Pacar Pria Dewasa

1665 Kata
“Hmm~ Ini enak sekali.” Runa berjalan menyusuri jalan pulang sambil menikmati sebuah es krim. Aiden berjalan di belakangnya, yang meski sebenarnya Runa hanya minta dibelikan satu saja es krim rasa pisang berbentuk Minion tapi tetap saja kini pria itu menenteng kantong plastik yang dipenuhi aneka jenis es krim yang diborongnya dari mini market. Tadinya Runa masih kesal pada Aiden. Masih marah karena merasa pria itu sama sekali tidak menghargai perasaannya. Namun setelah mendengar apa yang Aiden ucapkan, akhirnya justru Runa sendiri yang minta dibelikan es krim yang katanya paling dibencinya itu namun kini justru gadis itu nikmati dengan mulutnya yang tidak mau berhenti tersenyum. Itu karena Runa senang menerima es krim ini sebagai bentuk pernyataan rasa suka yang Aiden berikan padanya. Karena Aiden tidak bisa mengatakannya secara langsung, Runa dengan hati bahagia yang berbunga-bunga menerima pemberian pria itu seolah tengan menerima pernyataan suka secara langsung dari Aiden. “Ayunan.” Runa berhenti di depan taman kecil yang berada tidak jauh dari gedung apartemen Aiden. Felix kadang-kadang akan membawanya ke sini dan mendorongkan ayunan untuknya. Namun sudah beberapa hari ini ia tidak main ayunan dan sekarang ia jadi sangat ingin naik ayunan dengan Aiden yang mendorongkannya. Namun saat ingat jika ini sudah cukup malam dan Aiden membawa seplastik es krim yang harus segera dimasukkan ke dalam freezer sebelum mencair, Runa menggelengkan kepalanya dan kembali melanjuktkan langkahnya untuk pulang ke apartemen Aiden. “Runa!” Runa menolehkan kepalanya ke belakang saat mendengar suara Aiden yang memanggil namanya. Namun Aiden tidak ada di belakangnya dan saat ia melihat lebih jauh, ia melebarkan kedua matanya karena mendapati pria itu telah berada di taman, di belakang ayunan yang sejak tadi dipandanginya. “Apa yang Tuan lakukan di sini?” Runa bertanya sambil berlari menghampiri Aiden. Gadis itu tidak pernah berolahraga, jadi berlari sedikit saja sudah membuat napasnya jadi ngos-ngosan. “Duduklah,” perintah Aiden sambil menunjuk ayunan dengan dagunya. “Aku? Duduk di ayunan ini?” tanya Runa yang mengulangi pertanyaan Aiden dengan nada tidak percaya. Tidak percaya jika pria itu bisa memahami keinginannya dan langsung mengabulkannya meski ia tidak mengatakan apapun tentang hal tersebut. “Tapi nanti es krimnya bisa cair.” “Sebentar saja tidak apa-apa,” kata Aiden. “Duduklah. Akan kudorongkan untukmu.” Runa yang berpikir jika Aiden melakukan hal ini untuk menunjukkan perasaan suka padanya tidak dapat menahan senyumannya. Jadi gadis itu buru-buru menghabiskan sisa es krimnya sebelum duduk di atas ayunan. “Tolong dorong yang kencang,” pinta Runa sambil kedua tangannya memegang tali ayunan. “Dorong sangat kencang sampai membuatku merasa seperti akan terbang.” “Kalau begitu kau harus berpegangan dengan erat.” Aiden berkata sambil meletakkan tangannya di atas tangan Runa yang membuat gadis itu menoleh dengan wajah terkejut padanya. “Kau bisa jatuh jika memegang talinya dengan lemah seperti ini. “Kalau begitu tidak perlu terlalu keras.” Runa berkata sambil memalingkan wajahnya dari Aiden. Ia merasa malu dengan apa yang kemudian ia ucapkan hingga membuat semburat merah muda muncul di kedua pipinya namun hal tersebut justru membuat Aiden jadi menggenggam tangannya yang memegang tali ayunan semakin erat. “Bahkan tidak didorongkan pun tidak apa-apa asalkan tangan Tuan mau terus berada di sana.” Aiden tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya. Tidak juga mendorongkan ayunan untuk Runa dan hanya berdiri diam di belakang gadis itu dengan tangannya yang masih berada di atas tangan Runa. Ikut menggenggam tali ayunan dengan tangan Runa yang berada dalam genggamannya. Padahal Aiden pikir untuk menghabiskan malam ini dengan bersama satu aatu dua wanita penghibur yang disewanya untuk melayaninya di rumah bordil. Namun ia justru berakhir di taman yang sepi ini bersama Runa tanpa melakukan apapun selain hanya terus menggenggam tali ayunan dengan tangan gadis itu yang berada dalam genggamannya. Namun entah mengapa, dengan hanya seperti ini saja Aiden merasa bahagia dan puas seolah ia tidak perlu apapun lagi di dunia ini. Seolah dirinya bisa bertahan dengan hanya terus berdiri sambil menggenggam tangan seperti ini. Dan itu membuat Aiden sadar sebesar apa dirinya menyukai Runa hingga hal seperti ini saja bisa membuatnya merasa sangat bahagia. Itulah mengapa kemudian ia membuka mulutnya dan memecah keheningan yang sempat tercipta di antara dirinya dan Runa. “Runa, apa kau ingin kubelikan sesuatu?” Runa menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap Aiden dengan kedua alisnya yang saling bertaut. “Beli apa?” “Apa saja. Kau ingin kubelikan makanan yang enak?” “Tapi Tuan sudah membelikanku banyak sekali es krim.” “Aku akan belikan yang lain. Kau ingin donat yang pakai meses warna-warni?” Runa mengulas senyuman dengan sepasang bibirnya dan saat ia merasa kesulitan mengendalikan senyumannya untuk tidak terus menjadi semakin lebar, ia menggigit bibir bawahnya dengan wajahnya yang tampak tersipu. Sekarang saat Aiden berkata ingin membelikan sesuatu untuknya Runa jadi berpikir jika pria itu sedang mencari cara untuk menunjukkan rasa sukanya. Dan itu membuat hati Runa terasa seperti mengembang sangat besar karena ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya disukai seseorang dan Aiden‒meski tidak pernah mengatakannya secara langsung‒telah berhasil melambungkan hatinya setiap kali pria itu mencoba menunjukkan perasaan sukanya. “Tuan tidak perlu membelikanku apa-apa lagi. Tapi apa Tuan bisa mengabulkan permintaanku?” tanya Runa. “Apa itu? Kau bisa minta apa saja padaku.” “Tanganmu...” Runa berkata sambil tanpa sadar mengeratkan genggamannya pada tali ayunan. “Tanganmu sangat besar dan hangat. Apa aku boleh menggenggamnya sekali-sekali karena itu rasanya sangat nyaman?” *** “Selamat pa‒ Wow~ Apa-apaan ini?” Runa ingin menarik tangannya dari genggaman Aiden saat tiba-tiba saja Felix masuk ke apartemen Aiden dan memergoki dirinya yang sedang bergandengan tangan dengan Aiden. Setelah memita izin untuk menggenggam tangan Aiden malam itu, Aiden jadi sering menggenggam tangannya. Meski dirinya yang pertama meminta hal tersebut, namun seperti ya Aiden yang lebih menginginkannya dan jadi sering sekali tiba-tiba menggenggam tangan Runa. Saat mereka tidur, saat mereka makan, atau saat mereka menonton tv seperti ini. Membuat Runa tidak tahu harus merasa senang karena Aiden benar-benar memenuhi keinginannya atau harus segera menghentikan ini sebelum pria itu menjadi semakin sering menggenggam tangannya tanpe mempedulikan tempat dan situasi seperti ini. “Jadi apa sekarang kalian ingin menunjukkannya dengan jelas jika kalian sudah benar-benar pacaran,uh?” tanya Felix sambil menatap Aiden dan Runa bergantian dengan tatapan curiga. “Pacaran apa? Memangnya bagaimana bisa aku pacaran dengan Tuan Aiden?” sanggah Runa, tidak sadar jika ucapannya tersebut membuat Aiden menoleh padanya dan menatapnya dengan pandangan yang menyiratkan kekecewaan. “Iya, benar. Bagaimana bisa anak manis sepertimu pacaran dengan pria berengsek seperti ini, uh? Dia ini hanya buaya tua yang pasti akan membuatmu menangis jika‒ Aw!” “Pergi sana! Buat laporan!” Aiden mengusir Felix setelah melempar kepala pria itu dengan kotak rokoknya. Membuat Felix memekik kesakitan karena entah mengapa meski yang Aiden lemparkan padanya hanyalah kotak rokok yang sudah kosong namun tetap terasa sangat menyakitkan. “Kau yang pergi sana! Jangan menggangguku karena aku akan buat laporan di sini!” Felix balas mengusir Aiden, namun tidak berani balas melemparkan kotak rokok padanya. Aiden punya pistol di dekatnya, jika ia membuat pria itu kesal bisa saja Aiden membalasnya dengan melemparkan pistolnya atau yang lebih menakutkan justru pria itu langsung menembakkan peluru padanya. “Memangnya Tuan tidak mau pergi bekerja?” Runa bertanya tanpa berani menatap Aiden. Gadis itu sebenarnya sangat malu karena ketahuan bergandengan tangan dengan Aiden oleh Felix dan Felix bicara sembarangan soal dirinya yang pacaran dengan Aiden. Namun Aiden yang terlanjur kecewa dengan ucapan Runa sebelumnya tentang bagaimana gadis itu menyangkal jika mereka pacaran jadi menganggap jika Runa mengusirnya. Itulah mengapa kemudian pria itu berjalan pergi tanpa mengatakan apapun lagi dan sengaja menabrak bahu Felix dengan keras saat dirinya melewati pria itu. “Dia itu kenapa lagi, sih? Harvie saja tidak semenyebalkan dia saat puber tapi kenapa kelakukannya menyebalkan sekali padahal dia sudah sangat tua begitu?” gerutu Felix yang berjalan masuk menghampiri Runa sambil mengusap-usap lengannya yang ditabrak Aiden. Tapi kemudian Felix memicingkan kedua matanya saat menatap Runa dan berkata, “Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk segera pergi, uh? Tapi mengapa sekarang kau justru berpacaran dengannya?” “Tidak pacaran, kok! Mana mungkin Tuan Aiden mau pacaran denganku?” Ucapan Runa memnbuat kedua mata Felix semakin memicing tajam padanya. “Jadi kalau dia mau pacaran denganmu kau juga akan mau dan menerimanya, uh?” Runa tidak menjawab, hanya mengulum senyumnya hingga membuat Felix gemas sekali sampai tidak tahan untuk tidak menjitak kepalanya. “Kau kan sudah lama tinggal bersamanya, kenapa sampau sekarang kau tidak juga menyadari jika dia itu berengsek, uh? Kau ini masih muda dan sangat cantik, dibandingkan pacaran dengan orang tua seperti Aiden aku lebih rela kau pacaran dengan Harvie saja sekalian.” “Kenapa tiba-tiba pacaran dengan Harvie? Dan Tuan Aiden itu tidak tua. Dia seumuran denganmu.” “Dia tetap tua! Pikirannya itu tua, berbeda denganku yang masih polos! Kalau pacaram dengannya artinya kau harus berpacaran dengan gaya orang dewasa.” “Tidak masalah. Aku juga sudah dewasa, tuh.” “Memangnya kau tahu apa artinya pacaran dewasa? Itu artinya kau harus melayaninya! Harus tidur dengannya dan memuaskan hasratnya. Kau harus melakukannya kapanpun dia ingin, memangnya kau siap, uh?” “Tidak, kok,” sanggah Runa. “Kami bergandengan tangan dan berpelukan seperti biasanya saja juga sudah bisa bahagia sekali.” Felix menghela napas panjang, antara merasa kasihan dan juga gemas karena Runa bisa sepolos ini. Dan seperti bagaimana sebelumnya Felix membuat Runa mengatakan sesuatu yang membuat Aiden jadi salah paham, kali ini pun pria itu kembali mengatakan sesuatu yang membuat Runa menjadi sangat dilemanya. “Jika kau hanya mengizinkannya memeluk dan menggenggam tanganmu, maka dia akan mencari wanita lain untuk memuaskan hasratnya. Runa, Aiden itu pria dewasa yang punay kehidupan seks yang aktiif yang tidak akan bisa dibayangkan oleh gadis sepolos dirimu. Menjadi pacarnya hanya akan memberimu 2 kemungkinan. Yang pertama kau harus masuk ke dunia orang dewasa bersamanya atau yang kedua kau tetap jadi sepolos ini tapi akan sering sangat hati karena Aiden pasti akan membutuhkan wanita lain untuk memuaskan hasratnya.” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN