Perasaan Yang Berbeda?

1605 Kata
“Ah, iya. Aku bahkan tidak punya air putih di sini.” Andrew baru kembali ke rumah barunya yang sekarang berada tepat di sebelah unit apartemen Aiden setelah Felix mentraktirnya‒dengan uang Aiden tentunya‒makan. Dan kini ia kembali keluar meninggalkan apartemennya untuk minta air pada Aiden. “Bos, a‒ Oh...” Andrew langsung membungkam mulutnya dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam apartemen Aiden dan buru-buru kembali merapatkan pintunya saat melihat bagaimana dua orang penghuni apartemen tersebut sedang menikmati momen yang terlihat sangat romantis. Iya, kelihatan sangat romantis sampai Andrew tidak percaya hingga akhirnya memutuskan untuk kembali membuka sedikit pintu tersebut untuk memastikan apa yang dilihatnya tadi. Andrew mengerjapkan kedua matanya. Sekali. Dua kali. Namun pemandangan di dalam apartemen itu masih tidak berubah. Masih Runa yang duduk bersila di lantai dengan mendongakkan kepalanya menatap layar TV yang menampilkan film kartun yang membuatnya tertawa sementara di belakangnya Aiden yang duduk bersila di atas tempat tidur sedang mengepang rambutnya. “Oh?” Andrew mengerjapkan kedua matanya, kali ini terlihat terkejut saat Aiden mengusirnya dengan menggerak-gerakkan tangan kirinya tanpa menatapnya. Membuat Andrew buru-buru menutup pintu dengan hati-hati dengan mulutnya yang masih terbuka. “Itu...” Andrew memiringkan kepalanya, kelihatan sangat bingung karena apa yang dilihatnya benar-benar sangat sulit untuk bisa ia percaya. “Bagaimana bisa Bos jadi selembut itu saat mengepang rambut Runa? Padahal dia selalu menjambak rambut wanita dengan keras hingga membuat semua wanita penghibur di rumah bordil Madam jadi trauma pada jambakannya.” “Ah!” Sementara itu, Runa yang sebelumnya sedang tertawa karena film kartun yang ditontonnya itu memekik pelan saat rambutnya yang tidak sengaja tertarik oleh Aiden membuatnya merasa sakit. Membuat tangan Aiden otomatis menghentikan gerakannya dengan ekspresi cemas yang langsung menghiasi wajahnya. “Apa aku menyakitimu?” tanya Aiden. “Tadi tertarik. Tolong lebih pelan,” pinta Runa. Ia lalu mengambil ponselnya dan dengan menggunakan kamera depannya ia melihat hasil kerja Aiden pada rambutnya. “Tuan benar-benar baru belajar mengepang rambut hari ini? Bagaimana ini bisa kelihatan sangat cantik saat Tuan baru mempelajarinya?” “Kau suka?” tanya Aiden yang tidak sadar jika Runa diam-diam menekan tombol potret di ponselnya. Memotret dirinya bersama Aiden yang sedang serius menggeluti rambutnya sebelum mengambil lebih banyak foto yang hanya menunjukkan wajah pria itu. “Iya. Aku suka sekali,” jawab Runa sambil buru-buru menurunkan ponselnya saat melihat Aiden mengangkat wajahnya‒yang untungnya ia sempat menekan tombol untuk memotret hingga kini ia memiliki satu foto Aiden yang kedua matanya menatap langsung ke arah kamera. “Tuan, tolong ajari aku caranya mengepang seperti ini.” “Tidak mau,” tolak Aiden yang membuat kedua alis Runa saling bertautan. Biasanya Aiden tidak pernah menolak permintaannya, jadi mendengar pria itu langsung menolaknya seperti ini membuat Runa jadi agak sedih. “Kenapa tidak mau? Aku kan juga ingin bisa mengepang rambutku sendiri,” kata Runa dengan nada merajuk. “Memangnya untuk apa lagi kau belajar mengepang jika aku sudah pandai melakukannya?” tanya Aiden yang membuat Runa menolehkan kepalanya untuk menatap Aiden. Kepala Aiden tertunduk, menatapnya dengan kedua matanya yang meski terlihat tajam namun terasa begitu lembut dan hangat. “Jika kau pandai mengepang kau pasti tidak akan mau minta bantuanku untuk mengepang rambutmu lagi nanti.” Runa mengerjapkan kedua matanya, berusaha untuk tetap terlihat tenang meski ucapan Aiden berhasil memompa hatinya jadi sangat besar hingga rasanya bisa terbang sangat tinggi jika ia tidak memeganginya dengan kuat. “Jadi Tuan mau mengepang rambutku setiap hari?” “Tentu saja.” Dan Aiden langsung menjawabnya tanpa perlu waktu untuk berpikir. “Ini sudah menjadi kesenanganku mulai sekarang, karena itu jangan pernah berpikir untuk belajar mengepang rambut lalu merebut kesenanganku!” Runa langsung memalingkan wajahnya dari Aiden sebelum pria itu sempat melihat sepasang bibirnya yang tertarik sangat lebar tanpa bisa ia cegah. Dengan kedua tangannya Runa menutupi mulutnya saat sadar jika ia tidak bisa menghentikan dirinya untuk terus tersenyum. “Kalau begitu aku tidak akan belajar mengepang,” ujar Runa masih sambil menutupi mulutnya yang tidak mau berhenti tersenyum dan membuat kedua pipinya jadi merona hebat. “Aku akan membiarkan Tuan bersenang-senang dengan mengepang rambutku setiap hari.” Runa terlalu sibuk berusaha menenangkan dirinya yang tidak mau berhenti tersipu hingga tidak menyadari jika di belakangnya, Aiden juga tidak bisa menahan bibirnya untuk membentuk senyuman sementara tangannya masih terus sibuk mengepang rambut Runa. “Jadi kau benar-benar ke rumah makan Bibi Lily tadi? Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Aiden yang membuat Runa jadi agak malu karena diingatkan lagi tentang kesalahpahamannya terhadap Aiden yang membuatnya jadi mencemburui Hana. Jadi untuk menutupi rasa malunya Runa menjawab, “Aku pergi untuk menengok kelimci-kelincinya Harvie. Mereka jadi gemuk dengan cepat karena makannya banyak sekali.” “Kau menyukainya?” “Iya. Aku suka sekali. Kelinci-kelinci itu memang sangat menggemaskan.” Aiden tidak berkata apa-apa lagi dan fokus mengikat kepangan di rambut Runa sebelum menyematkan sebuah jepit berbentuk bunga untuk mempercantik kepangan rambut Runa‒yang benar-benar terlihat cantik hingga rasanya tidak akan ada yang percaya jika rambut secantik itu ditata oleh tangan kasar seorang mafia yang terbiasa melakukan hal-hal kejam. “Ayo pergi,” kata Aiden yang membuat Runa menoleh padanya sambil mendongak karena pria itu bicara seraya bangkit dari duduknya. “Pergi ke mana? Ini masih terlalu awal untuk makan malam,” ujar Runa yang masih bisa melihat langit yang bersinar cerah melalui pintu balkon yang terbuka. “Kita akan pergi beli sesuatu yang kau sukai,” sahut Aiden tanpa menjelaskan lebih jauh tentang apa yang akan dibelikannya untuk Runa. *** Dan Runa dibuat geleng-geleng kepala setelah sampai di tempat yang menjadi tujuannya dan Aiden. Membuatnya menyesal karena tidak berhati-hati dengan ucapannya hingga membuat Aiden nyaris membelikan satu peternakan kelinci untuknya. Iya, benar. Bukan satu atau dua ekor, namun Aiden berniat untuk membelikan satu peternakan yang berisi ratusan kelinci untuk Runa. “Tuan, kau serius ingin membelikan semua ini untukku?” tanya Runa yang berpikir jika ia akan tertawa jika Aiden hanya sedang bercanda padanya daripada harus menangis kebingungan karena tidak tahu bagaimana caranya mengurus ratusan kelinci di tempat ini jika Aiden benar-benar serius ingin membelikan peternakan kelinci ini untuknya. Namun tentu saja, Aiden itu bukan jenis pria humoris yang bisa bercanda seperti itu. Ia sangat serius dengan ucapannya tentang membelikan seluruh peternakan kelinci ini untuk Runa. “Aku membelikan semuanya untukmu. Jadi kau bisa menamai semua kelinci ini sesukamu karena semuanya adalah milikmu.” Runa mendengus pelan, merasa Aiden konyol sekali karena menyuruhnya memikirkan nama untuk ratusan kelinci yang ada di tempat ini. Yang semuanya jadi terasa semakin konyol karena pria itu memang tidak sedang bercanda dengan ucapannya. “Tuan, kau kan bisa membelikanku satu atau dua ekor saja. Kenapa harus membelikan satu peternakan ini untukku?” “Kelinci itu cepat mati. Kau akan sedih jika kelincinya mati. Tapi jika kelincinya ada sebanyak ini, kau pasti tidak akn menyadarinya jika ada satu atau dua ekor kelinci yang mati.” Runa menggigit bibir bawahnya, namun tetap tak kuasa untuk menahan kekehannya karena ucapan Aiden yang benar-benar terasa sangat menggelikan baginya. “Terima kasih, Tuan,” kata Runa. “Kau mau menerima peternakan kelinci yang kuberikan untukmu ini?” Runa kembali terkekeh, kali ini sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak akan menerimanya. Kau tidak perlu membelikanku peternakan kelinci seperti ini karena aku tidak membutuhkannya.” Ucapan Runa yang berisi penolakan itu membuat Aiden menatapnya dengan kerutan yang menghiasi dahinya. “Lalu kenapa kau berterima kasih?” “Terima kasih karena telah menyukaiku sebanyak ini. Jika Tuan ingin membelikanku peternakan yang sangat besar ini untuk menunjukkan rasa suka Tuan padaku, Tuan pasti sangat menyukaiku, kan?” “Peternakan ini tidak cukup besar,” kata Aiden. “Jika kau ingin melihatnya, aku bisa memberikanmu hal lain yang lebih besar‒” “Tidak, tidak usah.” Runa kembali terkekeh sambil menyela ucapan Aiden. Padahal peternakan ini sudah terasa sangat berlebihan baginya, Runa tidak berani membayangkan hal lain yang lebih besar yang akan Aiden berikan padanya untuk menunjukkan perasaannya. “Aku sudah bisa merasakan sebesar apa kasih sayang Tuan padaku melalui cara Tuan memelukku.” “Memangnya bagaimana rasanya saat aku memelukmu?” “Rasanya seperti memiliki seluruh dunia. Seperti aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun karena aku sudah memiliki Tuan yang memelukku.” Aiden menatap kedua mata Runa dan ketulusan yang ia lihat di kedua mata bulat itu benar-benar sampai ke hatinya hingga membuatnya seolah mendapatkan pelukan yang hangat hanya karena tatapan itu. Aiden tidak mengatakan apapun saat melangkah maju dan menarik tubuh Runa ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh gadis itu dengan lembut dengan kedua tangan Runa yang membalas pelukannya tak kalah lembut. Tanpa kata apapun, dengan saling berpelukan seperti ini, Aiden bisa merasakan bagaimana dirinya dan Runa sudah saling mencintai. Dan pemikiran itu membuatnya merangkai kata-kata untuk kembali diucapkan pada Runa tentang bagaimana ia menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya sebagaimana yang telah ia lakukan semalam dan belum mendapat jawaban dari Runa hingga saat ini. Namun sebelum dirinya sempat bersuara, Runa mendahuluinya. Mengatakan sesuatu yang membuat Aiden meragukan perasaan mereka karena sepertinya yang Runa rasakan bukanlah cinta yang sama seperti yang ia rasakan untuk gadis itu. “Tuan, terima kasih karena telah sangat baik padaku. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang seperti ini sebelumnya dan memiliki Tuan di sisiku membuatku bisa merasakan kasih sayang yang tidak pernah kudapatkan dari orang tuaku sebelumnya.” Aiden masih memeluk tubuh Runa, namun kepalanya tiba-tiba terasa pening saat ia memikirkan tentang sebuah kemungkinan yang selama ini tidak pernah ia duga sebelumnya. Karena meski dirinya menyayangi Runa karena menganggap gadis itu sebagai seorang wanita, mungkinkah Runa menyanyanginya karena menganggapnya sebagai pengganti orang tua yang selama ini tidak pernah memberikan kasih sayang padanya?” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN