Pengkhianat Dan Pencuri

1524 Kata
“Kau... Kau benar-benar akan pergi?” Setelah Aiden dan Runa meninggalkannya, Anrew pergi ke rumah Felix untuk membujuk pria itu agar mau kembali ke posisinya semula sebagai penanggung jawab keuangan‒dan sjuga segala macam hal lainnya‒di organisasi milik Aiden. Namun apa yang dilihatnya saat ini benar-benar membuat Andrew kehabisan kata. Karena saat ini‒tidak sampai 2 jam sejak Aiden memecatnya‒Andrew melihat Felix yang dengan riang tengah mengepaki barang-barang ke dalam kopernya. “Tentu saja aku akan pergi. Aku menanti-nantikan hal ini sejak lama dan sekarang aku akan pergi ke tempat yang sangat-sangat jauh di mana tidak akan ada satu orang pun yang bsia mengenaliku kemudian memulai hidup baru yang indah seperti impianku selama ini,” sahut Felix yang tanpa sedikit pun mempedulikan tentang kecemasan Andrew justru menceritakan tentang rencananya dengan senyuman lebar yang seolah mengejek Andrew. “Wah, lihat pengkhianat ini!” Andrew menunjuk wajah Felix sambil geleng-geleng kepala. “Jadi setelah menggasak begitu banyak uang organisasi kau mau pergi begitu saja demi hidupmu sendiri, uh? Padahal Bos sudah baik sekali padamu meski kau selalu mencuri uangnya, tapi tega-teganya kau meninggalkannya begini, uh?” “Oho! Kau berani menyebutku pengkhianat setelah apa yang kau lakukan pada organisasi ini?” Felix menepis telunjuk Andrew dari depan wajahnya lalu balas menunjuk d**a kiri Aiden. “Di sini ada bukti yang sangat jelas sekali jika kau adalah pengkhianat yang meninggalkan organisasi demi kebebasannya sendiri.” “Setidaknya aku tidak mencuri uang organisasi!” “Setidaknya aku tidak menjadi pengkhianat!” “Setidaknya aku bukan tukang korupsi!” Felix menghentikan kegiatannya menata pakaian di dalam koper untuk menatap Andrew dan memberikan senyum lebar yang terlihat sarat akan ejekan pada pria itu. “Silakan sebut aku dengan apapun yang kau inginkan. Pencuri, tukang korupsi, atau apapun itu. Aku tidak akan peduli karena hal itu sama sekali tidak akan bisa mengusikku sebab aku terlalu bahagia sekarang karena bisa pergi dari tempat ini.” Andrew memicingkan kedua matanya pada Felix, merasa kesal karena dirinya menjadi satu-satunya orang yang kesal di sini sementara Felix benar-benar terlihat sangat bahagia untuk mau mepedulikan kekesalannya. Sementara Felix terus menata barang-barang di dalam kopernya sambil bersenandung riang, Andrew berpikir keras tentang bagaimana caranya ia bisa membuat Felix kembali ke posisinya semula. Ini sudah cukup baginya untuk meninggalkan kuliahnya karena harus menjadi pengawal pribadi Runa. Ia tidak ingin membuatnya jadi semakin burukd dengan menjadi penanggung jawab keuangan organisasi yang sama sekali tidak ia mengerti bagaimana caranya mengelola uang milyaran yang terus berputar dengan cepat di dalam organisasi mereka. “Jika kau tidak mau kembali dan aku harus menggantikan posisimu, maka aku akan mengkorupsi uangnya lebih banyak dari yang kau lakukan selama ini,” ancam Andrew yang justru membuat Felix terkekeh. “Silakan saja. Tapi karena Aiden tidak mencintaimu seperti dia mencintaiku, dia mungkin akan menembakmu jika kau macam-macam dengan uangnya. Kau tidak lupa kan berapa kali dia mematahkan tulangmu karena kau membuatnya kesal? Dia tidak akan segan-segan membunuhmu jika kau sampai berani meniru jejakku,” kata Felix yang membuat Andrew mendengus keras. Tentu saja Andrew tidak akan pernah benar-benar melakukan ancamannya itu. Yang pertama karena ia bukanlah tukang korupsi seperti Felix, dan yang kedua karena ia tidak yakin Aiden akan membiarkannya tetap hidup jika ia macam-macam dengan uang organisasi seperti yang selalu Felix lakukan selama ini. “Kau tidak akan pernah bertemu dengan Bos lagi jika pergi meninggalkan organisasi.” Tidak mau menyerah, Andrew kembali berusaha untuk mengubah pikiran Felix. Namun ucapannya itu justru membuat Felix menatapnya sambil tersenyum lebar dan mengucapkan sesuatu yang berkebalikan dengan harapan Andrew. “Tentu saja. Itu adalah impianku selama ini. Untuk tidak akan pernah lagi melihat wajah Aiden di sepanjang hidupku.” Jawaban Felix membuat Andrew memejamkan kedua matanya sambil menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya. Namun karena ia tidak merasa tenang meski telah berusaha menahan emosinya, Andrew memilih untuk mengalah pada tabiat lamanya dan membuka matanya sambil mengeluarkan pistol yang ia simpan di balik jaketnya dan langsung menodongkannya pada Felix‒meniru cara Aiden setiap kali ingin mengancam seseorang untuk mengikuti kemauannya. “Haha!” Namun di hadapan Andrew, Felix yang terlah hafal dengan tabiat Andrew juga tengah menyodorkan pistolnya pada pria itu. “Kau pikir hanya dirimu saja yang bisa menodongkan pistol, uh? Aku juga punya pistol.” “Haha!” Andrew yang tidak mau kalah balas mengejek Felix. “Kau pikir bisa mengalahkanku soal menggunakan senjata, uh? Kau bahkan tidak bisa memegang pistolnya dengan benar.” “Tidak harus benar, tuh. Yang penting bisa digunakan untuk menembak seperti ini‒” Dor! Tubuh Felix tersentak kaget saat tiba-tiba terdengar bunyi tembakan yang sangat keras. Ia menundukkan kepalanya, menatap pistolnya dengan kedua mata melotot tak percaya sebelum genggamannya pada senjata itu terlepas begitu saja saat menyadari jika dirinya baru saja secara tidak sengaja menembakkan pistolnya pada Andrew. *** “Kami tidak bisa menerimanya begitu saja, Nyonya. Tanpa surat-surat yang lengkap dan wali sah yang mendampinginya, kami tidak bisa memproses pendaftarannya.” Mama Hana menghela napas kecewa karena kepala sekolah yang ditemuinya ini tidak mau diajak bekerja sama untuk mempermudah proses pendaftaran Runa. “Aku tidak usah didaftarkan sekolah tidak apa-apa, kok. Bibi, ayo kita pergi saja,” ujar Runa yang membuat Mama Hana kembali menghela napas karena gadis itu juga tidak mau diajak bekerja sama untuk mempermudah pekerjaannya. “Aku memang bukan walinya, tapi anak ini punya wali yang bisa menjaminnya untuk bersekolah di sini,” kata Mama Hana yang membuat Runa menatapnya bingung karena ia tidak tahu siapa yang akan menjadi walinya. “Silakan Anda bicara sendiri pada walinya.” Mama Hana menyerahkan ponselnya pada kepala sekolah setelah menghubungi seseorang. Dan begitu mendengar suara orang yang meneleponnya, kepala sekolah yang sudah berumur itu tidak bisa mengatakan apapun selain menyanggupi semua yang diinginkan oleh orang yang meneleponnya. “Baiklah,” kata kepala sekolah itu setelah mengembalikan milik Mama Hana. “Aku akan segera memproses pendaftarannya dan Runa bisa mulai masuk sekolah Senin depan.” Runa membulatkan kedua matanya mendengar kepala sekolah itu mengucapkan dua kata yang sangat dibencinya. Masuk sekolah dan hari Senin. Dan kepala sekolah itu masih berani tersenyum padanya setelah menerimanya di sekolah ini dan membuatnya harus kembali pada rutinitas lamanya sebagai seorang pelajar. “Sekolah itu menyenangkan, kok. Apalagi kau akan sekelas dengan Harvie, pasti akan menyenangkan sekali, kan?” Mama Hana mencoba menghibur Runa yang kelihatan murung, tidak sadar jika ucapannya membuat Runa jadi semakin murung. Itu karena Runa benar-benar tidak suka sekolah. Ia juga tidak suka jadi teman sekelah Harvie karena kebohongannya yang selalu mengaku sebagai wanita dewasa itu akan terbongkar nanti. Walaupun Harvie tidak melakukan apapun padanya sekarang, Runa jadi kesal sekali padanya hingga membuatnya ingin mengadukan Harvie yang suka bolos sekolah dan diam-diam memelihara kelinci di rumah Bibi Lily. “Mamanya Harvie?” Langkah Mama Hana dan Runa langsung terhenti dan serentak mereka menolehkan kepala ke belakang saat mendengar suara seorang wanita yang memanggil Mama Hana. “Oh, Ibu Wali Kelas,” kata Mama Hana. Ia lalu menoleh pada Runa dan berbisik, “Dia yang akan jadi wali kelasmu nanti. Ayo beri salam.” Seperti anak kecil yang ngambek, Runa tidak menuruti ucapan Mama Hana untuk memberi salam pada calon wali kelasnya itu. Ia hanya ingin bertemu Aiden sekarang dan menunjukkan wajah cemberutnya pada pria itu agar Aiden tahu jika dirinya benar-benar kesal karena dipaksa kembali bersekolah seperti ini. “Syukurlah aku bertemu Anda sekarang, Nyonya. Aku berniat menguhubungi Anda untuk membicarakan beberapa hal tentang Harvie,” kata Bu Guru yang membuat senyuman di wajah Mama Hana langsung lenyap. “Apa anak itu membuat masalah lagi?” Bu Guru hanya tersenyum lalu berkata, “Jika tidak keberatan, kita bisa membicarakannya di ruang guru sekarang, Nyonya.” Mama Hana menghela napas panjang. Sudah jelas jika wali keras Harvie mengajaknya bicara karena ingin menegurnya karena ulah anak nakalnya itu sebab tidak mungkin jika itu tentang prestasi. “Runa.” Mama Hana menatap Runa. “Kau bisa pulang lebih dulu bersama Aiden. Bibi masih ada urusan di sini.” Runa masih cemberut, namun tetap mematuhi ucapan Mama Hana yang menyuruhnya kembali lebih dulu pada Aiden. “Sudah selesai?” tanya Aiden begitu Runa masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi sebelahnya yang baru ditinggalkan Harvie beberapa menit yang lalu. “Mau pergi belanja perlengkapan sekolah sekarang?” Runa tidak menjawab. Gadis itu sengaja duduk miring menghadapkan punggungnya pada Aiden agar pria itu tahu jika dirinya sedang merajuk sekarang. “Aku sudah tidak punya penanggung jawab keuangan yang cerewet lagi sekarang, jadi hari ini aku akan membelikanmu semua barang bagus yang kau butuhkan untuk berseko‒” Aiden belum sempat menyelesaikan ucapannya saat bunyi dering ponselnya membuatnya menggantungkan kalimatnya. Ia melihat layar ponselnya dan kedua alisnya langsung saling bertautan saat ia melihat nama Felix yang tertera di sana. Padahal Felix kelihatannya tidak akan pernah menghubunginya lagi setelah Aiden membiarkannya pergi dan itu membuat Aiden merasakan firasat yang buruk karena pria itu menghubunginya lebih dulu seperti ini. Dan firasat buruk Aiden bukan omong kosong semata karena Felix benar-benar menghubunginya untuk mengabarkan sesuatu yang buruk padanya. “Anu, apa kau bisa datang ke rumah sakit sekarang? Aku tidak sengaja menembak Andrew tadi dan sepertinya dia sekarat.” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN