“Maksudnya Runa? Kau menyukai Runa tapi gadis itu hanya menganggapmu sebagai orang tuanya, begitu?”
Aiden tanpa sadar membuka mulutnya, tidak percaya karena Mama Hana bisa langsung menebaknya semudah ini padahal ia sudah sengaja menyamarkan ceritanya.
“Tidak, tidak. Ini bukan tentang aku dan Runa. Ini cerita tentang temanku yang menyukai seorang gadis yang 12 tahun lebih muda darinya dan...” Aiden menggantungkan kalimatnya, menatap Mama Hana dengan kening berkerut sebelum bertanya, “Bagaimana kau bisa tahu tentang Runa? Aku tidak pernah menceritakannya padamu.”
“Eii, kau pikir apa yang aku dan Bibi Lily lakukan jika bertemu di pasar setiap paginya jika bukan saling bertukar informasi, uh? Aku dan Bibi Lily itu kan begini, jadi tidak boleh ada rahasia di antara kami.” Mama Hana berkata sambil menautkan kedua jari kelingkingnya. “Dan teman yang mana yang kau maksud, uh? Memangnya kau punya teman?”
“Itu... Itu bisa saja Felix, kan? Mengapa kau malah menuduhku padahal aku sudah bilang itu temanku!” sanggah Aiden yang membuat Mama Hana mendecakkan lidahnya.
“Felix itu pria terhormat yang paham hukum, dia tidak mungkin mau menyukai anak yang di bawah umur.”
“Tapi Runa bukan anak di bawah umur!”
“Oho, jadi benar Runa, kan?”
Aiden memejamkan kedua matanya, dalam hati merutuki kecerobohannya yang sudah kelepasan menyebut Runa di depan Mama Hana padahal sejak tadi ia terus menyanggahnya. “Aku akan pulang saja sekarang.”
“Rokokmu belum habis. Habiskan saja dulu!” Mama Hana menahan Aiden untuk tetap duduk bersamanya di depan rumah makan Bibi Lily. “Kau juga sudah kelepasan menyebut Runa tadi, jadi biarkan aku memberimu beberapa nasihat sebelum kau pergi.”
“Itu harus benar-benar nasihat,” kata Aiden sambil menghisap rokoknya. “Aku akan pergi jika kau hanya melarangku untuk menyukainya seperti yang dilakukan semua orang.”
“Memangnya kenapa aku harus melarangnya? Apa salahnya jika kau menyukai seseorang?”
Ucapan Mama Hana membuat Aiden mengerjapkan kedua matanya, antara bingung dan juga takjub pada wanita itu. Namun sepertinya Aiden terlalu cepat berpikir positif tentang Mama Hana karena apa yang kemudian wanita itu katakan padanya mampu membuatnya menghela napas panjang.
“Kau boleh menyukai wanita mana pun di dunia ini kecuali putriku. Jika kau sampai berani menyukai putriku, tidak peduli kau ini mafia atau apa aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri,” ancam Mama Hana. “Kecuali jika kau mau bertaubat dan mencari pekerjaan yang lain. Aku bisa menerimamu menjadi menantuku jika kau berhenti jadi mafia dan hanya fokus menjalankan bisnismu dengan benar.”
“Entah jadi mafia atau bukan, aku juga tidak akan pernah tertarik pada putrimu. Jadi berhentilah memikirkan omong kosong seperti itu,” kata Aiden yang membuat Mama Hana mengerutkan hidungnya. “Lagipula aku sudah menemukan gadis yang kusukai sekarang. Aku jadi tidak punya waktu untuk menyukai wanita lain.”
“Itu bagus jika kau masih bisa jatuh cinta pada seseorang. Tapi... Memangnya apa yang kau lakukan padanya hingga dia bisa menganggapmu sebagai orang tuanya, uh?” Mama Hana bertanya dengan wajah serius meski sebenarnya ia sedang berusaha keras menahan geli karena kasusnya Aiden benar-benar terasa sangat konyol olehnya.
“Aku selalu membelikannya barang-barang yang disukainya dan mengajaknya ke tempat yang disukainya. Aku selalu berusaha memenuhi harapannya, namun tiba-tiba saja dia berkata jika keberadaanku di sisinya terasa sama seperti orang tua baginya.”
“Itu sebenarnya awal yang bagus,” komentar Mama Hana. “Kau hanya perlu mengajarinya memanggilmu Daddy mulai sekarang jadi jika kalian sudah pacaran nanti kau akan‒”
“Sepertinya aku sudah bicara pada orang yang salah.” Aiden menyela ucapan Mama Hana yang malah seperti sengaja ingin membuatnya kesal itu seraya bangkit dari duduknya. Membuat Mama Hana buru-buru menarik tangannya untuk kembali duduk sambil terkekeh pelan.
“Rokokmu belum habis. Jangan buru-buru pergi begitu,” kata Mama Hana sambil berusaha menghentikan kekehannya. Berusaha untuk terlihat serius agar Aiden tidak semakin kesal padanya.
“Jika kau tidak bisa mengatakan sesuatu yang benar, lebih baik kau diam saja,” kata Aiden sambil kembali menghisap rokoknya. Namun karena setelah beberapa saat Mama Hana tidak kunjung mengucapkan apapun, dengan sebuah kerutan dalam yang menghiasi keningnya ia menatap wanita itu dan bertanya, “Kau benar-benar tidak berniat untuk mengatakan sesuatu yang benar padaku?”
Ucapan Aiden membuat Mama Hana terkekeh. Usianya yang hanya terpaut 11 tahun dari Aiden itu membuatnya merasa seperti memiliki seorang adik juga seorang anak sekaligus dalam diri Aiden. “Aku sedang berpikir. Ini pertama kalinya ada seseorang yang bertanya tentang percintaan padaku yang setiap hari selalu bertengkar dengan suamiku dan hampir bercerai dengannya jutaan kali sejak pertama menikahinya 24 tahun lalu. Jadi...”
Mama Hana menatap Aiden dengan serius dan membuat pria itu ikut menyimak ucapannya dengan serius sampai kemudian apa yang wanita itu katakan padanya menyadarkan Aiden jika ia tidak bisa menganggap Mama Hana seserius itu.
“Jangan jatuh cinta dan jangan menikah. Hidup lajang saja sampai mati daripada kau menikahi seseorang yang kau cintai dan menjalani hidup yang melelahkan dengannya sampai tua seperti yang kulakukan sekarang,” kata Mama Hana bersamaan dengan suara suaminya yang berteriak memanggilnya dari teras rumah mereka.
“Lihat dia, bagaimana bisa dia selalu secemburu itu padamu padahal kau cocoknya jadi anakku, uh?” keluh Mama Hana seraya bangkit dari duduknya. “Ayo masuk dan makan malam.”
“Tidak mau, masakanmu tidak enak,” tolak Aiden yang membuat Mama Hana memukul lengan Aiden sebelum meninggalkan pria itu untuk kembali pada keluarganya yang telah menunggunya untuk makan malam bersama.
“Seharusnya aku menyimpannya untuk diceritakan pada Bibi Lily. Wanita itu tidak pernah menanggapi ceritaku dengan serius,” gerutu Aiden sebelum menghisap rokoknya.
Tapi kemudian kedua matanya tampak menerawang dengan tatapan kosong saat ia bergumam, “Pasti menyenangkan jika aku bisa tinggal bersama mama yang seperti itu. Yang tetap memasak dan mengurusku meski terus mengomeliku setiap hari. Pasti menyenangkan jika aku menjadi Hana atau Harvie yang lahir dari wanita seperti itu.”
***
Bruk!
“Aw!”
Andrew sedang tidur, benar-benar sangat nyenyak sampai tiba-tiba tubuhnya yang menghantam lantai dengan keras membuatnya terbangun dari tidurnya. Pria itu membuka matanya dan menyadari jika kini dirinya berada di luar apartemen Aiden, dengan tubuh tersungkir di lantai sementara Aiden yang baru saja menggotong tubuhnya dari atas kasur dan membantingnya ke lantai itu tengah menatapnya dengan tajam seolah siap menerkamnya.
“Ah, Bos~” Andrew merengek sambil mengusap-usap lengannya. “Aku bisa langsung bangun meski kau membangunkanku hanya dengan memanggil namaku. Kenapa repot-repot menggendongku lalu membantingku seperti ini, uh?”
“Lain kali aku melihatmu tidur di atas kasur Runa lagi aku tidak hanya akan membantingmu ke lantai. Tapi aku akan membantingmu dari atas balkon ini!” ancam Aiden sebelum meninggalkan Andrew dan masuk ke dalam apartemennya.
Aiden bukannya marah karena Andrew tidur di atas tempat tidur Runa. Ia marah karena Andrew berani tidur dengan nyenyak di sana sementara Runa tertidur dengan posisi duduk bersila dan punggung yang bersandar di dinding.
“Padahal aku membayarnya untuk menjaga Runa. Tapi berani sekali dia mengabaikan Runa yang tidur dengan posisi seperti ini sementara dirinya sendiri tidur di atas kasur?”
Aiden menggerutu sambil mengangkat tubuh Runa dan dengan hati-hati membaringkannya di atas tempat tidur. Ia melakukannya benar-benar dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu tidur Runa, namun sesaat setelah ia membaringkan tubuh Runa di atas tempat tidur ia melihat gadis itu membuka kedua matanya.
“Apa aku membuatmu terbangun?” tanya Aiden. “Kau sudah makan malam?”
Runa tidak menyahut. Ia hanya menatap Aiden selama beberapa saat tanpa mengatakan apapun hingga membuat Aiden yang menyadari jika gadis itu sedang memikirkan sesuatu berkata, “Jika kau punya sesuatu untuk dikatakan padaku maka katakan saja secara langsung. Aku tidak akan bisa memahaminya hanya dengan melihat matamu seperti ini.”
Runa terlihat ragu, tapi kemudian membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya bukan hal baru yang pertama kali Aiden dengar karena bahkan beberapa saat yang lalu ia juga mendengarnya dari Mama Hana. Namun entah mengapa, efeknya jadi terasa besar dan membuatnya jadi sangat terusik saat ia mendengar Runa yang mengucapkan hal tersebut padanya dengan kedua mata gadis itu yang murni dipenuhi kekhawatiran pada dirinya.
“Tuan, tidak bisakah kau berhenti menjadi mafia? Kurasa itu pekerjaan yang terlalu berbahaya untuk dilakukan oleh orang baik sepertimu.”
**To Be Continued**