(BAB 15)

1132 Kata
"Kakak suka sama Lian? Yaudah Lian juga suka sama Kakak, bukannya kalau masalah ini udah kita bahas? Kenapa malah Kakak omongin lagi sama Mas Ali? Apa hubungannya sama Mas Ali? Mas Ali marah karena Kakak suka sama Lian?" Tanya Lian seolah masih belum mengerti dengan alasan gue Mas Ali keliatan marah kaya kemarin, Lian juga masih ngerasa gak ada yang aneh dengan ucapan gue barusan karena Lian masih belum sadar dengan maksud kata suka yang gue ucapkan barusan, dalam bayangan Lian itu pasti masih soal chat gue kemarin yang sengaja ke kirim ke dia waktu itu, padahal gue lagi ngungkapin perasaan gue sendiri itu sebenernya gimana? "Ian, suka yang Kakak maksud bukan suka antara seorang Kakak untuk adiknya seperti tebakan kamu tapi suka yang Kakak maksud itu lebih, Kakak suka sama kamu." Ulang gue juga, berat banget rasanya untuk mengulang kalimat gue suka sama Lian apalagi kalau gue harus ngomong kalau gue cinta sama Lian, rasanya beneran sulit, mengungkapkan perasaan gue secara langsung seperti ucapan Mbak Lia semalam gue pikir akan mudah asal gue berusaha, selama gue udah merangkai kata, gue pikir gak akan ada masalah apapun, tapi ternyata semuanya gak segampang itu, banyak hal yang berubah ketika gue harus berhadapan dengan Lian secara langsung, gue seakan lupa semua kalimat yang udah gue susun rapi untuk menghadapi Lian nantinya. Lagian gue kira perasaan gue ini akan bertahan untuk sementara tapi ternyata malah semakin tumbuh tanpa bisa gue duga sama sekali, rencana memang gak selalu akan berakhir sesuai harapan, mungkin rencana gue sekarang adalah salah satu contohnya, udah berusaha sebaik mungkin tapi kalau hasilnya tetap gak sesuai harapan gue bisa apa? Protes? Gak akan bisa, gue harusnya nanya ke diri gue sendiri kenapa gue malah berakhir diam gak berkutik kalau udah berhadapan sama Lian begini? Harusnya gue juga mempersiapkan diri gue sebaik mungkin bukan malah ngeblank gak jelas sendiri, bukan orang lain yang mengacaukan pembicaraan gue sekarang tapi gue sendiiri, gue pelakunya. Berbeda jauh dengan sikap gue yang diam seolah kehabisan kata setelah ucapan gue barusan, Lian malah memperlihatkan ekspresi terkejutnya sekarang, Lian masih menatap gue seolah belum percaya dengan apa yang didengarnya barusan, gue mencoba memberanikan diri untuk membalas tatapan yang dilayangkan Lian sekarang tapi gue sendiri gak yakin apa ekspresi Lian sekarang masih bisa gue anggap baik? Tatapannya terlihat jelas sangat kaget tapi raut wajahnya yang gak bisa gue baca, pemikiran Lian sekarang gak mungkin bisa gue tebak, ni anak mikir apaan gue juga gak tahu, yang pasti Lian sama sekali belum melepaskan tatapannya dari gue. "Ian! Kalau kamu marah Kakak minta maaf, Kakak tahu gak seharusnya Kakak bersikap kaya gini, kamu udah baik banget ngenggep Kakak layaknya saudara sendiri tapi Kakak malah aneh-aneh kaya gini, maaf kalau Kakak malah ngecewain kamu." Lanjut gue merasa bersalah karena Lian sama sekali belum merespon apapun, gue yang awalnya mikir kalau keadaan Lian sangat tenang malah jadinya takut kalau diamnya Lian belum tentu keadaannya baik, bisa aja Lian kehabisan kata sangking kesalnya dengan ucapan gue atau Lian sampai gak bisa berkata-kata karena mikirin ucapan gue sekarang, ucapan yang udah jelas gak karuan mau gue apa. Mau gue apa? Pertanyaan kaya gini pasti juga jadi pertanyaan banyak orang, sebenernya mau gue apa dengan mengungkapkan perasaan gue ke Lian kaya gini? Apa yang gue harapkan setelah gue ngasih tahu Lian kalau gue suka sama dia? Apa gue berharap kalau Lian akan membalas perasaan gue walaupun disatu sisi gue juga tahu kalau Mas Ali sama Bunda gak akan setuju dengan hubungan kita berdua? Atau gue berharap kalau Lian akan menolak perasaan gue sehingga gue lebih mudah untuk melupakan perasaan gue ke Lian nantinya? Apa yang gue harapkan sebenernya? Apa gue bisa menghadapi omongan keluarga dan orang lain kalau Lian membalas perasaan gue atau apa gue bisa terima kalau Lian menolak perasaan gue dan malah narik diri menjauh dari gue nanti? Gue seakan gak sanggup untuk keduanya, gue seakan gak bisa melewati apapun pilihan Lian nanti karena keduanya sama berat menurut gue pribadi. "Kak! Kalau perasaan suka yang Kakak maksud kemarin bukan sekedar perasaan suka antara seorang Kakak untuk Adiknya, apa mungkin rasa suka yang Kakak maksud sama seperti tebakan Lian kemarin? Perasaan suka yang Kakak maksud adalah perasaan suka antara seorang perempuan dan laki-laki diluar sana pada umumnya." Walaupun ragu tapi gue tetap mengiyakan pertanyaan Lian barusan, gue mengangguk pasrah dengan penuh rasa bersalah, Lian kayanya kecewa banget dengan pemberitahuan gue, gue gak bisa bilang apapun kalau memang Lian mau menjauh dari gue mulai sekarang, Lian berhak nentuin sendiri pilihannya, apa yang menurutnya paling baik. "Maaf!" Cicit gue penuh rasa bersalah, gue ngerasa perasaan gue sekarang beneran bodoh, gimana bisa gue jatuh cinta dengan seseorang yang udah gue anggap kayaknya adik kandung gue sendiri? Bukannya ini hal yang sangat gila? Jangankan Ian yang jadi orangnya langsung, orang lain aja kalau denger ucapannya gue barusan pasti bakalan geli sendiri, mereka pasti pada mikir gue gak beres, gue gila, otak gue ditaruh dimana? Pertanyaan seputar kebobrokan otak gue yang kayanya udah gak berfungsi dengan normal pasti bakalan rame kalau jadi bahan omongan orang-orang di luar sana, gue sendiri bahkan gak bisa percaya dengan perasaan gue sekarang. "Kakak minta maaf untuk apa? Apa Lian nyalahin Kakak sekarang? Apa Lian nyuruh Kakak minta maaf karena ucapan Kakak barusan? Enggakkan Kak? Terus kenapa Kakak malah minta maaf kaya gini? Apa sebegitu bencinya Kakak dengan perasaan Kakak sendiri sekarang?" Tanya Lian yang langsung gue balas dengan gelengan cepat, gue bukannya nyalahin perasaan gue sendiri atau benci dengan diri gue sendiri tapi gue cuma takut kalau Lian akan merasa terbebani dengan perasaan gue sekarang, gue takut Lian akan ngerasa gak nyaman, gue takut kalau Lian akan menjauhi gur setelah tapi perasaan gue ke dia seperti apa? Lagian, gak ada yang bisa gue harapkan banyak lagi, gue mengakui perasaan gue sekarang itu bukan berarti gue harus mendapatkan balasan dari Lian juga, perasaan Lian ke gue itu gak akan gue paksa sedikitpun, mau bagaimanapun reaksi Lian, mau bagaimanapun tanggapan Lian dan mau seperti apa sikap Lian ke gue mulai sekarang, gue gak bisa mempermasalahkan apapun, kalau Lian marah atau bahkan menjauhi gue ya gue bisa protes apa? Enggak ada, yang bisa gue lakuin c*m berharap kalau Lian akan sedikit memberikan pengertian untuk perasaan gue sekarang, kalaupun Lian gak membalas perasaan gue ya setidaknya kasih gue waktu untuk mengatur perasaan gue lagi, jangan narik diri menjauh atau menghindar, apa permintaan gue itu terdengar sangat egois? "Tapi karena perasaan Kakak sekarang bukannya kamu merasa terbebani? Bukannya kamu akan menganggap semuanya lebih rumit lagi? Kakak minta maaf karena Kakak ngerasa bersalah sama kamu, Kakak harap kamu mau bersabar, Kakak akan mencoba melupakan perasaan Kakak ke kamu sekarang jadi kamu gak perlu khawatir untuk apapun." Jelas gue berharap kalau Ian akan percaya, gue akan berusaha sebaik mungkin. "Kalau Lian bilang biarin perasaan Kakak tetap seperti itu, apa Kakak mau?" Hah?   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN