Kesalahpahaman

1948 Kata
“A-apa lagi ini?” Pagi ini, Felix kembali dibuat terkejut saat masuk ke dalam apartemen Aiden dan mendapati satu lagi benda luar biasa yang terlihat sangat tidak cocok dengan apartemen sempit Aiden. Itu adalah sebuah cermin. Bukan cermin biasa, namun cermin dinding mewah berukuran besar yang biasanya ada di hotel-hotel mewah. Sebuah cermin mewah yang jadi kelihatan menyedihkan karena digantung di dinding yang cat dindingnya sudah terkelupas di beberapa bagian. “Ini...  Kenapa bisa ada cermin yang sangat mewah begini di tempat bobrok seperti ini?” tanya Felix yang ada kedengkian tersirat di dalam pertanyaannya. Ia sudah sejak lama ingin beli cermin ini, namun merasa apartemennya‒yang sangat mewah dan berada di kawasan elite yang jauh berbeda dengan apartemen mewah Aiden‒masih tidak tidak cukup pantas untuk diisi dengan cermin semewah ini. Namun sekarang ia melihat cermin impiannya dipajang di dalam apartemen sempit milik Aiden. Tentu saja itu membuat Felix jadi sakit hati meski cermin tersebut tidak dibeli dengan uangnya. “Ini untuk menata rambut,” sahut Runa dengan posisinya yang masih berdiri di depan cermin, kelihatan sibuk menata rambut panjangnya. “Di kamar mandi kan ada cermin,” kata Felix yang masih tidak terima dengan fakta Aiden membelikan cermin mahal ini untuk Runa sementara dirinya tidak dibelikan apa-apa‒tiba-tiba lupa dengan fakta jika semua yang ia miliki mulai dari rumah mewah, mobil, rekening gendut, hingga semua yang kini melekat mulai dari ujung kepala hingga ujung kakinya berasal dari uang organisasi yang semuanya adalah milik Aiden. “Tapi di sini kan tidak ada cermin,” ujar Runa yang membuat Felix mendecakkan lidahnya. “Kau kan hanya perlu ke kamar mandi jika ingin bercermin.” “Tapi kan semua hiasan rambutku ada di sini,” kata Runa sambil menunjuk kantong plastik berisi hiasan rambutnya yang digantung di sebelah cermin. “Tuan, tolong ambilkan ikat rambut untukku.” “Sejak kapan kau punya ikat rambut sebanyak ini?” tanya Felix sambil memilih-milih ikat rambut sebelum menyodorkan yang sebuah ikat rambut dengan hiasan dua buah bunga daisy kecil pada Runa. “Coba pakai yang i‒” “Pakai yang ini saja!” Felix mengerjapkan kedua matanya, terlihat kaget saat Aiden yang sejak tadi sedang merokok di balkon kini sudah berdiri di depannya, menyodorkan sebuah ikat rambut pita berwarna merah pada Runa. “Oi, dia minta bantuanku untuk memilihkan‒” “Terima kasih, Tuan. Aku akan pakai yang ini.” Runa tidak menunggu sampai Felix menyelesaikan ucapannya untuk menyela dengan menerima ikat rambut dari tangan Aiden. Membuat Felix kembali mendecakkan lidahnya karena merasa dibuang begitu saja oleh Aiden setelah Aiden menghampirinya. “Tapi ikatan macam apa itu, uh?” Felix kembali bicara, kali ini sambil menunjuk rambut Runa yang ikatannya tidak kelihatan rapi karena gadis itu memang tidak terbiasa menata rambutnya yang hanya dibiarkan tumbuh panjang begitu saja tanpa pernah dimodel macam-macam. “Ini bagus, kok,” Runa berkata dengan wajah cemberut. Meski sebenarnya ia juga sadar jika ikatan rambutnya tidak rapi dan kelihatan jelek, ia tetap ingin bersikap tidak tahu diri karena ia tahu Aiden pasti akan memujinya. Itulah mengapa ia menolehkan kepalanya pada Aiden dan bertanya, “Tuan, ini cantik, kan?” “Tentu saja cantik sekali. Tidak usah pedulikan orang yang matanya rusak,” sahut Aiden yang membuat kedua mata Felix melotot padanya. Dan pelototan Felix jadi semakin besar saat ia melihat Runa menjulurkan lidah padanya. “Itu, itu!” Felix menunjuk wajah Runa yang membuat Aiden langsung menepisnya dengan kasar saat melihat hal tersebut membuat Runa mengerutkan keningnya. “Kau tidak sadar jika kau terlalu memanjakannya sampai membuatnya jadi kurang ajar begini?” “A-aku kurang ajar?” Runa bertanya dengan nada syok dan itu membuat Felix buru-buru meralat ucapannya sebelum Aiden yang sudah menatapnya dengan tajam menghajarnya karena berani menyebut wanita kesayangannya kurang ajar. “Maksudku jadi... Jadi tidak polos lagi seperti dulu. Kau membelikan Runa barang-barang yang tidak perlu, mulai dari tempat tidur besar, tv besar, dan sekarang cermin besar. Memangnya itu untuk apa, uh? Kau hanya memanjakannya dengan cara yang tidak berguna!” Felix berkata sambil menunjuk-nunjuk barang yang disebutkannya. Nada bicaranya terdengar begitu tersakiti seolah dirinya adalah seorang istri yang mengomeli suaminya karena membelikan barang-barang untuk wanita lain. “Mulutmu itu yang untuk apa bicara begitu!” Aiden berkata sambil mengulurkan tangan kanannya, membuat Felix buru-buru mengangkat kedua tangan untuk melindungi kepalanya. Namun karena tidak terjadi apa-apa setelah beberapa detik berlalu, Felix menjauhkan tangannya dari kepala dan mendapati Aiden yang rupanya mengambil kantong plastik berisi hiasan rambut milik Runa. “Itu mau diapakan?” tanya Runa saat melihat Aiden membawa kantong plastik tersebut keluar. “Tuan, aku suka semuanya! Jangan dibuang!” Runa berseru dari ambang pintu sementara Aiden sudah pergi dengan langkah-langkah lebarnya tanpa sedikit pun menoleh padanya. “Tuan!” Runa berbalik pada Felix, berseru dengan nada merajuk sambil menghentakkan kaki kanannya. “Tuan!” Dan bukannya menyesal karena menjadi perusak suasana, Felix justru meledek Runa dengan menirukan suara gadis itu sambil ikut-ikutan menghentakkan kakinya. Membuat Runa jadi cemberut semakin parah. “Oho, ekspresi cemberutmu itu luar biasa sekali, uh. Kau pasti menjalani hidupmu dengan sangat baik selama ini sampai berani menunjukkan wajah cemberut begitu pada orang lain,” kata Felix sambil mengacak-acak rambut di puncak kepala Runa. Membuat gadis itu memekik kesal sementara dirinya menanggapi hal tersebut dengan tertawa puas. “Itu bagus. Jangan hanya jadi gadis yang terlalu menurut dan menangis setiap ada yang menindasmu. Jika kau merasa kesal, tunjukkan saja wajah cemberut seperti itu. Kau juga harus bersikap menyebalkan. Setiap remaja itu harus melalui masa pubertas mereka dengan jadi menyebalkan. Itu tidak masalah asal kau tidak membawanya terus sampai dewasa seperti pacarmu itu.” “Tuan Aiden itu bukan pacarku!” “Itu bagus jika memang bukan. Tapi kenapa kau terdengar sekesal ini karena dia bukan pacarmu, uh?” “Aku tidak kesal! Memangnya siapa yang kesal?” Reaksi Runa membuat Felix tergelak sambil tangannya kembali mengacak rambut Runa. Rasanya benar-benar menyenangkan bisa menggoda gadis itu. “Itu benar. Jangan sampai berpacaran dengan pria seperti itu. Gadis manismu pantas mendapatkan pria yang jauh lebih baik.” *** “Aku sibuk sekali, lho. Aku tidak punya waktu untuk meladeni keanehanmu seperti ini.” “Memangnya kau sibuk apa? Kau hanya main dengan kelinci tadi.” “Itu dia! Aku sibuk main dengan anak-anakku!” “Kau ingin kuberitahukan pada mamamu jika kau bolos sekolah untuk main kelinci, uh?” Harvie menggembungkan kedua pipinya, tidak bisa lagi melawan Aiden saat pria itu dengan curangnya melibatkan mamanya untuk mengancamnya. Padahal ia sengaja bolos sekolah karena ingin main dengan anak-anak kelincinya, tapi dengan sialnya malah datang di saat yang bersamaan dengan Aiden yang datang dengan membawa kantong plastik berisi macam-macam hiasan rambut yang kini Aiden pakaikan padanya. “Sebenarnya apa sih yang mau kau lakukan?” keluh Harvie sambil tangannya terangkat untuk menyentuh rambutnya. Yang sebelum ia dapat menyentuh rambutnya sendiri Aiden sudah menepis tangannya untuk menjauh. “Jika kau ingin main kepang-kepangan kenapa tidak mengepang rambut Runa saja? Rambutnya kan panjang, pasti lebih enak dikepang dibangdingkan rambutku!” “Aku akan memberimu uang jajan jika kau duduk diam sekarang.” Harvie yang tahu bisa sebanyak apa uang jajan yang akan diterimanya jika menuruti keinginan Aiden itu langsung menegakkan duduknya dan memasrahkan rambutnya pada Aiden. “Siap, Tuan Ketua Mafia! Silakan lakukan apapun yang kau inginkan pada rambutku!” Bibi Lily yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Aiden dan Harvie dari balik meja kasir sambil mengipasi wajahnya dengan sebuah buku itu hanya bisa gelenge-geleng kepala sambil mengulum senyumnya. Meski selalu bertengkar setiap kali bertemu, namun jika akur begini mereka terlihat sangat manis. Aiden lahir sebagai anak tunggal yang besar tanpa memiliki teman atau saudara di sisinya. Ia telah mengenal Harvie sejak anak itu baru lahir ketika usianya 13 tahun dan meski kelihatannya selalu memperlakukan anak itu dengan kasar, namun Aiden telah banyak membantu dan melindungi keluarga Harvie. “Bibi~ Aku lapar~” Harvie yang semula duduk dengan tenang membiarkan Aiden belajar mengepang rambutnya langsung terlonjak kaget dan dengan refleks menyembunyikan dirinya di kolong meja saat mendengar suara Hana yang memasuki rumah makan tersebut untuk malan siang‒kebiasaan yang sangat tidak disukai oleh mama mereka karena Hana dan Harvie lebih suka minta makan pada Bibi Lily yang rumah makannya berada tepat di sebelah rumah mereka dibandingkan memakan makanan yang telah disiapkan di rumah. “Aku melihatmu!” “Aw!” Harvie memekik keras saat kaki Runa menendang punggungnya. Membuatnya tidak punya pilihan selain mengangkat tubuhnya untuk keluar karena Hana akan terus menendanginya jika ia tidak keluar dari kolong meja tersebut. “Kau bolos sekolah lagi, uh?” Hana bertanya sambil berkacak pinggang. “Aku tidak punya pilihan lain. Mama memotong uang jajanku karena Kakak mengadukanku saat bolos kemarin, karena itu aku harus mencari uang sendiri dengan membiarkan Paman ini mengepang rambut‒ Ah! Aw!” Harvie belum menyelesaikan ucapannya saat pukulan Runa yang bertubi-tubi membuatnya tidak bisa berhenti menjerit-jerit. “Sudah berapa kali kubilang jangan bekerja ada mafia, bodoh! Kau ingin jadi mafia juga, uh? Sudah tidak ingin jadi polisi lagi?” “Aku tidak akan jadi mafia hanya karena menyewakan rambutku untuk dikepang!” “Ini baru awalnya! Lama-lama kau pasti akan mau-mau saja jika direkrut jadi mafia!” “Tentu saja tidak mau! Aku kan mau jadi polisi, bukan jadi mafia! Aku hanya mau melakukannya karena dia berjanji akan memberiku uang 1 juta.” Ucapan Harvie membuat Aiden yang sejak tadi diam memperhatikan pertengkaran kakak-beradik itu mengangkat kedua alisnya. Ia sudah hampir protes saat Hana justru mendudukkan diri di hadapannya, di tempat yang sebelumnya diduduki oleh Harvie. “Rambutku saja,” kata Hana sambil menepuk-nepuk kepalanya sendiri. “Rambutku lebih panjang dan bagus untuk dikepang. Kusewakan rambutku yang panjang dan cantik ini 5 juta saja padamu. Silakan dikepang sesuka hatimu, Tuan Ketua Mafia.” “Kakak!” Harvie berseru tidak terima. “Kenapa sekarang malah kau yang bekerja pada mafia?” “Ssst! Pergi sana! Urus kelincimu saja!” usir Hana yang membuat Harvie pergi meninggalkannya sambil menggerutu. Mau melawan kakaknya sampai guling-gulingan di lantai pun ia tidak akan menang, jadi lebih baik langsung pergi saja daripada buang-buang energi. Toh nanti ia juga akan dapat uang jajan 1 juta dari Aiden‒meski hanya dirinya saja yang memutuskan jumlah itu tanpa meminta persetujuan Aiden sebelumnya. “Kepangan model apa ini? Jika bukan karena uang 5 juta aku pasti tidak akan mau dikepang seperti ini,” gerutu Hana sambil memperhatikan hasil kerja Aiden pada rambutnya melalui cermin kecil yang ia keluarkan dari dalam totebag-nya. “Apa itu tidak bagus?” tanya Aiden. “Aku menirunya dari video yang kulihat.” “Memangnya kau lihat video apa? Cara mengepang rambut untuk kostum alien, uh? Ini aneh sekali!” “Lalu bagaimana cara melakukannya yang benar?” “Memangnya kenapa kau ingin belajar mengepang rambut?” “Ajarkan saja bagaimana caranya. Aku akan memberimu uang jajan nanti.” “Siap, Tuan Ketua Mafia!” Aiden kembali mengepang rambut Hana setelah gadis itu mengajarinya cara yang benar dan itu membuatnya tanpa sadar melakukannya sambil tersenyum saat membayangkan jika nanti ia bisa mengepang rambut Runa dengan cantik. Iya, Aiden pergi ke tempat Bibi Lily dan belajar mengepang rambut seperti ini karena ia ingin bisa melakukannya untuk Runa agar Felix atau siapapun itu tidak akan mengejek hasil kepangan Runa lagi. Namun sayangnya, Runa yang sejak beberapa saat lalu telah berdiri di depan rumah makan Bibi Lily dan melihat Aiden mengepang rambut Hana sambil tersenyum itu tidak mengetahuinya. Itulah mengapa dengan nada yang sarat akan ecemburuan, gadis yang sudah salah paham itu bergumam pada dirinya sendiri. “Padahal baru semalam dia bertanya apa aku mau jadi pacarnya atau tidak. Rupanya dia benar-benar pria jahat seperti yang Tuan Felix katakan.” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN