Pekerjaan Mafia

1590 Kata
“Wah~ Cantiknya.” Runa berseru riang saat melihat langit malam yang dihiasi jutaan bintang. Ia lalu menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah Aiden yang seperti biasa selalu melangkah beberapa meter di belakangnya, dan menunjuk langit sambil tersenyum pada pria itu. “Tuan, lihatlah langitnya cantik sekali malam ini.” Aiden tidak peduli bisa terlihat secantik apa langit malam ini. Ia bahkan tidak mau membuang waktu untuk sekadar meliriknya karena seluruh perhatiannya tertuju pada Runa yang kini berjalan di hadapannya sambil bersenandung pelan sementara di balik wajah datarnya yang dihiasi tato itu Aiden sibuk memikirkan tentang bagaimana sebenarnya statusnya di hati Runa. Bukan sebagai kekasih, tapi sebagai orang tua. Jika Runa benar-benar menganggap dirinya yang selalu melindungi dan memanjakan gadis itu sebagai pengganti orang tuanya, Aiden rasanya tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk gadis itu. Rasanya sangat kesal, tapi juga berdosa pada Runa karena telah menganggap gadis itu sebagai wanita yang disukainya sementara selama ini Runa dengan polosnya hanya menganggap dirinya sebagai orang tuanya. Orang tua. Bukan teman atau saudara, tapi orang tua. Apakah ada pria lain yang lebih menyedihkan darinya yang dianggap orang tua oleh gadis yang disukainya? “Kalau jam sekarang ini sudah tidak ada kartun yang tayang di TV lagi. Kita mau nonton apa ya untuk‒ Kyaa!” Andrew yang berdiri di hadapan Runa mengerutkan wajahnya dengan ekspresi yang merasa terganggu saat tiba-tiba saja gadis itu berteriak keras begitu berbalik menghadapnya. “Tuan?” Runa melongok ke balik punggung Andrew, namun tidak menemukan Aiden di sana. Ia membuka pintu apartemen yang tidak pernah dikunci itu dan melihat ke dalamnya yang tentu saja tidak ada Aiden di sana sebelum kembali menatap Andrew. “Di mana Tuan Aiden? Sejak kapan Tuan ada di sini? Tadi aku perginya benar dengan Tuan Aiden, kan? Aku tidak sedang berkhayal dan justru berjalan denganmu sejak tadi, kan?” “Kau ini bicara apa sih?” Andrew melewati tubuh Runa dan masuk ke dalam apartemen Aiden untuk mengambil air minum. “Bagaimana bisa kau tidak sadar dan jadi sekaget ini padahal aku sudah berjalan di belakangmu sejak tadi.” “Sejak tadi? Sejak kapan? Aku masih berjalan dengan Tuan Aiden saat melewati jembatan tadi,” kata Runa sambil mengekor di belakang Andrew. “Pokoknya sudah sejak tadi. Sudah jangan banyak tanya lagi, tidur saja sana! Aku akan kembali ke kamarku,” ujar Andrew yang kesal pada Aiden karena mengganggu waktunya bersantai. Tadi itu Andrew sedang bersantai main ayunan di taman yang berada tidak jauh dari gedung apartemen barunya sambil menikmati es krim yang ia temukan di dalam lemari pendingin milik Aiden saat ia melihat Runa berjalan melewati taman dengan Aiden yang mengekor di belakangnya. Runa tidak sadar dengan keberadaannya di taman tersebut, namun Aiden yang melihatnya sedang menganggur di taman sepertinya jadi dengki sekali hingga mengganggunya dan memberinya tugas pertama sebagai pengawal pribadi Runa untuk menjaga gadis itu sementara dirinya pergi entah ke mana tanpa lebih dulu berpamitan pada Runa hingga membuat gadis malang itu terus mengajak Andrew bicara di sepanjang jalan karena berpikir jika itu Aiden yang masih terus mengikutinya. “Ini masih jam berapa? Kenapa aku harus tidur saat aku belum mengantuk?” gerutu Runa. Dulu ia selalu merasa terganggu dengan keberadaa Felix namun sekarang ia baru sadar betapa menyenangkannya menghabiskan waktu bersama pria itu dibandingkan dengan Andrew yang meski dirinya dibayar untuk menjaganya namun kelihatan keberatan sekali saat menjaganya. “Kau harus bangun pagi karena besok pergi sekolah,” kata Andrew. Yang meski menyuruh Runa untuk tidur namun kini sudah berbaring di atas tempat tidur milik gadis itu sambil menyalakan TV dengan volume keras. “Aku tidak pergi ke sekolah, tuh. Aku tidak sekolah,” kata Runa yang membuat Andrew menatapnya seolah sedang mengamatinya. “Kupikir kau masih anak sekolah. Jadi sebenarnya kau ini umur berapa? Aku sudah hampir melaporkan bosku ke polisi karena berani meniduri anak di bawah umur.” “Aku yang akan melaporkanmu pada Tuan Aiden jika kau terus bicara sembarangan, Tuan!” Andrew hanya menyeringai kecil mendengar nada kesal dalam suara Runa. “Kau boleh memanggil namaku, Nona Kecil. Aku ini pengawalmu, mana boleh kau memanggilku Tuan? Itu aneh sekali.” “Aku tidak mau pengawal sepertimu. Aku mau Tuan Felix saja.” “Oho, apa kau menganggap pria itu lebih baik dariku?” “Tentu saja! Tuan Felix sangat baik padaku!” Ini pertama kalinya Runa membela Felix seperti ini dan harusnya Felix melihat ini secara langsung jadi ia tidak akan merasa jika semua yang ia lakukan untuk Runa selama ini sia-sia belaka. “Aku juga bisa jadi lebih baik padamu,” kata Andrew seolah tidak mau kalah dari Felix. Namun baru sesaat setelah ia mengucapkan hal tersebut ia berkata lagi, “Ambilkan es krim untukku! Yang rasa pisang.” Runa menatap Andrew dengan wajah kesal, namun tidak bisa melakukan apa-apa selain melakukan apa yang pria itu inginkan. Ia jadi sangat merindukan Felix sekarang dan berharap jika pria itu saja yang menemaninya sekarang. *** Aiden sampai di rumah depan rumah makan Bibi Lily di saat yang bersamaan dengan Andrew yang sedang menonton TV sambil menikmati es krim di apartemennya. Namun ia mendapati rumah makan tersebut telah tutup. Biasanya Bibi Lily akan menutup rumah makannya lebih cepat jika ingin pergi ke suatu tempat dan Aiden baru ingat sekarang jika pagi tadi wanita itu bicara soal pergi ke tempat sauna. “Aiden!” Aiden sudah berpikir untuk pergi dari tempat itu ketika mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Ia menolehkan kepalanya dan melihat Mama Hana yang memangggilnya dari depan tempat pembuangan sampah yang berada tidak jauh dari sana. “Kau datang untuk makan malam, ya? Bibi Lily menutup rumah makannya karena pergi ke tempat sauna,” jelas Mama Hana yang sebenarnya sudah diketahui oleh Aiden. “Aku hanya kebetulan lewat,” sahut Aiden. “Mau makan malam di rumahku?” “Tidak mau. Masakanmu tidak enak.” “Anak nakal ini...” desis Mama Hana. “Ya sudah pergi sana! Aku juga hanya basa-basi tadi dan senang sekali kau menolaknya jadi jatah makan anak-anakku tidak berkurang.” Aiden menyeringai kecil di sudut bibirnya. Lidah tajam Mama Hana selalu bisa menghiburnya dan ia jadi ingin mendengar lebih banyak saat berkata, “Temani aku merokok sebentar saja. Aku hanya punya sebatang rokok untuk dihabiskan jadi itu benar-benar hanya akan sebentar saja.” *** “Aku tidak pernah menemuinya lagi selama hampir 3 tahun dan sepertinya dia sudah berubah sangat banyak.” Andrew bicara sambil berdiri di depan lemari pakaian Aiden. Mengamati isinya sambil geleng-geleng kepala sementara Runa yang duduk bersila di atas tempat tidurnya mengawasinya dengan seksama karena rasanya ia tidak bisa merasa tenang selama Andrew ada di dekatnya. Padahal Aiden memilih Andrew untuk menjadi pengawal pribadi Runa karena pria itu satu-satunya orang yang bisa Aiden percaya untuk melakukan hal tersebut, namun Runa justru merasa sangat tidak nyaman dengan keberadaan Andrew dan tanpa sadar terus membandingkannya dengan Felix yang selama ini selalu ia mentahkan keberadaannya. “Ini benar-benar bukan selera bosku. Sejak kapan dia jadi suka benda kecil yang imut-imut begini, eh?” Andrew berkata sambil tangan kirinya menenteng bra merah muda milik Runa yang dihiasi pita yang membuatnya terlihat sangat manis dan khas remaja. “Itu milikku! Jangan dipegang sembarang!” Runa langsung menyambar branya dari tangan Andrew dan menyembunyikannya di balik punggungnya. “Apa kau tidak sadar jika kau ini terlalu kecil untuk bosku?” tanya Andrew yang tentu saja membuat Runa jadi tersinggung. Namun sepertinya Runa salah mengartikan maksud ucapan Andrew dan justru berkata, “Aku tidak kecil! Usiaku 18 tahun, jadi aku sudah dewasa!” “Tetap saja kecil sekali untuk tangan besarnya bosku,” gumam Andrew sambil menatap tumpukan bra milik Runa yang ada di dalam lemari. Ia masih ingin membunuh kebosanannya dengan melihat-lihat isi lemari tersebut, namun Runa justru menutupnya dan menatapnya dengan kedua mata melotot. “Jika Tuan bosan kenapa tidak duduk dan nonton TV saja? Atau pulang saja sekalian juga tidak apa-apa! Biasanya aku juga selalu sendirian dan tidak pernah ada masalah,” kata Runa yang sudah tidak tahan menghadapi Andrew. “Aku bosan sekali tapi tetap harus menjagamu karena itu sudah kewajibanku, Nona Kecil,” kata Andrew sambil beralih ke sudut dapur. Membuat Runa harus terus mengekorinya karena gadis itu tidak ingin menyentuh barang-barang di sana sembarangan. Karena meski itu hanya sebuah cabai pun jika tangan Andrew yang menyentuhnya akan membuatnya merasa sangat kesal. “Jika Tuan tidak suka dengan pekerjaan ini kenapa menerimanya?” tanya Runa. Sengaja tidak menyembunyikan nada kesalnya agar Andrew sadar jika dirinya juga sama kesalnya dengan pria itu karena harus menghabiskan waktu bersamanya. “Aku sudah menolaknya. Tapi Tuan sialanmu itu meletakkan pistolnya di sini,” kata Andrew sambil menunjuk dahi Runa dengan ibu jari dan telunjuknya yang dibentuk menyerupai pistol. “Aku sudah pernah melihatnya menembak dahi seseorang di depan mataku, jadi karena aku tidak ingin mati dengan kepalaku yang bolong aku terpaksa menerima tawarannya. Aku melakukan ini demi melindungi nyawaku, jadi kumohon kerja samanya ya, Nona Kecil.” Runa menatap Andrew dengan kedua mata melebar saat bertanya, “Jadi Tuan Aiden benar-benar pernah membunuh seseorang?” “Seseorang apanya? Dia membunuh banyak orang. Kau pikir apa yang dia lakukan sebagai seorang ketua mafia hingga bisa memiliki harta sebanyak itu, uh?” Andrew seharusnya tahu ia harus berhenti membicarakan tentang sisi kelam Aiden karena Runa sudah kelihatan sangat syok sekarang. Namun karena ia sangat menikmati ekspresi syok Runa yang sangat menghibur kebosanannya itu, dengan suara berbisik ia justru bertanya, “Apa kau mau dengar tentang pekerjaan jahat apa saja yang sudah tuanmu itu lakukan sebagai seorang ketua mafia, Nona Kecil?” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN