Karena Vero

1529 Kata
Di bawah malam bertabur bintang, kaki jenjang Ghea berjalan keluar dari gedung besar yang beberapa menit lalu ia datangi. Dengan ekspresi penuh kesal, juga napas yang tak teratur, gadis yang malam ini mengenakan dress selutut dengan aksen bunga di kerahnya itu semakin mempercepat langkah, meninggalkan Vero yang sedari tadi memanggil namanya di belakang. Sudahlah, lain kali Ghea tidak usah menuruti apa kata Aruna. Permintaannya kali ini benar-benar membuatnya kesal bukan main. Bagaimana tidak, seumur-umur Ghea tidak pernah melakukan kunjungan ke pesta pernikahan, pernikahan sanak saudaranya pun tidak pernah. Namun kali ini Aruna benar-benar membuatnya tidak habis pikir, wanita itu menyuruhnya datang ke pesta pernikahan saudaranya, dengan Vero yang menjadi pendampingnya. Ingin menolak namun Aruna terlalu memaksa dan memohon-mohon. Ghea jadi menyesal untuk tidak berpura-pura sakit saja tadi. Menjengkelkan, bukan? Apalagi mendengar bisik-bisik orang-orang di dalam sana. Ghea semakin naik pitam saja rasanya. "Oh, ini yang katanya anak angkat Aruna, terus sekarang udah naik versi jadi menantunya." Ucapan itu masih bisa Ghea toleran, karena memang itu kenyataannya. Tetapi, ada salah satu cewek yang mungkin seumuran dengannya, berbicara dengan tidak tahu malunya di depan orang-orang, dengan Ghea yang menjadi bahan gossipannya. "Oh, jadi ini, Ver, istri pungut lo." Kalau saja Ghea tidak memikirkan rasa malu saat itu, ia pastikan cewek yang baru saja berucap barusan itu terkapar dan berakhir di rumah sakit, sekarang. Ucapannya benar-benar menjijikan, sekaligus menoreh sedikit luka di lubuk hati Ghea yang paling dalam. "Ghea?" Ghea tidak menghiraukan ucapan Vero, ia tetap berjalan menuju mobilnya. "Ghea tunggu." Baru saja gadis itu akan membuka pintu mobil, namun tangan Vero yang terbalut kemeja dan sudah tergulung setengah itu menahan pergerakkannya. "Ghe, lo kenapa?" Ghea mendengus kesal. Manusia aneh seperti Vero mana mungkin peka akan apa yang ia rasakan. Lihat saja, seharusnya cowok itu sudah tahu karena dia juga menyaksikan sekaligus mendengarkan pembicaraan tadi, tetapi lagaknya sampai saat ini masih berkata 'lo kenapa?'. Gila. Idiot. Kurang peka. Dan masih banyak lagi. "Lo kenapa tiba-tiba pergi?" tanya Vero lagi. "Hanya manusia bodoh yang nggak ngerti gue kenapa," ucap Ghea tanpa menatap Vero. Vero mengernyit, namun setelahnya menghela napas pelan. "Hanya manusia egois yang bisa marah tanpa ngejelasin dirinya kenapa." Ghea menatap Vero tak percaya. Sudah kesal, sekarang malah semakin kesal. Dasar cowok! Sekarang Ghea mengerti kenapa Risa selalu tidak karuan ketika melihat kelakuan Arka yang naudzubilah kepadanya. "Gue emang egois. Awas, gue mau pulang!" Ghea berusaha membuka pintu mobilnya, namun Vero tetap tidak mau mempersilakan. "Ghe, nggak semua orang bisa tau apa yang kita rasain. Sebenernya gue sedikit tau, tapi gue takut salah. Mangkanya nanya, biar dapat yang lebih pasti dari jawaban lo." Vero berusaha membujuk dengan rasa raut wajah merasa bersalah. Ghea tidak menghiraukan, ia tetap bersikeras membuka pintu mobil yang alhasil akhirnya Vero mengalah dan membiarkan gadis itu masuk. Cukup lama terdiam, akhirnya Vero beranjak kemudian ikut memasuki mobilnya. Membiarkan Ghea menenangkan pikirannya terlebih dahulu, sebelum ia melanjutkan perkataannya. Jalanan yang sepi malam itu menjadi saksi bisu, atas kebisuan pasangan yang masih belum ada kejelasan perihal perasaannya. Menjadi saksi atas kesalnya perasaan Ghea, dan bingungnya perasaan Vero. Terkadang, perasaan itu memang membingunkan. Merasa tidak ada rasa apa-apa, namun seolah takut dengan kehilangan. Ghea memang sudah sering merasa sakit hati dengan ucapan seseorang, namun tidak pernah sampai sesakit ini. Rasanya gadis itu ingin menangis, dan membalas perkataan perempuan tadi kalau Ghea pun tidak mau berada di posisi hidupnya yang sekarang. Demi apa pun, istri pungut masih terngiang di telinga Ghea sampai sekarang. Tidak ada bahasa lain, kah? Mungkin Ghea masih bisa menerima kalau keadaan tadi tidaklah begitu ramai seperti tadi. Sekarang ia benar-benar merasa malu, sakit, dan marah secara bersamaan. Andai hidupnya tidak seperti ini. ******** Keesokan malam, Ghea dan Vero ikut menghadiri acara makan malam keluarga besar Anggara. Awalnya Ghea ingin menolak, namun lagi-lagi ia kepalang dengan permintaan Aruna yang selalu merepotkan. Farhan dan Aruna juga ikut serta. Mereka berdua memperkenalkan Ghea sebagai menantu kepada mereka para keluarganya, yang mana hal itu membuat Ghea merasa canggung berikut dengan rasa malunya. Keluarga Anggara itu cukup besar. Kakek Anggara yang tidak lain adalah ayah dari Farhan, memiliki dua anak laki-laki dan satu anak perempuan yang merupakan anak terakhir. "Hebat kamu, Ver, udah ngalahin Fano aja," ucap Admita---anak pertama Anggara sekaligus kakak dari Farhan. Vero hanya tersenyum samar mendendengarnya, sedangkan Ghea tetap fokus dengan makanannya, seolah tidak mau tertarik dengan pembicaraan mereka. "Iya, nih. Terus gimana? Kalian ada rencana apa ke depannya?" tanya Maura---anak terakhir Anggara. Aruna tersenyum samar menanggapi ucapan Maura, sedangkan Farhan berdeham seraya menjawab, "biarkan mereka menikmati masa muda dulu. Saling mengenal satu sama lain." Manusia munafik yang selalu mementingkan image dirinya sendiri tanpa menghiraukan perasaan orang lain. Sampai sekarang, Ghea belum mengetahui jelas alasan ia yang tidak pernah berpikir fositif kepada Farhan. Salahkan laki-laki itu yang terlalu bersikap tegas di hadapannya. "Btw, Ver, pacar temen lo oke juga," ujar Fano---anak dari Admita yang tidak lain adalah sepupu Vero. Fano juga merupakan pelatih basket Risa yang ditunjuk langsung oleh Arka. Mendengar itu, Vero melirik sekilas, heran dengan ucapan Fano barusan. "Jangan ngada-ngada." "Ya, elah, selagi belum jadi istri orang, gue masih punya kesempatan," balas Fano dengan wajah seriusnya. "Siap-siap aja, Arka urusannya." Vero berkata jujur, tidak mungkin jika seorang Fano bisa mendapatkan seorang Risa ketika gadis itu masih menjabat sebagai kekasih dari Arka. Alih-alih takut, Fano malah tertawa mendengarnya. "Oke, bilangin ke Arka, gue tunggu jadwalnya." Sedangkan para orang tua yang mendengar itu hanya terkekeh pelan, menganggap kalau perbincangan antara Vero dan Fano hanyalah bercandaan semata. Ghea tidak lebih dari tidak peduli, lagipula, seorang Larisa yang notabene-nya bucin tingkat akut, mana mau sama Fano yang ngeselinnya kebangetan. "Oh, ya, Ghea, lo ada rencana kuliah di mana? Atau ... mau langsung jadi ibu rumah tangga aja?" Masih ingat perihal cewek yang ingin Ghea habisi sewaktu kondangan waktu lalu? Ini dia orangnya. Gadis antagonis bernama Tasya, anak dari Maura---adiknya Farhan. Demi apa pun, Ghea merasa tersinggung atas ucapannya barusan. Namun, ia tidak boleh bertindak gegabah di sini, selain ia yang sadar diri, rasa malu juga ikut menjadi alasannya. Dari pada makan hati terus-menerus, Ghea memilih beranjak dan izin untuk pergi toilet. Lebih baik ia mengasingkan diri dari pada harus tidak tahan menahan emosi di meja yang penuh dengan orang-orang aneh itu. Ghea tidak benar-benar ke tempat yang menjadi tujuan awalnya, melainkan pergi mencari tempat untuk menenangkan diri. Dan ... Ghea memilih bagian atap restauran itu sebagai peralihannya. Menikmati pemandangan terbuka dengan semilir angin yang mengembus kulitnya. Memikirkan ucapan-ucapan yang sedikit membuat hatinya sakit, berandai-andai jika saja semua ini tidak terjadi kepadanya. Kalau saja kedua orang tuanya masih ada, Ghea masih menjadi Ghea yang dulu. Yang kuat meskipun rapuh, yang selalu tersenyum meskipun menyakitkan. Air mata seorang Ghea Nafatia lolos begitu saja, ia sendiri masih belum mengerti kenapa akhir-akhir ini ia sering merindukan kehadiran orang tuanya. Ketika tengah merasa kesepian, manusia memang selalu merindukan orang yang sudah tidak bisa terlihat kehadirannya. Terlebih lagi ketika kita tidak pernah menganggap kehadirannya sewaktu ada. "Ngapain di sini?" Spontan Ghea menghapus air matanya, kemudian berbalik menatap seseorang yang sudah bisa ia tebak siapa orangnya. "Cari angin." Vero Anggara. Cowok yang mengenakan setelan jas senada dengan dress yang Ghea kenakan itu menghela napas, mendekati Ghea dan ikut memandangi pemandangan di sana. "Gue minta maaf, ya?" Ghea mengernyit heran mendengar ucapan Vero. "Kenapa?" "Harusnya gue bisa cegah sebelum lo nggak bisa lepas sama sekali," jawab Vero dengan wajah lesu. "Gue nggak ngerti." Entahlah, rasanya untuk berbicara sinis seperti biasanya saja Ghea tidak mampu. Vero menoleh, menatap Ghea lekat. "Harusnya gue nolak. Kalau pernikahan itu belum ada, lo masih bisa pergi kapan pun lo mau. Nggak perlu ngerasa nggak enak sama mama papa. Lo juga nggak perlu ngerasain kerasnya didikkan papa, nggak perlu tau keluarga gue yang sebenarnya kayak gimana. Apalagi dari keluarga papa yang sikapnya sama semua." Vero menjelaskannya dengan mata yang fokus ke depan, tanpa menatap lawan bicaranya. "Kenapa? Sekarang, harusnya gue juga bisa pergi kalau gue mau. Tenang aja, gue orangnya nggak tau diri, nggak akan ngerasa gak enak juga." Ghea membalas, nun bukan lagi dengan wajah sinis dan nada kesalnya, melainkan nada rendah dengan ekspresi wajah yang terlihat pasrah dengan keadaannya sendiri. Vero menggelengkan kepala tanpa mengalihkan sembari beralih menatap Ghea. "Sekarang udah nggak bisa, Ghe." "Ya, kenapa?" tanya Ghea heran. "Karena gue," jawab Vero pelan. Semakin bingung, Ghea kembali menatap ke depan, membiarkan Vero yang masih belum beralih dari dirinya. Maksud ucapan Vero apa? Jujur, ia sedikit mengerti namun tidak paham yang sebenarnya. "Ghe?" panggil Vero dengan suara yang kelewat pelan. Bukannya menyahut, Ghea malah terkekeh pelan. Menertawakan hidupnya yang entah kenapa bisa jadi sekacau ini. "Jujur, gue pusing sama hidup gue sendiri. Rumit, penuh masalah, dan entah kapan bahagianya." "Ghe?" Vero kembali memanggil, masih dengan suara yang pelan. Ghea berdecak kemudian kembali menatap Vero dengan tatapan kesalnya. "Apa?!" Ucapan cewek itu juga tak kalah terdengar kesalnya. Vero menghela napas, kemudian berjalan lebih mendekati Ghea. Membiarkan matanya fokus kepada gadis itu, dengan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Vero tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Ini yang pertama, dan hanya kepada Ghea. Dengan jarak sedekat ini, Vero bisa melihat wajah Ghea yang terlihat cantik meski dengan ekspresi penuh lukanya. Vero menggerakkan tangannya, menyentuh bahu Ghea sembari tersenyum tipis menatapnya. "Berjuang bareng-bareng mau nggak?" Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN