Gadis misterius dan menyedihkan

1405 Kata
Keadaan mobil Aruna dan Farhan yang berada di bengkel membuat Ghea merelakan mobilnya untuk sementara dipakai oleh kedua orang itu. Sebenarnya tidak masalah, tetapi jika harus setiap hari berangkat bersama Vero, ia tidak enak juga. Selain itu, rasa was-was ketika turun  dari mobil cowok itu nanti juga menjadi alasannya. Semenjak kejadian di super market lalu, sekarang Ghea lebih merasa 'menerima' dengan posisinya di rumah itu. Meski masih banyak hal yang membuatnya penasaran, ia menyerah kepada waktu agar semuanya terjawab dengan jelas. "Lo udah lama sahabatan sama Risa?" Ghea terkekeh mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Vero barusan. "Pertanyaan bodoh." "Gue cuman mastiin." "Dan gue yakin dari dulu lo udah liat gue bareng sama Risa terus," jawab Ghea. Gadis itu memang tidak tertarik dengan basa-basi. Vero yang tengah mengemudi terdengar menghela napas, mungkin ekspresi wajahnya saat ini tengah kesal kepada Ghea meskipun gadis itu tidak melihatnya. "Padahal tinggal jawab." Ghea terkekeh pelan. "Baru tau gue, cowok galak kayak lo ternyata bawel juga." "Cuma sama orang tertentu," jawab Vero singkat. "Berarti gue termasuk orang tertentu?" Ghea menatap Vero dengan kernyitan di dahinya. "Ternyata lo orang yang penuh rahasia, ya? Bingung gue." Bukan tanpa alasan Ghea berbicara seperti itu. Oke, mari jabarkan. Pertama ia kenal dengan cowok itu semenjak sahabatnya---Risa---menggilai Arka mati-matian, yang mana Arka merupakan sahabat Vero juga. Kesan pertama, juga berkali-kali melihat Vero, Ghea tidak pernah ada asumsi lain selain cowok itu yang kelewat diam, bahkan melebihi Arka. Semenjak ia masuk dan mendapat gelar Anggara di rumahnya, Ghea baru memiliki asumsi dan penilaian lain kalau seorang Vero yang berstatus kakak angkatnya itu juga memiliki mulut yang tidak banyak bicara namun sekalinya bicara, nyelekitnya sampai masuk ke d**a. Setelah pernikahan konyolnya, Ghea berpikir lagi kalau cowok itu memiliki sikap yang misterius. Diam namun begitu mencurigakan. Apalagi ketika ia memasuki kamarnya dan melihat apa yang begitu mengejutkan di sana. Sosok pendiam yang suka menggambarkan apa yang ada dalam pikirannya. Ghea speechless karena kenyataan itu.  Oh, ya, satu lagi, jangan lupakan Aruna yang mengatakan kalau Vero sempat hampir gila karena kehilangan. Maksudnya apa? Ditambah lagi, Ghea masih kepikiran dengan perkataan wanita itu yang katanya, seorang Vero tidak akan pernah melepaskan jika sudah mencap seseorang sebagai miliknya. Otak Ghea rasanya makin-makin saja gilanya. Kenapa ia harus hidup serumit ini? Ingin rasanya ia bertanya, namun sampai sekarang belum menemukan waktu yang tepat. Terlebih lagi ia juga takut kalau cowok itu akan tersinggung dengan pertanyaannya. Percayalah, meskipun tidak tahu diri juga tidak pernah peduli akan perasaan orang lain, Ghea masih memiliki hati kecil untuk memikirkan bagaimana perasaan Vero ketika ia tanyai nanti, apalagi perihal sensitif seperti itu. ------- Kantin dengan segala kericuhannya. Ghea dan kedua sahabat gilanya tengah duduk sembari menikmati makanannya di meja, menajamkan telinga ketika orang-orang di sekitar mereka membicarakan Zayeoune dengan segala antek-anteknya. Oke, mari kita telusuri lebih dalam mengenai geng itu. Geng yang sudah lama berdiri di sekolah, dengan segala desas-desus kenakalannya. Geng yang diketuai oleh Fauzan Reynalfiyandi, seseorang yang belum lama ini mulai ia kulik kehidupannya. Masih ingat dengan Metta si gadis malang? Ya, Fauzan adalah sosok b******n yang sudah merusaknya. Ghea masih tidak habis pikir dengan mereka yang bisa-bisanya menggilai cowok b******k seperti itu. "Pulang sekolah shoping, kuy! Gabut gue di rumah terus," ujar Irene, gadis dengan segala tingkah gilanya. "Gue nggak bisa, gue ada latihan." Ghea yang mendengar ucapan Risa barusan, mengernyitkan keningnya heran. Ini seorang Larisa, cewek fenomenal yang siapa pun sudah tahu bagaimana kelakuannya. "Latihan apa lo? Sejak kapan ikut-ikutan latihan?" Bukan tanpa alasan Ghea bicara seperti itu. Pasalnya, sahabatnya yang satu itu tidak pernah mau pusing ikut ekskul atau hal sebagainya. Tetapi sekarang gadis itu mengatakan ada latihan? Hal yang patut dicurigai, bukan? "Tau, ikut ekskul aja nggak pernah," timpal Irene, sama herannya seperti Ghea. "Gue latihan basket," balas Risa dengan nada biasa, seperti biasa saja mengucapkan hal itu kepada Irene dan Ghea. "Ini lagi, latihan basket apaan? Lu pegang bolanya aja kagak pernah!" Irene semakin aneh dengan ucapan Risa. Risa menghela napasnya. "Sebenarnya gue diajak tanding sama Bianca." "Ya, ampun! Kapan? Di mana? Kok, bisa? Terus lo terima? Kok, lo nggak cerita ke kita? Kita dianggap apaan sampai hal segenting ini lo pendam sendirian?!" Berbeda dengan Irene yang terkesan berlebihan, Ghea masih tenang menunggu jawaban Risa. Ia tahu, pasti ada alasan di balik semua itu. Tidak mungkin bagi seorang Larisa menerima tawaran begitu saja, tanpa ada unsur lain di dalamnya. "Ya, gue terima. Waktunya tiga Minggu lagi. Kalau masalah tempat, katanya Bianca yang nentuin. Ya, tadinya gue mau cerita, tapi nggak sempet terus. Baru sekarang sempatnya." Risa menjelaskan, sembari menatap mata Irene dan Ghea secara bergantian. Ghea menatap Risa serius. "Lo yakin?" Bukannya ia meragukan kemampuan Risa, namun ketika melihat kenyataan yang tidak memungkinkan membuatnya menjadi ragu. Apalagi ketika mengetahui siapa lawannya. "Ya, yakin lah! Udah terlanjur gue terima juga," jawab Risa seraya memutar bola matanya. "Terus lo udah latihan?" tanya Irene. Bisa Ghea tebak kalau gadis itu juga merasa ragu dengan sahabatnya. "Rencananya, sih, mau sekarang." "Gue dukung, Ris. Gue yakin lo bisa. Walaupun gue tau lo itu b**o, tapi gue yakin masalah pertandingan itu lo pasti bisa." Irene menyemangati, meski ada kata menyakitkan di ujung kalimatnya. Risa berdecak dengan mata yang menatap Irene kesal. "Yeuuu... niat lo nyemangatin atau ngehina?" "Dua-duanya," jawab Irene. "Sinting!" "Lo lebih sinting!" Ghea menghela napas pelan. Meskipun ragu, ia tidak bisa berbuat banyak karena Risa sudah menerima pertandingan itu. "Tapi lo harus hati-hati. Gue tau Bianca pasti main mulus nantinya." Ya, Ghea lebih dari tahu mengenai Bianca yang masih belum jelas asal-usulnya, tetapi sudah menjabat sebagai haters-nya Risa. Gadis aneh itu pasti tidak akan bermain begitu saja tanpa ada kata curang di dalamnya. ------- "Gue masih penasaran, kenapa lo bisa tau tentang Fauzan." "Itu karena dulu gue sahabatan sama dia." Ghea yang tengah mengunyah sesuatu spontan kembali mengeluarkannya. Matanya terbuka lebar, menatap Vero yang tengah duduk di seberangnya itu dengan tatapan tidak percaya. "Demi, gue serius nanya!" Vero membalas tatapan Ghea aneh. "Dan gue juga serius jawabnya." "Demi apa?" "Demi alek sepupunya Dion," balas Vero. Ghea menggelengkan kepalanya pelan. Tidak kunjung paham juga dengan maksud ucapan Vero. "Jauh dari dugaan, ternyata lo sebercanda itu." Vero tersenyum miring, tidak menyangka dengan Ghea yang ia pikir adalah sosok gadis misterius dan amat menyedihkan, namun ternyata jauh dari dugaan. Kesedihan yang ia lihat dari gadis itu hanya saat-saat pertama masuk rumah ini saja, semakin ke sini ia semakin melihat perubahannya. Bukan, bukannya Vero sok tahu, ia hanya mendengarkan apa yang dijelaskan oleh mamanya dulu. Dan bukan, bukannya ia berharap kalau kesedihan gadis itu akan berlangsung lama, namun jika melihat perubahan sepesat itu, ia merasa aneh juga. Tapi, meskipun demikian, ia memang tidak pernah tahu sesulit apa Ghea untuk melalui semuanya. "Gue juga nggak paham, ternyata cewek misterius kayak lo itu lemot juga pikirannya." Vero tak mau kalah dengan ucapan Ghea. Ghea meneguk satu gelas air putih, kemudian kembali menatap Vero dengan penasaran. "Demi, gue masih penasaran." "Intinya, dulu gue sama Fauzan itu sahabatan, termasuk Arka dan temen Fauzan yang lainnya." Vero yang sudah selesai dengan makanannya, beranjak dan berjalan meninggalkan meja makan dan Ghea yang masih mematung di tempatnya. Belum sampai lima langkah, cowok itu kembali berbalik menatap Ghea. Ia lupa memberitahu sesuatu kepada gadis itu. "Lo udah tau kalo Risa mau tanding basket?" Spontan Ghea mengangguk meski pikirannya masih tidak menyangka dengan kenyataan yang Vero berikan. "Lo tau juga, kan, kalo bentar lagi dia ulang tahun?" lanjut Vero. Lagi, Ghea kembali menganggukkan kepalanya, yang mana melihat hal itu Vero malah menghela napas pelan. "Arka nitipin ke gue, Dion, lo, dan temen lo yang satu lagi buat ikut nemenin Risa setiap kali dia latihan. Sekaligus pantau dia juga selama Arka nggak ada." Ghea mengernyit bingung dengan ucapan Vero. "Selagi Arka nggak ada? Mau ke mana tuh cowok?" "Dia ada rencana mau ngasih kejutan buat Risa dengan cara bawa papanya ke hadapan cewek itu. Lo tau, kan, masalah Risa dengan keluarganya?" "Berarti Arka ke Jerman?" Vero mengangguk. "Oke." Hanya itu balasan Ghea. Vero sudah akan kembali melangkah, namun entah apa yang menahannya sehingga masih berdiri dengan mata yang fokus menatap Ghea. Menatap gadis misterius itu. Menatap adik angkat yang sudah menjadi ... istrinya sendiri. Rasanya, Vero seakan ragu mengucapkan kata itu. "Ghe?" Ghea masih fokus dengan makanannya, ia tidak menoleh dan hanya merespon dengan dehaman saja. "Gue mau ngasih tau lo sesuatu." "Apa?" tanya Ghea santai karena tidak begitu penasaran. Vero menarik napas, takut kalau hal yang sekarang akan ia beritahukan membuat Ghea marah semarah-marahnya. "Sebenernya ...." Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN