“Aku sudah menyiapkan gadis-gadis yang sesuai dengan seleramu, Sayang. Aku yakin kau akan menyukai hadiah yang kusiapkan untukmu.”
Madam pemilik rumah bordil yang berdiri di belakang tubuh Aiden itu berkata sambil membelai bahu kekar Aiden dengan gerakan yang menggoda sementara pria itu hanya duduk dengan menopang kepalanya dengan tangan kanan dan tangan kiri yang menggenggam gelas berisi red wine.
Seorang gadis masuk ke dalam ruangan tersebut setelah Madam memberi tanda pada pengawalnya. Sebelah alis Aiden terangkat saat melihat gadis yang tidak pernah ia lihat di rumah bordil ini dengan penampilan yang jauh berbeda dengan wanita-wanita lain yang bekerja di tempat ini.
Gadis yang kelihatan masih sangat muda itu mengenakan baju terusan berwarna biru muda yang terlihat manis dengan rambut panjangnya yang terurai dan dihiasi jepit kecil di sisi kiri kepalanya. Hadis itu tersenyum dengan sangat manis padanya hingga membuat Aiden tanpa sadar membuka sedikit mulutnya karena untuk sesaat ia seperti melihat bayangan Runa di dalam diri gadis itu.
Dan Madam yang melihat reaksi Aiden seperti itu tentu saja menjadi sangat bangga karena akhirnya ia mengerti tipe seperti apa yang disukai oleh pelanggannya yang paling royal ini. Bukan wanita dewasa yang seksi dan panas, tapi gadis belia yang kelihatan polos. Madam menyadari hal tersebut setelah melihat bagaimana Aiden menunjukkan ketertarikannya pada Runa dan dua kali membawa gadis tersebut pergi dari rumah bordil ini.
“Aku tahu kau pasti akan menyukai gadis yang sangat manis ini, Sayang.” Madam berkata sambil tangannya yang masih bertengger di bahu Aiden kembali memberikan belaian yang seduktif pada pria itu. “Dia milikmu malam ini, Sayang. Silakan lakukan apapun yang kau inginkan dengannya.”
***
“Apa-apaan ini? Kau merokok?!”
Runa hanya mengerjapkan kedua matanya dengan tampang polos sementara Felix yang baru masuk ke kamar tersebut dengan membawakan makan malam untuknya terlihat begitu syok setelah menangkap basah dirinya yang memegang sebatang rokok yang menyala di tangan kanannya.
“Apa yang kau lakukan? Kau‒”
“Jangan diambil!” Runa buru-buru menyembunyikan rokok tersebut di balik punggungnya sebelum Felix berhasil merebutnya. “Aku tidak merokok. Jadi jangan diambil.”
“Jika kau tidak merokok lalu kenapa kau memegang rokok yang menyala di tanganmu?” Felix yang tidak percaya dengan ucapan Runa masih terus meninggikan suaranya pada gadis itu. “Apa pria berengsek itu yang mengajarimu caranya merokok, hah? Pasti dia yang‒”
“Aku merindukannya.” Runa menyela ucapan Felix dengan suara yang terdengar sedih. Gadis itu lalu menatap rokok yang ada di tangannya dengan tatapan sendu sebelum berkata, “Aku menyalakan rokok milik Tuan Aiden karena aku merindukannya.”
“Tapi kau baru saja bertemu dengannya tadi siang.” Felix berkata dengan nada kesal sambil merebut rokok tersebut dari tangan Runa tanpa mempedulikan seruan protes gadis itu. “Memangnya kau tidak tahu bisa seberbahaya apa jika menghirup asap rokok, uh? Bagaimana bisa kau yang bahkan tidak tahu caranya merokok sengaja menyalakannya hanya untuk menghirup baunya karena kau sedang merindukan Aiden? Apa remaja zaman sekarang memang selalu senaif‒”
“Hiks.”
Felix menghentikan omelannya saat ia mendengar suara isakan Runa. Ia mengintip wajah Runa yang tertunduk dalam dan itu membuatnya jadi sangat terkejut saat melihat gadis tersebut sudah terisak-isak dengan kedua bahu kecilnya yang ikut berguncang-guncang karena tangisannya.
