Akhir pekan ini, Ghea tidak ada niat keluar rumah karena kedua sahabatnya tengah ada kesibukkan masing-masing. Risa yang akan pergi bersama bucinnya, sedangkan Irene entah mau ke mana.
Sebenarnya Ghea bisa saja pergi sendiri namun, ia cukup malas kali ini. Rebahan di kamar sembari menikmati waktu sendiri sepertinya menyenangkan juga.
Alih-alih menenangkan pikiran, agaknya gadis yang pikirannya susah ditebak itu sudah pasti akan kembali mengingat masalahnya, atau mungkin ... memikirkan bagaimana masa depannya yang dari sekarang saja sudah terlihat suramnya.
Ghea bingung, sudah seperti ini, kelak ia akan menjadi apa? Ibu rumah tangga? Atau janda tanpa anak?
Mengerikan. Dari pada seperti itu, ia lebih berharap masih bisa bersama Vero dengan ia yang bebas seperti sekarang. Kuliah bersama teman-temannya dan menikmati hidup seperti mereka, cewek-cewek seusianya.
Tunggu, apa baru saja Ghea mengatakan kalau ia berharap dengan Vero? Cowok gila itu?
Ghea menggeleng keras. Jangan sampai, hanya karena ucapan cowok itu kemarin, ia bisa terpancing seperti ini.
"Perlahan tapi pasti, gue emang pasti akan gila," ucap Ghea.
Gadis yang masih mengenakan pakaian tidur itu kembali merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih polos.
Kadang, ia bingung sendiri dengan kehidupannya, apalagi hubungannya dengan Vero. Ia tidak mau bersama cowok itu namun, tidak mau menjadi seorang janda juga.
Meskipun janda yang masih utuh.
"Mikir apa, sih, gue? Nggak ngerti, deh. Gini aja, nanti, gue racun Vero biar dia mati. Janda ditinggal mati kayaknya keren juga dari pada janda karena cerai."
Pikiran Ghea semakin melantur. Berandai-andai setinggi langit sampai ia harus jatuh karena kenyataan yang begitu pahit.
Ghea sudah akan berbicara seenaknya lagi, tetapi ketukan pintu dari luar, membuat gadis itu mengurungkan niatnya.
"Ada apa, Ma?"
Ghea bertanya kepada sosok wanita yang tengah berdiri di hadapannya itu. Wanita yang masih cantik dengan umur yang sudah tidak lagi muda. Wanita baik dengan sejuta sikap yang membuat Ghea merasa aneh dengannya.
"Enggak, Mama cuma ngecek kamu. Kamu nggak keluar?" tanya Aruna.
Ghea menggeleng pelan. Kemudian kembali memasuki kamarnya. "Masuk, Ma."
Aruna mengikut, wanita itu tersenyum melihat kamar Ghea yang kini jauh berbeda dari sejak pertama kali gadis itu datang. Lebih tertata dengan berbagai poster-poster abstrak yang menempel di dindingnya.
"Waktu Vero sakit, kamu sempat ke kamarnya?" tanya Aruna.
Ghea melirik Aruna sekilas. "Dia cerita sama Mama?"
Aruna mengangguk. Tersenyum melihat respons gadisnya itu. "Ngapain aja?"
Sekarang Ghea menatap wanita itu dengan mata yang terbuka lebar juga kening yang mengerut heran. "Apa maksudnya?"
Aruna terkekeh sembari menggeleng pelan, tangannya bergerak merangkul bahu Ghea. "Bercanda, Sayang. Oh, ya, Vero pernah ngomong yang aneh-aneh sama kamu?"
Ghea menggeleng dengan ekspresi yang masih sama herannya.
"Kalau dia ngomong macem-macem, atau nyakitin perasaan kamu, jangan kamu tanggepin, ya," lanjut Aruna.
"Kenapa emang?" Ghea mulai memancing untuk mengetahui lebih dalam.
Aruna terdiam. Kepalanya menunduk seakan sulit untuk mengatakan perkataan selanjutnya. Lambat laun semuanya memang harus terungkap, Ghea memang harus tahu semuanya. Anak angkat sekaligus menantunya itu mungkin akan terkejut, tetapi ia berharap lebih kalau nantinya gadis itu bisa menerima semuanya.
Aruna menghela napas, menatap Ghea dengan senyum getir di bibirnya. "Vero sempat hampir gila karena kehilangan. Mama tau kamu pasti terkejut karena Mama nggak ngasih tahu kamu dari awal."
Ghea terdiam, mencerna apa yang baru saja ia dengar. Pertanyaan-pertanyaan yang mulanya belum sempat terjawab, kini semakin menumpuk di kepalanya.
Kenapa? Kenapa Ghea harus dipertemukan dengan orang yang penuh teka-teki seperti ini?
Bukannya melupakan masa kelam, Ghea merasa hidupnya akan semakin kelam jika berada di sini.
"Ghea, Mama mohon sama kamu. Apa pun yang terjadi nanti, jika di antara kalian saling jatuh satu sama lain, kamu jangan tinggalin Vero, ya? Tetap bersama kami di sini." Aruna berucap dengan wajah yang memohon. Membuat Ghea semakin heran saja rasanya.
Ghea menggeleng pelan. "Kenapa Mama yakin kalau nanti Ghea yang akan ninggalin Vero?"
Lagi, Aruna menghela napas seraya menunduk dalam. "Karena Vero nggak akan ngelakuin itu. kalau dia sudah menganggap kamu sebagai milik dia, sulit bagi kamu pergi, apalagi mencari celah untuk bersama laki-laki lain."
Ah, sudahlah. Ghea semakin rumit di sini, hidupnya menolak gila, tapi pikiran sudah tidak bisa mencari alasan, apa yang terjadi dalam hidupnya.
Jika kehidupan adalah teka-teki, mungkin Ghea sudah menyerah untuk memecahkan masalahnya. Jika hidup bisa memilih jalan sesuai keinginan sendiri, mungkin Ghea tidak akan pernah merasakan semua ini.
Ghea Nafatia, gadis dengan sikap dan kelakuan yang sulit ditebak itu terkadang merasa heran dengan semua ini. Bertanya-tanya kesalahan apa yang sudah ia lakukan sehingga hukum dari perbuatannya bisa seberat ini.
"Oh, ya, Ghea, gimana sekolah kamu?" tanya Aruna setelah cukup lama terdiam karena ucapannya yang tadi tidak mendapat respons dari Ghea.
"Sekolah nggak gimana-gimana, Ma, seperti biasa," jawab Ghea.
"Kamu ikut kegiatan apa aja?"
Ghea ingin menertawakan dirinya sendiri ketika merasa ragu dengan jawaban yang akan ia berikan atas pertanyaan Aruna tadi. "Nggak ikut apa-apa."
"Kenapa?" Aruna semakin tertarik untuk mengetahui lebih dalam kehidupan Ghea. Tentang sekolah gadis itu, tentang pertemanannya, dan tentang semua hal yang ada pada gadis itu.
"Nggak kenapa-napa, sih, cuma nggak ada yang menarik aja."
Aruna menyunggingkan senyumnya, seolah mengerti dengan apa yang Ghea pikirkan. "Nggak apa-apa, fokus ke tujuan kamu aja."
Tapi Ghea seperti tidak punya tujuan. Tujuan bersekolah, atau bahkan tujuan hidup sekali pun.
"Oh, ya, nanti kalau Mama lagi di rumah, ajak dong temen-temen kamu ke sini. Mama mau kenal sama mereka."
Lanjutan dari Aruna membuat Ghea menelan ludah dengan susah payah. Sepertinya dunia beserta isinya saling bekerja sama untuk menyudutkan Ghea.
Dari temannya yang meminta untuk diajak ke rumah, sekarang Aruna pula yang meminta kedua sahabatnya untuk datang.
Ghea ... Ghea, kita lihat sekuat mana kamu mampu bertahan.
-****-
Ghea kembali melihat secarik kertas yang ada di genggamannya, kemudian mengambil sesuatu di rak sesuai apa yang tertulis di kertas itu. Setelah meletakkannya di troli, ia berjalan untuk mencari bahan lain.
Ya, Ghea sedang berbelanja di super market dekat rumahnya atas perintah dari Aruna.
Demi apa pun, seumur-umur baru kali ini Ghea belanja bahan-bahan rumah, dengan seorang cowok pula. Kalau saja Aruna tidak memohon kepadanya, Ghea tidak akan pernah mau melakukan hal merepotkan seperti ini.
Sering ke tempat seperti ini, tetapi hanya untuk membeli cemilan saja bersama sahabat-sahabatnya. Itu pun, mereka yang disibukan memilih bahan, bukan dirinya.
Sekarang lain lagi halnya. Sudah merepotkan, keberadaan Vero sedikit membuatnya canggung juga. Ah tidak, bukan canggung, lebih tepatnya seperti merasakan hawa aneh di dekatnya.
"Masih banyak?"
Ghea melirik Vero yang tengah mendorong troli dengan sinis, kemudian kembali menatap ke depan. "Banyak, lah. Salahin mama lo yang kenapa nggak dia sendiri aja yang belanja. Kalo gini, kan, ngerepotin gue."
"Dia mama lo juga," ucap Vero terdengar kesal.
"Mama angkat lebih tepatnya," balas Ghea membenarkan.
Vero yang mendengar itu menatap Ghea heran. Heran dengan ucapan yang terkesan frontal menurutnya. "Setelah apa yang dia berikan ke elo, lo masih nganggap dia mama angkat?"
Ghea mengernyit heran. Ia tidak salah bicara, bukan? Aruna memang mama angkatnya, bukan ibu kandungnya. Persetan dengan apa yang sudah mereka berikan kepadanya, sampai sekarang Ghea memang masih menganggap mereka tidak lebih dari orang tua angkatnya.
Bagaimanapun, meski kedua orang tua kandungnya tidak memberikan kasih sayang penuh, sampai kapan pun tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisinya.
"Ya, emang gitu kenyataannya," balas Ghea dengan nada cepat, tanpa rasa bersalah.
Vero menghela napas ketika melihat Ghea berjalan mendahuluinya. Gadis itu kembali mencari bahan lain yang belum ada di troli.
Belanja seperti ini tentu bukan untuk yang pertama kalinya bagi seorang Vero Anggara, cowok itu sudah sering melakukan ini dengan mamanya. Yang membedakan hanyalah dengan siapa ia berangkat sekarang.
Vero tidak percaya ini, namun memang inilah kenyataannya. Kenyataan yang membuat otaknya sulit untuk berpikir, tetapi membuat hatinya menerima seolah ini semua memang sudah takdir.
Takdir yang sempat membuatnya berpikir kalau ini semua tidak adil.
"Sendiri aja, Mbak?"
Vero memicing ketika melihat salah satu pramuniaga yang tengah mencoba berbicara dengan Ghea.
"Iya."
Itu jawaban Ghea, yang mana membuat Vero heran seketika. Sendiri? Terus yang sedari tadi membantu mendorong troli ini siapa?
Merasa kesal, Vero berjalan menghampiri Ghea dan pramuniaga itu. "Kalau kerja yang serius, Mas, nanti salah nempatin barang lagi," ucapnya sedikit sinis.
Pramuniaga yang memang tengah menaruh berbagai bahan-bahan di rak itu terlihat canggung menatap Vero. "Sorry, Mas."
Ghea melirik Vero aneh, kemudian melanjutkan kembali langkahnya. Mendengar cowok yang judesnya melebihi dirinya itu berkata seperti tadi, tentu bukanlah hal yang biasa. Bahkan ini terkesan sulit dipercaya sebab, biasanya cowok itu tidak mau peduli dengan apa pun yang ada di sekitarnya.
"Ngapain lo ngomong kayak tadi?" tanya Ghea ketika melihat Vero yang sudah kembali berjalan di sampingnya.
"Nggak ada," jawab Vero santai.
"Cemburu lo?" Percayalah, Ghea berbicara seperti itu hanya untuk bahan menggoda Vero, tidak ada maksud lain di dalamnya.
"Nggak juga," jawab Vero santai.
"Terus?"
"Gue cuma ngelindungin apa yang udah seharusnya gue lindungin."
Alih-alih terkejut, Ghea malah tertawa mendengarnya. Perkataan Vero benar-benar konyol menurutnya. "Udah cinta lo sama gue?"
"Iya."
Kali ini mengejutkan, cewek yang memakai rompi hitam itu membuka matanya lebar-lebar untuk menatap Vero, mulut yang terbuka juga kepala yang refleks menggeleng secara perlahan itu mungkin akan menjadi hal yang memalukan ketika Ghea mengingatnya nanti.
"What?!" ucapnya lantang.
"Sebagai adek," lanjut Vero, yang mana ucapannya membuat Ghea yang sudah merespon dengan berlebihan, merasa malu tujuh turunan.
bersambung...