakitnya lebih parah sampai gue gak bisa berkata apapun, hanya bisa menyunggingkan senyuman dan menerima semuanya dengan lapang d**a, gue sangat lelah sekarang, sangat, gue ingin berhenti disini. "Kak! Lian sama sekali gak__" "Kakak rasa udah gak ada lagi yang perlu kita bicarain, kamu udah tahu apa yang mau kamu tahu dan Kakak juga udah ngejelasin apa yang Kakak rasa perlu kamu tahu, gak ada lagi yang harus di perpanjang, Kakak permisi sekarang." Bangkit dari duduk gue, gue membayar makananya dan keluar dari dari tempat itu detik itu juga, berdiri tergesa-gesa dan nyetop taksi sembarangan, gue udah gak bisa nahan isak tangis gue lebih lama lagi dari ini, kalau ada yang harus gue salahkan sekarang, orang itu jelas gue sendiri, gue gak berhak meyalahkan keadaan apalagi menyalahkan keadaan, itu gak ada gunanya. Masuk ke dalam taksi dan duduk memandangi keluar jalan, gue awalnya berusaha sebaik mungkin menahan isak tangis gue tapi rasanya percuma, air mata gue udah gak terbendung, pada akhirnya tangis gue pecah seketika, air mata yang terus mengalir deras dengan suara isak tangis yang masih berusaha gue kendalikan, gue gak mau membuat supir taksinya khawatir memperhatikan keadaan gue sekarang, menangis dalam diam dengan pandangan masih terus menatap keluar jalan, gue mengeluarkan handphone gue dari dalam tas karena terus bergetar dari tadi, melihat nama Ian yang terpampang jelas dilayarnya juga kembali membuat gue menarik nafas dalam. Gue mengusap air mata gue dan milih mematikan handphone gue, gue udah gak butuh penjelasan apapun lagi sekarang, walaupun gue tahu kalau ada segurat raut wajah penuh rasa bersalah di wajah Ian tadi tapi hati gue juga terlanjut sakit dengan ucapannya tadi, ucapan Ian tadi terlanjur menyakiti perasaan gue, apa Ian pikir kalau gue gak punya perasaan? Apa karena gue cinta bisa membuat Ian berhak mengatakan apapun untuk gue? Apa Ian gak mempertimbangkan perasaan gue sama sekali? Ah tapi apa yang perlu gue harapin lagi? Gue juga mengecewakan Ian dengan pilihan gue, gue gak berhak menuntut Ian untuk mengerti gue juga. Gue udah pernah bilang ke diri gue sendiri, kalau kali ini gue kembali jatuh untuk orang yang salah makanya gue akan kembali hancur, gue pikir apa salahnya kalau gue jatuh hati lagi, tapi ternyata salah kalau orang itu, bertemu bukan berarti harus bersatu, gue menggantungkan harapan terlalu tinggi di awal makanya bisa kecewa sampai seperti ini, gue meremehkan perasaan gue ke Ian yang gue rasa cuma rasa nyaman semata tapi ternyata tanpa gue sadar, perasaan itu kembali berubah menjadi cinta, seiring berjalannya waktu gue telah mencintai Ian dengan begitu dalamnya dan berakhir tersakiti lagi untuk kesekian kalinya. "Kenapa gue harus jatuh cinta sama Ian?" Gumam gue menanyakan diri gue sendiri. "Syi, kamu baik?" Gue yang awalnya masih memandangi keluar jalan langsung mengalihkan tatapan gue ke arah bangku samping kemudi, dan sekarang udah ada Mas Rian yang mengulurkan selembar tisu untuk gue.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN