Apa Aiden tidak pernah berpikir untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang mafia?
Ya, tentu saja pernah. Seperti yang pria itu katakan, tidak akan ada satu pun orang di dunia yang ingin hidup dengan menjadi mafia sejak lahir‒kecuali Harvie yang saat kecil dulu berpikir jika menjadi mafia yang punya tato dan pistol sungguhan itu merupakan pekerjaan impian yang sangat keren.
Aiden tahu dirinya bukan satu-satunya anak yang pernah dimiliki papanya. Meski papanya sangat mencintai wanita yang melahirkannya, namun tetap ada wanita-wanita lainnya dalam hidup pria itu. Namun setiap kali wanita-wanita itu melahirkan seorang anak untuknya, Papa Aiden akan langsung membunuhnya karena ia hanya ingin Aiden yang lahir dari rahim wanita yang sangat dicintainya yang menjadi penerusnya.
“Penerus sialan! Lebih baik aku langsung dibunuh saja setelah lahir daripada harus hidup dengan menjadi mafia sepertinya begini!”
Di rooftop gedung apartemennya, Aiden berdiri dengan tubuh yang bersandar pada pagar pembatas sementara sebuah rokok terselip di antara kedua bibirnya.
Padahal selama ini ia selalu menghadapi apapun dengan berani, namun Runa selalu mampu membuatnya menjadi pengecut seperti ini. Karena saat gadis itu bertanya padanya mengapa dirinya tidak berhenti menjadi seorang mafia, yang Aiden lakukan bukanlah memberikan jawaban padanya melainkan menghindarinya dengan pergi merokok di atap seperti ini.
“Makan mie itu memang paling enak sambil menikmati pandangan.” Sementara itu, Andrew yang baru kembali dari mini market berjalan menuju meja kayu besar yang ada di rooftop dengan membawa plastik berisi camilan di tangan kanannya dan mie instan cup di tangan kirinya.
“Ah, tapi makan di kamar pasti lebih baik,” gumam Andrew sambil buru-buru membalikkan badannya saat melihat Aiden di sana.
“Kemarilah!”
Namun sialnya, Aiden yang telah lebih dulu berada di tempat itu sudah melihatnya dan malah memanggilnya. Membuat Andrew mau tidak mau harus menghampirinya meski dengan wajah yang cemberut.
“Aku hanya beli satu,” kata Andrew sambil memegangi cup mie instan dengan kedua tangannya setelah meletakkannya di atas meja yang sekaligus menjadi tempat mereka duduk itu ketika Aiden telah duduk bersila di hadapannya dengan tatapan pria itu yang tertuju pada mienya. “Jika aku membaginya denganmu, aku tidak akan merasa kenyang‒”
“Karena itu kau jangan minta. Mie ini bahkan tidak cukup mengenyangkan untuk kunikmati sendirian.” Aiden menyela ucapan Andrew sambil merebut mie dari tangan ppria itu. Membuat Andrew hanya bisa membuka mulutnya dengan wajah tidak rela ketika melihat Aiden yang tanpa rasa sungkan sedikit pun langsung menyeruput mienya.
“Aku sudah meludahinya tadi,” kata Andrew yang sayangnya tidak dipedulikan oleh Aiden yang saat ini sudah sangat menikmati mienya‒masksudnya mie milik Andrew. Membuat Andrew jadi semakin kesal mendengar suara pria itu yang menyeruput mienya dengan suara keras yang sepertinya nikmat sekali.
“Sudah kukencingi ju‒ Aw!” Andrew belum selesai bicar saat Aiden lagi-lagi menyelanya. Kali ini dengan tangan pria itu yang memukulkan sumpitnya ke kepala Andrew.
“Cih!” Andrew mendecih sambil mengusap-usap kepalanya. “Kau masih berani mempertanyakan mengapa dulu aku memilih untuk berhenti jadi seorang mafia padahal ini yang selalu kau lakukan padaku?” Amdrew menggerutu sambil membuka kaleng minuman sodanya.
Namun belum sempat bibirnya menyentuh kaleng tersebut, Aiden lagi-lagi merebutnya dan meminumnya dengan suara tegukan yang terdengar keras.
“Bos!” Andrew memekik protes sementara Aiden sibuk mengelapi mulutnya dari sisa makanan dan minuman. “Aku benar-benar kesal, lho jika kau terus begini! Jangan pikir aku akan takut padamu hanya karena kau seorang mafia!”
“Apa menyenangkan hidup jadi orang biasa?” tanya Aiden yang membuat Andrew menatapnya bingung karena pria itu tiba-tiba bertanya demikian. “Bagaimana rasanya meninggalkan dunia mafia dan menjalani hidup yang normal sebagai orang biasa?”
“Kuberitahu pun kau tidak akan mungkin bisa mengerti. Kau kan tidak pernah hidup tenang dengan damai bersama orang-orang baik yang tidak akan mengancammu. Kau tidak perlu selalu waspada atau membawa senjata ke mana pun kau pergi. Kau tidak perlu menyakiti siapapun dan hanya menjalani hidupmu sendiri dengan tenang. Kau tidak pernah tahu rasanya hidup seperti itu, kan?” Andrew berkata dengan nada yang terdengar arogan, sama sekali tidak peduli jika hal tersebut membuat Aiden sedih.
“Jadi kau menjalani kehidupan yang seperti itu sejak berhenti menjadi mafia?” tanya Aiden.
“Ya.” Andrew menjawab sambil mengeluarkan sekotak rokok dan pemantik dari dalam kantong belanjanya. Namun kemudian ia buru-buru memasukkannya kembali ke dalamkantong belanjanya saat berpikir jika Aiden akan merebut rokoknya lagi. Melupakan niatnya untuk merokok dan memasukkan kantong belanjanya ke dalam saku jaket agar Aiden tidak bisa mengambil apapun darinya lagi.
“Tapi tidak bisa jadi tenang sepenuhnya juga. Meski tato di dadaku sudah dihilangkan, namun kebiasaan yang sudah bertahun-tahun melekat selama menjadi mafia tetap saja terbawa. Aku selalu mengantongi pisau lipat ke mana pun aku pergi.”
“Apa itu sakit?”
“Pisauku?”
“Dadamu.”
“Cih!” Andrew mendecih, merasa kesal karena berani-beraninya Aiden menanyakan hal tersebut padanya saat kenyataannya pria itulah yang telah menguliti dadanya untuk menghapus tato organisasi‒aturan turun-temurun dalam organisasi mereka bagi siapapun yang ingin meninggalkan organisasi yang bahkan dirinya yang merupakan tangan kanan Aiden yang paling setia pun tidak bisa dijadikan pengecualian.
“Itu tidak sampai membuatmu mati, jadi rasa sakitnya pasti bisa diatasi, kan?” tanya Aiden yang membuat Andrew kembali mendecih padanya. Sepetinya Aiden sengaja memancing pertengkaran dengannya dengan mengucapkan sesuatu yang membangkitkan rasa jengkelnya pada pria yang tangannya telah menguliti dadanya itu.
“Jika kau sangat penasaran dengan bagaimana rasanya lalu mengapa tidak kau coba sendiri saja, uh?”
“Aku sedang mempertimbangkannya sekarang,” kata Aiden yang membuat Andrew menatapnya tak percaya. Dan apa yang Aiden katakan selanjutnya membuat Andrew semakin tidak percaya dengan betapa banyaknya pria itu berubah sejak mereka terakhir bertemu 3 tahun lalu.
“Runa menyuruhku untuk berhenti jadi mafia, jadi aku akan mempertimbangkannya dengan serius dan menyiapkan dadaku untuk dikuliti. Kau sakit selama seminggu penuh setelah aku menguliti tatomu, jadi aku akan mempersiapkan diri agar tidak perlu sakit terlalu lama.”
“Kau serius? Demi Runa?” tanya Andrew dengan nada tidak percaya. “Kau bahkan melanggar sumpahmu sendiri untuk tidak pernah melibatkanku pada organisasi demi gadis itu, kan?”
“Aku tidak melanggar sumpahku karena aku memanggilmu kembali bukan untuk bekerja padaku melainkan pada Runa,” sanggah Aiden. “Kau yang melanggar sumpahmu sendiri karena kau mau kembali padaku seperti ini.”
“Aku tidak akan kembali jika kau tidak mengancamku dengan pistol, tuh! Apa kau akan membiarkanku kembali sekarang karena sepertinya Runa juga tidak menyukaiku? Dia terus mencari Felix. Sepertinya dia lebih cocok dengan Felix daripada denganku.”
“Aku justru akan menghabisimu jika Runa sampai menyukaimu,” kata Aiden seraya bangkit dari duduknya. “Dan mulai besok kau juga akan menangani keuangan di organisasi.”
“Apa? Kenapa aku?”
“Karena kau seorang mahasiswa. Kau pasti pintar pakai komputer, kan?”
“Aku tidak belajar mengatur keuangan di jurusanku,” kata Andrew. “Bukankah Felix sudah cukup untuk menangani semuanya?”
“Aku akan memecatnya?”
“Kenapa? Dia korupsi terlalu banyak sekarang?” tebak Andrew yang sejak dulu selalu berpikir jika suatu saat nanti pasti akan ada hari di mana Aiden menembak kepala Felix karena pria itu selalu mengkorupsi uang organisasi dengan jumlah yang fantastis.
“Dia membuat Runa menyukainya,” sahut Aiden yang membuat Andrew membuka mulutnya tak percaya. “Itu tidak baik untuk membuatnya terus berada di dekat Runa.”
“Itu...” Andrew sampai bingung harus berkata apa. Ia tidak pernah tahu seperti apa saat Aiden jatuh cinta dan sekarang ia sadar jika dirinya tidak bisa bicara sembarang padanya karena Aiden sepertinya jenis pria yang sangat posesif dan pencemburu saat jatuh cinta.
“Bukan suka yang seperti itu. Maksudku bukan begitu. Kau tidak serius ingin memecat Felix, kan?” Andrew berusaha menjelaskan, tapi sayangnya ia bicara pada orang berkepala batu yang sedang cemburu sekarang. “Kau bisa menghancurkan organisasi jika sampai memecat Felix.”
“Tidak akan hancur jika kau bekerja dengan benar,” kata Aiden. “Mulai besok bekerjalah dengan keras. Jika organisasi ini sampai hancur karena kau tidak bisa mengatur keuangannya dengan benar, selanjutnya aku akan mengangkat jantung dari dalam tubuhmu seperti bagaimana aku pernah mengangkat tato dari dadamu.”
“Bos... Kau tidak serius, kan?” Andrew bertanya dengan nada memelas. “Felix pasti akan sangat sedih jika kau begini padanya. Kau tidak serius, kan? Iya, kan?”
***
“Serius? Kau serius?!”
Andrew menatap Felix tak percaya saat mendengar seruan bahagia pria itu ketika keesokan harinya Aiden memecatnya secara langsung.
“Kau tidak sedih? Kau akan dipecat, lho! Kau tidak bekerja di organisasi ini lagi nanti,: kata Andrew. Mencoba menjelaskan kaau-kalau Felix tidak mengerti apa itu artinya dipecat.
“Memangnya kenapa aku harus sedih? Ini sesuatu yang harus dirayakan dengan penuh sukacita! Ini hari kebebasanku!” seru Felix yang membuat Andrew merasa semakin kesal.
“Tapi jika kau ingin bebas dari organisasi itu artinya tato di dadamu harus dikuliti,” ujar Andrew yang membuat senyuman di wajah Felix langsung lenyap.
Melihat hal tersebut, Andrew jadi semangat untuk mengacaukan kesenangannya dengan menambahkan, “Aku saja hampir mati saat dikuliti. Bagaimana kau yang tidak pernah merasakan luka yang parah bisa menanggung semua itu, uh? Kau pasti akan benar-benar mati nanti. Aku bahkan bisa merasakan sakitnya sampai sekarang.”
“Tidak perlu,” kata Aiden yang membuat Felix dan Andrew menatapnya. Dan apa yang kemudian ia katakan membuat Felix kembali tersenyum lebar sementara Andrew melotot tak terima padanya.
“Aku tidak akan mengulitimu. Jadi pergi saja yang jauh dan jangan pernah kembali. Jangan sampai aku atau Runa melihat wajahmu lagi.”
**To Be Continued**