“Ini masih sore, lho. Kenapa sore-sore begini kau sudah di rumah, uh?”
Sambil melepaskan sepatunya, Felix terus menggerutu pada Aiden yang sore ini sudah berbaring santai di atas tempat tidurnya sambil nonton TV‒kelihatan tidak cocok sekali untuk dirinya yang menonton kartun anak-anak itu sambil menikmati sebatang rokok.
“Kenapa kau tidak pergi beker‒ Lho?” Felix yang menyadari ada sesuatu yang janggal di sana menghentikan ucapannya sambil menunjuk Aiden yang masih menonton TV. “Jika kau ada di sana dan Runa di sini...” Felix menggantungkan kalimatnya untuk menunjuk Runa yang kini berdiri di sebelahnya untuk melepaskan sepatunya juga. Kemudian telunjuknya beralih ke pintu kamar mandi yang tertutup yang bunyi orang mandinya terdengar cukup keras. “Lalu siapa yang mandi di sana?”
Runa melongok ke arah kamar mandi dari balik lengan Felix dengan penasaran. Namun saat memalingkah wajahnya ke arah lain dan tatapannya bertemu dengan Aiden, gadis itu langsung memalingkan wajahnya lagi karena ia langsung teringat dengan apa yang Aiden lakukan bersama Hana tadi di rumah makan Bibi Lily.
Cklek.
Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka mengalihkan perhatian Felix dan Runa. Dan sepasang mata kedua orang itu sontak membesar saat melihat Andrew yang keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
“Kau!” Felix menunjuk wajah Andrew dengan kedua matanya yang melotot.
“Handukku!” Dan di saat yang bersamaan Runa menunjuk handuknya yang berada di tangan Andrew, membuat pria itu melangkah menghampirinya hingga Felix dengan kedua matanya yang melotot semakin besar langsung berdiri di depan Runa dengan kedua tangan terentang seolah ingin melindungi gadis itu.
“Mau apa kau? Aku tidak akan membiarkanmu mendekati dan menyakiti‒”
“Handukmu.” Andrew tidak menunggu sampai Felix menyelesaikan ucapannya untuk langsung menyelanya dengan bicara pada Runa sambil menyampirkan handuk milik gadis itu di atas kepala Felix.
“Dia juga pakai shampo dan sabunku,” bisik Runa saat mencium aroma shampo dan sabunnya yang beraroma manis dan khas gadis remaja itu dari tubuh Andrew.
“Bocah tengik ini!” Felix dengan gusar membuang handuk yang menutupi kepalanya, membuat Runa refleks memekik sambil memukul punggungnya karena ia membuang handuk milik gadis itu.
“Mau apa lagi pengkhianat sepertimu kembali ke sini, hah?” Felix berkata sambil kembali menunjuk Aiden yang saat ini sudah berdiri di depan lemari pakaian. Membut Runa kembali memekik sambil langsung membalikkan tubuhnya saat dengan santainya pria itu melepaskan celana dan kaosnya untuk diganti dengan pakaian milik Aiden.
“Bagaimana bisa semua pakaian yang ada di dalam lemari tetap bau rokok dan alkohol? Kau mencuci semuanya dengan deterjen, kan? Kau tidak hanya merendamnya dengan air saja, kan?” tanya Andrew.
“Tunggu, tunggu!” Felix yang masih tidak mengerti dengan situasi ini menghampiri Aiden sementara telunjuknya masih terus menunjuk Andrew. “Kenapa dia ada di sini? Memangnya dia akan bergabung dengan organisasi ini lagi?”
“Itu pertanyaan yang ingin kutanyakan,” kata Andrew sambil mengancingkan kemeja milik Aiden yang kini melekat di tubuhnya. Membuat Felix tidak bisa menahan ekspresi meringis di wajahnya saat melihat bekas luka berukuran cukup besar di d**a kiri Andrew karena ulah Aiden yang menguliti tatonya beberapa tahun lalu saat pria itu memutuskan untuk meninggalkan organisasi. “Bos, kenapa kau masih membiarkannya hidup setelah semua yang dia lakukan pada organisasi, uh?”
“Lalu menurutmu organisasi ini bisa terus berjalan tanpa diriku, uh?” Felix membalas ucapan Andrew dengan sengit. Ia kemudian kembali menatap Aiden yang sejak tadi hanya diam saja sambil kembali bertanya, “Oi, kenapa dia ada di sini? Dia akan bekerja untukmu lagi?”
“Dia akan bekerja untuk Runa,” sahut Aiden yang membuat Runa mengerjapkan kedua matanya bingung karena tiba-tiba saja namanya di sebut.
“Perkenalkan, Nona Kecil. Namaku Andrew,” kata Andrew yang membuat perhatian Runa kembali teralih padanya. Dan apa yang kemudian pria itu katakan berhasil membuat kedua mata Felix kembali melotot dengan lebar padanya. “Kuharap kita bisa akur karena mulai sekarang aku akan terus mendampingimu sebagai pengawal pribadimu.”
***
“Pengawal pribadi apanya, hah? Bagaimana bisa kau memutuskannya begitu saja tanpa merundingkannya denganku terlebih dahulu?”
Felix yang tidak terima dengan keputusan Aiden untuk menjadikan Andrew sebagai pengawal pribadi Runa langsung menunjukkan protesnya sementara Andrew yang sama sekali tidak mempedulikannya sedang sibuk sendiri mencari sesuatu di dalam lemari Aiden.
“Aku tidak bisa selalu menjaga Runa, itulah mengapa aku memberinya pengawal pribadi,” sahut Aiden.
“Lalu aku apa? Aku yang selalu menjaganya setiap kali kau tidak bersamanya!” protes Felix.
“Kau kelihatannya akan kabur menyelamatkan dirimu sendiri jika ada musuh yang datang untuk menyerang Runa,” kata Aiden yang membuat Felix melotot tak terima padanya.
“Bagaimana bisa kau berpikir seburuk itu tentang‒ Oi! Apa yang kau lakukan?”
Padahal Felix belum selesai menyangkal ucapan Aiden, namun kini ia sudah menyanggah ucapannya sendiri dengan menarik tubuh Runa untuk dijadikan sebagai tameng saat tiba-tiba saja Aiden menodongkan pistol padanya. Membuat Runa yang kini dihadapkan dengan pistol yang tertodong ke kepalanya hanya bisa mengerjapkan kedua matanya bingung.
“Nah, lihat kan. Itulah mengapa kau tidak bisa dipercaya untuk menjaganya,” kata Andrew dengan diiringi seringaian mengejek di sudut bibirnya. “Bos, aku ambil pistol yang ini.”
“Kalian berdua bisa pergi sekarang,” usir Aiden. “Ada yang harus kulakukan dengan Runa,” tambahnya yang membuat Felix bereaksi dengan memelototkan kedua matanya sementara Andrew menyeringai dengan wajah nakal karena keduanya memikirkan hal jorok yang sama sementara Runa jadi cemberut saat berpikir jika Aiden akan menekannya lagi soal permbicaraan menjadi pacar karena semalam ia tidak memberi jawaban apapun pada pria itu dan berpura-pura ingin tidur karena terlalu bingung dengan keputusan macam apa yang akan diberikannya pada Aiden.
“Aku tidak mau pergi! Kau kelihatan berbahaya sekarang,” tolak Felix yang membuat Andrew langsung merangkul lehernya dari belakang dan menyeretnya keluar. “Oi! Kau mau apa? Lepaskan aku!”
“Kau tidak pernah berubah, uh? Masih saja sangat berisik dan suka ikut campur!” ejek Andrew.
“Kau juga tidak berubah, tuh! Masih saja kasar dan tidak tahu malu‒ Lho?” Felix membuka mulutnya bingung saat melihat Andrew membuka pintu apartemen yang berada tepat di sebelah unit apartemen milik Aiden. “Kenapa kau masuk ke sana?”
“Tentu saja karena ini rumahku sekarang. Pergi sana! Aku muak melihat wajahmu!”
Brak!
Tubuh Felix berjengit kaget saat Andrew menutup pintunya dengan bantingan keras.
“Dia itu...” Felix berkata sambil menunjuk pintu apartemen Andrew yang sudah tertutup rapat. “Tidak ada gunanya dia pergi kuliah. Jiwa mafianya itu sudah mendarah daging dan tidak akan bisa diubah! Sia-sia saja dia menguliti tatonya jika dia tetapsebarbar i‒ Apa?!”
Felix yang panik karena khawatir Andrew mendengar gerutuannya langsungberseru keras saat tiba-tiba pria itu kembali membuka pintu apartemennya.
“Aku lapar. Belikan aku makan!” pinta Andrew seraya berjalan meninggalkan apartemennya dengan Felix yang mengekor di belakangnya sambil melotot padanya.
“Kenapa aku harus membelikanmu makanan? Memangnya kau siapa?”
“Aku pengawal pribadinya Runa dan sekarang aku meminta hakku pada penanggungjawab keuangan bosku. Jadi cepat belikan aku makanan sekarang karena aku akan berubah jadi mengerikan jika sedang lapar.”
“Oho! Memangnya kau tidak sadar jika dirimu memang selalu mengerikan sepanjang waktu?”
“Kau ingin mengujiku, ya? Ingin melihatku berubah jadi mengerikan sekarang?”
“Eii! Jangan dekat-dekat! Aku tidak mau merusak citra baikku karena berjalan dengan mafia sepertimu!” Felix melangkah cepat mendahului Andrew agar langkahnya tetap jauh dari pria itu. Kemudian dengan suara berbisik yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri, ia bergumam, “Kenapa juga dia kembali ke sini saat dirinya sudah terbebas dari Aiden dan organisasi? Dasar anak bodoh!”
***
“Aku tidak mau!”
Runa memalingkan wajahnya dari semua hiasan rambut yang Aiden keluarkan dari dalam kantong plastik dan diletakkan di atas kasur.
“Aku tidak mau mengikat rambutku lagi. Atau pakai jepit. Atau bando. Pokoknya mulai sekarang aku hanya akan terus mengurai rambutku tanpa menghiasinya dengan apapun!”
Aiden menatap Runa dengan sebelah alis terangkat. Merasa heran mengapa sejak pulang tadi Runa selalu bersikap ketus padanya hingga menerbitkan sebuah kecurigaan di benaknya. “Apa Felix mengatakan sesuatu yang buruk padamu?”
“Tidak, tuh! Memangnya kenapa?”
“Lalu kenapa kau jadi ketus begini? Tidak apa-apa, bilang saja padaku jika mulutnya Felix bicara sembarangan yang membuatmu jadi kesal padaku seperti ini.”
“Aku kesalnya bukan karena Tuan Felix yang bicara sembarangan tentangmu!”
“Jadi kau memang benar-benar sedang kesal padaku?”
Pertanyaan Aiden membuat Runa tergagap. Namun kemudian gadis itu memilih untuk memalingkan wajahnya sambil mendengus sebelum berkata, “Pokoknya aku tidak mau pakai semua hiasan rambut itu lagi! Berikan saja semuanya pada Kak Hana!”
Aiden kembali menaikkan sebelah alisnya saat bertanya, “Kenapa tiba-tiba jadi diberikan pada Hana?”
“Tidak apa-apa, berikan saja semuanya pada Kak Hana,” sahut Runa. “Dia kelihatan cantik sekali kan saat Tuan menata rambutnya dengan semua hiasan rambut ini tadi?”
“Bagaimana kau bisa tahu? Kau benar-benar pergi ke rumah makan Bibi Lily tadi?”
Runa mengangkat kedua bahunya, pura-pura tidak peduli dengan pertanyaan Aiden dan terus mengarahkan tatapannya ke layar TV padahal sebenarnya hatinya sudah terasa bergemuruh oleh rasa cemburu.
“Ya sudah. Kalau begitu aku akan memberikan semuanya pada Hana saja,” kata Aiden yang membuat Runa berbalik padanya dengan kedua mata gadis itu yang menatapnya tak percaya. Sampai kemudian apa yang Aiden ucapkan lagi membuatnya jadi bingung. “Padahal dia sudah mengajariku caranya menata rambut dan sekarang aku sudah pandai melakukannya.”
“Mengajari Tuan? Kak Hana?” tanya Runa masih dengan nada tak percaya sementara Aiden sudah menganggukkan kepalanya. “Memangnya untuk apa Tuan belajar menata rambut?”
“Untuk menata rambutmu,” sahut Aiden. “Aku minta tolong Hana mengajariku karena kau bilang tidak tahu caranya menata rambut dan aku tidak senang mendengat Felix mengejek rambutmu seperti tadi pagi. Karena itu...” Aiden memberi jeda sebelum menatap hiasan rambut milik Runa. “Tapi Hana pasti senang jika kuberikan semua ini pada‒”
“Tidak, tidak!” Runa buru-buru menyela ucapan Aiden sambil mencegah tangan pria itu untuk mengambil hiasan rambutnya. Sekarang setelah semua kesalahpahamannya pada Aiden terjawab ia tidak lagi memiliki sedikit pun rasa cemburu hingga membuat ekspresi cemberut yang sejak tadi menghiasi wajahnya langsung menghilang digantikan oleh senyuman lebarnya saat ia menyodorkan sebuah ikat rambut berbentuk pita pada Aiden.
“Kalau begitu, apa Tuan mau menunjukkan sepandai apa Tuan menata rambut dengan mengikatkan rambutku sekarang?”
**To Be Continued**