Selama sebulan lamanya Emma tidak mau kembali kepada keluarga Shimada. Ia merasa ketakutan dan trauma meskipun diminta kembali oleh keluarga Pratama. Namun atas desakan Namie, pada akhirnya Yoshi dan dirinya mendatangi rumah keluarga Pratama untuk meminta maaf kepada Emma secara langsung. Setelah menimbang-nimbang ditambah dengan desakan Sandy dan Desy, Emma mau dibujuk untuk kembali tinggal di rumah keluarga Shimada.
Malam itu, Emma sedang mengerjakan proyeknya dengan serius. Namun pintu kamarnya diketuk tiga kali dan terbuka sedikit. Dari sana kepala Namie menyembul masuk.
"Sayang, kamu lagi apa? Sibuk?" tanya wanita dengan rambut yang sengaja dicat abu-abu seluruhnya itu.
Emma menghentikan aktivitasnya, lalu memutar kursinya menghadap pintu masuk. "Ngerjain proyek sih, Ma. Mama kok belum tidur?" tanyanya balik.
Namie pun berjalan mendekati putrinya. "Mama bisa ngobrol sebentar?"
Emma mengangguk. Ia beranjak dari kursi lalu berpindah duduk ke ranjang sambil mengajak Namie.
"Sayang, maaf ya kalau keluarga ini belum bisa bikin kamu merasakan kehangatan di rumah," Namie membuka pembicaraan langsung pada intinya. "Tentang Papa kamu, tolong jangan dendam sama Papa ya. Biasanya kalau Papa khawatir sama orang yang disayang, Papa bisa jadi gitu. Panik, tapi malah jatuhnya marah." Ia terkekeh mengingat kebiasaan suaminya.
Sebaliknya, Emma tidak merasa bahwa hal itu bisa ditertawakan. Namun ia tetap sedikit berpartisipasi dengan memberikan senyuman kecil.
"Kalo tentang Mama, kamu jangan khawatir. Mama baik-baik aja kok," Namie membelai punggung putrinya dengan memberikan tatapan lembut dan penuh kasih.
"Iya, Ma," sahutnya singkat dengan sedikit perasaan canggung. Ia masih saja belum terbiasa memanggil Namie dengan panggilan itu. "Maaf juga karena aku terlalu kekanak-kanakan. Nggak mikirin perasaan orang lain."
Namie menggeleng. "Enggak, kamu nggak salah kok," ucapnya. “Setiap orang bisa mengalami kesulitan kalau melewati perubahan besar dalam hidup.”
Emma menyentuh lengan Namie. "Ma, mulai besok aku akan coba untuk kenal keluarga ini lebih lagi. Aku janji," Emma membulatkan tekadnya.
Mendengar ucapan putrinya, Namie pun merasa bahagia. Baginya yang terpenting adalah kebahagiaan Emma di dalam keluarganya sendiri.
Kata Timothy melalui pesan singkat yang dikirimkannya sebelum tidur semalam, selama hati belum terbuka maka kebaikan sebesar apapun tidak akan bisa masuk. Karena itulah, hal pertama yang ia lakukan demi menjalankan tekadnya adalah tersenyum tulus yang mana ia tunjukkan saat muncul di ruang makan pagi ini.
"Selamat pagi, semuanya," Emma menyapa orang tuanya serta Matsu yang sudah duduk di meja makan.
"Pagi, Emma," sahut Matsu dan Namie bersamaan.
Karena Yoshi tidak terdengar membalas ucapan Emma, maka Namie menyenggolnya hingga ia akhirnya berkata, "Pagi, Emma."
Hal itu dianggap Emma cukup menggelikan karena jika begini, Yoshi tampak seperti Sandy yang terkadang berpura-pura merajuk jika ia melakukan sesuatu yang membuat Papanya kesal. Namun tentu saja ia tidak dapat melemparkan candaan kepada Yoshi atas sikapnya karena mereka belum begitu dekat. Maka, ia hanya tersenyum lalu duduk di meja makan.
"Miu di mana? Kok belum kelihatan?" Emma berusaha mencari topik pembicaraan lagi. Baginya, ini adalah hal yang mudah karena ia adalah juru bicara sekaligus salah satu orang kepercayaan di perusahaannya.
"Katanya sih hari ini ada ketemuan sama klien penting gitu. Jadi dia dandan lebih maksimal," Namie yang menjawab. Ia menyodorkan segelas s**u coklat pada Emma.
Melihat s**u itu bukan rasa favoritnya, Emma bertanya, "Ma, punya s**u stroberi nggak?"
Namie berpikir sejenak.
"Oh, aku dibawain s**u stroberi sama pacarku kemarin malam. Ada tuh di lemari es. Ambil aja," Matsu memberitahu.
Mata Emma berbinar. "Nggak papa aku minta nih, Kak?" ia memastikan. "Kan dari pacar Kak Matsu. Nanti kalo aku minum apa nggak masalah?"
Matsu justru tertawa. "Tahu nggak sih, Em? Pacar kakak itu suka maksain kakak minum s**u, padahal kakak nggak suka s**u. Katanya bagus untuk tulang, jadi mau nggak mau aku terima lah. Mana dibawain setiap hari lagi," ia merasa geli menceritakan kebiasaan pacarnya.
"Ya udah, aku minta ya. Nanti pulang kerja aku beliin yang baru," Emma beranjak dari mejanya lalu membuka lemari es. Ia mengambil sebotol s**u stroberi yang dingin dan membawanya ke meja. "Kakak minum juga nih. Bener kata pacarnya kakak. s**u itu bikin sehat banget." Ia menyodorkannya gelas berisi s**u coklat yang diberikan Namie tadi kepada Matsu.
"Aduh. Kamu sama aja kaya Gwen. Double sengsara nih," keluh Matsu sambil memegangi kepalanya membayangkan betapa kompak pacarnya dan adiknya nanti saat bertemu, tetapi kemudian ikut tertawa karena melihat keluarganya menertawainya.
"Wah, wah. Ada apa nih pagi-pagi ketawa? Nggak biasanya," Miu muncul dengan balutan busana yang elegan dan dewasa.
Emma tersenyum padanya tetapi Miu seakan menghindari bertatapan dengannya. 'Mungkin perasaanku aja. Think positive, Em,' ia berkata pada dirinya sendiri dalam hati.
"Katanya Matsu, Emma mirip sama Gwen, sama-sama suka bujukin minum s**u," Namie yang menjelaskan. "Miu mau jus jeruk kan?"
Miu mengangguk, disodorkannya gelasnya pada Namie yang siap menuangkan jus jeruk kemasan ke dalamnya sebelum diberikannya kembali.
"Nah, udah kumpul semua kan ini? Lengkap deh. Sekarang kita bisa makan," Yoshi mengatakannya dengan riang setelah menunggu beberapa lama.
"Itadakimasu," semuanya mengucapkan perkataan itu terkecuali Emma. Namun mereka tak langsung menyantap makanan saat melihat Emma yang menutup mata dan melipat tangan untuk beberapa saat sebelum akhirnya membuka mata lagi.
Menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian, Emma angkat bicara, "Ah, maaf. Aku terbiasa berdoa dulu."
Namie tersenyum. "Hmm, itu kebiasaan yang baik. Mungkin sebaiknya kita biasakan ini lagi kaya dulu," ucapnya yang tampaknya mendapat persetujuan dari Yoshi dan Matsu. "Lain kali ingatkan kami ya, Emma."
Emma pun mengangguk. "Itadakimasu," ucapnya mengawali sarapan bersama dengan keluarganya.
Diam-diam, Yoshi tersenyum melihat meja makannya sudah penuh. Anggota keluarganya kini menjadi komplit. Sebelumnya selalu ada satu kursi kosong yang sengaja disisakan atas desakan Namie yang percaya bahwa suatu kali Mitsu akan kembali. Yoshi yang dulunya tidak percaya, sekarang melihat bukti nyata dari harapan istrinya telah menjadi nyata.
"Betewe, Em, kamu udah punya pacar?" Pertanyaan Matsu terkesan tiba-tiba dan membuat suhu tubuh Emma meninggi tanpa ijin.
Demi tidak memperlihatkan ekspresi terkejut yang berlebihan serta menjaga rahasia kejombloannya yang menahun itu, Emma memasang wajah datar. "Oh, belum sih, Kak. Kenapa?" tanyanya balik dengan santai. Aktingnya terasa sukses.
"Kapan hari kakak lihat kamu dianter cowok pulang ke rumah. Terus kakak penasaran, perhatiin terus tiap kamu pulang setelah itu. Nah cowok ini selalu ada," Matsu mengungkapkan alasannya yang terdengar seperti sedang bersikap protektif terhadap adiknya.
Emma berdecak. "Ah, itu sih Timothy, sahabat aku. Emang kami dari SMA udah barengan terus. Sempet pisah pas kuliah, eh tapi kerjanya barengan lagi. Dan rumahnya juga deket, di kompleks ini juga," ia menjelaskan sambil menghabiskan gigitan terakhir roti isi keju dan selai coklat di tangannya itu. "Kalo Miu udah punya pacar?" Ia mencoba berkomunikasi dengan adiknya yang sedari tadi diam saja.
Miu tersenyum tipis lalu menggeleng.
"Seleranya Miu nggak bisa ditebak," Yoshi kini angkat suara. "Standarnya tinggi."
Miu menjulurkan lidah pada papanya. "Biarin. Nanti Miu bisa dapetin orang yang terbaik, nggak asal," komentarnya cuek.
"Wah, ternyata kita sama ya, Miu?" Emma berpaling pada adiknya dan mengangkat tangan kanannya untuk melakukan tos dengannya.
Namun setelah melirik sedikit pada Emma, Miu justru mengambil roti lagi dengan tangan kanannya dan gelas di tangan kirinya, bukannya memberikan tos. "Duh, tangan penuh," ucapnya.
Meskipun agak kecewa, tetapi Emma hanya menunjukkan deretan gigi putihnya sambil menurunkan tangan dan menyahut, "Oh, iya, nggak papa." Ia mengambil sehelai tisu dan menyeka mulutnya tanda ia selesai sarapan. "Udah jam setengah tujuh, aku harus berangkat sekarang supaya nggak kejebak macet."
"Kamu dijemput lagi sama Pak Sandy?" tanya Namie yang selama ini memperhatikan bagaimana cara Emma berangkat bekerja setiap pagi.
Emma mengangguk. "Karena searah dan terbiasa juga sih," sahutnya. "Mmm, ini nggak masalah kan?"
"Enggak lah," jawab Namie. "Tapi kalo kamu mungkin mau bisa mandiri pergi kemana-mana, bilang aja ya. Mama tuh sebenernya udah ditawarin sama Papa untuk punya mobil sendiri. Tapi karena Mama nggak suka jalan-jalan sendiri dan selalu ada kalian yang nemenin, jadi Mama bilang nggak butuh."
"Oh, nggak usah repot-rep--" Emma menghentikan perkataannya saat menyadari bahwa ia bersikap seperti orang asing dalam keluarga ini. "Aku akan bilang kalo aku butuh, Ma, Pa."
Yoshi mengambil ponselnya lalu menunjukkan sebuah gambar di dalamnya kepada Emma. "Sebenernya mobilnya udah ada, tinggal dipakai. Tapi Papa masih titipin di dealer-nya gara-gara Mama bilang nggak butuh. Kamu punya SIM nggak?" tanyanya.
Emma mengangguk. "Ada kok, Pa."
"Papa ini lucu. Mentang-mentang kepala dealer-nya temen sendiri terus enak banget titip mobil disana padahal udah dibayar. Kan bisa dibawa ke rumah, terus aku pakai," Miu terkekeh menanggapi ucapan Papanya.
Yoshi berdecak. "Kamu kan udah ada mobil, ngapain pakai yang ini juga?" komentarnya.
"Biar bisa ganti-ganti," Miu menanggapi dengan asal.
Terdengar Matsu mendesis. "Siapa yang ngajarin itu? Terpengaruh sama pergaulan kan pasti? Tuh, Pa, Ma. Aku kan udah bilang kalo temen-temennya Miu itu pengaruh buruk. Miu jadi begini kan?" Ia mengemukakan pendapatnya, menunjukkan rasa tidak suka atas sikap adiknya itu.
"Ih, udah-udah. Ini Emma yang mau berangkat sampai harus nunda dengerin ocehan kalian," Namie mencegah adanya perdebatan berlanjut. Ia tahu kedua anaknya itu terkadang bisa berseteru karena hal-hal kecil. "Ya udah, sayang. Silakan berangkat. Nanti kabarin mama atau papa ya."
Emma beranjak dari kursi lalu menundukkan badannya sedikit seraya berkata, "Aku pamit. Sampai ketemu lagi nanti," Ini adalah salah satu hal yang ia pelajari dari catatan yang diberikan Desy padanya dan ternyata sangat berguna.
Setelah mendengar balasan dari keluarganya, Emma berjalan meninggalkan ruang tamu menuju ke luar rumah. Di depan gerbang sudah terdapat mobil Sandy yang terparkir dengan mesin masih menyala. Ia disambut dengan senyuman seorang papa yang selalu diharapkannya setiap kali pagi datang.
"Kok agak lama?" tanya Sandy.
"Iya, tadi ada dikit ngobrol pas mau berangkat, Pa," jawab Emma sambil memasang sabuk pengaman. "Udah siap. Cabut, Pak!"
"Siap!" Sandy membalas, lalu menancap gas. Mobil pun melaju meninggalkan lokasi.