Vero kenapa?

1645 Kata
Ini sudah yang kesekian kalinya Ghea memasuki kamar Vero, menerawang segala isi-isinya yang masih ia kepoi. Berawal dari perintah Aruna, sampai kini ia memberanikan diri untuk masuk meskipun tidak ada alasan yang pasti. Vero tengah pergi bersama sahabat-sahabatnya, sedangkan Aruna dan Farhan seperti biasa, sibuk dengan urusan pekerjaannya. Rumah sebesar ini benar-benar terasa sepi, apalagi ketika penghuninya sudah teralih dengan kesibukkan masing-masing. "Gila, lukisannya keren-keren juga." Ghea bergumam sembari menelusuri ruangan kecil yang ada di dalam kamar Vero. Ruangan yang dipenuhi dengan lukisan-lukisan yang ia yakini, hasil dari tangan Vero sendiri. Sebenarnya ruangan ini selalu terkunci, namun sekarang Ghea benar-benar nekat untuk menelusup masuk. Diam-diam mengambil kunci kecil yang terjatuh dari saku jaket Vero kala itu. Tidak ada yang aneh. Selain lukisan pemandangan, lukisan siluet wajah juga ikut nendominasi ruangan ini. Ghea meneliti setiap inci sebuah lukisan perempuan yang menyamping, rambut yang dicepol biasa dengan tangan yang nyaris dihinggapi kupu-kupu. Ia penasaran, makna apa yang ada di dalam lukisan ini? Karena ia yakin ini bukanlah lukisan biasa. Merasa sudah cukup, Ghea bergegas keluar sebelum ia didapati langsung oleh Vero. Setelah mengunci ruangan itu, Ghea meletakan kuncinya di atas nakas, kemudian mulai melangkah keluar. Namun tidak sampai. Ada sesuatu yang kembali menarik perhatiannya. Dengan perlahan, gadis itu berjalan menghampiri meja belajar Vero yang kelewat rapi daripada meja belajarnya sendiri. Tidak ada yang menarik selain beberapa sticky note berwarna gelap dengan tulisan tinta putih yang menempel di dinding, tepat di samping komputer. Tulisannya, membuat Ghea berpikir keras. Mulai dari yang paling atas. Tulisan bahasa Inggris yang masih Ghea ketahui artinya. "I love art, but they don't like it :)" Ghea mengernyit heran. Ia tahu, Vero memiliki ketertarikan dalam seni, tapi siapa yang dimaksud 'mereka'? Apakah Aruna dan Farhan? -Does not have to be the first, the most important thing is to get into the university of dreams. Their dream, of course- Lagi, Ghea dibuat bingung dengan tulisan itu. Universitas impian? Namun lagi lagi ada kata 'mereka' di akhir kalimatnya. Benar-benar membingungkan. Ghea beralih ke tulisan yang paling bawah. Membacanya dengan teliti karena kalimatnya yang cukup panjang. -Kehilangan selalu merubah semuanya. Entah keadaan sekitar, atau diri kita sendiri. Kita yang menerima, kita juga yang berperan besar untuk menyikapinya. Kehilangan membuat kita mundur, sekaligus dipukul keras untuk maju. Kehilangan membuat semuanya terhenti, dengan waktu yang sudah lain lagi. Kehilangan, satu kata yang menyakitkan. VA, 2018.- Vero Anggara ... keanehan apalagi ini? Sudah cukup Ghea merasa bingung dengan sikapnya yang berubah derastis. Dari yang mulanya cuek dan dingin menyakitkan, sekarang lebih banyak bicara. Malah, dengan entengnya mengajak Ghea untuk berjuang sama-sama. Maksudnya apa? Bukannya terlalu percaya diri, tetapi Ghea berpikir kalau cowok itu sudah mulai menaruh hati kepadanya. Apa itu mungkin? "Tumben." Ghea terperangap mendengarnya. Sontak ia berbalik, menatap lurus ke asal suara yang mana di sana menampakan Vero dengan wajah bingungnya. Astaga, terlalu lama ia di dalam sini sampai tidak memikirkan kedatangan Vero. "Ngapain?" Sejudes apa pun Ghea, selain bisa rapuh, gadis itu juga bisa merasa gugup seperti manusia biasanya. Ia menggaruk tengkuknya sendiri, matanya mengalihkan pandangan dari Vero, apalagi ketika cowok itu berjalan mendekatinya. "Ng-nggak. Cuma kebetulan lewat aja. Kenapa? Nggak boleh?" Vero yang sudah berdiri tepat di hadapan Ghea, terkekeh pelan mendengarnya. "Lewat tapi sampai masuk segala? Bukannya nggak boleh, cuma ngerasa aneh aja." Menghilang adalah cara paling tepat untuk Ghea lakukan sekarang. "Ya, udah. Gue juga mau pergi." Ghea berlalu, namun belum sampai keluar pintu, Vero sudah kembali memanggil namanya. "Ghe?" "Apa?!" Seperti terlihat kesal, namun kenyataannya itu hanya menutupi kegugupan Ghea saja. "Gue laper, lo mau bikinin makanan?" Ghea berdecak. Ia masih salah tingkah di tempatnya. "Manja banget, sih?! Bikin sendiri bisa, kan?" "Gue cuma nanya, kalo nggak mau ya nggak usah sewot juga," balas Vero masih dengan nada tenang. "Tiga puluh menit lagi selesai." Vero menarik sudut bibirnya, melihat Ghea yang sudah lenyap di telan pintu sana. Ia menggeleng pelan akan sikap Ghea yang demi apa pun, sangat sulit ditebak. Sok-sokan menolak, padahal akhirnya menerima juga. ******* Dua mangkuk mie instan sudah tandas dilahap dua manusia yang tengah duduk sembari menikmati suasana malam di balkon kamarnya. Sebenarnya Ghea bisa masak makanan lain, namun sekarang ia begitu malas untuk menghabiskan waktunya di dapur. Alhasil, hanya mie instan yang ia sajikan. Tidak apa, lagi pula Vero tetap memakannya. Entah karena sudah terlalu lapar, atau merasa tidak enak hati untuk menolaknya. "Bentar lagi Arka pulang." "Gue nggak nanya," jawab Ghea pelan. "Pertandingan Risa juga bentar lagi. Gimana dia?" Ghea menatap Vero heran. "Lah, bukannya Fano yang tahu bagaimana perkembangan latihan Risa? Lo harusnya tanya ke dia." Vero menggeleng pelan. "Ternyata nggak bisa diajak basa basi, ya." "Gue emang nggak suka basa basi." Vero menarik napas dalam. Baiklah, salah ia juga sudah mengajukan pertanyaan konyol barusan. Mungkin obrolan yang lebih berat bisa ia bicarakan sekarang dengan gadis itu. Pertanyaan persoalan berjuang bersama yang belum dijawab sama sekali oleh Ghea contohnya. "Lo belum jawab gue." "Dari tadi gue jawab terus." "Masalah pertanyaan gue di restauran waktu lalu, lo masih belum mau jawab?" Ghea kembali menoleh, menatap Vero dengan mata yang menyipit. "Berjuang bareng-bareng?" "Iya." "Gue belum tau." "Why?" tanya Vero heran. Ghea berdecak. Bingung juga harus bicara apa. "Gini, deh, menurut lo pernikahan ini apa, sih? Lagian, gue bingung, deh, sama sikap lo. Dulu, judes banget, sekarang malah ngajak berjuang. Aneh. Maksudnya berjuang itu apa? Berjuang ngelawan orang tua lo?" Vero tersenyum tipis. Mengalihkan pandangan dari Ghea yang tengah menatapnya heran. Biar ia jelaskan semuanya, sampai gadis itu benar-benar paham akan ucapannya waktu lalu. Tentang kedua orang tuanya, tentang berjuang, tentang pernikahan ini, dan tentang perasaannya yang entah mulai sejak kapan. "Pertama, soal berjuang. Gue masih belum paham, sih, tapi lo pasti ngerti maksud berjuang itu. Gue mau mulai, Ghe. Gue serius, nggak peduli apa pun yang mereka bilang tentang gue dan ... tentang lo." Bukannya mengerti, Ghea malah semakin bingung dengan ucapan Vero. Entahlah, ia sendiri pun tidak mengerti kenapa bisa jadi lemot seperti ini. "Kedua, soal sikap gue. Gue emang tertutup sama orang lain, nggak peduli sekitar. Gue juga selalu ngomong apa adanya meskipun gue tau itu nyakitin orang lain. Tapi, Ghe, emang lo nggak sadar, ya, sikap gue berubah karena apa?" "Kenapa?" tanya Ghea. Vero menundukkan kepalanya. Sekejap, sampai ia kembali menatap ke depan sana. "Lo belum pernah denger kalimat 'sikap seseorang tergantung dengan siapa ia berhadapan?'. Gue nggak gampang deket sama orang lain, bahkan lo bisa liat sendiri sikap gue ke mama papa kayak gimana." Ghea menggelengkan kepalanya. "Demi, gue pusing." "Lo harusnya sadar kalo gue udah mulai terbuka sama lo. Artinya, rasa nyaman itu udah ada." Ghea terdiam, mulai mengerti dengan ucapan-ucapan Vero. Alih-alih menjawab, ia malah bingung harus merespons seperti apa. "Ternyata lo lemot juga, ya, Ghe." "Najis! Lo juga aneh!" Vero terkekeh pelan. Ia menoleh, menatap Ghea meskipun kini gadis itu sudah tidak menatapnya. "Ketiga soal pernikahan. Bagi gue, pernikahan itu cukup sekali seumur hidup. Ngerti, kan?" "Nggak." "Ghe, gue jarang ngerasa sayang sama seseorang, tapi sekalinya sayang, gue nggak pernah main-main. Jadi please, jangan dimainin, ya?" "Gue nggak ngerti." "Gue sayang sama lo ... Ghea." Sepertinya, kebodohan memang tengah berpihak kepada Ghea sekarang. Gadis itu masih belum paham juga. "Sebagai adek maksudnya?" "Iya." Vero mengganggukan kepalanya. "Tapi ada dua alasan lain. Sebagai orang pertama yang berhasil bikin gue sayang, dan sebagai ... the woman who has become my wife." Ah, ternyata dugaan Ghea mengenai perasaan Vero itu benar. Ia memang sudah sadar sejak cowok itu mulai mengubah sikap kepadanya, hanya saja tidak mau terlalu positif. Lagi pula, apa yang perlu ia harapkan? Respons apa yang harus ia berikan? Jujur, Ghea masih bingung dengan perasaannya sendiri. "Gue boleh tanya?" Ghea menghela napas. "Lo pernah kehilangan seseorang, ya? Sampe bikin lo trauma?" Diam sejenak, Vero sudah mengira kalau Ghea akan membahas ini sebelumnya. Selain notes di meja belajarnya, mamanya juga pasti sudah memberitahu gadis itu mengenai masa lalunya. "Iya." Mengangguk seraya menghela napas, Vero mulai menceritakan semuanya. "Dulu gue nggak sendirian di rumah ini." Ghea mengernyit heran. "Maksudnya?" "Gue punya adik, perempuan, cuma beda dua tahun sama gue. Dari dulu, mama sama papa emang udah sibuk sama pekerjaannya, ninggalin gue sama Ara di rumah. Cuma bertiga, sama Mbak Inah, asisten rumah dulu." "Terus, adek lo ke mana?" Entah benar atau tidak, Ghea melihat guratan sedih di wajah Vero kala mendengar pertanyaannya. Apa ada yang salah? Atau ... Vero kehilangan adiknya? "Dia ninggalin gue pas gue mau masuk SMA." "Kok?" Lagi, Vero menganggukkan kepalanya. Meskipun menyakitkan, ia harus menceritakan semuanya. Ghea berhak tahu. "Iya, dia ... dia ... dibunuh." Benar-benar mengejutkan. Ini di luar yang Ghea pikirkan. Dibunuh? "Gue nggak nyangka, ternyata Mbak Inah yang selalu nemenin gue sama Ara ketika orang tua nggak ada, ternyata memiliki gangguan mental. Dia pikir, Ara itu orang yang udah ngebunuh anaknya, padahal bukan." Ghea sudah tidak bisa berkata lagi di tempatnya, yang ia lakukan hanya diam, mendengarkan apa yang tengah Vero ceritakan. "Sekarang Mbak Inah udah meninggal pas dia masih dipenjara." Vero menundukkan kepalanya. "Lo pasti tau rasanya kehilangan orang yang lo sayang, Ghe. Mangka dari itu gue sayang banget sama mama papa, biarpun mereka nggak sepenuhnya sayang sama gue, maybe." "Kok, lo bisa mikir gitu?" "Lo tau sikap mereka kayak gimana, kan?" Vero terlihat gelisah di tempatnya. Napasnya terdengar berat, dengan mata yang menatap ke sana kemari tak tentu arah. "Termasuk mereka yang nggak dukung hobi lo?" Ghea terkejut ketika Vero tiba-tiba berdiri dari duduknya. Ia menatap cowok itu aneh. "Lo kenapa?" "Ghe, udah, ya. Kepala gue sakit. Gue harus istirahat." Baru saja Vero akan berlalu, namun Ghea menahan telapak tangannya. Bisa gadis itu rasakan kalau telapak tangan Vero basah dengan keringat. Tangannya juga terasa bergetar. "L-lo sakit?" Dengan pandangan yang sudah layu, Vero menggelengkan kepalanya. "Nggak, gue cuma butuh istirahat." Meskipun aneh dan merasa bingung dengan tingkah Vero, Ghea tetap merasa tidak tega melihatnya. Masa bodoh, apa pun yang terjadi nantinya, Ghea merasa tidak tenang jika meninggalkan Vero begitu saja. "Ver, gue temenin, ya?" Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN