Penolakan Mertua

1538 Kata
“Jika aku jadi papamu sekarang, aku tidak akan bisa menikahimu jika kau sudah dewasa nanti. Itulah mengapa harus orang lain selain aku yang jadi papamu, Runa.” Perkataan Aiden itu tentu saja mengejutkan semua orang yang mendengarnya. Bahkan Andrew yang sedang pura-pura sakit parah pun sampai turun dari tempat tidurnya untuk menyaksikan situasi itu dari jarak yang lebih dekat. “Itu lamaran, kan? Kau sedang melamar Runa, kan?” Sementara Runa masih sangat terkejut dengan perkataan Aiden, Felix yang sudah hilang keterkejutannya kini berubah menjadi heboh. Pria itu menunjuk wajah Aiden sambil memelototinya saat bertanya, “Kau baru saja melamar untuk menikah denganmu, kan?” Aiden mengangkat sebelah alisnya, kelihatan bingung mengapa Felix jadi seheboh ini. “Ei, itu bukan lamaran!” sanggah Andrew yang membuat perhatian semua orang teralih padanya. “Tidak ada cincinnya dan dia juga tidak mengucapkannya sambil berlutut, mana mungkin itu bisa disebut sebagai lamaran?” “Kau sendiri kenapa kelihatan segar bugar begini, uh? Yang seperti ini mana mungkin bisa disebut sebagai pasien?” hardik Felix yang membuat Andrew mendecakkan lidahnya. “Itu bukan lamaran! Jangan berpikir yang aneh-aneh karena itu bukan lamaran! Pria seperti ini tidak mungkin melamar dan menikahimu, Nona Kecil.” Andrew berkata pada Runa dan hal tersebut justru membuat gadis itu menatapnya dengan tatapan tidak senang. “Kenapa tidak mungkin? Memangnya kami tidak boleh menikah?” Runa bertanya dengan nada kesal, entah sadar dengan apa yang diucapkannya atau hanya sekadar berucap tanpa memikirkannya terlebih dahulu karena merasa kesal dengan ucapan Andrew. Namun perkataannya itu berhasil membuat Aiden menatapnya dengan tanda tanya yang besar di dalam kepalanya. Mungkinkah Runa juga sama seperti dirinya yang berpikir jika suatu saat nanti mereka bisa menikah? “Itu karena bosku harus berhenti jadi mafia jika ingin menikahimu,” kata Andrew. Yang kemudian penjelasan yang pria itu berikan pada Runa menyadarkan Aiden tentang mimpinya yang terlalu tinggi padahal selama ini ia melakukan pekerjaan rendahan yang kotor sebagau seorang ketua mafia. “Jika kau ingin menikah dengan Runa, itu artinya kau harus berhenti jadi mafia dan tato di dadamu harus dikuliti. Bos, kau tahu kan tidak semua orang itu kuat sepertiku? Kau bisa saja mati saat dadamu dikuliti karena itu benar-benar sangat sakit!” “Kalau begitu dia tidak harus berhenti jadi mafia!” kata Felix, yang entah mengapa jadi membela Aiden seperti ini. Ia hanya tidak ingin Andrew menang saja, karena itu sekarang ia membela Aiden untuk tetap menjadi mafia seperti ini. “Memangnya kau mau punya suami seorang mafia, uh? Nanti kau harus melahirkan seorang anak yang akan dijadikan penerus organisasi, kau mau?” Kali ini Andrew bertanya pada Runa yang tampaknya bingung dengan topik ini. Padahal tadi mereka sedang membicarakan tentang ayah angkat karena dirinya akan mulai bersekolah lagi, tapi kenapa sekarang malah membahas tentang pernikahan seperti ini? Dan suami... Runa tiba-tiba saja merasa wajahnya memanas saat membayangkan jika ia menikah dengan Aiden dan pria itu menjadi suaminya. Lalu mereka punya anak yang mirip dengan dirinya dan Aiden. Yang akan memanggilnya dan Aiden dengan sebutan mama dan papa. Sepertinya meski Andrew sedang berusaha menakut-nakutinya agar tidak mau dinikahi oleh Aiden, Runa hanya bisa membayangkan hal-hal indah jika pernikahannya dengan Aiden benar-benar terjadi dan pria itu menjadi suaminya. “Aku kan tidak bilang akan menikahinya sekarang,” kata Aiden yang menbuat Runa menoleh untuk menatapnya. Dan Aiden menundukkan kepalanya untuk membalas tatapan gadis itu saat menambahkan, “Itu bukan lamaran, jadi tidak usah bingung memikirkan untuk menolaknya. Pikirkan saja bagaimana kau akan mulai bersekolah‒” “Aku tidak akan menolaknya!” Runa menyela ucapan Aiden dengan kalimat yang mampu membuat pria itu langsung terdiam. Felix yang mendengarnya kembali melotot sementara Andrew membulatkan mulutnya merasa jika situasi ini jadi semakin seru sekarang. “Aku tidak akan menolaknya, jadi...” Suara Runa terus semakin mengecil hingga akhirnya gadis itu menggantungkan ucapannya untuk menatap Aiden dengan ekspresi tersipu di wajahnya yang telah bersemu merah. “Jangan berpikir aku akan menolaknya karena aku tidak akan menolaknya.” “Apa itu artinya kau akan jadi menantuku?” tanya Felix. “Oi! Kau ini teman sekelasku, mana bisa jadi menantuku! Aneh sekali, lho!” “Jadi kau setuju untuk menjadi ayah angkatnya Runa?” tanya Aiden yang memilih untuk tidak terpancing dengan topik pernikahan yang masih akan dilakukannya beberapa tahun lagi dan hanya fokus pada pembicaraan tentang ayah angkat Runa yang jauh lebih mendesak. “Kalau aku jadi ayahnya aku tidak akan membolehkannya untuk menikah denganmu,” kata Felix sambil menarik tangan Runa untuk menjauh dari Aiden. “Aku ingin putriku menikah dengan laki-laki baik-baik yang tampan dan mapan. Mafia akan langsung tertolak secara otomatis.” “Baiklah, kalau begitu kau akan jadi ayah angkatnya. Pergilah untuk mengurus surat-suratnya lalu serahkan ke sekolah,” perintah Aiden yang membuat Runa menatapnya dengan tatapan protes. Heran karena Aiden yang lebih dulu melamarnya namun sekarang santai saja saat Felix menentang hubungan mereka seperti ini. “Tapi aku tidak mau punya Papa seperti Tuan Felix,” tolak Runa yang membuat Felix menatapnya tak terima. Meski pria itu tidak setuju dengan ide Aiden yang ingin menjadikan dirinya sebagai ayah angkat Runa, namun jika tditolak begini ia jadi tidak senang. “Kenapa tidak mau? Aku ini Papa yang kaya, lho. Aku bisa membelikanmu apa saja yang kau inginkan!” “Tapi Tuan Aiden lebih kaya!” “Oho, siapa yang mengajarimu jadi materialistis seperti itu, Nak? Papa tidak pernah mengajarimu begitu!” “Tuan bukan papaku! Jangan bertingkah begitu, aku jadi merinding!” Andrew hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan Runa dan Felix. Dibandingkan jadi ayah dan anak, mereka itu lebih cocok jadi kaka-adik. Runa yang jadi kakaknya karena menurut Andrew, Felix itu jauh lebih kekanakan dibandingkan gadis remaja yang sedang puber itu. “Kau tidak boleh menikah dan berhenti jadi mafia! Aku tidak mau mewarisi organisasi ini menggantikan dirimu!” kata Andrew yang membuat Aiden menoleh padanya. “Aku pergi ke universitas untuk menjadi sarjana, aku tidak mau jadi mafia lagi!” “Kau tidak akan kujadikan mafia lagi, jadi berhenti berpikiran seperti itu!” Aiden berkata dengan nada kesal karena Andrew yang terus-menerus menaruh kecurigaan terhadap dirinya membuatnya haru terus mengulang-ulang hal tersebut. Meyakinkan Andrew jika dirinya tidak akan membuat pria itu kembali jadi mafia karena tidak ingin merusak mimpi Andrew untuk menjadi seorang sarjana. “Kenapa kau masih di sini?” Aiden beralih pada Felix yang masih sibuk berdebat dengan Runa. “Cepst urus surat-suratnya! Aku membutuhkannya secepatnya!” “Sebentar, aku belum selesai mendidik anakku,” kata Felix yang membuat Runa menatapnya dengan tatapan muak. “Oho! Siapa yang mengajarimu bersikap seperti itu di depan orang tuamu, uh? Cepat tundukkan pandanganmu! Kau mau jadi anak durhaka?” “Tuan~” Runa merengek pada Aiden. Merasa kesal sekali pada Felix yang meski awalnya menolak ide Aiden untuk menjadi ayah angkatnya namun sekarang sepertinya terlalu mendalami perannya sebagai orang tua hingga menganggap dirinya benar-benar sebagai ayah Runa. “Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran dan menjadikan Andrew sebagai ayah angkatnya Runa!” ancam Aiden yang berhasil membuat semua orang di sana melotot tak terima padanya. Namun entah karena ingin menggoda semua orang itu atau pola pikirnya yang memang abstrak, Aiden kembali berkata, “Sepertinya Andrew lebih baik. Selain berpendidikan dan punay banyak uang, kau juga kuat. Pasti akan lebih baik jika kau yang jadi‒” “Aku tidak kaya! Dan aku bukan sarjana!” Andrew buru-buru menyela ucapan Aiden. “Aku hanya mahasiswa miskin yang tinggal di asrama kampus dan aku sudah tidak kuat lagi karena sekarang sudah kena tembak. Aku tidak bisa jadi ayah. Anakku bisa mati jika aku yang jadi ayahnya.” “Aku juga tidak mau menjadi anakmu!” tolak Runa yang menatap Andrew dengan wajah merengut. “Tuan, aku tidak usah punya ayah angkat, ya? Tidak usah, ya?” “Kau membutuhkannya untuk sekolah, Runa,” kata Aiden yang berusaha keras untuk tidak luluh pada rengekan Runa meski wajah memelas gadis itu membuatnya merasa sangat gemas hingga rasanya ingin menggigit pipi yang menggembung karena cemberut itu. “Kalau begitu tidak usah sekolah!” Runa memberikan saran yang membuat Andrew geleng-geleng kepala dengan wajah menghina karena dirinya seorang mahasiswa dan Runa bahkan tidak mau meneruskan sekolah SMA-nya. “Aku tidak usah sekolah tidak apa-apa, kok. Aku tidak suka sekolah. Aku tidak punya teman dan juga tidak pandai di sekolah, jadi tidak ada gunanya. Hanya buang-buang waktu dan uang saja,” kata Runa yang berusaha keras untuk membuat Aiden mengubah pikirannya dan berhenti memaksanya untuk kembali bersekolah. “Baiklah. Jika kau memang tidak ingin sekolah, maka aku tidak akan memaksamu,” kata Aiden yang membuat kedua mata Runa berbinar senang sementara Andrew kembali geleng-geleng kepala. Dalam hati menyayangkan ketidakpedulian Aiden pada pendidikan padahal di zaman sekarang ini pendidikan merupakan hal yang sangat penting di dalam masyarakat. “Tapi itu artinya kau harus melakukan lebih cepat sesuatu yang akan kau lakukan setelah lulus sekolah,” ujar Aiden yang membuat Runa menatapnya bingung. Gadis itu terlihat berpikir sebelum bertanya, “Bekerja? Tuan ingin aku bekerja?” Aiden menggelengkan kepalanya dan saat ia kembali membuka suaranya, ucapannya lagi-lagi berhasil membuat semua orang di tempat itu menatapnya tak percaya. “Karena kau tidak mau sekolah, maka kau harus jadi dewasa lebih cepat lalu menikah denganku. Apa kau sudah siap?” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN