Rok Pendek

1815 Kata
“Memang seragam sekolah itu lebih baik untuk gadis kecil sepertimu daripada gaun pengantin. Kau pikir menikah itu mudah, uh? Sekolah dulu yang pintar baru menikah!” Andrew yang dipaksa keluar dari rumah sakit untuk menjalankan tugasnya sebagai pengawal pribadi Runa berjalan di belakang gadis itu sambil terus mengomel. Membuat Runa jadi yang sejak awal memang sudah kesal jadi semakin kesal. “Lalu Tuan pikir sekolah itu mudah, uh? Lebih mudah dari menikah?” tanya Runa dengan nada menantang. “Tentu saja itu mudah! Aku saja bisa jadi mahasiswa.” Andrew menyahuti ucapan Runa dengan nada bangga yang terdengar sombong, membuat Runa mendecih untuk mengejeknya. “Tapi Tuan tetap tidak pintar meski sudah jadi mahasiswa, jadi apanya yang mau dibanggakan, uh?” ejek Runa yang membuat Andrew memicing padanya. Ingin membantah namun faktanya memang begitu. Kenyataannya, Andrew kuliah bukan karena dirinya pandai atau suka belajar. Ia hanya ingin jadi orang yang berpendidikan agar tidak seperti mafia lagi. “Kau turuti saja apa kata papamu! Dia tidak mengizinkanmu menikah sebelum lulus sekolah,” kata Andrew yang membuat Runa menoleh padanya untuk menunjukkan ekspresi kesal di wajahnya. “Tuan Felix itu bukan papaku! Jangan terus menyebutnya seperti itu, aku tidak suka!” “Ya, ya. Cepat beli apa yang kau perlukan lalu pulang. Aku harus cepat kembali ke rumah sakit. Aku ini seorang pasien, lho! Bisa-bisanya dipaksa tetap bekerja dengan tangan yang masih digips begini. Awas saja jika suamimu itu tidak memberiku gaji 100 juta, akan kulaporkan pada dinas ketenagakerjaan nanti karena sudah membuat orang sakit parah sepertiku tetap bekerja.” “Cih! Sakit parah apanya? Tuan yang bisa dilaporkan karena pura-pura sakit dan digips agar tidak bekerja!” “Sebentar, kau protes saat aku menyebut Felix sebagai papamu tapi diam saja saat kubilang Bos itu suamimu?” Andrew lalu mempercepat langkahnya. Kemudian setelah berjalan di sebelah Runa ia bertanya, “Kau pasti senang kan karena kubilang Bos itu suamimu?” “Mundur 3 langkah!” ketus Runa. “Kata Tuan Aiden, Tuan harus selalu 3 langkah di belakangku agar orang-orang tidak salah paham dan menganggap kita pacaran karena Tuan berjalan di sebelahku seperti ini.” “Oho, kau mau jadi majikan yang jahat sekarang, Nona Kecil?” Bukannya mundur dan berjalan 3 langkah di belakang Runa seperti yang Aiden perintahkan padanya, Andrew yang ingin menggoda Runa dan membuat gadis itu jadi semakin kesal justru mengalungkan tangan kirinya yang digips di bahu Runa tanpa mempedulikan pelototan gadis itu. “Bahkan jika aku berjalan di sebelahmu sambil merangkulmu seperti ini, Bos tidak akan tahu dan‒ Ah!” Runa langsung menghentikan langkahnya dengan kedua mata yang membulat kaget saat tiba-tiba tangan Andrew disingkirkan dari atas bahunya bersamaan dengan suara jeritan keras dari pria itu. “Tuan!” Runa berseru pada Aiden yang saat ini sedang menatap Andrew dengan tajam sementara tangannya menekuk pergelangan tangan kiri Andrew yang membuat pria itu menjerit kesakitan. “Bos! Itu sakit, Bos! Aku tidak bohong, itu bisa patah sungguhan!” Andrew masih menjerit-jerit kesakitan tapi sepertinya Aiden sama sekali tidak peduli dengan hal tersebut. “Sepertinya kau sangat ingin dapat gips sungguhan, uh? Baiklah, aku akan membuat tanganmu benar-benar digips,” kata Aiden seiring dengan tangannya yang semakin kuat menekuk tangan Andrew hingga membuat jeritan pria itu jadi semakin keras. “Nona Kecil...” Andrew beralih pada Runa, berharap gadis itu mau membujuk Aiden untuk melepaskannya. “Tolong suruh suamimu berhenti.” “Di-dia bukan suamiku!” Runa membantah ucapan Andrew dengan kedua mata melotot salah tingkah, membuat Aiden tanpa sadar melemahkan kekuatannya yang membuat Andrew langsung menarik tangannya terlepas dari pria itu. Meski sebelumnya ia biasa saja ketika Andrew mengatakan hal tersebut, sekarang itu membuatnya merasa sangat malu karena Andrew mengucapkannya secara langsung di depan Aiden. “Kau membantahnya sekarang padahal tadi diam saja seolah membenarkannya, uh?” gerutu Andrew sambil mengkibas-kibaskan telapak tangannya. “Sial, ini sakit sekali!” “Lain kali aku melihatmu menyentuh Runa sembarangan lagi, kau akan kehilangan tanganmu seperti kau kehilangan tatomu,” ancam Aiden dengan wajah yang terlihat penuh intimidasi. Namun ekspresinya langsung melembut saat ia menolehkan kepalanya pada Runa. “Berjalanlah lebih dulu. Aku akan berjalan 5 langkah di belakangmu.” “Tuan bisa berjalan di sebelahku,” kata Runa yang tentu saja akan dengan senang hati memberikan tangannya pada Aiden untuk digandeng oleh pria itu. “Aku akan mengikutimu setelah kau berjalan 5 langkah,” ujar Aiden yang membuat Runa menggembungkan pipinya karena pria itu tidak memberinya pilihan selain mulai berjalan lebih dulu. “Itu bagus! Aku memang berniat untuk langsung pergi saja meski tidak disuruh!” gerutu Andrew saat melihat Aiden yang melangkahkan kakinya sambil menggerakkan telapak tangan kirinya sebagai isyarat untuk mengusir dirinya. “Mungkin ini harus dipasang perban juga,” gumam Andrew sambil menggerak-gerakkan telapak tangan kirinya, yang meski sebenarnya rasa sakitnya sudah hilang namun rasa sakit hatinya pada Aiden karena sudah diperlakukan seperti itu masih belum hilang hingga ia ingin menjauh lagi dari pria itu. “Kenapa 5 langkah?” Sementara itu, Runa yang berjalan di depan Aiden di kawasan pertokoan itu bertanya pada Aiden yang berjalan di belakangnya. “Tuan Andrew‒” “Andrew,” potong Aiden yang membuat Runa menoleh padanya. “Tidak usah pedulikan berapa umurnya, panggil saja dia dengan namanya karena kau majikannya sekarang.” “Tapi itu terdengar tidak sopan,” ujar Runa sembari kembali menghadapkan kepalanya ke depan. “Mafia tidak butuh sopan santun.” “Tapi aku bukan mafia.” “Aku tidak suka kau menyebut semua orang dengan panggilan Tuan. Itu terdengar seolah kau berada di bawah mereka,” jelas Aiden yang membuat Runa menganggukkan kepalanya mengerti. “Kalau panggil kakak?” tanya Runa yang membuat Aiden mengangkat sebelah alisnya. “Andrew dan Felix itu sudah tua, tidak pantas kau panggil kakak!” “Tapi Tuan Felix itu seumuran denganmu, kan? Dan Tuan Andrew itu lebih muda dari kalian, jadi jika mereka tua maka Tuan juga‒” “Kau melewatkan tokonya!” “Oh?” Runa menghentikan langkahnya setelah Aiden menyela ucapannya. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati jika toko seragam yang menjadi tujuannya sudah terlewat. “Kalau tuan dan kakak tidak boleh lalu aku harus panggil mereka apa?” tanya Runa sambil menatap Aiden saat berjalan memasuki toko. Aiden menunggu sampai Runa berada 5 langkah di depannya baru kembali melangkahkan kakinya. “Tidak usah panggil mereka. Tidak usah bicara dengan mereka. Itu akan membuatku lebih senang,” ujar Aiden yang membuat Runa mengulum senyumnya. “Dia pasti akan jadi suami yang pencemburu,” gumam Runa dengan suara yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri. “Jangan pergi terlalu jauh. Aku akan minta pelayan untuk menyiapkan seragam sekolahmu,” kata Aiden yang membuat Runa menghentikan langkahnya saat Aiden berjalan mendahuluinya untuk menghampiri seorang pelayan. “Dia membuatku bicara ke mana-mana sampai lupa bertanya kenapa dia harus berjalan 5 langkah di belakangku sementara Tuan Andrew boleh 3 langkah saja,” gumam Runa sambil memiringkan kepalanya. Namun kemudian gadis itu memukul kepalanya sendiri saat ingat sesuatu. “Andrew! Tidak boleh pakai tuan. Suamiku tidak suka mendengarnya.” “Apa ini?” Aiden mengerutkan keningnya dengan tampang tidak senang saat pelayan menunjukkan setelan seragam padanya. “Ini seragam yang Tuan inginkan,” sahut pelayan yang meski tidak melakukan salah apapun jadi merasa gugup dan takut karena orang yang tubuhnya dihiasi banyak tato seperti Aiden bicara dengan nada tidak senang saat dilayani oleh dirinya seperti ini. “Kenapa roknya pendek sekali?” tanya Aiden dengan nada protes sambil mengangkat rok kotak-kotak berwarna coklat yang membuat kerutan di keningnya semakin dalam. “Dia bisa dikeluarkan dari sekolah jika pakai rok sependek ini. Celana dalamnya bisa kelihatan jika roknya pendek begini.” “Ini tidak sependek kelihatannya, Tuan. Sudah disesuaikan dengan ukuran untuk anak SMA.” “Tidak ada anak SMA di sekolahku yang pakai rok sependek ini!” “Ta-tapi... Anak SMA zaman sekarang memang pakai seragam yang seperti ini.” “Aku ingin yang lebih panjang!” Aiden berkata sambil dengan kasar meletakkan rok tersebut di atas kaca etalase. “Pikiran anak laki-laki di bangku SMA itu sangat kotor dan aku tidak bisa memasrahkan gadisku ke sekolah dengan rok sependek ini. Setidaknya berikan dia yang panjangnya di bawah lutut!” “Tapi... Kami tidak punya yang panjangnya seperti itu, Tuan. Ini sudah ukuran yang sesuai dengan aturan sekolah.” “Tapi itu tidak sesuai dengan aturanku!” Aiden meninggikan suaranya, membuat pelayan itu menciut takut karena bentakan pria itu. “Oh?” Ketegangan di wajah Aiden tiba-tiba memudar saat matanya tidak sengaja menangkap sesuatu yang terpajang di manekin. Kemudian dengan penuh keyakinan ia menunjuknya sambil berkata, “Aku mau yang itu! Aku akan beli yang itu untuk Runa dan melindungi kaki cantinya dari pikiran kotor anak-anak SMA!” *** “Anakku! Papa pulang~” Felix memasuki apartemen Aiden dengan wajah sumringah sambil membawa amplop berwarna coklat di tangannya. “Anak‒ Lho?” Felix berhenti tersenyum saat melihat Runa yang menatapnya dengan wajah memerah sambil menggigit bibir bawahnya dengan wajah seperti menahan tangis. Membuat Felix langsung menolehkan kepalanya dengan kedua mata melotot pada Aiden yang berdiri tidak jauh dari Runa sambil memegang sebuah celana di tangannya. “Kau apakan anakku, hah? Aku yang papanya saja tidak pernah membuatnya menangis mengapa kau berani membuatnya begini?” bentak Felix yang membuat Aiden mengangkat sebelah alisnya. Heran mengapa Felix mendalami perannya sampai seperti ini padahal mereka hanya butuh status di atas kertas saja tanpa Felix perlu jadi seperti ini. “Dia tidak nangis, tuh!” kata Aiden. “Dia hampir nangis, tuh!” bantah Felix. “Kau apakan anakku, uh?” “Aku membelikannya seragam. Tapi dia tidak menyukainya,” jelas Aiden. “Itu bukan seragam!” bantah Runa. “Ini seragam!” Aiden menunjukkan celana yang ada di tangannya. “Ini seragam sekolah seperti yang dipakai Harvie!” “Tapi aku ini perempuan! Tidak ada murid perempuan yang pakai celana ke sekolah, kenapa Tuan memaksaku untuk pakai yang seperti itu?” “Sebentar, sebentar...” Felix menengahi perdebatan Aiden dan Runa. Ia lalu menunjuk celana yang ada di tangan Aiden dan bertanya, “Kau membelikannya celana untuk sekolah? Bukan rok?” “Roknya pendek sekali. Orang-orang bisa melihat celana dalamnya jika dia pakai yang sependek itu,” kata Aiden yang membuat Runa jadi semakin kesal padanya. “Tidak sependek itu dan aku bisa pakai celana pendek agar celana dalamku tidak kelihatan! Aku tidak mau pakai celana seperti itu ke sekolah!” Runa berkata dengan meninggikan suaranya dan itu membuat Aiden jadi tidak senang. “Kalau begitu tidak usah ke sekolah!” ujar Aiden yang tentu saja membuat Runa senang. “Aku memang tidak ingin sekolah!” “Itu bagus!” dengus Aiden. Dan kemudian, pria itu kembali mengatakan sesuatu yang sepertinya akan sering pria itu ucapkan untuk mengancam Runa. “Kalau begitu tidak usah sekolah dan menikah denganku saja. Jika kau tidak ingin pakai celana ini, maka pakai gaun dan menikah denganku saja!” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN