“Tapi... Ini benar-benar hanya tubuh anak kecil.”
Runa berdiri di dalam kamar mandi, menatap pantulan dirinya yang tidak terbalut sehelai benang pun dengan kerutan di keningnya. Bahkan dirinya pun tidak puas dengan tubuhnya sendiri, bagaimana mungkin Aiden bisa menyukainya?
“Tapi memangnya kenapa jika dia tidak suka? Aku kan bukannya ingin memberikan tubuhku padanya!”
Runa menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikirannya yang rasanya sudah terbang terlalu jauh padahal dirinya dan Aiden baru sampai pada tahan bergandengan tangan saja.
“Tapi sebelumnya kami sudah sering tidur bersama sambil berpelukan,” gumam Runa. “Dan Tuan Aiden selalu membelikanku macam-macam barang karena dia menyukaiku. Bagaimana jika selanjutnya dia mengajak pacaran?”
Runa menatap pantulan wajahnya di cermin sambil berpikir seandainya nanti dirinya benar-benar berpacaran dengan Aiden. Itu pasti akan membuatnya sangat bahagia karena dirinya yang memang menyukai pria itu.
Namun saat teringat ucapan Felix, Runa sadar jika pacaran dengan Aiden itu bukan hanya tentang bergandengan tangan dan berpelukan. Bagaimana pun Aiden itu pria dewasa dan jika ia menjadi kekasih pria itu maka artinya‒
Brak!
Tubuh Runa terlonjak kaget saat mendengar bunyi bantingan pintu yang keras. Yang langsung menyadarkannya dari lamunannya yang sudah kembali membawanya terbang ke tempat yang seharusnya tidak dipikirkan oleh gadis belia yang masih polos seperti dirinya.
“Kau di dalam?”
Itu suara Aiden dan Runa dengan panik langsung memakai pakaiannya karena tidak ingin Aiden melihat tubuhnya yang sama sekali tidak ada seksi-seksinya ini. Padahal meski ia tidak buru-buru begitu Aiden juga tidak mungkin mendobrak pintu atau menerobos masuk saat dirinya ada di dalam kamar mandi.
“Aku akan segera keluar,” sahut Runa sambil berusaha meloloskan kepalanya dari lubang pakaiannya. Yang biasana selalu sangat mudah namun sekarang entah mengapa jadi sulit sekali saat ia melakukannya dengan terburu-buru.
“Tuan mau ke kamar mandi?” tanya Runa setelah keluar dari kamar mandi. Namun Aiden tidak menyahutinya dan hanya menyodorkan kantong plastik berukuran sedang berwarna merah muda dengan gambar kartun yang lucu padanya.
“Apa ini?” tanya Runa. Aiden masih tidak menyahutinya, namun memberi isyarat pada gadis itu untuk memeriksanya sendiri dengan menggunakan dagunya untuk menunjuk kantong plastik tersebut.
“Wah...” Dan kedua mata Runa langsung terbelalak lebar saat melihat isinya. “Woah~”
Runa membawa kantong plastik itu naik ke atas tempat tidurnya lalu mengeluarkan isinya di atas sana. Itu adalah hiasan rambut. Bukan hanya satu, tapi ada banyak sekali sampai membuat Runa bingung mau memegang yang mana lebih dulu karena semuanya terlihat sangat cantik.
Ikat rambut, jepit, bando, dan bandanya beraneka bentuk dan warna. Semua itu adalah benda-benda cantik yang tidak mungkin bisa ditolak pleh anak perempuan mana pun begitu juga dengan Runa yang tidak bisa berhenti tersenyum lebar saat melihat semua hiasan rambut yang Aiden belikan khusus untuk dirinya itu.
“Kau menyukainya?”
Pertanyaan Aiden menyadarkan Runa jika dirinya tidak sedang sendirian saja di sana. Gadis itu mendongakkan kepalanya untuk menatap Aiden yang saat ini sudah berdiri di hadapannya dan senyumannya jadi semakin lebar saat ia menganggukkan kepalanya pada pria itu.
“Suka sekali. Benar-benar sangat suka. Aku tidak punya ikat rambut yang secantik ini dan aku sudah menginginkannya sejak dulu,” sahut Runa.
Runa lalu menunjukkan sebuah ikat rambut dengan hiasan bandul berbentuk dua buah ceri berwarna merah pada Aiden. “Dulu ikat rambut yang ada hiasan bandulnya seperti ini sangat populer saat aku masih di sekolah dasar. Semua anak perempuan di kelasku memakainya untuk mengikat rambutnya kecuali aku. Tapi kemudian ada temanku yang baik dan memberiku satu miliknya walaupun akhirnya mamanya marah dan memintanya kembali karena katanya itu bukan ikat rambut sembarangan dan harganya sangat mahal.”
Runa masih tersenyum saat menceritakan kenangan masa kecilnya yang dulu membuatnya menangis saat mengalaminya itu. Ia kemudian menggenggam ikat rambut itu dengan erat di tangan kanannya sambil kembali menatap Aiden. “Terima kasih karena sekarang Tuan mau membelikanku semua ini dan mengabulkan mimpi masa kecilku. Andai aku bisa kembali ke masa saat aku masih kecil dan memberikan semua ini untuk diriku yang masih kecil, aku pasti akan merasa sangat bahagia.”
“Rupanya bukan hanya aku yang sering berpikir seperti itu,” gumam Aiden.
“Kenapa, Tuan?”
“Bukan apa-apa,” sahut Aiden. “Coba pakai itu. Aku ingin melihatnya.”
“Aku butuh cermin...” Runa bergumam sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar itu, namun saat sadar jika memang tidak ada cermin di sana Runa langsung beranjak dari atas tempat tidur. “Aku akan menggunakan cermin yang ada di kamar mandi.”
Sementara Runa berada di kamar mandi, Aiden membawa dirinya duduk di tepi tempat tidur Runa sambil melihat-lihat hiasan rambut yang ia beli untuk Runa. Sebenarnya ia sama sekali tidak berniat untuk membeli hiasan rambut, namun saat melihat beberapa orang gadis muda yang sepertinya seumuran dengan Runa berjalan melewatinya dengan mengenakan hiasan rambut, Aiden langsung mencari toko aksesoris untuk membelikan gadis itu beberapa hiasan rambut.
Ia hanya berpikir jika hiasan rambut akan sangat cocok untuk Runa karena rambut panjang gadis itu bahkan lebih indah dari gadis-gadis yang ia lihat sebelumnya. Dan ia sama sekali tidak menduga jika hal kecil yang ia lakukan ini‒memborong hiasan rambut untuk Runa yang jika Gfelix tahu nanti pasti akan mengomelinya karena pria itu membelinya secara asal di toko aksesoris mahal yang harga satu jepit kecilnya saja bisa sampai ratusan ribu‒bisa mewujudkan keinginan masa kecil Runa.
“Aku juga punya banyak keinginan di masa kecil yang tidak bisa kuwujudkan,” gumam Aiden. Ia mengambil sebuah jepit berbentuk es krim dan mengusapnya dengan hati-hati seolah takut merusak benda kecil itu dengan tangannya yang besar. “Dan itu membuatku senang jika aku bisa mewujudkan keinginanmu, Runa.”
“Tuan!”
Aiden mengangkat wajahnya saat mendengar seruan Runa. Gadis itu berdiri di hadapannya, tersenyum lebar sambil memamerkan rambutnya yang diikat sedikit di bagian tengah kepalanya dengan ikat rambut berbentuk ceri.
“Bagus?” tanya Runa yang dijawab dengan anggukan. “Cantik, kan?”
“Iya. Cantik sekali,” sahut Aiden yang membuat Runa tersenyum lebar. Tidak sadar yang Aiden puji cantik itu adalah dirinya, bukan ikat rambut yang sedang dipakainya.
“Aku mau pakai yang itu juga,” kata Runa sambil menunjuk jepit berbentuk es krim yang berada di tangan Aiden.
Aiden menyodorkan tangannya untuk memberikan jepit tersebut pada Runa. Namun bukannya menerima jepit tersebut, Runa justru membungkukkan tubuhnya di hadapan Runa.
“Tolong.” Runa berkata dengan suara berbisik. Sebenarnya merasa malu dengan apa yang sedang dilakukannya namun menahannya karena tidak ingin mundur begitu saja. “Aku capek jika harus pergi ke kamar mandi lagi hanya untuk memakai jepitnya.”
“Benar juga. Kau pasti akan capek jika bolak-balik hanya untuk memakai jepit,” gumam Aiden sambil memasangkan jepit di rambut Runa. Yang andaikan gadis itu tidak sedang membungkukkan tubuhnya sekarang, maka ia bisa melihat pemandangan langka di mana Aiden tanpa sadar membentuk senyuman kecil yang terlihat sangat manis di wajahnya saat jari-jarinya membelai pelan rambut panjang Runa yang terasa begitu lembut sebelum menyematkan jepit rambut berbentuk es krim di dekat ikatan rambutnya.
“Apa terlihat cantik?” tanya Runa.
“Iya. Cantik sekali,” sahut Aiden. Yang lagi-lagi maksudnya bukan untuk memuji jepit rambut yang tersemat di rambut gadis itu karena ia terlalu fokus menatap wajah Runa hingga tidak sempat melihat secantik apa jepit rambut yang ia belikan untuk gadis itu. “Apa karena itu juga kau tidak ingin menjadi pacarku?”
“Uhuk!” Runa tidak sedang makan atau minum, namun ucapan Aiden membuatnya tersedak ludahnya sendiri saking terkejutnya.
“Apa karena kau sangat cantik jadi kau tidak ingin berpacaran denganku?”
“Uhuk!” Runa kembali tersedak. Ia menggunakan kepalan tangannya untuk memukul-mukul dirinya sendiri, menyadarkan dirinya untuk tidak buru-buru menerbangkan hatinya terlalu tinggi karena tidak ingin dirinya terlalu cepat salah paham dengan apa yang Aiden katakan.
“Kau bilang kita tidak mungkin pacaran. Kenapa tidak mungkin? Apa karena kau sadar jika dirimu sangat cantik dan tidak cocok untuk pria sepertiku?”
Ucapan Aiden membuat Runa jadi lebih kaget dari sebelumnya, namun sudah tidak bisa tersedak lagi karena sekarang mulutnya sudah menganga saking tidak percayanya dengan apa yang baru saja didengarnya dari Aiden.
“Tapi...” Runa menyadarkan dirinya, masih tidak ingin membiarkan hatinya terbang terlalu tinggi karena khawatir jika dirinya yang masih polos dengan pola pikir anak-anaknya ini hanya salah paham dengan perkataan orang dewasa seperti Aiden. “Memangnya Tuan mau pacaran dengan wanita yang belum dewasa sepertiku?”
“Tentu saja mau. Memangnya kenapa? Kau mau tidak pacaran denganku?”
Sudah tidak bisa lagi. Runa benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan hatinya yang kini sudah terbang sangat-sangat tinggi melampaui langit ke tujuh hingga sampai ke tempat yang dipenuhi oleh warna merah muda.
Karena sekarang Runa sudah sangat yakin jika dirinya bukan lagi sekadar salah paham dengan apa yang Aiden ucapkan padanya. Karena pria itu mengucapkannya dengan sangat jelas keinginannya untuk berpacaran dengannya dan mengajaknya untuk berpacaran secara langsung.
**To Be Continued**