(BAB 14)

2708 Kata
Setelah ucapan Mbak Lia semalam, entah kenapa gue semakin yakin kalau pilihan gue untuk mengakui perasaan gue ke Lian itu yang paling tepat, gue gak perlu mikirin apa reaksi Lian nanti, yang penting gue udah jujur dan jujur itu selalu lebih baik, gak ada yang harus gue tutup-tutupi lagi, kalau gue jujur setidaknya gue gak akan punya beban karena selalu harus mencari alasan untuk menutupi kebohongan gue nanti, kalau gue jujur mungkin Lian akan bisa mempertimbangkan semuanya dengan cara yang jauh lebih baik, ada banyak hal yang harus gue lakuin untuk hidup gue sendiri, ada atau tanpa ada Lian di dalamnya. Kenyataan takdir yang gak bisa gue ubah walaupun seberapa baik gue menulis harapan hidup gue sendiri, ada takdir Allah yang jauh lebih indah, walaupun yang terindah bukan berarti akan menempuh jalan yang termudah, gue hanya perlu menggantungkan harapan gue setinggi-tingginya, berusaha sebaik mungkin untuk meraih harapan gue tersebut karena dibalik harapan yang selalu gue panjatkan, ada impian yang gue yakin akan terkabul suatu saat nanti, walaupun bukan dalam waktu cepat tapi gue juga yakin kalau gak akan ada doa yang terlewat, semua ada porsinya masing-masing, semua ada waktu terbaiknya, gue gak bisa menyerah hanya karena keadaan terasa semakin memburuk, akan ada jalan lain, gue yakin. "Dek! Kamu berangkat sama Mas? Mobil masih di bengkelkan?" Tanya Mas Ali yang sekarang berdiri di ambang pintu kamar gue, gue mengangguk pelan untuk pertanyaan Mas Ali barusan. Gue sama Mas Ali bukannya udah gak punya masalah tapi gue anggap diamnya Mas Ali sama Bunda sebagai bentuk kalau mereka mencoba mengerti keadaan gue, Mas Ali sama Bunda seharian ini gak ngebahas apapun lagi yang menyangkut perasaan gue ke Lian, mereka gak pernah mengungkit masalah Mas Galang juga, walaupun mereka tidak menunjukan persetujuan mereka untuk perasaan gue sama Lian tapi setidaknya gue bisa sedikit bernafas lega karena Bunda sama Mas Ali gak mendesak gue untuk dekat dengan Mas Rian lagi, pekara jodoh itu gak ada yang tahu. Gue bikin simple aja pemikiran gue sekarang, gue menolak Mas Ali sama Bunda terus mendesak gue untuk dekat sama Mas Rian bukan berarti gue akan menolak takdir kalau memang gue sama Mas Rian berjodoh nanti, maksudnya gue gak mau ada yang namanya pemaksaan dalam hubungan gue dengan siapapun, untuk saat ini gue beneran gak bisa kalau sama Mas Rian, alasannya ya seperti yang udah sering gue jelaskan, itu semua karena Mas Rian adalah Kakak dari laki-laki yang gue cintai, gak mudah gue mencintai seorang diri jadi gue gak mau menambah beban gue dengan memaksakan hidup dengan laki-laki yang gak gue cintai sama sekali juga, yang namanya hubungan, yang namanya perasaan gak bisa dimulai kalau ada keterpaksaan. Mungkin kedepannya banyak hal yang akan gue perjuangkan tapi hidup gue yang sekarang juga bukan permainan yang bisa gue jalani secara asal-asalan, gue harus bisa bertanggung jawab dengan diri gue sendiri, gue harus bisa bertanggung jawab dengan kebahagiaan gue sendiri, bahagia gue bukan tanggungjawab orang lain, itu tanggung jawab gue sendiri, bahagia atau enggak itu tergantung dengan pilihan gue sendiri sekarang, gak perlu menganggap bingung keadaan yang sebenarnya udah sangat jelas pilihannya itu gimana? Gue bisa mencoba semuanya sesuai dengan keadaan mana yang lebih mendesak untuk gue luruskan lebih dulu. Mengatur hidup gak selalu harus dengan cara mendesak atau mengambil pilihan cesara teeburu-buru, gue memutuskan untuk berani mengakui perasaan gue ke Lian nanti juga bukan tanpa pertimbangan apapun, gue sudah memikirkan beberapa kemungkinan yang harus gue ambil kalau ternyata semuanya kembali tidak berjalan sesuai keinginan gue, kata lainnya gue sudah merencakan plain B kalau-kalau rencana gue sekarang gak berjalan lancar, gue harus bersiap untuk mengambil jalan lain dalam menyelesaikan masalah gue, keadaan rumah yang tenang tanpa ada ribut-ribut gue sama Mas Ali atau Bunda beneran membantu gue untuk berpikir dengan jauh lebih tenang. "Kalau gitu Mas tunggu Adek dibawah, jangan lama." Mas Ali tersenyum kecil dan turun ke bawah lebih dulu, lagi-lagi gue mengiyakan dan mempercepat proses beberes gue, gue gak mau Mas Ali nunggu lama, kenapa? Karena gue tahu dalam keadaan gue sama Mas Ali yang baru selesai ribut-ribut kaya kemarin, Mas Ali gak akan marah kalau gue turun telat tapi kekesalannya mungkin akan semakin menjadi makanya gue memilih untuk gak membuat masalah apapun, beberes kilat dan berjalan menuruni tangga cepat, dibawah gue juga ketemu Bunda sama Mbak Lia yang langsung gue salim cepat, gue pamit dalam keadaan terburu-buru. "Hati-hati." Ucap Bunda yang masih bisa gue dengar, gue mengacungkan jempol tinggi dan keluar dari rumah dengan menenteng sepatu gue masuk ke mobil Mas Ali, menghemat waktu dengan memakai sepatu gue didalam mobil aja sambilan jalan, walaupun mafas ngos-ngosan gue masih terdengar jelas tapi setidaknya keadaan gue sekarang beneran udah siap jalan, gue hanya perlu memakai sepatu gue dan mengatur nafas gue ulang setelah duduk dengan tenang, cuma itu. "Pulang jam berapa? Mas jemput kamu lagi nanti." Tanya Mas Ali dengan tatapan yang masih fokus memperhatikan jalan, walaupun suasananya masih terasa sedikit canggung tapi ya inilah yang namanya pertengkaran antar saudara, seberapa besarpun keributan yang gue sama Mas Ali buat, kita berdua akan tetap saling peduli dan gak ada yang namanya akan menyimpan dendam, setelah jam dan hari berlalu, keadaan akan berlangsung membaik dan berakhir seolah gak pernah terjadi apa-apa, gue gak tahu keluarga lain atau Kakak beradik lain akan merasa kaya gini juga atau enggak tapi setidaknya sampai sekarang ini yang gue rasain, ini yang gue alami. "Heumm gak papa Mas, nanti Syia naik taksi aja, soalnya Syia gak sampai sore jadi kemungkinan Mas belum pulang kantor, dari pada Mas bolak-balik, biar Syia naik taksi aja ke bengkel." Ucap gue membalas pertanyaan Mas Ali dan menyunggingkan senyum tipis gue, jawaban gue sekarang juga bukan karena gue yang memang masih merasa canggung tapi gue beneran gak mau Mas Ali capek bolak-balik anter jemput gue, ke bengkel doang, taksi juga banyak, gak perlu bikin Mas Ali buang-buang waktu lama dari kantor ke kampus gue, sendiri juga bisa kalau urusan beginian doang mah, gak perlu ngerepotin Mas gue segala. "Yaudah kalau gitu tapi nanti seandainya berubah pikiran, kabarin Mas." Gue menangguk pelan dan selebihnya kita berdua fokus dengan urusan masing-masing, Mas Ali yang semakin fokus dengan kemudinya dan gue yang juga semakin fokus ngotak-ngatik handphone gue, keadaannya hening sampai gue sama Mas Ali sampai di parkiran kampus gue sekarang. "Makasih ya Mas, Syia turun dulu, Mas hati-hati." Pamit gue, gue nyalim dan turun dari mobil Mas Ali dalam diam, berjalan menyusuri koridor kampus sampai gak sengaja tatapan gue tertuju untuk seseorang yang sedang tertawa lepas dengan beberapa teman-temannya di depan kelas yang akan gue lewati, gue menundukkan tatapan gue dan berniat melewati mereka dalam diam juga tapi genggaman seseorang di lengan gue membuat gue terpaksa memberhentikan langkah. "Kak! Udah sarapan?" Tanya Lian masih menggenggam lengan gue, ini memang bukan pertama kalinya Lian bersikap seperti ini terhadap gue bahkan didepan orang lain, selama bukan di kelas, Ian akan bersikap seperti biasa, Ian akan memperlakukan gue seperti seorang Kakak dan sahabat dekatnya, tapi sekarang, pertanyaan sederhana Lian malah sukses membuat gue tertegun tanpa alasan pasti, gue hanya mengkaku ditempat seolah yang tertinggal di depan Lian sekarang hanya tubuh gue sedangkan otak gue udah melayang entah sampai kemana. "Kak! Udah sarapan belum?" Ulang Lian sedikit memperkuat genggamannya di lengan gue, gue mengangguk cepat begitu sadar kalau gue mengabaikan pertanyaan Lian kali pertama tadi. "Heum heum, itu dosen apa pacar Ian? Perhatian banget?" Goda Radit yang gue kenal sebagai teman dekat Ian juga, Radit tersenyum jail dan menatap gue sama Lian secara bergantian dengan tatapan penuh maksudnya, gue ikut tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Radit barusan, gue gak bisa mengartikan maksud tatapannya tapi Radit memang selalu lucu, kelakuannya hampir sama dengan Lian tapi Lian terlihat jauh lebih dewasa dalam memahami situasi, Lian bisa menempatkan sesuatu sesuai dengan kebutuhan dan Lian bisa menetukan sikapnya sesuai keadaan. "Dosen sementara tapi pacar bisa aja selamanya, udah diem lo gak usah ngegodain Kakak gue." Balas Lian nepuk pelan bahu Radit dan melepaskan genggamannya di lengan gue. "Kakak sama siapa? Lian gak liat mobil Kakak di depan rumah tadi." Tanya Lian mencoba kembali fokus sama gue, gue menjelaskan singkat kalau mobil gue mogok pas mau dibawa masuk ke garasi semalam jadi di bawa ke bengkel sama Mas Ali makanya tadi gue berangkat sama Mas Ali dan gak bawa mobil gue sendiri, Lian mengangguk pelan dan teman-temannya yang lain juga mengangguk mengiyakan mendengarkan penjelasan gak penting gue, apa pentingnya mereka tahu mobil gue kemana coba? Kan aneh-aneh. "Yaudah kalau gitu, nanti Ian tunggu sesuai janji Kakak semalam." Dan ucapan Lian sekarang langsung bikin rusuh teman-temannya yang lain, cia cie nya mereka pada keluar semua, tatapan jahil mereka semua malah semakin menjadi, gue juga ikut menggeleng-gelengkan kepala gue sangking gak habis  sama kelakuan mereka semua, bukan cuma tatapan Radit dan teman-temannya, tatapan Nana yang gue tahu suka sama Lian juga berubah, Nana beralih menatap gue dengan tatapan gak sukanya tapi gue abaikan, masalah gue udah banyak jadi gue gak mau nambah lagi masalah baru cuma untuk ngeladenin tatapan cemburunya mahasiswi gue sekarang. "Kalian beneran pacaran? Gimanapun Buk Syia kan dosen kita Ian, kamu gak malu pacaran sama yang lebih tua? Sekarang mah memang gak keliatan tuanya karena masih muda tapi kalau kalian udah tua nanti, kamu mau orang mikir apa?" Tanya Nana tersenyum sinis menatap gue, gue hanya menatap Nana datar dan berniat melanjutkan langkah gue dan mengabaikan semua ucapannya barusan tapi rangkulan Lian di bahu gue malah membuat gue balik kaget, ni anak ngapain coba? Gak malu di omongin sama orang-orang lain? Nana bener, bagaimanapun gue dosen disini, Lian gak bisa bersikap seenaknya. "Ian! Kamu__" "Kenapa Kak? Kalaupun kita pacaran gak salahkan? Ian pernah bilang kalau Lian gak peduli sama umur kita, yang penting itu perasaan kita berdua, omongan ni anak gak usah Kakak peduliin, kalau kita tua nanti, gak akan ada yang peduli dengan umur kita nantinya." Potong Ian tersenyum tulus menatap gue, gue ikut menyunggingkan senyuman gue mendengarkan jawaban Lian untuk ucapan Nana barusan, gue gak perlu nampar Nana dengan tangan gue tapi Lian udah nampar Nana secara gak langsung dengan ucapannya, makanya gue bilang  walaupun Lian keliatan kalem dan terkadang terkesan kekanak-kanakan tapi kalau tatapan seriusnya muncul, siap-siap nutup telinga dengan ucapannya. "Kakak tunggu kamu nanti, sekarang kamu belajar yang bener." Menurunkan lengan Ian di bahu gue, gue melanjutkan langkah kaki gue melewati koridor dan masuk ke ruang staf, gue gak mau memperpanjang obrolan gue bareng Lian dan temen-temennya itu, makin lama gue gabung yang ada cia cie mereka semua akan semakin menjadi, gue gak sanggup dengernya. "Pagi Syia." Ucap Mas Haznik begitu melihat gue memasuki ruang staf, gue membalas ucapan Mas Haznik bisa dan beralih memperhatikan sekitar ternyata memang baru ada kita berdua doang sekarang, gue yang kepagian atau memang gak ada yang kena jadwal mengajar pagi? Tapi masa gak ada satu orangpun, bakalan ribet gue ngeladenin pertanyaan Mas Haznik tar kayanya. "Syi, kamu dekat sama Lian?" Tanya Mas Haznik tiba-tiba, dalam hati gue udah langsung ngomong, benerkan tebakan gue  Mas Haznik bakalan banyak nanya, kelakuannya Mas Haznik sekarang seolah Mas Haznik itu mata-mata seseorang untuk terus ngawasin gue, ya bukannya gue marah atau apapun tapi itu beneran aneh tahu gak, gue gak leluasa jadinya, jatuhnya malah kaya mengganggu pemikiran gue, Mas Haznik yang biasa selalu santai malah jadi banyak nanya kaya gini sama gue, kan bengah gue jadinya. "Kenapa Mas nanya begitu? Mas tahukan kalau Lian itu tetangga Syia." Tanya gue balik dan memberikan jawaban gue secara gak langsung, gue yakin Mas Haznik tahu kalau Ian itu tetangga gue jadi kenapa Mas Haznik malah nanya kaya barusan? Apa itu gak kelewatan? Bagaimanapun itu masalah pribadi gue jadi kenapa gue harus menjawab pertantaan Mas Haznik barusan? Gue gak punya kewajiban apapun, kalau gak gue jawab ya sah-sah aja juga, gak ada masalahnya sama sekali, gue masih bersikap baik dan ramah sama Mas Haznik sekarang ya karena kita rekan kerja, gak mungkin gue mengabaikan rekan kerja gue jadi jangan mancing-mancing masalah dengan banyak nanya kaya gini. "Ya Mas tahu kalau Lian itu tetangga kamu tapi tetangga mana yang berani merangkul tetangganya di depan umum kaya tadi? Terlebih Lian lebih muda dari kamu, bukannya itu gak sopan? Atau hubungan kalian memanh sedekat itu?" Tanya Mas Haznik lebih lanjut, gue menghembuskan nafas dalam dan memaksakan senyuman gue memperhatikan Mas Haznik sekarang, wah, Mas Haznik beneran mancing emosi gue pagi-pagi kayanya, dia sok tahu banget, udah sok tahu malah maksa mau tahu hal lain juga, kacau ni orang, kerjaannya sekarang beberan jadi mata-mata kayanya. "Mas! Mas dibayar berapa sama Mas Galang untuk ngawasin Syia? Gak usah bertele-tele Mas, Mas sebenernya tahu gimana hubungan Syia sama Liankan? Mas juga inget gimana jahatnya temen Mas waktu nyelingkuhin Syia dulukan? Sekarang Mas mau tahu apalagi? Dulu Syia pikir Mas itu beda, walaupun Mas sahabat Mas Galang tapi selama Mas gak ngelakuin kesalahan apapun sama Syia jadi Syia pikir itu bukan masalah, Syia gak harus menjauhi Mas tapi ternyata tetap ya, sahabat musuh itu ya tetap musuh juga." Ucap gue sangat kesal dengan sikap Mas Haznik sekarang, gue pikir Mas Haznik itu beda sama Mas Galang tapi ternyata sama aja, toh mereka memang sahabatan jadi gak mungkin sikapnya beda, mereka bisa sahabatan ya karena mereka itu sama modelannya. "Mau tahu banget urusan gue." Gumam gue dan bangkit dari duduk gue sekarang, gue keluar dari ruang staf dengan membanting pintu cukup keras dan berjalan masuk ke kelas dengan perasaan kesal yang semakin menjadi pagi-pagi kaya gini, asli heran gue, mau aja disuruh buat ngawasin gue, memang Mas Haznik gak punya kerjaan lain, didepan gue Mas Haznik bersikap baik seolah dia peduli tapi di belakang gue dia ngelapor semuanya sama Mas Galang, apaan modelan gitu, itu orang operator prodi apa operator perasaan? Mencurigakan banget kerjaannya, gak bermamfaat sama sekali tahu gak, temennya memang belum bisa move on sama gue atau gimana? Udah nyelingkuhin dan sekarang mau balik sama gue setelah putus dari selingkuhannya? Memang Mas Galang ngira gue perempuan apaan? Masuk ke kelas dengan perasaan kesal gak karuan, gue cuma berharap kalau selama kelas berlangsung gak ada mahasiswa atau mahasiswi gue yang bikin ulah, kalau gak banyakin sabar aja, suasana hati gue lagi gak beraturan jadi jangan mancing masalah sama gue, gue cuma mau ngajar dan keliar ruangan dengan perasaan yang harus jauh lebih tenang, gue masih harus bicara sama Lian setelah kelas selesai soalnya. . . . Selesai kelas, gue menepati janji gue sama Lian kalau kita akan bicara baik-baik, gue memang mengiyakan tapi gue gak nemuin Lian di kantin kampus, gue ngajak Lian janjian di tempat lain yang gak harus ketemu sama orang kampus rame, mending gue nyari tempat lain yang jauh tapi bisa ngomong tenang dari pada ngomong dekat di kantin tapi tatapan semua orang udah serasa merayap mengamati muka gue selagi bicara sama Lian nanti, wo wo gue menolak keras merasa seperti itu, walaupun harus naik taksi ke tempat lain juga gue jabanin dan disinilah gue sama Lian sekarang, di salah satu cafe yang jaraknya cukup jauh dari kampus. "Kakak mau terus diem kaya gini?" Tanya Lian setelah kita berdua duduk cukup lama dalam diam, gue menelan ludah gugup karena bingung harus mulai ngomong dari mana, walaupun gue udah menetapkan hati gue untuk jujur mengenai perasaan gue ke Lian itu gimana tapi tetap aja, realitanya mengungkapkan perasaan untuk seseorang tidak semudah itu, gue gak bisa melakukannya dengan mudah, ragu-ragu itu adalah hal yang pasti dan gue malah makin susah ngomong sekarang, bingung sendiri, panik sendiri dan berakhir dengan lupa gue mau ngomong apa, padahal di rumah udah gue rangkai sebagus mungkin kata-katanya tapi sampai di sini kacau balau, blank semua. "Kamu gak nanya-nanya, memang kamu mau tahu apa?" Tanya gue balik, lebih baik gue ditanya lebih dulu dari pada gue harus memulai pembicaraan lebih dulu, gue gak bisa merangkai kata baik dan mulai mengungkapkan perasaan gue ke Lian kalau bukan Lian lebih dulu yang nanya perasaan gue sebenernya gimana? Gue gak ngerti lagi harus ngasih penjelasan kaya apa sama Lian, kaya kemarin, gue yang ditanya lebih dulu itu gampang. "Yang Kakak omongin sama Mas Ali kemarinpada di depan pintu rumah itu apa? Perasaan yang Kakak maksud kemarin itu gimana sebenernya? Maksudnya gimana?" Tanya Lian memberikan gue pertanyaaan lebih dulu, gue menelan ludah gugup mendapati pertanyaan Lian barusan, padahal gue yang minta Lian nanya tapi tetap aja sulit rasanya dan gue gak ngerti harus memberikan jawaban seperti apa. "Kakak suka sama kamu." Cicit gue gak yakin.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN