Papa Untuk Runa

1728 Kata
“Aku tidak mau tahu! Aku tidak akan pernah berdamai dan aku menuntutmu dan membuatmu jatuh miskin karena harus ganti rugi lalu membusuk selamanya di penjara! Aku tidak mau damai! Aku mau pengacara! PENGACA‒ AW!” Andrew belum selesai marah-marah pada Felix saat pukulan yang Aiden daratkan dengan keras di atas kepalanya membuatnya langsung terdiam. “Bos! Aku ini pasien, lho. Kau tidak boleh memukulku sembarangan!” “Mana ada pasien yang mulutnya berisik sekali sepertimu? Kau mengganggu pasien lain yang sedang beristirahat,” peringat Aiden yang kemudian membuat Andrew melotot dan jadi emosi lagi saat melihat Felix yang mengangguk-anggukkan kepalanya di belakang tubuh Aiden. “Apa, hah? Kau mengangguk apa? Bersiaplah pergi ke penjara, sialan! Berani sekali seorang mafia sepertimu menembak rakyat sipil sepertiku?” bentak Andrew yang membuat Felix cemberut.  “Aku kan tidak sengaja. Aku tidak tahu jika pistolnya akan bisa ditembakkan semudah itu,” jelas Felix mencoba membela diri. “Cih!” Namun Andrew yang katanya tidak akan pernah mau menyelesaikan masalah ini dengan jalan damai itu langsung mementahkan pembelaan Felix. “Apanya yang tidak sengaja? Kau pasti sengaja! Kau jelas sengaja ingin menembakku dan membunuhku karena sakit hati aku mengambil posisimu sebagai penanggung jawab keuangan organisasi!” Ucapan Andrew itu terlalu tidak masuk akal bagi Felix hingga membuat pria itu tidak tahu harus mengatakan apa meski mulutnya sudah terbuka dengan sendirinya saking takjubnya. “Maksudku... Kenapa aku sampai ingin membunuh orang hanya untuk mempertahankan posisi ini?” Felix bertanya dengan suara berbisik pada Runa yang sejak tadi hanya diam dengan wajah yang sembab. Gadis itu sudah menangis tadi, merasa takut Andrew akan mati dan menghantuinya karena mereka selalu bertengkar sebab Felix berkata jika pria itu sekarat tadi. “Kau kan tidak mati saat Aiden menguliti dadamu, kenapa kau berlebihan sekali saat aku tidak sengaja menembak lenganmu? Pelurunya sudah dikeluarkan, jadi kau tidak akan mati. Mau menuntutku juga tidak akan ada gunanya karena uangku lebih banyak untuk bisa membuatku terbebas dari tuntutanmu,” kata Felix yang membuat Andrew mengangkat kakinya untuk menendang pria itu‒yang untungnya ada selang infus yang terpasang di tangannya hingga membuat kakinya tidak bisa menjangkau Felix. “Pokoknya aku mau pengacara!” Andrew bersikeras. “Atau jika tidak, kau kembali ke posisimu!” “Ha?” Felix menatap Andrew tak mengerti. “Bagaimana?” “Kau tidak lihat lenganku terluka parah sekali?” Andrew menunjuk lengan kirinya yang diperban. “Aku mana mungkin bisa bekerja dengan tangan yang seperti ini?” “Memangnya kenapa tidak bisa? Dokter bilang lukanya tidak parah dan akan segera sembuh‒” “Ini parah! Pokoknya ini parah sekali! Aku yang merasakannya, dokter tidak mungkin mengerti! Enak saja bilang ini akan segera sembuh padahal aku yang merasakannya hampir mati!” Andrew menyela ucapan Felix dengan marah. “Kau tidak percaya? Mau kutembak juga supaya kau tahu sendiri bagaimana rasanya dan kita jadi impas?” “Jangan berlebihan begitu. Kau tidak malu bersikap kekanakan begitu di depan Runa, uh? Dia sampai menangis begitu karena berpikir kau mau mati!” kata Felix yang membuat Andrew mengalihkan tatapannya pada Runa yang langsung mendengus padanya. “Aku tadi sampai menangis seperti apa. Kupikir sudah mati betulan,” gerutu Runa yang membuat Andrew menatapnya tak percaya. “Kenapa kau kelihatannya kecewa sekali karena aku selamat, uh? Memangnya kau benar-benar berharap aku akan mati?” tanya Andrew yang hanya dibalas dengan helaan napas panjang oleh Runa. “Sudah jam segini.” Felix bergumam sambil melihat jam tangan mewahnya yang berharga ratusan juta itu sebelum kembali menatap Andrew. “Terserah kau mau menuntutku atau apa, tapi kita bicarakan itu nanti saja. Aku harus segera ke bandara sekarang.” “Kau benar-benar mau pergi?” Andrew menatap Felix tak percaya. “Kau mau melarikan diri setelah membuatku jadi begini. “Mata untuk mata, gigi untuk gigi. Jika kau menembak tanganku, maka aku akan menembak tanganmu juga. Aku tidak akan membiarkanmu pergi semudah ini!” “Kau bilang kau bukan mafia lagi, uh? Tapi kenapa sekarang kau bicar seperti seorang mafia?” ejek Felix. “Aku akan jadi mafia betulan jika kau sampai pergi, sialan!” maki Andrew. “Tetaplah di sini dengan posisimu dan aku akan melupakan semua yang sudah kau lakukan padaku hari ini.” “Aku lebih senang masuk penjara saja daripada kembali ke organisasi ini,” kata Felix. “Bos...” Sadar jika ia tidak akan dapat membujuk Felix lagi untuk tinggal karena pria itu seperti seekor burung yang ingin segera terbang bebas begitu pintu sangkarnya dibuka, Andrew memutuskan untuk minta bantuan pada Aiden. Dengan wajah memelas ia memohon pada bosnya itu. “Aku benar-benar tidak bisa mengurus keuangan. Kumohon jangan paksa aku lagi.” Aiden menolehkan kepalanya pada Felix dan itu membuat Felix langsung memelototkan padanya mengantisipasi apapun yang akan pria itu katakan untuk membuatnya kembali ke organisasi padahal baru beberapa jam yang lalu Aiden membebaskan dirinya. “Apa? Kau mau apa, hah?!” Felix menunjukkan sikap galaknya lebih dulu agar Aiden berhenti berpikir untuk membujuknya. Namun Aiden justru membuat semua orang di tempat itu bingung saat berkata, “Kau bilang ingin menikah dan punya anak, kan? Apa sekarang masih ingin?” “Tentu saja,” jawab Felix sementara Andrew menatap Aiden dengan tatapan protes. “Karena itu aku harus pergi dari organisasi untuk‒” “Bagaimana jika punya anak lebih dulu?” potong Aiden yang sepertinya sama sekali tidak akan tertarik dengan apapun yang akan Felix ucapkan karena ia hanya ingin menyampaikan tentang keinginannya pada pria itu. “Bagaimana?” Felix bertanya dengan wajah bingung. “Maksudnya punya anak di luar nikah? Anak haram?” “Anak angkat,” sahut Aiden. Dan apa yang kemudian ia katakan berhasil membuat semua orang yang ada di sana‒terutaman Runa dan Felix‒jadi sangat terkejut. “Aku akan mendaftarkanmu untuk jadi ayah angkatnya Runa sebab dia butuh wali untuk sekolah. Karena itu, tetaplah tinggal di sini. Kau mungkin akan sering datang ke sekolahnya sebagai ayahnya nanti.” *** Aiden tidak memikirkan hal ini sembarangan. Meski kesannya seperti itu dan ia memutuskannya dalam waktu yang singkat, Aiden yakin jika ini keputusan yang paling tepat untuk masa depan Runa. “Tapi aku masih belum menikah dan baru berusia 30 tahun, mana mungkin bisa jadi ayah dari anak sebesar ini!” Namun tentu saja, Aiden tidak akan bisa merealisasikan keinginannya dengan mudah karena sudah jelas Felix akan menentangnya. Begitu juga dengan Runa, yang mengangguk-anggukkan kepalanya di sebelah Felix menyetujui apa yang pria itu katakan untuk menolak usulan Aiden. “Iya. Lagipula papaku masih hidup, jadi tidak perlu punya papa angkat,” kata Runa yang kali ini gantian didukung Felix dengan anggukan. Membuat Andrew yang melihat perdebatan mereka dari atas tempat tidurnya sambil diperiksa oleh dokter mendecih pelan melihat bagaimana Runa dan Felix jadi sangat kompak sekarang untuk menolak permintaan Aiden. “Sudah?” tanya Andrew pada dokter yang hendak beranjak meninggalkannya. Kemudian dengan suara berbisik ia berkata pada dokter itu, “Sekarang pasangkan gips di sini.” “Tidak perlu, Tuan. Tidak ada tulang yang patah, jadi tidak perlu digips‒” “Jika seorang mafia berkata padamu untuk memakaikan gips padanya, maka turuti saja permintaannya, uh. Atau kau lebih suka jika aku yang membuat tanganmu digips, Pak Dokter?” ancam Andrew masih dengan suara berbisiknya hingga hanya dokter malang itu yang dapat mendengar suaranya. Padahal Andrew adalah orang yang paling ingin menjauh dari kehidupan mafia, namun dibandingkan mafia mana pun ia adalah seseorang yang paling sering menggunakan kata mafia untuk mengancam orang‒bahkan meski saat ini statusnya bukan seorang mafia lagi. “Papa seperti itu kenapa harus dianggap masih hidup, uh?” gerutu Aiden yang membuat Runa menatapnya tidak senang. Karena meski papanya telah melakukan hal yang sangat buruk padanya, Runa tidak akan senang jika ada orang yang menjelekkan papanya. “Kau bilang mengalami kesulitan di sekolah sebelumnya karena teman-temanmu tahu jika kau anak dari seorang preman, maka dari itu sekarang aku ingin menjadikan Felix sebagai papamu. Dia kaya dan berpendidikan, tidak akan ada celah bagi teman-temanmu untuk menghinamu lagi jika dia yang jadi papamu,” jelas Aiden yang membuat Felix mengerutkan keningnya dalam sekali sebagai bentuk protesnya. “Lalu kenapa tidak kau saja yang jadi papanya? Kau lebih kaya dariku!” ujar Felix. “Kalau Bos yang jadi papanya bukannya itu lebih buruk? Bukan seorang preman, tapi seorang mafia. Tidak akan ada yang mau berteman dengan Runa jika teman-temannya tahu dia anak seorang mafia,” timpal Andrew yang membuat Felix menoleh padanya. Yang kemudian membuat kedua mata Felix melotot saat melihat dokter yang tengah memasang gips di lengan kiri Andrew. “Dokter, kenapa dipakaikan gips begitu? Itu kan tidak patah!” protes Felix yang membuat Andrew menatapnnya dengan sengit. “Sudah kubilang ini parah sekali! Aku bisa kehilangan tanganku jika tidak digips seperti ini, sialan!” maki Andrew yang membuat dokter hanya bisa menghela napas pasrah karena dipaksa memasang gips di lengan pria itu. “Kau bersiap saja untuk tuntutanku! Aku tidak mau damai jika kau tidak mau kembali ke organisasi!” ancamnya yang membuat Felix mencibirkan bibirnya. “Tapi Tuan Felix terlalu muda untuk jadi papaku.” Runa meneruskan perjuangan Felix untuk menentang ide Aiden. “Tuan kelihatan lebih cocok untuk jadi papaku.” “Pffft!” Aiden menolehkan kepalanya dengan sengit pada Felix yang membekap mulutnya sendiri, menahan tawanya atas ucapan Runa. “Tapi kita ini seumuran, Runa. Apa wajahku memang kelihatan lebih muda darinya? Memang sih dia itu wajahnya kelihatan beberapa tahun lebih‒” “Tangan kanan atau tangan kiri?” Aiden menyela ucapan Felix dengan nada dingin yang terdengar mengancam. “Selagi dokter ada di sini, kau ingin aku membantumu mendapatkan gips di tangan kanan atau tangan kiri?” “Tapi...” Runa kembali bersuara, mengalihkan perhatian Aiden dari kedua tangan Felix yang ingin ia jadikan sasaran atas kekesalannya. “Aku lebih senang jika Tuan Aiden yang jadi papaku.” Ucapan Runa membuat Aiden menatapnya dengan menaikkan sebelah alisnya sementara Felix menganggukkan kepalanya dengan semangat. Biar saja Runa punya papa seorang mafia atau apapun, yang penting bukan dirinya yang jadi papanya Runa. Namun apa yang kemudian Aiden katakan untuk menyangkal ucapan Runa berhasil mengejutkan Runa, Felix, dan Andrew. Dan juga mengejutkan Aiden sendiri saat pria itu sadar makna ucapannya sendiri. “Jika aku jadi papamu sekarang, aku tidak akan bisa menikahimu jika kau sudah dewasa nanti. Itulah mengapa harus orang lain selain aku yang jadi papamu, Runa.” **To Be Continued**  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN