Sudah sekitar dua hari Arka berangkat dan mulai melakukan rencananya, sudah dua hari juga Vero ikut menemani Risa---kekasih Arka---latihan basket dengan sepupunya sendiri yang menjadi pelatihnya.
Melihat Arka seserius ini tentunya bukanlah hal yang aneh. Vero tahu bagaimana sifat sikap cowok itu. Meskipun cuek, sekali sayang akan tetap sayang. Sekali cinta, maka akan digenggam untuk selamanya.
"Anjrit! Si Risa niat latihan nggak, sih?" ujar Dion.
Vero melirik Dion sekilas, kemudian mengangkat bahunya seraya menggeleng pelan. Memang, semenjak kepergian Arka, sahabat dari seorang Ghea Nafatia itu seperti hilang semangat, jangankan untuk latihan, untuk hidup pun rasanya tidak ada.
Bucin memang beda. Vero lebih dari tahu bagaimana Risa menggilai Arka dulu.
"Sampai sekarang gue belum nemuin teori kenapa Arka bisa jatuh ke tangan Risa."
Vero menghela napas. "Cinta nggak ada yang tau akan datang kapan dan tumbuh di mana."
Dion menarik sudut bibirnya. Merangkul bahu Vero dengan sangat tidak manusiawinya. "Yoi, kayak lo sama si onoh. Gue yakin, lama-lama lo jatuh cinta juga."
"Enyah tangan lo, bisa mati gue."
Dion berdecak pelan. "Baru segitu, udah mau mati aja. Padahal gue belum ngeluarin tenaga sepenuhnya."
"Bukan karena sakitnya, tapi bau badan lo yang bikin nggak tahan."
Dion benar-benar dibuat ternganga oleh ucapan Vero barusan. Lihat, manusia kurang asupan hal-hal menyenangkan itu betapa teganya berkata demikian. "Anjrit, ya, lo, Ver! Bau-bau gini, kalo kata cewek wanginya udah melebihi parfum mahal!"
Dion Alfa Richard. Cowok dengan segala hal sia-sianya. Hampir tiga tahun bersahabat dengan dirinya, tidak membuat Vero mengubah first impression-nya kepada Dion. Terlalu buang-buang waktu dengan hal yang tidak perlu .
"Tapi Btw, Ver, lo beneran nggak khilaf sama Ghea?"
Kali ini ucapan Dion mendapat pukulan kecil dari Vero. "Omongan lo bikin gue jijik."
"Najisun! Emang lo mikir apaan?"
"Yang lo maksud khilaf apaan?" tanya Vero tak kalah sinisnya.
Dion berdeham kecil. "Ya ... kali aja lo khilaf, khilaf jatuh cinta sama dia. Secara, satu rumah, Bro. Hampir dua puluh empat jam ketemu! Hebat sih kalo lo nggak jatuh ke dia."
Jatuh cinta, ya? Vero belum yakin dengan perasaannya sendiri. Memang, seiring berjalannya waktu, sering bertemu, bertegur sapa, dan melakukan hal-hal lain bersama, Vero merasa mulai ada yang berbeda di kehidupannya.
Seperti merasa nyaman sebelum waktunya. Padahal, dari awal gadis itu masuk ke keluarga Anggara, Vero sendiri sudah mewanti-wanti akan tidak peduli dengan apa pun yang menyangkut Ghea.
Salahkan Aruna yang selalu menyuruhnya untuk menjaga gadis itu, terlebih lagi dengan momen bersama yang selalu diawali oleh perintah orang tuanya.
Apakah pantas untuk jatuh cinta?
Kalaupun iya, Vero merasa lebih takut kalau rasa cinta itu hanyalah sebatas nyaman seketika, lalu hilang begitu saja ketika sudah waktunya.
"Gimana, Bro? Jangan-jangan lo emang udah cinta sama dia?"
Vero menghela napas pelan. Menatap ujung lapangan sana, di mana Ghea tengah duduk dengan sahabatnya yang bernama Irene. "Gue nggak tau."
"Idih, ABG kali lo. Pake nggak ngerti sama perasaan sendiri."
"Gue takut."
"Takut apa? Takut khilaf?"
Vero menatap Dion sinis. "Pikiran lo perlu di rukiyah."
"Ya terus apa? Takut apa?"
Lagi, Vero menghela napasnya. "Gue takut buta sama perasaan gue sendiri."
------
Di bawah langit yang sudah mulai menggelap, Ghea dan Irene masih duduk di tepi lapangan sekolahnya. Memperhatikan Risa yang masih sibuk di tengah sana. Memantulkan bola dengan ekspresi yang demi apa pun, sangat jauh dari kata semangat.
Terlalu menyedihkan untuk Risa. Di saat ia butuh dukungan, kekasihnya malah hilang tanpa kabar. Ya ... meskipun kepergian Arka untuk kebaikan Risa juga, tetapi di situasi saat ini, pergi bukanlah hal yang baik.
Kalau dipikir-pikir, menurut Ghea, Risa itu terlalu nekat. Selalu mengambil keputusan tanpa memikirkan bagaimana ke depannya.
Seperti sekarang contohnya.
Ghea lebih dari tahu kalau Risa, tidak pernah bisa bermain dengan bola berwarna oranye itu. Bukannya meremehkan, namun tiga tahun bersahabat dengannya sudah membuat Ghea tahu lebih dalam mengenai kehidupan Risa.
Ia yakin, meskipun sekuat tenaga Risa berlatih, kemungkinan memenangkan pertandingan itu sangat minim. Mengingat lawan mainnya yang patut diwaspadai.
"Gila, sih, Risa keren juga. Meskipun lagi galau ditinggal doi, dia tetep mau latihan meskipun raut wajahnya nggak ada manis-manisnya."
Ghea mengangguk, setuju dengan ucapan Irene barusan. "Ya ... semoga aja memuaskan."
"Lo ragu?"
"Nggak juga."
"Lah, terus?" tanya Irene dengan kening yang mengerut, heran dengan ucapan Ghea.
Ghea menghela napas pelan. "Gue cuma takut kalo nantinya, Risa kalah bukan karena kemampuan, tapi kecurangan."
Mengangguk paham, Irene mengembuskan napasnya pelan. "Iya juga. Tapi gue tetep optimis kalo Risa yang bakal menang."
Tidak mendengar jawaban Ghea, Irene kembali menoleh menatap sahabatnya itu. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada Ghea, mengenai dirinya yang akhir-akhir ini terlihat berbeda.
"Btw, Ghe, akhir-akhir ini gue liat lo beda."
Ghea yang tidak mengerti, mengernyitkan keningnya bingung. "Beda gimana? Gue masih Ghea, bukan spiderman."
"Bukan gitu maksudnya dodol!" Irene memutar bola matanya malas. "Ya, lo beda aja gitu. Dulu lo judesnya kelewatan, sekarang gue liat lo lebih banyak diem. Terus biasanya lo sering banyak waktu buat main, sekarang kayak susah gitu kalo mau keluar. Lo ada masalah sama bonyok lo lagi?"
Ghea terdiam sejenak, mencerna ucapan Irene yang ternyata menyadari perubahan dalam dirinya.
Lebih terlihat diam? Ghea juga merasa demikian. Seperti lebih malas banyak bicara dibanding dulu yang apa-apa selalu ia komentari dengan ucapan pedas. Mengenai ia yang jarang keluar, itu sudah jelas karena Ghea sendiri harus ada alasan yang tepat untuk keluar dari rumah, apalagi ketika Farhan dan Aruna tengah ada di rumah.
Rasanya, Ghea seperti tidak berdaya sekarang. Dulu, ia adalah pembangkang kuat, pemberontak apa pun yang mengganggu ketenangannya. Tetapi sekarang? Entah kenapa Ghea selalu menurut, dan sangat sungkan untuk menolak ucapan Farhan atau pun Aruna.
Apakah ini yang dinamakan perubahan besar dalam kehidupan?
Beralih dari itu, masalah orang tua agaknya sudah tidak ada dalam kehidupan Ghea. Mengingat, kedua orang tuanya yang sudah lama tiada.
Ghea tersenyum miris, ketika kembali mengingat kesedihannya beberapa bulan yang lalu. Di mana ia selalu bertengkar dengan kedua orang tuanya sendiri, tetapi sekarang ia malah merindukan sosok kehadirannya.
Benar, seseorang akan lebih diingat ketika kehadirannya sudah tiada. Pergi jauh sehingga sulit untuk dijangkau, bahkan mata pun sudah tak mampu untuk memandangnya.
Hargai selagi ada, karena kalau sudah tiada, penyesalan akan menghantuimu seiring dengan rasa sesak di d**a.
Ghea merindukannya.
"Idih, malah bengong, lu!"
Ghea tersadar, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain agar matanya yang sudah berkaca-kaca tidak terlihat oleh Irene.
"Lo lagi ada masalah?"
Ghea menggeleng pelan. "Nggak ada. Biarpun ada, lo udah tau gue kalo ada masalah larinya ke mana."
Irene terkekeh seraya bergerak merangkul Ghea. "Kangen juga, kapan ke bar?"
"Kapan-kapan aja. Nunggu lo stress dulu."
"Sinting lo!" Irene melepaskan rangkulannya, kemudian menyorot Ghea dengan tatapan yang penuh curiga. "Tapi Ghe, akhir-akhir ini gue sering liat lo berangkat bareng sama Vero. Lo udah official sama dia?"
------
"Sebenernya ... gue udah cerita ke Arka sama Dion tentang pernikahan itu."
Ghea kembali teringat dengan ucapan Vero kala itu, yang mana sempat membuatnya merasa cemas, namun tidak berlangsung begitu lama setelah mempercayai ucapan Vero selanjutnya.
"Lo tenang aja, mereka nggak bakal buka mulut ke dua sahabat lo."
Meskipun Vero sudah meyakinkannya, hati dan pikirannya tetap merasa takut. Mengingat bagaimana dekatnya Risa dengan Arka, apalagi dengan Dion yang ia sudah lebih dari tahu mulutnya seperti apa.
Ghea masih penasaran dengan alasan Vero memberitahu kedua sahabatnya. Ia juga sudah menanyakan hal itu, namun Vero seperti mengalihkan topik pembicaraan.
"Gue masih kepo, kenapa lo beberin semuanya ke Arka sama Dion." Ghea berkata seraya melirik Vero yang tengah mengemudi mobilnya.
Pukul tujuh malam, keduanya masih diperjalanan akibat latihan Risa yang memakan waktu cukup lama.
"Sekuat apa pun gue menyembunyikannya, lambat laun mereka pasti udah tau juga," jawab Vero.
"Ya, tetep aja, gue masih takut mereka buka suara."
"Yang lo takutin apa? Risa sama Irene harusnya udah tahu dari awal. Gak cape bohong terus?"
Inilah Vero. Diam dengan perkataannya yang menghujam. Membuat Ghea tidak bisa membalas dan berakhir hanya dengan helaan napas saja.
"Gue rasa, secepatnya lo kasih tau mereka. Jujur lebih baik," lanjut Vero.
Ghea mengalihkan pandangannya, menatap jalanan di balik kaca yang terlihat sepi malam ini. Perkataan Vero ada benarnya, namun entah kenapa rasanya ia belum siap. Perasaan takut seakan bergelayut sampai memikirkan bagaimana caranya saja Ghea merasa enggan.
Yang sulit bukan ceritanya, tetapi rasa lapang ketika mendengar respons dari kedua sahabatnya.
Syukur-syukur Risa dan Irene akan menerima, kalau mereka balik marah, Ghea harus bagaimana?
Kehidupan seorang Ghea benar-benar sangat rumit.
Ngomong-ngomong soal kejujuran, Ghea jadi teringat tentang rasa penasarannya kepada Vero. Tentang dia yang katanya hampir gila, tentang cowok itu yang hampir kehilangan. Dan hal-hal mencurigakan lainnya.
Jika Ghea bertanya sekarang, apakah Vero akan menjawabnya dengan jujur?
"Ngomong-ngomong jujur, gue mau tanya sesuatu sama lo."
"Apa?" tanya Vero seraya menoleh sekilas.
"Mmm ... sampai sekarang, gue belum nemu alasan yang tepat buat lo terima pernikahan ini. Gue mau tau alasannya, dan lo jawab sejujur-jujurnya."
Mendengar itu, Vero sempat terdiam sebelum akhirnya menghela napas berat. "Lo pikir aja sendiri, siapa yang mau nikah tanpa cinta kalo bukan dari paksaan orang tua?"
Ghea menyipitkan matanya. "Kenapa lo nggak nolak? Lo berhak nolak sebelum semuanya terlanjur begitu aja."
"Sayangnya nggak bisa."
"Why?" tanya Ghea semakin heran.
"Farhan dan Aruna, orang tua gue berikut orang tua lo juga. Mereka dengan segala peraturannya, yang jujur, bikin gue tersiksa. Kehidupan gue seakan sudah dalam genggaman mereka, dan gue ... nggak ada hak apa pun untuk mengendalikannya." Vero terkekeh pelan. "Gue nggak pernah bisa nolak apa pun yang mereka inginkan."
"Aneh, biasanya cowok kalo dikasih peraturan ketat, ya, pasti berontak," ucap Ghea.
"Gue bukan bad boy broken home yang selalu lampiasin masalah ke apa pun yang mereka inginkan. Gue diem, gue cuek juga. Hal yang bikin gue nggak bisa berontak, karena rasa sayang gue terlalu besar ke mereka."
Ghea speechless di tempatnya. Merenungi ucapan Vero barusan. Demi apa pun, baru kali ini ia mendengar Vero berucap panjang seperti itu, apalagi dengan raut wajahnya yang amat memprihatinkan.
Sekeras itu kah?
Ia tidak yakin dengan Aruna, sebab wanita itu terlihat anggun dan apa adanya. Jikalau Farhan, untuk berdekatan dengannya saja Ghea sudah merasakan aura yang berbeda.
"Sayang juga nggak gitu-gitu amat, lo boleh lawan kalo lo nggak suka," balas Ghea.
Ya, harusnya jika Vero tidak suka, cowok itu bisa melawan, menentang dan menolak keras. Sama seperti Ghea.
Bagaimanapun, meski orang tua adalah orang pertama yang terpenting bagi kita, kita tetap punya hak untuk memilih jalan hidup dan menggenggam apa yang membuat kita bahagia.
Ghea menatap Vero ketika terdengar kekehan di sana. Ia meneliti wajah cowok itu yang terlihat biasa saja, dengan guratan aneh yang ikut menghiasi.
"Lo belum tau aja, gue kalo udah ngerasa sayang ke orang itu nggak main-main rasanya."
Bersambung....