Anak Sekolahan

1716 Kata
“Ini... Bagaimana caranya membuat tabel seperti yang di sini?” Runa hanya mengerjapkan kedua matanya dengan mulut terbuka yang membuat wajahnya jadi kelihatan bodoh. Membuat Andrew mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gusar karena saking putus asanya sampai membuatnya bertanya pada Runa yang saat ini statusnya sebagai anak putus sekolah itu. “Itulah mengapa seharusnya kau belajar dengan rajin! Mengapa kau justru keluar dari sekolajh dan jadi pengangguran begini, uh? Mau jadi apa kau saat besar nanti jika tidak sekolah? Kau tidak akan bisa apa-apa jika tidak sekolah!” Sepertinya Andrew benar-benar sudah sangat putus asa dengan pekerjaan barunya sebagai penanggung jawab keuangan organisasi hingga memilih untuk melampiaskannya dengan mengomeli Runa. Membuatnya harus menerima tendagan keras di punggungnya dari Aiden yang tentu saja tidak akan terima jika ada orang yang berani mengomeli Runa seperti ini. “Kau juga tidak bisa mengerjakan apapun meski sudah kuliah! Padahal Tuan Felix bisa melakukannya dengan mudah, tapi kenapa kau yang katanya mahasiswa ini tidak bisa melakukannya juga, uh?” Tidak mau dirinya diomeli begitu saja, Runa balas mengomeli Andrew yang masih mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap punggungnya. Andrew bukannya bersikap berlebihan, tapi Aiden memang menendangnya dengan keras tadi. Sepertinya bosnya itu tidak akan pernah jera meski di masa lalu ia pernah mematahkan tulang Andrew karena menendangnya terlalu keras saat pria itu salah bicara padanya‒yang membuktikan betapa buruknya tabiat bos mafia itu di masa mudanya. “Bisa mengerjakan ini atau tidak yang penting aku kuliah! Kau sendiri apa? Kenapa tidak seko‒ Aw! Bos!” Andrew dibuat memekik keras karena lagi-lagi Aiden menendang punggungnya‒di tempat yang sama dengan kekuatan yang lebih besar hingga rasanya jauh lebih sakit dari sebelumnya‒sebelum ia menyelesaikan ucapannya. “Tutup mulutmu dan kerjakan saja laporannya!” perintah Aiden yang membuat Andrew mau tidak mau kembali menatap layar laptopnya. Namun karena ia tidak tahu harus berbuat apa untuk mengerjakan laporan keuangan yang sama sekali tidak ia mengerti itu, ia memilih untuk mengalihkannya dengan menatap Aiden serius sambil berkata, “Tapi aku serius, memangnya Runa tidak mau sekolah lagi? Bahkan orang yang paling bodoh pun setidaknya harus lulus SMA. Zaman sekarang orang yang tidak punya pendidikan itu hidupnya akan sulit.” “Aku tidak bodoh!” Runa menimpali ucapan Andrew dengan nada tidak terima. Walaupun dirinya bukan murid yang pandai, tapi Andrew kan sama sekali tidak tahu tentang urusan sekolahnya. Jadi itu membuatnya sangat kesal saat Andrew yang tidak tahu apa-apa ini menyebutnya bodoh hanya untuk mengolok-oloknya padahal pria itu tidak tahu apapun tentang dirinya. Ya, meskipun sebenarnya Runa memang akan selalu tidak menyukai apapun yang Andrew katakan. Apalagi setelah pria itu membuat Felix dipecat karena merebut pekerjaannya seperti ini, Runa jadi semakin tidak menyukainya. “Jadi kau tidak bodoh, uh? Kalau begitu sekolah sana!” Namun lihatlah, Andrew yang melihat Runa kesal padanya justru semakin mengolok-olok gadis itu dengan perkataannya yang diucapkan dengan nada mengejek. “Tidak mau! Aku tidak sekolah!” “Haha, itu karena kau bodoh, kan? Memang anak yang bodoh itu tidak‒ Aw! Aw! Ampun! Ampun, Bos!” Runa biasanya tidak senang melihat seseorang berbuat kekerasan. Namun kali ini, ia justru melipat kedua tangannya di depan d**a seolah puas melihat Aiden yang menendang punggung Andrew berkali-kali hingga membuat pria itu menjerit-jerit kesakitan. “Sudah cukup!” Andrew menjerit keras, akhirnya berhasil membuat Aiden berhenti menendangnya saat ia menunjukkan wajah marahnya pada pria itu. “Aku tidak mau mengerjakan ini lagi! Aku sudah berjanji tidak akan pernah terlibat dengan organisasi, jadi seharusnya aku tidak boleh membuat laporan keuangannya seperti ini! Aku tidak mau lagi‒ Aw! Aduh! Ini patah. Kali ini pasti ada yang patah, aku bisa mendengarnya.” Aiden tidak mempedulikan protes atau teriakan kesakitan Andrew. Pria itu kembali membuat Andrew menjerit saat menginjak punggungnya untuk melewatinya. “Ayo pergi!” Aiden berkata sambil memakai sepatunya, membuat Andrew dengan langkah tertatih menghampirinya sambil memegangi punggungnya dan mulut yang terus merintih kesakitan. “Mau ke mana kau?” Aiden mengangkat sebelah alisnya saat melihat Andrew yang telah berdiri di hadapannya. Ia lalu mengalihkan tatapannya pada Runa yang masih duduk bersila di atas tempat tidur menghadap TV yang menayangkan kartun sebelum berkata, “Ayo pergi!” “Denganku?” tanya Runa sambil menunjuk dirinya sendiri. “Ke mana?” “Sekolah,” jawab Aiden yang membuat kedua mata Runa melotot horor. “Ayo pergi sekolah.” *** “Tapi aku tidak sekolah~ Tuan, aku tidak mau sekolah~ Tidak perlu sekolah lagi. Aku benci sekolah!” Itu sama sekali tidak berhasil. Meski Runa sudah merengek dengan cara paling memelas yang bisa dilakukannya, namun Aiden tetap mengemudikan mobilnya‒yang sebenarnya Runa tidak tahu ini mobil Aiden atau bukan karena pria itu selalu berganti mobil yang berbeda setiap kali menyetir‒menuju ke tempat yang akan menjadi sekolahnya. “Aku tidak suka mendengar Andrew mengolok-olokmu seperti itu. Jadi kau harus sekolah agar nanti dia tidak punya alasan untuk mengejekmu lagi,” kata Aiden yang membuat Runa semakin punya banyak alasan untuk tidak menyukai Andrew karena sekarang perkataan pria itu membawanya pada situasi ini. “Aku tidak peduli ucapan Tuan Andrew!” ujar Runa. “Aku tidak suka belajar dan aku sulit berteman dengan anak-anak lainnya karena mereka benci anak sepertiku. Jadi jangan paksa aku sekolah lagi, ya?” “Memangnya kenapa mereka membenci anak sepertimu?” tanya Aiden tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di hadapannya. “Karena mereka tahu papaku preman yang kasar. Mereka semua memusuhiku karena‒ Tuan!” Runa belum selesai bicara saat tiba-tiba Aiden memutar balik mobilnya tanpa peringatan apapun, membuat Runa terkejut karena mobil yang ditumpanginya putar balik begitu saja di jalan yang cukup ramai itu. “Oh, benar-benar tidak jadi, ya?” gumam Runsa saat menyadari jika mobil tersebut melaju melewati jalan yang biasa mereka lalui untuk pergi ke rumah Bibi Lily. “Benar. Tidak usah sekolah. Kita makan siang di tempat Bibi Lily saja.” Namun Runa kembali dibuat bingung karena bukannya pergi ke rumah makan Bibi Lily, Aiden justru menghentikan mobilnya di depan rumah yang berada tepat di sebelah rumah Bibi Lily. Karena tidak tahu apa-apa, Runa hanya bisa terus mengekor di belakang Aiden. Karena meski ia tidak tahu rumah siapa yang mereka kunjungi setidaknya Aiden tidak jadi membawanya ke sekolah. “Apa ini?” Mama Hana yang membukakan pintu untuk Aiden menatap pria itu terkejut. “Mengapa kau datang ke rumah saat suami dan anak-anakku sedang tidak ada?” “Kau harus menjaga bicaramu sekarang karena ada anak kecil di sini, Bibi,” kata Aiden yang membuat Mama Hana menutup mulut dengan telapak tangannya saat menyadari keberadaan Runa yang berdiri di belakang Aiden. “Dia benar-benar masih kecil!” Mama Hana berbisik pada Aiden sambil memukul lengan pria itu. “Apa yang kau pikirkan dengan jatuh cinta pada gadis kecil ini, uh? Kenapa tidak jatuh cinta padaku atau putriku saja?” “Aku ingin minta tolong padamu,” kata Aiden tanpa mempedulikan ucapan Mama Hana. Yang meski ia sedang minta tolong namun nada bicaranya sama sekali tidak menunjukkan permohonan pada wanita itu. Dan apa yang kemudian Aiden ucapkan sebagai permintaan tolongnya pada Mama Hana itu membuat Runa membulatkan kedua matanya tak terima. “Antarkan Runa mendaftar ke sekolah Harvie. Aku ingin dia menjadi murid di sana.” *** Runa sudah merengek mati-matian, namun tidak berhasil membuat Aiden mengurungkan niatnya untuk menyekolahkannya. Pria itu sama sekali tidak memberi Runa pilihan hingga membuat gadis itu mau tidak mau harus mengikuti Mama Hana yang membawanya masuk ke dalam sekolah itu. Aiden membuka jendela mobilnya, menikmati rokoknya sambil memandangi gedung sekolah di hadapannya. Sebenarnya ia bisa saja melakukan semua ini sendiri, namun perkataan Runa menyadarkannya jika ia tidak ingin mengalami masa sekolah yang seburuk sebelumnya makaia tidak boleh menunjukkan dirinya di sekolah atau di depan teman-teman Runa. Runa anak yang manis, namun di sekolahnya ia harus menanggung kebencian dari teman-temannya karena menjadi anak dari seorang preman. Aiden sangat paham hal itu karena di masa sekolahnya ia juga tidak pernah punya teman karena semua temannya tahu jika dirinya adalah putra seorang mafia. Menjalani masa sekolah dengan menanggung kebencian atas sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan itu benar-benar terasa sangat menyiksa dan Aiden tidak ingin Runa kembali mengalami hal tersebut. Sebab jika teman-teman sekolahnya tahu jika Runa berhubungan dengan seorang ketua mafia sepertinya, gadis itu pasti akan kembali mengalami masa-masa sekolah yang buruk seperti sebelumnya. Brak! Aiden menoleh ke sebelahnya saat tiba-tiba terdengar bunyi pintu mobil yang dibanting dengan keras. Harvie ada di sana, duduk di sebelahnya sambil memasang sabuk pengaman dengan buru-buru. “Ayo cepat pergi!” Harvie memberi perintah dengan gusar. “Mamaku tiba-tiba datang. Mungkin guruku yang meneleponnya. Aku harus segera pergi dari tempat ini!” Aiden menghisap rokoknya sekali lagi sebelum membuangnya keluar lalu menatap Harvie yang benar-benar kelihatan sangat panik karena pemuda itu melihat mamanya yang tiba-tiba datang ke sekolah‒terlalu panik hingga tidak menyadari jika mamanya tidak datang ke sana seorang diri. “Kakak, ayo cepat!” Dan sepertinya Harvie memang benar-benar sangat panik hingga tidak sadar sudah memanggil Aiden dengan sebutan ‘kakak’‒yang sejak beberapa tahun terakhir tidak mau lagi ia berikan sebutan tersebut pada Aiden karena mereka lebih sering bertengkar jika bertemu. “Kau mau uang jajan, tidak?” tawar Aiden yang membuat Harvie menatapnya bingung. “Kenapa tiba-tiba menawariku uang jajan?” tanya Harvie. Tapi saat terpikirkan sesuatu ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, tidak! Aku tidak mau melakukan apapun untukmu. Aku ini calon polisi, tidak boleh bekerja untuk seorang mafi‒ Woah~” Harvie belum selesai dengan ucapannya saat kedua matanya telah dibuat berbinar oleh selembar cek yang Aiden keluarkan dari dompetnya dan diletakkan di pangkuannya. Ia mengambil cek tersebut dan dengan kedua matanya yang semakin berbinar saat melihat nominal uang yang bisa didapatkannya saat mencairkan cek tersebut, Harvie bertanya, “Apa yang harus kulakukan?” “Jaga Runa saat di sekolah,” ujar Aiden yang membuat Harvie menatapnya dengan bingung. Dan apa yang kemudian Aiden ucapkan padanya membuat Harvie membuka mulutnya tak percaya karena Runa yang selama ini telah membohonginya dengan berpura-pura menjadi wanita dewasa. “Runa akan segera bersekolah di tempat yang sama denganmu dan aku akan mengaturnya agar bisa sekelas denganmu. Jaga dia dengan baik dan jika ada anak yang membuat masalah dengannya kau harus langsung melaporkannya padaku. Aku akan memberimu uang jajan lebih banyak jika kau menjalankan tugasmu ini dengan baik.” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN