"Sayang, udah siap belum?"
Suara yang satu ini tidak pernah berubah, setiap pagi sedari dulu Emma masih sekolah sampai sekarang sudah bekerja selalu terdengar. Sebagai seorang Mama, Desy tidak pernah absen menyapa dengan lengkingan suara khas miliknya demi memeriksa apakah putrinya sudah siap atau belum. Tetapi yang namanya Emma tentu saja tidak pernah terlambat. Sedari kecil orang tuanya sudah membiasakannya hidup disiplin.
Dengan penampilan rapi bak bos eksekutif, Emma keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan. Di sana Sandy sudah duduk sambil membaca berita pagi di koran elektronik pada ponselnya, dengan kacamata yang melorot sampai di ujung hidung.
Sementara itu, Desy menuangkan s**u dengan tiga rasa berbeda ke masing-masing gelas mereka. Untuk Sandy s**u coklat, Desy s**u vanila dan Emma stroberi. Tentu saja tidak lengkap jika belum ditemani dengan semangkuk sereal gandum dengan taburan buah-buahan. Keluarga ini memang mengedepankan kesehatan lantaran Desy adalah seorang konsultan nutrisionis yang bekerja dari rumah.
"Pa, ada berita terbaru apa pagi ini? Hari-hari awal di tahun baru biasanya pasti heboh. Iya kan?" Emma melirik ke ponsel Sandy. "Tuh Papa aja sampai serius gitu mukanya."
Tanpa berpaling dari ponselnya, Sandy menjawab, "Sini lihat, Em. Masa ini ada penemuan aneh di laut." Demi diminta mendekat, Emma menyondongkan tubuhnya ke sebelah kiri Papanya dan melihat apa yang tampak di ponselnya. "Katanya di lautan Indonesia ada kaya Atlantis gitu. Bener nggak sih?"
Emma memicingkan kedua matanya. "Kayanya berita ini udah sering diomongin sejak bertahun-tahun lalu deh, Pa. Jadi bener enggaknya nggak ada yang tahu. Mungkin juga itu cuman biar ada konten aja," ia menjawab lalu kembali ke posisinya semula.
Desy selesai dengan semuanya lalu duduk. Ini adalah tanda di mana semua aktivitas harus dihentikan agar fokus pada sarapan dan mengobrol tanpa gangguan ponsel. Seperti biasa, Sandy memimpin doa sebelum mulai makan.
"Em, kamu nggak lupa kan nanti sore kita ada janji?" Sandy mengingatkan putrinya mengenai rencana mereka pergi ke Timezone untuk bertanding.
Biasanya pada di akhir pekan atau hari Jumat yang pendek seperti hari ini, keluarga Pratama akan pergi menghabiskan waktu bersama. Salah satunya adalah bertanding dalam permainan-permainan di Timezone maupun tempat lainnya semacam itu. Yang kalah harus dihukum dengan cara mentraktir makan malam.
Emma tertawa dibuat-buat bak penyihir di film-film Disney kesukaannya. "Inget dong, Pa. Kan kali ini aku siap ngalahin Papa," ia menempelkan jemarinya yang berbentuk huruf L di bawah dagu.
Sandy berdehem. "Berapa kali kamu udah bilang gitu ke Papa tapi nggak pernah menang?" giliran ia melakukan hal yang sama dengan jemarinya.
Ting, ting, ting!
"Ronde pertama selesai!" Desy menginterupsi dengan suara dentingan hasil ketukan sendok pada gelas.
Sandy kemudian berlagak berbisik pada Emma tetapi suaranya tetap dibiarkan keras terdengar, "Eh, ada yang nggak pernah menang apapun dari dulu sampai sekarang tuh," ujarnya lalu disusul tawa Emma.
"Yak, mulai besok masak sendiri," begitulah tanggapan Desy ketika sudah mulai disindir.
"Ampun, Ratu," Emma dan Sandy kompak bergaya meminta ampun pada Desy yang kemudian tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah suami dan putrinya itu.
"Udah, kalian habisin sarapannya cepet. Jangan sampai kejebak macet," Desy mengingatkan.
"Siap, Yang Mulia!" lagi-lagi Papa dan anak itu kompak menyahut sambil memberikan hormat ala tentara.
Canda dan tawa tidak pernah lepas dari keluarga ini meskipun memang ada kalanya mereka serius. Sandy dan Desy menerapkan pada Emma untuk mengatasi segala sesuatu tanpa menambah beban pikiran. Maka dari itulah mereka jarang sekali bertengkar. Kalau saja mereka berdebat akan sesuatu yang cukup serius, ujung-ujungnya pasti ada tawa.
Jam dinding lonceng berbunyi tepat pukul 6.30, menandakan waktunya Sandy dan Emma harus meninggalkan rumah. Karena tinggal di Jakarta sama saja dengan siap menghadapi konsekuensi seperti kemacetan. Meskipun jam masuk kerja adalah jam 8.30, dua jam sebelumnya mereka selalu bersiap-siap demi menghindari kemacetan tak terduga. Kedua Papa dan anak itu segera meninggalkan rumah dan membelah lautan kendaraan di jalan menuju kantor mereka masing-masing.
Pada sore hari pukul 17.30, keluarga Pratama sampai di mall Pluit Village. Sandy dan Emma yang paling antusias segera bermain setelah mengisi deposit di kartu permainan mereka. Desy lebih banyak mengabadikan momen dengan ponsel Emma karena ia suka mengunggah kebersamaan keluarganya ke i********:. Itulah yang menyebabkannya memiliki cukup banyak pengikut sehingga ia hampir-hampir bisa menjadi seorang selebgram.
Namun tentu saja bukan hanya Desy yang merekam. Ketika giliran Desy dan Emma bermain, maka Sandy akan memegang ponsel. Namun jika giliran Sandy dan Desy yang bermain, maka Emma akan memasukkan dirinya ke dalam frame karena tak mau ketinggalan, baik dengan cara selfie ataupun meminta orang lain mengambil video. Anehnya, setiap orang yang dimintai tolong tidak akan merasa keberatan karena mereka justru senang melihat kebersamaan keluarga ini.
Dibekali dengan tekad yang sudah bulat, kali ini Emma memenangkan pertandingan. Sandy pun harus mentraktir keluarganya untuk makan di restoran mana pun yang diminta oleh sang pemenang. Tentu saja itu bukan masalah berat baginya karena ia terbiasa menjadi kepala keluarga yang selalu membiayai kebutuhan keluarganya.
Emma pun segera memillih J-Sushi sebagai lokasi untuk makan malam. Dirinya sedang ingin memakan makanan Jepang, yang mana merupakan makanan favoritnya. Baik Sandy maupun Desy tidak menolak karena mereka kenal betul sifat putri mereka. Jika Emma sudah berniat, maka itulah yang akan jadi.
Saat sedang menikmati makanan, Emma merasa ada sesuatu dengan perutnya. Ia minta diri kepada orang tuanya untuk ke toilet sebentar. Saat diperiksa, ia mendapati dirinya datang bulan. Ia hendak menghubungi Mamanya, tetapi ia baru teringat bahwa ponselnya ditinggalkan di atas meja.
Kini hanya ada dua pilihan baginya. Keluar dari toilet dan kembali kepada Mamanya untuk minta dibelikan pembalut atau bertanya kepada siapapun yang ada di toilet kalau-kalau ada yang membawa pembalut.
Saat keluar dari bilik toilet, tidak ada seorang pun terlihat. Emma menghela nafas kecewa karena tidak memiliki pilihan lain selain berjalan kembali ke restoran. Namun saat hendak keluar dari toilet, ada seorang wanita paruh baya yang masuk. Tanpa berpikir panjang, ia segera bertanya padanya.
"Permisi, Tante. Saya ada sedikit masalah," Emma sedikit ragu-ragu bagaimana harus mengatakannya karena ia merasa sedikit sungkan. Tetapi ia tidak punya pilihan lain.
Wanita itu menunggunya untuk melanjutkan ucapannya.
"Tante ada pembalut nggak? Saya ternyata datang bulan," akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya saja. "Kayanya perhitungan saya meleset kali ini." Ia menunjukkan deretan giginya.
"Oh ya, kebetulan saya bawa," wanita itu serasa memberikan kelegaan tak terkira bagi dirinya.
Emma berterima kasih lalu masuk ke dalam bilik toilet kembali. Seusai urusannya diselesaikan, ia keluar dan mendapati wanita itu masih ada di sana, berdiri membelakangi kaca seolah sedang menunggu ia keluar.
"Loh? Tante, kok masih di sini?" tanya Emma heran. "Tante nggak nungguin saya kan?"
Wanita itu tersenyum. "Tante punya anak perempuan, jadi naluri sebagai Mama muncul begitu saja. Tante mau memastikan semuanya beres sama kamu," ia menjelaskan.
Emma merasa senang mendengarnya. "Makasih banyak sekali lagi, Tante. Kalau nggak ada Tante nanti saya gimana coba?" ucapnya. "Ya udah, Tante silakan kalau mau lanjut ke mana gitu. Saya juga mau balik sama Papa Mama. Lagi makan malam." Ia terkekeh.
Wanita itu menepuk lengan Emma. "Iya, Tante seneng juga bisa bantu ... eh, nama kamu siapa ya?"
"Emma Grace Pratama," disebutkannya nama lengkapnya karena sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil jika namanya dipertanyakan. Baginya, nama itu merupakan sebuah kebanggaan dan jati dirinya.
"Nama kamu bagus ya, Emma," wanita itu mengacungkan jempol.
Kedua mata Emma membulat dan bibirnya tertarik ke kanan dan kiri. "Iya, Tante. Makasih. Saya juga suka nama saya sendiri," sahutnya tanpa malu-malu sambil terkekeh. "Oke, saya duluan ya, Tante. Sampai jumpa kapan-kapan."
"Iya, Emma. Daah." Wanita itu melambai pada Emma.
Sekembalinya Emma kepada orang tuanya, ia menceritakan kejadian ini kepada dan mereka berkata bahwa ia benar-benar anak yang beruntung. Pasalnya dimana pun Emma selalu mendapatkan pertolongan dari banyak orang bahkan yang ia tidak kenal. Sandy dan Desy pun berkata bahwa mereka bersyukur memiliki anak sepertinya.