“Runa...” Felix menyentuh bahu kanan Runa dengan tangan kirinya sementara wajahnya sudah terlihat sangat khawatir karena tangisan Runa menjadi semakin keras sekarang. “Kenapa kau tiba-tiba menangis seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Aiden melakukan sesuatu yang buruk padamu?”
“Rokokku!” Runa menyahut ketus dengan diiringi isakannya sambil merebut kembali sebatang rokok yang terus menjadi abu tanpa pernah dihisap itu dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. Ia menatap rokok tersebut dan isakannya terdengar jadi semakin menyedihkan setelahnya.
“Aku tidak akan merokok. Aku hanya ingin melihat asapnya karena sekarang aku tidak bisa melihat Tuan Aiden. Aku tidak bisa bersamanya malam ini, tapi kenapa Tuan juga tidak mengizinkanku untuk melihat asap rokoknya padahal Tuan tidak mengerti bagaimana sakitnya hatiku saat ini?”
***
Aiden yang duduk bersandar di atas tempt tidur itu tidak mengedipkan kedua matanya saat melihat gadis muda yang disewanya untuk melayaninya malam ini berjalan mendekatinya secara perlahan dengan langkah yang menggoda sambil melepaskan pakaiannya satu per satu.
Aiden mengerjapkan kedua matanya perlahan saat melihat sepasang pakaian dalam seksi yang gadis itu kenakan di balik pakaian manisnya yang terlihat sopan. Membuat pria itu tanpa sadar menyeringai sambil memalingkan wajahnya dari gadis itu sebelum kembali menatapnya saat gadis itu merangkak naik ke atas tempat tidurnya. Mendekat padanya dengan gerakan dan tatapan yang bisa menggoda sisi liar pria mana pun yang melihatnya.
“Berapa usiamu?” Aiden bertanya sementara gadis itu sudah duduk di atas pangkuannya dengan jari-jari lentiknya yang membelai dadanya yang masih terbungkus oleh kemeja berwarna hitam.
“Aku bisa menjadi gadis berusia berapa pun yang kau inginkan, Tuanku.” Gadis itu menjawab dengan suaranya yang terdengar manja. “Aku bisa menjadi gadis belia yang manis dan polos atau wanita dewasa yang panas. Kau tinggal menyebutkan ingin aku menjadi gadis seperti apa dan aku melayanimu dengan cara yang kau inginkan.”
“Aku ingin kau menyingkir dari tubuhku sekarang juga,” kata Aiden yang membuat gadis itu mengerjapkan kedua matanya tidak mengerti.
“Apa‒ Ah!”
Gadis itu memekik terkejut saat tiba-tiba saja Aiden mendorong tubuhnya dengan keras hingga membuat tubuhnya terjatuh di atas tempat tidur.
“Tuan! Bagaimana bisa kau bersikap sekasar ini pada wanita?” Gadis itu bertanya dengan nada kesal pada Aiden yang kini telah beranjak meninggalkan tempat tidur. Gadis itu tentu saja telah mendengar reputasi buruk Aiden tentang bagaimana pria itu selalu memperlakukan semua wanita penghibur yang disewanya dengan kasar. Namun tetap saja ia merasa terkejut karena Aiden tiba-tiba saja mendorong tubuhnya dengan sangat kasar hingga membuat telapak tangannya menghantam tiang tempat tidur dengan cukup keras.
“Karena kau bukan wanitaku,” sahut Aiden sambil menatap gadis itu dengan wajah muak. Ia bahkan tidak mengerti betapa anehnya dirinya saat ini yang justru jadi sagat merindukan Runa dan ingin segera pulang untuk menemui gadis itu meski di hadapannya ada wanita penghibur yang berbaring pasrah di atas tempat tidur yang bisa ia apakan saja untuk memuaskan dirinya.
Namun bukannya jadi berhasrat, Aiden justru merasa sangat muak pada gadis yang berdandan seolah dirinya sepolos Runa namun berani membuka pakaian tanpa sedikit pun rasa malu di hadapannya.
“Aku tidak peduli kau wanita atau bukan. Tapi bagiku tidak ada yang berharga di dunia ini kecuali wanitaku.”
Ponsel Aiden berdering tepat setelah ia menyelesaikan ucapannya pada gadis itu. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Aiden langsung menjawabnya sambil berjalan keluar dari kamar yang bernuansa warna merah itu tanpa mempedulikan tatapan geram dari wanita penghibur yang sudah berencana untuk menaklukkan Aiden yang merupakan tamu paling kaya di rumah bordil ini.
“Kau di mana?”
Itu suara Felix. Aiden tidak langsung menjawabnya karena sibuk menyalakan rokok yang terselip di antara kedua bibirnya. Pria itu menghirup rokoknya sekali sebelum menyahuti pertanyaan yang Felix berikan padanya. “Aku sedang di rumah bordil sekarang.”
“Kau di rumah bordil sekarang?!” Felix mengulangi ucapan Aiden dengan nada marah dan Aiden sama sekali tidak akan mengambil pusing dengan hal itu. Felix selalu marah padanya setiap kali ia melakukan hal buruk. Pria itu akan memarahinya saat ia merokok, mabuk, atau pergi ke rumah bordil.
“Apa kau juga memberitahu Runa jika akan pergi ke rumah bordil sampai dia menangis seperti itu?”
Aiden yang sebelumnya bersandar dengan santai pada dinding sambil menikmati rokoknya langsung menegakkan tubuhnya setelah mendengar apa yang Aiden katakan tentang Runa. “Apa Runa menangis?”
Felix menghela napas dengan suara keras yang terdengar kasar. Rasanya kesal sekali karena Aiden terdengar seolah sedang sangat mengkhawatirkan Runa padahal pria itu sendiri yang membuat Runa sampai menangis begitu.
“Dan kenapa kau meletakkan rokokmu sembarangan saat kau tinggal bersama seorang remaja sepertinya, uh? Dia bisa saja merokok tanpa sepengetahuanmu saat kau tidak ada di‒”
“Kenapa dia menangis? Apa dia masih menangis sekarang?” Aiden menyela ucapan Felix dengan gusar tanpa mempedulikan sedikit pun dengan apa yang pria itu katakan tentang rokoknya.
Felix terdiam untuk sesaat. Pria itu menggertakkan giginya, merasa kesal karena Aiden terus saja terdengar sekhawatir ini pada Runa padahal dirinya lah yang telah membuat gadis itu menangis.
“Apa kau serius tidak tahu kenapa Runa menangis?” tanya Felix. “Memangnya kau tidak sadar jika Runa itu jatuh cinta padamu?”
Kini giliran Aiden yang dibuat terdiam. Pria itu sama sekali tidak tahu dengan bagaimana orang-orang melihat dirinya ketika menatap atau memperlakukan Runa. Ia tidak tahu sejelas apa ia menunjukkan hal tersebut hingga Bibi Lily dan sekarang juga Felix bisa melihatnya dengan jelas.
Melihat perasaannya yang entah sejak kapan telah jatuh cinta pada Runa.
“Jika kau tidak mencintainya, kau harus berhenti‒”
“Kenapa aku tidak mencintainya?” Aiden menyela ucapan Felix dengan cepat. “Kenapa kau bisa berpikir jika aku tidak mencintainya?”
“Karena kau Aiden. Apa kau lupa itu?” Felix berkata dengan suara berbisik dengan menekankan setiap kata yang diucapkannya. “Memangnya kau ingin Runa bernasib sama dengan ibu‒”
“Tidak akan sama, sialan! Mengapa kalian berpikir jika aku akan mengulangi kisah sialan yang sama dengan papaku?!” Aiden meledak, berteriak pada Felix saat pria itu mengatakan sesuatu yang melukai hatinya.
Dan kemudian dengan suara mendesis, Aiden mengucapkan sesuatu yang menurut Felix adalah hal paling egois yang seharusnya tidak pernah pria itu lakukan pada Runa jika Aiden memang benar mencintai gadis itu.
“Aku jatuh cinta pada Runa dan aku akan membuat kisah yang indah dengannya. Aku bersumpah jika dia tidak akan pernah mengulangi kisah sedih yang sama dengan yang dialami oleh wanita yang telah melahirkanku.”
**To Be Continued**