“Lho? Mana Runa?”
Aiden yang sedang mengepang rambut Hana menghentikan kegiatannya saat mendengar pertanyaan Bibi Lily. Pria itu mengedarkan pandangannya di sekitar rumah makan itu sebelum kembali menatap Bibi Lily. “Dia tidak ada di sini.”
“Tadi ke sini, kan?” tanya Bibi Lily yang membuat Aiden menaikkan sebelah alisnya. Bibi Lily memiringkan kepalanya, kelihatan bingung saat bergumam pada dirinya sendiri sambil kembali berjalan ke dapur, “Tapi tadi aku seperti melihat gadis yang sangat mirip dengannya di depan. Apa aku salah lihat, ya?”
“Tapi...” Hana yang angkat bicara setelah Bibi Lily pergi itu membuat Aiden kembali menghadap padanya. Jari-jarinya kembali bergerak untuk mengepang rambut panjang gadis itu sambil menunggunya melanjutkan ucapannya.
“Memangnya kau serius suka pada Runa?” tanya Hana yang membuat Aiden mendengus kesal. Rasanya bosan mendengar pertanyaan seperti ini dari semua orang yang akhirnya hanya akan menyuruhnya berhenti untuk menyukai Runa padahal dirinya sama sekali tidak berniat untuk menghentikan perasaannya dan justru ingin bisa menikmatinya dalam waktu yang panjang.
“Kenapa? Apamenurutmu aku tidak pantas dan harusnya berhenti menyukainya, uh?” tebak Aiden. Namun Hana justru mengatakan sesuatu yang jauh berbeda dengan apa yang ia pikir akan gadis itu katakan seperti yang selalu ia dengar dari semua orang.
“Jika kau memang menyukai Runa, lalu kapan kau akan berhenti menjadi mafia?”
Gerakan tangan Aiden terhenti dan dengan nada bingung ia bertanya, “Memangnya kenapa aku harus berhenti jadi mafia?”
“Memangnya kau sama sekali tidak berniat untuk berhenti? Kau ingin jadi mafia seumur hidupmu?” tanya Hana sambil menepuk pelan Aiden, membuat pria itu ingat untuk meneruskan mengepang rambut Hana. “Tidakkah kau pikir jika itu terlalu berbahaya untuk menyukai seseorang saat kau bekerja sebagai ketua mafia seperti ini?”
“Kenapa anak kecil sepertimu harus mengkhawatirkan hal seperti ini?” tanya Aiden yang membuat Hana mencibirkan bibirnya. Padahal sekarang usianya sudah 23 tahun, namun Aiden terus saja menganggapnya sebagai gadis 5 tahun seperti saat pertama kali mereka bertemu 18 tahun yang lalu.
“Jika aku memutuskan untuk menyukai seseorang itu artinya aku akan melakukan apapun untuknya termasuk menjamin keselamatannya,” kata Aiden yang membuat Hana mendengus pelan seolah mengejeknya.
“Kau bahkan tidak pernah mengunci pintu rumahmu, bagaimana bisa kau menjamin keamanan Runa di apartemen tua itu saat kau meninggalkannya sendirian?”
“Puluhan anak buahku berkeliaran di tempat itu setiap hari sehingga itu menjadi lingkungan yang paling aman untuk Runa tinggali,” sahut Aiden.
“Tapi itu tetap saja berbahaya,” gerutu Hana yang merasa kesal karena Aiden menanggapinya sesantai ini padahal ia benar-benar khawatir karena gadis sepolos Runa harus terlibat dengan mafia berbahaya seperti Aiden.
“Kak, kau tahu kan kalau kau ini cinta pertamaku?” tanya Aiden.
“Kau tahu kan jika aku akan selalu menolakmu tidak peduli jadi seperti apa dirimu?”
“Aduh, sakit lho,” kata Hana sambil memegangi d**a kirinya. “Tapi sebenarnya meski kau menerimaku kita tidak akan pernah bisa bersama karena Mama akan sangat menentang hubungan apapun.”
“Itu bagus. Aku sudah menolakmu jadi mamamu tidak perlu melakukan apapun lagi untuk menolak hubungan kita.”
“Kak, ucapanmu itu jahat sekali, lho! Hatiku bisa terluka sungguhan nanti!” Hana menegur Aiden sambil mendecakkan lidahnya. “Kau tahu tidak kenapa mamaku tidak mau menerimamu sebagai menantunya?”
“Karena aku pria jahat yang berengsek.”
Ucapan Aiden membuat Hana menoleh pada pria itu. Dengan kening berkerut dan wajah yang tampak serius gadis itu bertanya, “Kakak serius menganggap keluarga kami bisa berpikiran seburuk itu pada Kakak setelah semua yang Kakak lakukan pada kami.”
“Kau sendiri juga selalu menyebutku berengsek,” kata Aiden sambil mengarahkan kepala Hana untuk kembali menghadap ke depan agar ia bisa melanjutkan mengepang rambut gadis itu.
“Itu bercanda, lho. Aku tidak pernah benar-benar menganggapmu begitu. Harvie, mama, dan papaku juga tidak pernah menganggapmu begitu. Kami sudah melihatmu sejak kau masih kecil dan tahu sebaik apa kau sebenarnya.”
Perkataan Hana membuat gerakan tangan Aiden kembali terhenti. Namun hanya sesaat karena kemudian pria itu kembali mengepang rambut Hana sambil berkata, “Aku sudah tidak sebaik anak kecil yang kalian kenal dulu. Aku sudah berubah jadi pria dewasa yang jahat sekarang.”
“Kau jadi seperti itu karena menjadi mafia. Jika kau memilih pekerjaan lain yang lebih manusiawi pasti kau tidak akan menjadi seperti ini.”
Apa yang Hana katakan jadi mengingatkan Aiden pada dirinya belasan tahun lalu yang melakukan pekerjaan apa saja untuk menghidupi dirinya sendiri setelah keluar dari rumah papanya. Saat itu ia masih sangat muda dan uangnya sangat sedikit, namun hidupnya terasa paling bahagia di masa itu karena ia bisa bernapas dengan lega tanpa perlu merasa tertekan dengan identitas putra seorang ketua mafia keji yang secara otomatis tersemat pada dirinya sejak dirinya dilahirkan ke dunia ini sebagai putra papanya.
“Itu kan bukan jenis pekerjaan yang bisa kupilih sesuka hatiku. Memangnya ada orang di dunia ini yang ingin terlahir sebagai mafia?” Aiden berkata sambil mengikat kepangan yang berhasil dibuatnya dengan ikat rambut berbentuk pita.
“Harvie,” sahut Hana. “Kau lupa jika Harvie sejak kecil sudah bercita-cita ingin jadi mafia karena menurutnya kau keren sekali? Baru beberapa tahun yang lalu dia mengubah cita-citanya jadi polisi hanya untuk mendebatmu saat kalian bertengkar.”
Aiden menyeringai kecil di sudut bibirnya saat memikirkan tentang betapa konyolnya Harvie ketika masih kecil dulu karena sangat ingin menjadi mafia sepertinya. Ya, meski sekarang pun pemuda itu masih tetap konyol walaupun cita-citanya sudah berubah ingin menjadi polisi yang bisa menangkap dan menghukum mafia.
“Mama melarangku berhubungan denganmu bukan karena kau orang jahat, namun karena pekerjaanmu sanhgat berbahaya. Kau jelas tidak akan mungkin menyakiti kami, tapi musuh-musuhmu bisa melakukannya. Dan Mama bilang, orang sepertimu akan sulit untuk memiliki seseorang yang bisa dicintainya dengan sepenuh hati sebab jika kau memilikinya, orang yang kau cintai akan menjadi kelemahan terbesarmu dan musuh-musuhmu pasti akan memanfaatkannya untuk mengalahkanmu.”
Sebenarnya tanpa perlu Hana menjelaskannya pun Aiden sudah sangat paham dengan hal tersebut. Karena dirinya lahir dari rahim seorang wanita yang sangat dicintai oleh seorang ketua mafia yang terkenal kejam, Aiden harus menanggung takdir yang pahit.
Demi melindungi wanita yang merupakan kelemahan terbesarnya karena ia memberikan hatinya pada wanita itu, mendiang Papa Aiden menyembunyikan wanita itu di tempat yang sangat tersembunyi. Bahkan saat dirinya lahir, ia hanya bisa menghabiskan 2 bulan bersama mamanya sebelum dibawa ke rumah utama dan dipercayakan pada Bibi Lily yang mengasuhnya hingga usianya 12 tahun.
Papanya adalah seorang ketua mafia yang hanya dengan mendengar namanya saja akan membuat musuh-musuhnya gemetar ketakutan, namun pria itu tetap sangat mengkhawatirkan wanitanya hingga terpaksa menyembunyikannya dari dunia termasuk pada putranya sendiri.
Dan itu menyadarkan Aiden tentang betapa pongahnya ia selama ini dengan membiarkan Runa berada sangat dekat dengannya tanpa perlindungan yang bisa menjamin keselamatan gadis itu.
“Aku tahu ini rasanya mustahil. Tapi seandainya... Ini seandainya saja, ya. Seandainya kau mau mengubah pekerjaanmu menjadi lebih normal, mungkin mamaku akan memberi restu untuk kita‒ Lho? Kak! Mau ke mana? Rambutku bagaimana? Sudah? Lalu bayaranku? Transfer 5 juta, ya!”
Aiden tidak mempedulikan ucapan Hana dan terus melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu sambil tangan kirinya menempelkan ponsel di telinga kirinya setelah menekan kontak untuk menghubungi seseorang.
“Bocah tengik ini...” Aiden mendesis pelan saat panggilannya terputus karena seseorang yang ia hubungi itu tidak mau menjawab panggilannya. “Berani sekali dia mengabaikanku seperti ini? Apa dia masih marah padaku setelah aku menguliti tato di dadanya?”
***
“Apa sih? Kenapa? Apa, hah?”
Harvie yang merasa risih karena sejak tadi Runa hanya diam saja dengan berjongkok di sebelahnya sambil terus menatapnya itu akhirnya tidak tahan untuk menegur gadis itu meski awalnya ia berniat untuk menganggap Runa sebagai makhluk tak kasat mata karena ia sedang tiak berminat untuk berdebat dengan gadis itu‒meski sebenarnya selama ini selalu dirinya yang memulai perdebatan dengan Runa.
“Kau mau apa? Mau kelinciku?” tanya Harvie sambil kedua tangannya memeluk ketiga kelincinya dengan erat. “Sudah kubilang tidak boleh, kan? Aku tidak akan meminjamkan kelinciku padamu, jadi kau pergi saja sana! Main di tempat lain. Hush hush!”
“Apa kau pernah berpikir‒”
“Tidak! Aku tidak pernah berpikir apapun! Jadi tidak usah bertanya apapun lagi padaku!” potong Harvie yang membuat Runa memicingkan kedua matanya. Heran karena bisa ada manusia menyebalkan seperti Harvie di dunia ini.
“Ini tentang kakakmu!” kata Runa. Yang awalnya berpikir jika itu akan berhasil menarik perhatian Harvie untuk menanggapinya dengan serius namun justru kembali dibuat kesal dengan apa yang kemudian pemuda itu ucapkan padanya.
“Apalagi tentang kakakku. Itu membuatku semakin tidak tertarik!”
Runa mendengus keras sebelum berkata, “Jadi tidak apa-apa jika kakakmu menikah dengan Tuan Aiden?”
“Itu bagus, sih. Itu sudah jadi cita-cita kakakku sejak umurnya 5 tahun,” sahut Harvie yang membuat Runa menatapnya tak percaya.
“Jadi tidak apa-apa jika kakakmu menikah dengan Tuan Aiden? Kau kan tidak suka padanya!”
“Siapa yang bilang?”
“Kau...” Runa menggantungkan kalimatnya dan jari telunjuknya yang terarah ke wajah Harvie perlahan turun saat ia bertanya, “Jadi kau tidak membencinya?”
“Kau itu sama sekali tidak tahu apa-apa soal orang itu tapi kenapa berani jatuh cinta padanya semudah ini, uh? Dasar gadis bodoh!” Ejekan Harvie membuat Runa cemberut. Namun apa yang kemudian pemuda itu katakan terdengar seperti sebuah harapan untuknya. “Dan dia tidak akan pernah menikah dengan kakakku. Mereka itu sudah jadi kakak-adik sejak dulu meski kakakku kadang jadi sangat bodoh dan malah menyukai kakaknya sendiri.”
“Jadi aku bisa, kan?”
“Bisa apa?” Harvie menatap Runa dengan kedua alis bertaut sementara gadis itu membalasnya dengan tatapan sok imut yang membuat Harvie menghela napas panjang.
“Bisa mati, uh? Kau ingin mati?” tanya Harvie yang membuat Runa kembali cemberut. “Sebenarnya aku tidak peduli kau mau bagaimana juga, tapi aku tidak ingin Kak Aiden mengulangi kesalahan yang sama dengan yang dilakukan oleh papanya dan membunuh wanita yang dicintainya sendiri.”
Kedua mata Runa membulat kaget. “Siapa yang membunuh siapa?” tanyanya penasaran.
“Papanya Kak Aiden,” sahut Harvie. “Dia sangat mencintai mamanya Kak Aiden sampai-sampai menyembunyikannya dari semua orang karena tidak ingin ada yang menyakitinya. Tapi entah kesalahan apa yang dilakukan wanita itu, dia membunuh wanita dengan tangannya sendiri dan membuat Kak Aiden balas dendam dengan membunuh papanya.”
Runa belum bisa menghilangkan keterkejutannya atas apa yang baru ia dengar dari Harvie saat pemuda itu menambahkan, “Orang-orang bilang Kak Aiden itu mirip sekali dengan papanya. Dia akan melakukan apa saja untuk wanita yang dicintainya, tapi saat wanita itu menyakiti hatinya maka dia tidak akan segan-segan membunuhnya. Jadi kau berhati-hatilah. Jatuh cinta pada pria seperti itu nyawa taruhannya.”
***
Brak!
“Ya Tuhan!”
Pria malang yang sedang ketiduran di atas meja belajarnya itu langsung tersentak bangun dan mengangkat kepalanya dari atas bukunya yang sudah terkena tetesan air liurnya begitu mendengar bunyi pintu yang ditutup dengan bantingan keras oleh Aiden yang kini sudah menghampirinya dengan langkah-langkah lebar.
“Aduh, orang ini lagi,” gerutu pria itu. Ia membalik halaman bukunya yang basah karena air liur lalu kembali meletakkan kepalanya yang terasa sangat berat itu di atas halaman buku yang kering.
“Hari sudah sesiang ini kenapa kau masih tidur, uh? Apa ini yang kau lakukan setiap hari? Untuk hal seperti inikah kau meninggalkan organisasi?” tanya Aiden setelah berdiri di sebelah pria itu‒yang sepertinya akan segera membanjiri bukunya dengan air liurnya lagi karena sekarang ia sudah kembali memejamkan kedua matanya dengan mulut terbuka.
“Aku belajar sepanjang malam dan sekarang aku akan istirahat sebentar sebelum belajar lagi,” sahut pria itu tanpa membuka matanya. “Kau pergi sana! Teman-teman satu asramaku bisa takut jika melihat pria menyeramkan sepertimu di sini.”
“Ada sebuah pekerjaan‒”
“Aku tidak mau bekerja padamu lagi.”
“Bukan padaku. Kau tidak akan bekerja padaku.”
“Aku tetap tidak tertarik! Aku seorang mahasiswa sekarang dan aku hanya mau fokus belajar tanpa melakukan pekerjaan apapun lagi.”
“Aku akan menggajimu dua kali lipat dari sebelumnya.”
“Aku tidak tertarik.”
“Lima kali lipat.”
“Tidak.”
“Sepuluh‒”
“No! Non! Nein! Kau ingin mendengarnya dalam bahasa apa la‒”
Krek.
Pria itu menghentikan ucapannya saat ia mendengar suara yang sangat tidak asing do telinganya. Ia lalu membuka kedua matanya dan dugaannya benar karena kini sudah ada sebuah pistol yang ditempelkan ke kepalanya.
“Aku tidak bisa mempercayai orang lain selain dirimu, Andrew. Aku tidak akan memaksamu untuk kembali ke organisasi, namun bekerjalah sebagai pengawal Runa karena aku tidak bisa mempercayakan gadisku pada orang lain selain padamu, Andrew.”
**To Be Continued**