Tahap pengenalan kembali dengan keluarganya berlangsung dengan lancar beberapa hari setelah itu. Pada hari Sabtu, ia menghabiskan waktu dengan Matsu di restoran milik Papanya. Karena itu, mereka beserta dengan Yoshi saling bertukar cerita.
“Tahu nggak sih, Em, dulu kamu tuh suka dateng ke kamarku cuma untuk lihat aku gaya-gayaan jadi Spiderman. Habis nonton ‘teater’ sederhana yang aku bikin itu,” Mitsu membentuk tanda petik di udara, “kamu langsung tidur. Malahan aku bisa ngalahin Mama yang tadinya suka dongengin kamu sebelum tidur.”
“Oh ya?” Emma berkomentar tak bisa percaya. Ia tidak bisa mengingat apapun mengenai apa yang Matsu ceritakan, tetapi ia menikmatinya.
“Iya. Papa sering loh lihat kamu menyelinap masuk ke kamar Matsu terus ketawa-ketawa sendiri lihat Matsu pakai kostum Spiderman itu. Kalau kamu mau lihat kostum itu, kita bisa cari lagi nanti di gudang. Papa masih simpen rapi kok,” Yoshi turut menimpali.
Selesai meneguk kopinya, Matsu bertanya, “Kok Papa masih simpen?”
Yoshi menghela nafas panjang dan tersenyum. “Sejujurnya ya, Emma itu jawaban doa Papa. Sebelum Matsu lahir, Papa itu berdoa punya anak perempuan. Nah akhirnya beberapa tahun setelahnya Emma lahir. Makanya pas Emma hilang, Papa simpen semua hal yang jadi kenangan pengingat tentang Emma,” ia mengungkapkan sebuah kebenaran yang bahkan Matsu baru ketahui.
Emma terharu mendengarnya. Ia bisa merasakan kasih sayang tulus Yoshi padanya sebagai seorang Papa.
“Papa sempet depresi waktu itu, tapi Papa inget ada Mama, Matsu sama waktu itu Miu yang masih sekitar enam bulan. Jadinya Papa bangkit lagi untuk tetap bisa mengayomi keluarga,” lanjut Yoshi. Ia mengelus-elus gelas kopinya yang masih hangat.
Mendengar cerita itu, hati Emma perlahan tergugah dan menyadari bahwa keluarganya memang menyayanginya. Ia telah salah pernah menganggap enteng mereka. Pada faktanya mereka adalah sesuatu yang berharga bagi dirinya.
“Ngomong-ngomong, Pa, ini kan hari Sabtu ya. Tapi kok aku lihat pelanggannya nggak banyak?” Emma memperhatikan sekelilingnya. Sejak ia datang tadi, hanya ada dua sampai tiga orang pelanggan baru yang datang.
Yoshi menghela nafas dengan mulut terbuka tetapi gigi terkatup rapat hingga menimbulkan suara mendesis. “Jujur aja penjualan memang agak menurun, padahal menu masih enak kaya biasanya,” ungkapnya.
Sebuah ide terbersit di pikiran Emma. Ia merasa ini adalah kesempatan untuk berkontribusi dalam keluarganya sekaligus memberikan tanda terima kasih atas kebaikan keluarganya. “Nah gini, Pa. Aku atur ulang aja dekorasinya supaya lebih fresh ya. Dari segi interior restoran ini emang agak sedikit ketinggalan sih. Aku yakin sentuhan kecil bisa berdampak banyak untuk kemajuan restoran,” kataya. “Nanti aku bikin beberapa spot khusus yang bisa dipakai orang untuk ambil foto. Itu yang memang lagi marak, Pa.”
“Kalau udah gitu, nanti aku yang bantu di bagian promosi,” Matsu menimpali. “Kita kerjasama bikin restoran ini jadi maju lagi ya, Em.” Ia mengangkat tangan kanannya dan memberi tos pada Emma.
“Ah ya. Aku juga mau kasih sedikit masukan untuk masakan,” Emma masih belum selesai dengan ide-ide yang bermunculan di otaknya. “Ada menu baru yang orang lagi suka sekarang. Tapi nanti tetep harus dipadukan sama orisinalitas dan konsep restoran ini. Sedikit inovasi juga bisa menarik pelanggan loh, Pa.”
Yoshi bertepuk tangan kecil beberapa kali menunjukkan kegembiraannya. “Papa seneng banget karena kalian bisa kompak bantuin Papa gini. Anak-anak Papa memang hebat. Mungkin karena dapet gen dari Papa ya,” candanya lalu membuat kedua anaknya tertawa.
“Eh iya. Aku lupa ada janji sama Timothy,” Emma memukul pelan dahinya dengan telapak tangan kanannya. “Maaf ya Pa, Kak Matsu. Aku harus pamit sekarang sebelum diomelin sama cowok itu.”
“Ya nggak papa. Silakan aja. Yang penting Papa udah tahu kalau restoran Papa bakalan maju dalam waktu dekat,” canda Yoshi sekali lagi.
Emma beranjak dari kursinya. “Daah, Papa. Daah, Kak Matsu,” ia terburu-buru meninggalkan tempat lalu masuk ke dalam mobilnya.
Semalam ia sudah berjanji untuk membantu Timothy memilihkan hadiah untuk ulang tahun Mamanya besok. Ia berharap agar jalanan tidak terlalu macet agar bisa sampai di tujuan tepat waktu.
Semakin hari, Emma semakin dekat dengan keluarganya sehingga perhatian mereka begitu tertuju kepadanya seolah-olah baru saja mengadopsi seorang bayi. Termasuk salah satunya Namie yang akhir-akhir ini selalu menghabiskan waktu bersama Emma seusai pulang bekerja untuk berkonsultasi tentang pakaian yang bagus dan sesuai untuk dirinya.
Sore ini Namie ingin mendonasikan baju-baju lamanya dan mengisi lemarinya dengan sesuatu yang lebih nyaman tapi ceria. Sebagai seorang desainer interior yang juga memiliki selera yang bagus dalam hal busana, Emma memberikan beberapa saran kepada Mamanya.
"Wah, ternyata baju-baju kamu berkelas banget ya, sayang?" Namie memberikan pujian saat ia melihat isi lemari Emma. Putrinya itu juga ingin mendonasikan baju-bajunya yang sudah menjadi terlalu kecil untuknya.
Emma tertawa geli menanggapi pujian Mamanya. "Hmm, meskipun aku dulu ada di keluarga sederhana, buat aku penampilan itu penting. Bukan karena hanya untuk tampil berkelas, tapi dengan fashion kita bisa lihat karakter dan kepribadian seseorang," ia menjelaskan panjang lebar dengan gaya pidato seperti yang biasa ia lakukan di kantor. "Eh, kok jadi formal ya?" Lalu ia menertawakan diri sendiri saat menyadarinya.
Namie ikut tertawa sambil merangkul putrinya lalu memberi beberapa tepukan ringan di lengannya. "Mama bangga sama kamu. Kayanya Pak Sandy dan Bu Desy berhasil mendidik kamu dengan baik," katanya.
Mendengar nama Papa dan Mamanya disebut, Emma mulai merindukan mereka. Sudah seminggu ini ia belum mampir ke rumah mereka lantaran tumpukan pekerjaan yang perlu segera diselesaikan. Belum lagi sejak Yoshi memberinya mobil, ia tak diantar lagi oleh Sandy. Ia berniat untuk mampir sebentar ke rumah mereka setelah makan malam.
Seusai mengeluarkan beberapa baju yang Emma ingin donasikan, ia memasukannya ke dalam kardus khusus baju donasi dengan bantuan Namie. Lemarinya kini menjadi lebih longgar.
"Besok kita belanja yuk, sayang. Kan sama-sama kosong lemari kita," Namie mengusulkan.
"Bisa aja Mama ini. Padahal nggak kosong-kosong amat," sahut Emma dengan tawa geli. "Tapi ya nggak papa sih. Besok juga gajian, jadi ngepasin agendaku beli baju baru."
"Oh, setiap gajian kamu selalu beli baju baru?"
Emma mengangguk. "Bener banget, Ma. Aku selalu ada budget tersendiri untuk fashion. Jadi tiap bulan bisa beli deh," ujarnya bangga karena mampu mengatur keuangannya dengan baik.
"Keren deh kamu ini," Namie memuji lagi.
"Udah ah, Ma. Dipuji terus," Emma terkekeh malu. "Kita makan malam yuk. Udah hampir jam tujuh nih. Mungkin yang lain udah di meja makan sekarang."
Namie menyetujui lalu menggandeng putrinya menuju ruang makan, di mana Matsu sudah duduk di tempatnya dan Yoshi juga baru saja sampai pada saat yang sama dengan Namie dan Emma.
"Menunya apa nih malam ini?" Yoshi bertanya retoris karena ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri beberapa menu lezat yang tersedia di atas meja.
"Tadi sih mama minta Bi Yati untuk bikinin masakan Jawa. Udah lama kan sejak terakhir kita cobain makanan Jawa di Solo?" jawab Namie sembari duduk di samping Emma.
"Kelihatannya sih enak. Makan yuk," Yoshi terdengar tak sabar untuk mencicipi dedaunan hijau yang ditumis dengan campuran udang beserta gorengan yang terbuat dari kentang tumbuk dan bola-bola ikan kakap.
"Miu belum di sini. Tunggu sebentar, Pa," Namie memberitahu.
Salah satu hal yang Emma sukai tentang keluarga ini adalah kebersamaan yang selalu diutamakan. Ketika waktunya makan, maka semua akan berkumpul dan mengobrol tanpa ada gangguan dari ponsel atau lainnya. Ini membuatnya merasa nyaman seperti yang selalu ia rasakan saat ia bersama keluarga Pratama.
"Aku di sini. Maaf nunggu lama," Miu muncul dengan penampilan rapi, mengenakan pakaian yang tampak familiar di mata Emma.
"Uh, Miu, pakaian itu--"
Miu menatap tubuhnya lalu kembali pada Emma, "Oh ini? Emang ini punya kamu. Aku pinjem ya. Soalnya ini cocok untuk tema pesta ulang tahun temen aku malam ini," ungkapnya tanpa basa-basi. Saat Emma hendak berkata lebih lagi, ia justru mengubah pembicaraan. "Pa, Ma, kak Matsu, aku nggak bisa gabung makan malam. Nggak enak kalo skip undangannya. Sahabat aku sendiri soalnya." (*melewatkan)
"Kok baru bilang? Biasanya bilang dulu sebelumnya," Yoshi mengerutkan dahinya, merasa kurang suka dengan keputusan putrinya yang tiba-tiba.
Tampak senyuman tak berdosa menghiasi wajah Miu. "Maaf deh, Pa. Temenku ini kasih undangan juga mendadak. Katanya mau bikin surprise gitu," jawabnya ringan. "Aku pergi dulu ya, semuanya." Ia melambaikan tangan lalu berbalik pergi.
Namie menyentuh lengan Emma, membuatnya menoleh. "Sayang, jangan diambil hati ya. Kadang dia bisa jadi kekanak-kanakan," ia berharap putrinya itu mengerti.
Emma menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Nggak masalah kok, Ma. Setahu aku biasanya anak bungsu emang agak gitu kan? Lagian aku dari dulu emang juga kepingin punya adik. Jadi aku membiasakan diri juga," ungkapnya.
"Ya udah, ayo semua makan. Kita berdoa dulu," Namie merentangkan tangannya, mengajak semuanya saling menggenggam tangan.
Emma menutup matanya, tidak hanya berdoa atas rasa syukurnya terhadap makanan yang sudah tersedia, tetapi juga agar hatinya tidak panas dan tetap positif menanggapi sikap Miu.