"Yang Syia cintai itu Lian bukan Mas Rian." Ucap gue ulang dan berjalan masuk ke kamar gue dengan perasaan sangat kacau, gue pikir setelah gue berusaha keadaannya akan menjadi sedikit jauh lebih muda tapi yang harus gue hadapi sekarang adalah gue harus bisa menerima keadaan yang malah terasa semakin sulit, gue dengan sangat terpaksa mengungkit masa lalu Mas Ali dan yang gak kalah buruknya, Lian mulai mempertanyakan lagi maksud ucapan gue tadi itu apa? Gimana sebenarnya perasaan gue ke Lian pasti bakalan terus ditanyain Lian ke gue mulai sekarang, sikap gue tadi menanggapi pertanyaan Lian yang meminta penjelasan pasti akan membuat Lian semakin curiga.
Belum lagi dengan kehadiran Bunda ditengah-tengah kita berdua tadi, Lian pasti semakin bertanya kenapa Bunda sama gue bersikap aneh kaya gitu? Lian pasti bakalan makin mau tahu maksud ucapan gue sama Mas Ali tadi gimana? Sekarang, kalaupun gue memberikan alasan yang sangat masuk akal sekalipun ke Lian, gue gak yakin kalau Lian bakalan mau percaya sepenuhnya, sikap gue sama Bunda tadi aja udah cukup mencurigakan, belum lagi sikap Mas Ali yang langsung masuk ke rumah begitu ngeliat Lian dateng dengan tatapan terkejutnya, Lian pasti bakalan semakin curiga dan gue gak tahu gimana caranya gue menyakinkan Lian sekarang.
Di kamar, gue menghempaskan tubuh gue asal di ranjang dan narik nafas dalam memperhatikan handphone gue yang terus bergetar tapi berusaha keras gue abaikan, gue udah tahu siapa yang menghubungi gue dari tadi dan orang itu adalah Lian, sepenjang gue ngomong panjang kali lebar sama Bunda dan Mas Ali, selama itu juga Lian gak berhenti menghubungi gue, mau gue nonaktifin tapi percuma, menghindar dari Lian sekarang bukan berarti gue bisa menghindari Lian selamanya, seperti yang gue bilang tadi, Lian juga gak akan percaya semudah itu sebagus apapun gue ngasih penjelasan untuk semua pertanyaannya nanti, gue gak yakin kalau Lian akan mau mendengarkan gue sekarang.
Merasa sangat terganggu dengan panggilan Lian, pada akhirnya gue memilih menerima panggilannya dan narik nafas cukup dalam, gue hanya menjawab panggilannya tapi belum berniat berbicara apapun, Lian terus manggilin nama gue tapi gue gak punya jawaban, gue gak tahu harus ngejelasin apa sama Lian untuk membuat Lian mengerti dengan alasan yang akan gue berikan sekarang, apapun alasannya, Lian tetap akan curiga dan mempertanyakan kejujuran gue, kejujuran yang dari awal sangat sulit untuk gue berikan, gimana bisa gue jujir dengan ngomong ke Lian kalau gue suka sama dia, gimana caranya gue bisa jujur dengan ngomong kalau gue cinta sama dia? Apa Lian akan percaya?
Mengakui perasaan gue ke Lian sekarang itu sangat beresiko, kenapa? Karena gue udah tahu kalau Lian gak punya perasaan yang sama dengan gue, Lian hanya menganggap gue seorang Kakak dan itu gak lebih, gimana mungkin gue menceritakan masalah perasaan gue ke Lian dengan taruhan kalau Lian akan menjauhi gue nantinya? Gimana kalau Lian gak bisa terima perasaan gue ke dia sekarang dan memilih untuk menghindar dari gue? Apa gue siap untuk menghadapi kenyataan seperti itu, gue memang mau merelakan perasaan gue ke Lian tapi bukan berarti gue harus kehilangan Lian, gue gak mau kehilangan seseorang yang sangat peduli dan baik sama gue, kalau Lian bissla menganggap gue sebagai seorang Kakak, gue juga akan melakukan hal yang sama, gue akan menganggap Lian sebagai adik gue.
"Kak! Apa Kakak akan terus diam? Kakak gak mau ngejelasin apapun sama Lian? Kalau memang Kakak punya masalah Kakak cerita, atau mungkin Lian yang bikin salah? Kalau iya Lian minta maaf tapi tolong jangan ngebuat Lian makin bingung, kenapa sikap Mas Ali sama Bunda Kakak kaya gitu? Apa kesalahan Lian sangat besar kali ini?" Tanya Lian diseberang, gue kembali menghembuskan nafas panjang mendengarkan semua pertanyaan Lian barusan, gue berencana jujur tapi resikonya gak bisa gue tanggung, gue takut kehilangan Ian, egois memang tapi gue bisa apa? Ini adalah perasaan gue yang sebenernya.
"Kak! Kakak jawab pertanyaan Lian sekarang atau Lian yang dateng ke rumah Kakak lagi? Lian akan tanya langsung ke Mas Ali sebenernya kesalahan Lian apa sampai mereka menatap Lian kaya gitu? Apa itu yang Kakak mau?" Lanjut Ian mendesak gue untuk memberikan jawaban, ini yang gak gue suka dari Lian, di terlalu menganal gue, Lian terlalu hafal dengan sikap dan sifat gue makanya Lian berani ngancem gue kaya sekarang, Lian bahkan berani ngamcem gue dengan mau nemuin Mas Ali langsung, apa Lian udah hilang akal? Untuk apa Lian nemuin Mas Ali kalau udah jelas-jelas Mas Ali sendiri gak suka sama dia.
"Diem artinya Kakak setuju dengan pilihan kedua Lian, okey! Kalau itu yang Kakak mau, Lian nemuin Mas Ali sekarang dan setelahnya jangan ngomong kalau Ian gak ngasih Kakak kesempatan untuk ngasih penjelasan apapun, Kakak sendiri yang milih diam dan mengabaikan semua pertanyaan Lian jadi Kakak ha__"
"Kakak akan cerita tapi kasih Kakak waktu, bukan sekarang, kamu juga jangan aneh-aneh Ian, kamu liatkan gimana ekspresi Bunda Kakak sama Mas Ali tadi? Apa kamu pikir keadaannya sedang baik-baik aja, Kakak akan nemuin kamu dan Kakak akan ngasih tahu senuanya jadi kamu gak perlu dateng kerumah." Potong gue untuk ucapan Lian, kalau sampai beneran Lian dateng kerumah untuk nemuin Mas Ali atau Bunda, gue gak bisa ngebayangin suasananya bakalan kaya apa tar, Bunda sama Mas Ali yang lagi kalut bisa makin naik darah ngeliat Lian dateng nemuin gue sembarangan kaya gitu, apa belum cukup Lian nanya banyak di depan rumah gue tadi? Dateng lagi sekarang gak akan ngerubah apapun, hasilnya akan tetap sama, gue gak bisa memberikan jawaban untuk semuanya pertanyaan Lian sekarang juga.
"Okey! Kalau gitu besok Lian tunggu Kakak di kampus, jelasin semuanya dan jangan pikir kalau Kakak bisa menghindari Lian, Kakak tahu Lian bisa ngelakuin apapun kalau untuk Kakakkan? Jadi jangan aneh-aneh, Lian tunggu di kampus selepas jam kedua, Lian kosong dan Lian juga tahu kalau Kakak kosong jam segitu." Gue gak punya bantahan apapun untuk ucapan Lian barusan, gue hanya bergumam mengiyakan dan Lian memutuskan panggilannya gitu aja setelah gumaman gue, Lian memang gak mudah untuk gue hadapi, sifat keras kepalanya sama seperti gue, tapi itu lebih baik karena setidaknya Lian gak akan nekat dateng ke rumah cuma untuk minta penjelasan gue.
.
.
.
Makan malam kali ini entah kenapa suasananya terasa beda banget, kenapa? Karena gue ngerasa kalau Mas Ali sama Bunda menatap gue aneh sesekali, mereka seakan mau ngomong banyak tapi mereka tahan karena sesuatu dan gue gak tahu itu apa, gue sebenernya juga mau nanya mereka kenapa tapi gak mau membahas apapun sekarang, gue udah cukup lelah hari ini, gue udah bicara cukup banyak, entah itu sama Bunda, sama Mas Ali atau bahkan sama Lian juga, belum lagi gue harus mikirin gimana caranya gue jujur sama Lian besok, Lian udah bilang kalau gue gak akan bisa kabur jadi gue memang akan bisa, gue gak usah capek-capek nyari cara untuk ngulur waktu karena itu gak akan berhasil.
"Tante Syia kenapa? Kok makanya dikit? Tante masih sakit ya? Kalau masih sakit harusnya ke dokter lagi sama Ayah dong Tante." Tanya keponakan gue yang memecah keheningan di meja makan sekarang, gue tersenyum kecil dan mengusap pipi keponakan gue gemes, masih kecil tapi udah pinter banget ngomongnya, bikin gue yang lagi bad mood sama sekali gak bisa nolak untuk menyunggingkan senyuman mendengar pertanyaannya barusan, senyum gue mengembang untuk sesaat dan itu beneran bagus.
"Tante gak sakit kok sayang cuma belum laper aja, kalau Tante laper nanti Tante makan lagi." Kilah gue, tersenyum ke keponakan gue, gue melanjutkan makan gue dan mengabaikan tatapan semua orang, gue bukannya gak mau peduli dengan keadaan tapi gue mencoba mengabaikan sedikit keadaan gue, gue gak bisa membahagiakan siapapun sekarang jadi lebih baik gue duduk diam menyantap makan malam gue, masalah yang lain gue pending dulu, gue masih harus nyusun rencana gue untuk ngasih penjelasan ke Lian besok gimana, gak bisa gue paksa lagi untuk mempertahan semua kebingungan Lian, pertanyaan Lian yang seakan terus mendesak gue untuk memberikan jawaban secepat mungkin membuat gue mulai kewalahan sendiri, gue harus meluruskan semuanya sesegera mungkin, ini adalah keputusan gue sekarang.
"Syia selesai, Syia naik dulu." Ucap gue bangkit dari duduk gue detik itu juga, gue meletakkan piring gue di tempat cuci piring dan langsung menaiki tangga naik keatas masuk ke kamar, mau tatapan semua orang lain nusuk banget ke gue juga jadi, gue gak mau membahas masalah hidup gue lagi sama siapapun karena gak akan ada yang mau ngerti keadaan, terlalu berharap sama orang lain yang beneran bakalan kecewa, gue ngerasain itu semua makanya gue gak mau bergantung dengan siapapun sekarang, hidup gue ya gue urus sendiri, gak ada yang perlu gue gantungkan lagi sama siapapun itu.
"Dek! Mbak masuk ya." Gue mengiyakan dari dalam karena gue tahu kalau yang nanya barusan itu adalah Mbak Lia, gue bisa lebih tenang kalau Mbak Lia yang ngomong dari pada harus berdebat sama Mas Ali atau Bunda karena saling beda pendapat, gue mencoba mengerti keadaan juga, membiarkan Mbak Lian masuk dan duduk disamping gue dengan tatapan prihatinnya, sejujurnya gue agak terluka dengan tatapan Mbak Lia barusan tapi mungkin di mata orang lain keadaan gue memang sudah semengkhawatirkan itu, walaupun gue gak berharap banyak tapi setidaknya kalau bicara sama Mbak Lia pemikiran gue bisa jauh lebih lega.
"Adek baik? Maaf kalau Mas Ali ngomongnya kasar, Adek tahukan kalau sebenernya niat Mas kamu itu baik? Mereka cuma gak mau kamu berakhir sama dengan Mas Ali dulu, mungkin cara mereka yang salah." Gue mengangguk pelan, gue juga sadar kalau sikap Mas Ali atau Bunda sekarang karena mereka terlalu khawatir sama gue tapi gimanapun gue gak bisa membenarkan cara mereka sekarang, mereka terlalu mengekang gue dan seakan gak memerikan kepercayaan apapun untuk gue lakuin, gue bisa apa coba? Apa yang harus gue perbuat? Apa gue harus terima gitu aja semua perlakuan mereka? Gue gak akan bisa bersikap kaya gitu.
"Mbak! Syia sama sekali juga gak bermaksud untuk kasar sama Mas Ali apalagi sama Bunda tapi Mbak juga liatkan gimana cara Mas Ali sama Bunda memperlakukan Syia? Mbak! Mas Ali ya Mas Ali dan Syia adalah Syia, gimana caranya Syia ngasih mereka berdua penjelasan supaya mereka mau ngerti kalau yang mereka takutkan belum pasti kejadian, ya belum pasti memang bukan berarti gak mungkin kejadian tapi pencegahan yang mereka lakuin itu udah berlebihan banget menurut Syia, Mbak, gue gak ada nyaman-nyamannya, keluarga yang biasa jadi tempat mengadu sama berlindung lah ini apaan? Yang ada beda pendapat terus dan berakhir dengan ribut gak jelas, bukannya nyaman jadinya malah rusuh terus, capek banget Mbak." Jelas gue panjang kali lebar.
"Mbak ngerti perasaan kamu, terus kamu sama Lian sendiri gimana? Kamu udah ngasih tahu Lian perasaan kamu sekarang gimana Dek? Lian udah tahu?" Tanya Mbak Lia lagi yang gue balas dengan gelengan pelan, gue gak tahu apa gue bisa menganggap kalau Lian udah tahu perasaan gue yang sebenernya gimana sekarang? Karena kalau gue bilang belum tahu tapi Lian udah nanya kepastian sama guekan? Gue rasa udah tahu perasaan gue yang sebenernya gimana, cuma masih belum dapet kepastian apapun, jadi bukannya bisa di anggap Lian udah tahu perasaan gue sekarang kaya apa?
"Bilang secara gamblang sih belum Mbak tapi kalau menurut Syia sendiri, Syia yakin kalau Lian udah tahu perasaan Syia gimana ke dia sekarang, makanya Syia bingung Mbak." Gue bingung sendiri mendapati reaksi Lian tar bakalan kaya apa, Lian pasti gak bakalan langsung nunjukin sikapnya yang udah tahu tentang perasaan gue sekarang kaya apa, gue sendiri gak mungkin nyembunyiin perasaan gue lebih lama lagi, semakin gue tahan perasaan gue bukannya membaik tapi malah semakin menjadi, gue takut kalau setelah gue berusaha nutupin perasaan gue lama tapi nyatanya gak ada yang akan berubah, gue tetap mencintai Lian seperti sekarang.
"Dek! Itu artinya kamu sendiri gak yakin kalau Lian udah tahu, kalau memang kamu ngerasa perasaan kamu ke Lian itu tulus, gak ada salahnya Adek mengakui perasaan Adek lebih dulu, Lian gak akan tahu kalau gak Adek bicarain, setelah bicara baru liat Lian akan bereaksi seperti apa, walaupun Lian lebih muda dari kamu tapi Lian juga udah dewasa Dek, mahasiswa itu bukan anak kecil lagi." Saran Mbak Lia yang masih gue pertimbangkan, ya memang gak masalah kalau gue yang mengungkapkan perasaan gue lebih dulu toh gak ada larangannya cuma gue ya khawatir kalau setelah tahu Lian malah akan menghindar, bukannya gue sangat pengecut?
"Mbak mau Syia jujur ke Lian tentang perasaan Syia sekarang?" Tanya gue ke Mbak Lia tapi padahal untuk meyakinkan diri gue sendiri juga.
"Jujur ke Lian, masalah menolak atau memperjuangkan, itu pilihan Lian nanti."