Jam masih menunjukkan pukul 8 ketika Aiden tiba di apartemennya dan mendapati Runa yang telah bergelung di dalam selimutnya. Namun Aiden tahu gadis itu tidak tidur karena tangan kiri Runa menyembul keluar dengan memegang sebatang rokok yang menyala. Sepertinya gadis itu buru-buru masuk ke dalam selimutnya saa mendengar kedatangan Aiden tanpa sempat mematikan rokoknya hingga kini harus pura-pura tidur sambil memegang rorok yang masih menyala itu.
Aiden tidak berkata apapun saat mendudukkan dirinya di lantai yang berada di bawah tempat tidur Runa. Pria itu duduk dengan mengangkat satu kakinya dan menumpukan tangan kirinya di sana dengan punggungnya yang bersandar pada tempat tidur di mana di belakangnya Runa sedang pura-pura tidur.
Aiden masih tidak mengatakan apapun saat tiba-tiba saja ia mengambil rokok dari tangan Runa. Membuat gadis itu terkesiap kaget ketika tangan Aiden tidak sengaja menyentuh tangannya. Telapak tangan gadis itu perlahana terkepal setelah Aiden mengambil rokoknya tanpa sadar jika Aiden yang kini sudah menikmati rokoknya tengah memperhatikannya.
“Ini masih jam 8. Kau akan terbangun tengah malam dan tidak bisa tidur lagi jika tidur sekarang,” kata Aiden. Namun Runa masih terus pura-pura tidur sambil dalam hati menggerutu menyalahkan Aiden yang pulang secepat ini setelah berkata tidak akan pulang sehingga membuat dirinya yang kesal jadi harus pura-pura tidur.
Aiden mengulurkan tangan kanannya lalu menyentuh kepalan tangan Runa dengan jari telunjuknya. Membuat Runa yang mendapat sentuhan tiba-tiba seperti itu semakin erat mengepalkan tangannya.
Namun Aiden tidak berhenti begitu saja. Pria itu terus menggerakkan ujung telunjuknya di atas jari-jari kecil Runa yang terkepal sebelum dengan perlahan membukanya dan membentuk pola-pola abstrak di telapak tangan gadis itu sambil menikmati sensasi yang terasa seperti percikan adrenalin yang menyenangkan yang membuatnya sulit untuk menjauhkan jarinya dari telapak tangan Runa.
Namun ia dibuat terkesiap saat tiba-tiba Runa menarik tangannya menjauh dan menyembunyikannya di dalam selimut hingga jari Aiden tidak dapat menyentuhnya lagi.
Runa bukannya tidak suka dengan apa yang Aiden lakukan. Itu hanya terasa terlalu berbahaya untuk jantungnya yang jadi seperti ingin meledak saat merasakan sentuhan ujung jari Aiden di telapak tangannya. Itu membuat keinginannya untuk menyibak selimut dan menghambur ke pelukan Aiden jadi membesar dan ia memilih untuk buru-buru menarik tangannya menjauh sebelum dirinya kehilangan kendali dan akhirnya benar-benar melemparkan dirinya dalam pelukan Aiden yang pasti telah memeluk wanita penghibur di rumah bordil sebelum mendatanginya seperti ini.
“Apa kau pernah makan hamburger?” tanya Aiden yang membuat Runa mengerutkan keningnya. Tentu saja gadis itu pernah makan hamburger. Dulu sekali, sudah sangat lama sampai ia lupa seperti apa rasanya hamburger.
Dan seolah mengetahui hal tersebut, Aiden justru menawarkan Runa sesuatu yang sulit untuk gadis itu tolak.
“Ayo bangun. Aku akan membelikanmu hamburger dan minuman soda. Dan pizza juga jika kau mau. Ayo pergi sekarang.”
***
Runa sebenarnya masih marah pada Aiden, namun tetap mengikuti pria itu pergi ke sebuah restoran cepat saji yang berada tidak jauh dari gedung apartemen Aiden.
Runa sebenarnya sudah kenyang karena makan malam yang dinikmatinya bersama Felix tadi‒yang tetap memaksanya untuk terus makan meski ia tidak bisa berhenti menangis sesenggukan‒tapi tetap memakan hamburger yang Aiden belikan untuknya.
Dan Runa sebenarnya sudah tidak sanggup makan lagi, namun tetap memegang hamburgernya karena ia tidak tahu bagaimana caranya menghadapi Aiden saat mereka pulang nanti dan terjebak di dalam kamar yang sempit.
Dengan sebuah hamburger berukuran besar yang berada di depan mulutnya, Runa melirik Aiden yang duduk di hadapannya dengan menyilangkan kaki. Pria itu tidak makan dan hanya memesan segelas soda berukuran besar yang isinya sudah tinggal sedikit. Membuat Runa khawatir pria itu akan mengajaknya pulang jika sodanya habis.
“Kau sudah tidak sanggup untuk makan lagi?”
“Eh?” Runa mengerjapkan kedua matanya, terlihat terkejut karena Aiden yang tiba-tiba mengajaknya bicara.
“Jika kau sudah kenyang, tidak usah dipaksakan. Kita pulang saja.”
“Aku belum selesai. Aku masih mau makan,” kata Runa sebelum membuka mulutnya lebar-lebar dan menggigit hamburgernya untuk membuktikan pada Aiden jika dirinya memang masih ingin makan.
Tapi kemudian perutnya yang sudah penuh itu otomatis menolak makanan yang membuat Runa hampir memuntahkan makanannya lagi. Gadis itu membekap mulutnya dengan tangan kanannya sambil menatap Aiden dengan panik, berharap pria itu tidak melihatnya. Namun sepertinya Aiden yang saat ini menatapnya dengan kening berkerut itu telah melihat dirinya yang hampir muntah karena kekenyangan.
“Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk berhenti?” Aiden berkata seraya mengambil alih hamburger yang ada di tangan Runa tanpa meminta izin gadis itu. Membuat Runa yang tidak mengantisipasi hal tersebut hanya bisa mengerjapkan kedua matanya terkejut untuk kemudian semakin dibuat terkejut ketika melihat Aiden yang kini telah memakan sisa hamburgernya.
Hamburger yang masih tersisa banyak itu berhasil Aiden habiskan dengan cepat. Pria itu lalu menghabiskan sisa sodanya, menyedotnya dengan kedua matanya yang melirik Runa yang saat ini juga tengah menatapnya.
“Mendekat.” Aiden memberi perintah setelah menandaskan sisa minumannya sambil menarik beberapa lembar tisu. Pria itu mengangkat wajahnya, namun di hadapannya Runa masih belum menuruti perintahnya untuk mendekat.
Dan itu membuat Aiden tidak memiliki pilihan selain memajukan tubuhnya untuk mendekat pada Runa sambil mengulurkan tangan kanannya untuk membersihkan sisa saos yang mengotori sekitar mulut dan pipi gadis itu.
Sementara itu, Runa menerima perlakuan Aiden tanpa mengatakan apapun dan hanya menatap pria itu dengan ekspresi yang tidak bisa terbaca di wajahnya. Gadis itu kelihatan sangat tenang, namun jantungnya sudah berdetak sangat kencang sekarang. Bukan karena perasaan bahagia seperti yang selalu ia rasakan setiap kali berdekatan dengan Aiden, namun Runa merasa jantungnya hampir meledak karena sakit memikirkan jika sebelimnya Aiden telah mendatangi rumah bordir dan melewati momen yang panas bersama wanita penghibur yang disewanya.
“Aku bisa sendiri.” Runa tiba-tiba memalingkan wajahnya seraya memundurkan tubuhnya, membuat tangan Aiden yang sebelumnya membersihkan pipinya jadi menggantung di udara.
Runa menarik bererapa lembar tisu dan masih dengan posisi wajahnya yang berpaling dari Aiden gadis itu membersihkan wajahnya sendiri. Namun di hadapannya, Aiden yang masih terus menatapnya itu terlanjur melihat air mata yang ingin Runa sembunyikan darinya.
“Aku sudah pulang dan ada di hadapanmu sekarang, tapi kenapa kau masih menangis?”
Runa berhenti membersihkan wajahnya‒sambil diam-diam menghapus air matanya‒dengan tisu saat mendengar apa yang Aiden katakan padanya. Gadis itu lalu menolehkan kepalanya pada Aiden dan mendapati pria itu masih menatapnya dengan cara yang menyiratkan kekhawatiran.
“Aku pulan karena Felix bilang kau menangis karena merindukanku‒”
“Memangnya Tuan percaya ucapan Tuan Felix?” Runa menyela ucapan Aiden dengan ketus, dalam hati merutuki Felix yang sudah berani bicara sembarangan seperti itu pada Aiden.
“Biasanya aku tidak mempercayainya,” kata Aiden. “Tapi sekarang aku melihat kedua matamu yang bengkak dan baru saja aku melihatmu menangis‒”
“Aku tidak menangis!” Runa lagi-lagi menyela ucapan Aiden dengan ketus. Tidak ingin mengakui jika ia menangis karena tidak dapat menahan kecemburuannya yang meletup-letup karena Aiden yang meninggalkan dirinya untuk pergi ke rumah bordil. “Itu tadi karena pedas. Saosnya benar-benar pedas sampai air mataku keluar.”
“Kau pikir siapa yang ingin kau bodohi?”
“Tapi itu memang pedas!” Runa masih meneruskan kebohongannya dengan nada yang ketus. Namun saat menatap kedua mata Aiden, hatinya jadi sakit dan ia ingin menangis lagi sekarang. “Aku tidak akan mau makan hamburger yang pedas seperti ini lagi! Aku tidak mau makan makanan yang pedas!”
“Tadi kau menangis karena merindukanku, lalu sekarang apa yang membuatmu menangis lagi padahal aku sudah pulang dan membelikanmu makanan yang enak‒”
“Itu pedas, Tuan! Sudah kubilang air mataku keluar karena saosnya pedas sekali, menagap Tuan tidak mengerti?” Runa lagi-lagi menyela ucapan Aiden. Entah karena terlalu kesal atau terlalu putus asa, gadis itu bahkan tidak sadar jika air matanya sudah kembali menangis sampai akhirnya ia sadar ketika tidak bisa menghentika isakannya yang jadi semakin keras.
“Kenapa aku harus menangisimu? Kenapa aku harus menangisi orang yang sedang pergi ke rumah bordil tanpa sedikit pun mempedulikan perasaanku? Saos hamburger yang pedas itu lebih pantas untuk ditangisi dibandingkan dirimu, Tuan!”
Runa terus mengelak sementara air matanya terus mengalir dengan keras. Gadis itu menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya, kelihatan sangat putus asa karena tidak bisa berhenti menangis di depan Aiden.
Runa ingin berhenti menangis, namun juga takut memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah tangisannya berhenti nanti. Ia bingung bagaimana harus menghadapi Aiden nanti setelah berhenti menangis sementara Aiden tahu jika ia menangis pria itu.
Sampai kemudian, rasa hangat yang bercampur dengan aroma rokok dan alkohol yang berpadu dengan parfum Aiden yang Runa rasakan menyelimuti tubuhnya membuat gadis itu menjauhkan kedua telapak tangan dari wajahnya.
Aiden hanya mengenakan kemeja hitam yang 2 kancing teratasnya terbuka sementara jaket kulit yang sebelumnya ia pakai kini sudah berpindah ke tubuh Runa.
“Aku tidak bisa memelukmu sekarang karena ada banyak orang di sini,” kata Aiden yang membuat Runa mengerjapkan kedua mata bingungnya karena tiba-tiba saja pria itu ingin memeluknya.
Sampai kemudian Runa ingat ketika Aiden berkata padanya tentang mengganti ucapan maaf dengan pelukan, kedua mata gadis itu menatap Aiden dengan jantungnya yang berdebar keras sambil dalam hatinya bertanya-tanya apakah benar Aiden benar-benar ingin minta maaf padanya saat ini ketika membicarakan tentang memberinya pelukan.
“Aku pergi ke rumah bordil karena aku kesal dengan fakta kau hanya gadis kecil yang tidak akan bisa kumiliki. Aku pergi untuk menemui wanita dewasa yang bisa melayaniku, tapi kemudian aku memutuskan pulang karena aku tidak bisa berhenti memikirkanmu dan jadi sangat merindukanmu. Itu sebelum aku menerima telepon dari Felix yang memberi tahuku jika kau sedang menangis karena merindukanku.”
Aiden lalu mengulurkan tangannya, yang meski jari-jari kokohnya itu terasa kasar namun gerakannya begitu lembut ketika menyeka air mata di wajah Runa. “Merindukan seseorang itu menyebalkan, kan? Aku saja merasa kesal sampai tidak bisa fokus pada apa yang kuinginkan karena merindukanmu, bagaimana bisa gadis kecil sepertimu menanggungnya? Pantas saja kau sampai menangis seperti itu tadi.”
Runa tidak tahu apa dirinya merasa senang atau terharu dengan apa yang Aiden ucapkan padanya. Namun ia merasa seolah perasaannya bukanlah sesuatu yang bertepu sebelah tangan saat tahu jika Aiden juga merasakan kerinduan yang sama dengan yang ia rasakan.
“Kupikir Tuan akan membenciku karena aku sudah berani lancang sekali menyukai Tuan,” lirih Runa.
“Kau menyukaiku?” tanya Aiden yang membuat Runa menundukkan kepalanya untuk kemudian kembali terisak-isak karena entah mengapa pertanyaan pria itu terasa begitu sulit untuk dijawab.
Bahkan meski semua orang telah mengetahuinya, meski Aiden juga tahu jika dirinya menyukai pria itu, Runa merasa sangat sulit untuk mengakuinya secara langsung di hadapan pria itu.
“Ayo pergi. Akan kubelikan es krim,” kata Aiden yang membuat isakan Runa jadi semakin keras karena gadis itu merasa jika Aiden sama sekali tidak menganggap penting perasaan sukanya yang sangat tulus pada pria itu.
“Aku tidak mau makan es krim! Aku benci es krim!” Runa berkata dengan kesal dan itu membuat Aiden jadi bingung karena Runa menjadi kesal lagi padanya.
“Lalu kau ingin apa? Aku akan membelikan apapun yang kau mau.”
“Aku tidak ingin apa-apa! Aku benci semuanya! Tidak usah membelikanku apa-apa lagi.” Runa menyahuti ucapan Aiden sambil terisak-isak. Gadis itu merasa putus asa dan kesal pada dirinya sendiri yang tidak mau berhenti menangis dan juga pada Aiden yang sama sekali tidak bisa memahami perasaannya.
Namun apa yang kemudian Aiden katakan membuat tangisan Runa langsung terhenti. Dan ia akhirnya sadar jika bukan hanya Aiden saja yang tidak dapat memahami perasaannya tapi dirinya juga tidak dapat memahami perasaan pria itu.
“Aku tidak pernah menyukai seseorang sebelumnya dan aku tidak tahu bagaimana harua mengatakannya hingga akhirnya aku memutuskan untuk membelikan makanan yang lezat dan semua yang disukai oleh orang yang kusukai sebagai ganti ungkapan perasaanku. Tapi jika kau tidak ingin kubelikan apa-apa lagi... Bagaimana aku harus menunjukkan perasaanku padamu?”
**To Be Continued**