“Oi, cepat bangun! Ini sudah waktunya berangkat sekolah!”
“Sekolah apa, sialan! Aku sudah 27 tahun, tidak perlu ke sekolah lagi!”
Felix memukul p****t Andrew yang masih bersembunyi di dalam selimutnya itu dengan keras, membuat Andrew menyibak selimutnya dengan kasar lalu menatap pria itu dengan sengit‒jenis tatapan yang bisa mengundang pertengkaran.
“Tidak usah pura-pura lupa ingatan! Kau harus mengantar anakku ke sekolah sekarang!” ujar Felix yang membuat Andrew langsung menutupi tubuhnya dengan selimut lagi.
“Itu kan anakmu yang mau sekolah! Jadi kau saja yang antar sana!”
“Tapi kau pengawalnya!”
“Tapi aku sedang cuti sakit!”
“Cuti kepalamu! Cepat bangun dan bersiap! Jangan sampai anakku terlambat di hari pertamanya!”
Sementara Felix memaksa Andrew untuk bangun, di kamar sebelah Runa yang baru keluar dari kamar mandi berdiri di hadapan Aiden dengan memakai seragamnya yang berwarna coklat muda.
“Bagaimana?” Runa bertanya karena Aiden hanya diam saja padahal ia berharap mendengar pujian dari pria itu. “Apa seragamnya cocok untukku?”
“Tidak,” sahut Aiden yang membuat Runa menatapnya dengan alis saling bertautan. “Iya.” Dan Aiden buru-buru meralat ucapannya sebelum Runa merasa kesal dengan hal tersebut. “Tapi... Kurasa gaun pernikahan mungkin akan lebih cocok untukmu. Seragam ini kelihatan terlalu biasa untukmu.”
“Tuan ini bicara apa.” Runa pura-pura mendecakkan lidahnya untuk menutupi rasa malunya karena ucapan Aiden yang membuatnya merasa tersipu. “Tapi ini bagus, kan?”
Aiden menatap penampilan Runa dan kedua matanya terpaku pada kedua kaki Runa yang meski tidak begitu jenjang namun kelihatan menggemaskan dengan rok pendek kotak-kotaknya. “Tapi kau yakin tidak ingin pakai celana saja? Itu akan membuatmu lebih nyaman dan bebas bergerak.”
Ucapan Aiden langsung membuat Runa merengut. “Kita sudah selesai bertengkar karena celana itu, Tuan! Tidak usah membahasnya lagi!”
“Aku hanya bilang,” gumam Aiden. “Kemarilah. Aku akan menata rambutmu.”
“Aku ingin diikat pakai pita,” pinta Runa seraya mendudukkan dirinya di lantai membelakangi Aiden yang duduk di atas tempat tidur. Posisi yang selalu mereka lakukan setiap kali Aiden menata rambut Runa.
“Akan kuikat dengan pita berwarna merah,” ujar Aiden sambil menyisir rambut Runa. Meski tangannya yang besar dan kekar itu dipenuhi tato, namun gerakannya terlihat sangat lembut dan hati-hati ketika menata rambut Runa.
Namun tiba-tiba Aiden menghentikan gerakannya saat tengkuk putih Runa terpampang dengan jelas di depan matanya karena seluruh rambut gadis itu kini disatukan di tangannya untuk diikat ekor kuda.
“Lho?” Runa menolehkan kepalanya pada Aiden saat pria itu mengurai kembali rambutnya. “Tidak jadi diikat?”
“Tidak usah,” sahut Aiden sambil merapikan rambut Runa, memastikan tidak ada celah sedikit pun yang membuat tengkuk gadis itu terlihat. “Diurai saja lebih bagus.”
“Tapi nanti bisa mengganggu saat belajar,” kata Runa. “Aku tidak suka mengurai rambutku saat sekolah.”
“Jadi kau selalu mengikat rambutmu saat pergi ke sekolah?” Aiden bertanya dengan nada yang terdengar marah. “Kau tidak sadar jika orang-orang bisa melihat tengkukmu jika kau mengikat rambutmu?”
“Memangnya kenapa jika tengkukku kelihatan?” tanya Runa. Namun kemudian gadis itu menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutupu lehernya saat dengan nada panik bertanya, “Apa tengkukku kotor? Apa ada daki yang mengeras dan menghitam di sana?”
“Iya. Tengkukmu kotor sekali, jadi jangan menunjukkannya pada siapapun!” kata Aiden yang sepertinya tidak peduli jika Runa benar-benar jadi khawatir karena hal tersebut sebab baginya lebih penting untuk menyembunyikan tengkuk mulus dan jenjang milik gadis itu dari semua orang.
“Sudah?”
Runa dan Aiden menolehkan kepalanya ke arah pintu saat mendengar suara Felix. Pria itu berdiri di ambang pintu bersama Andrew yang kelihatannya masih sangat mengantuk.
“Sebentar,” ujar Runa sambil berdiri. “Aku mau mandi dulu.”
“Memangnya kau belum mandi? Kenapa sudah pakai seragam? Kau bisa telat jika baru mandi jam sekarang!” Felix melangkah masuk sambil mencecar Runa dengan sederet pertanyaan. “Cepat pakai tasmu dan berangkat saja. Kau sudah cantik begitu!”
“Aku tidak menggosok leherku dengan bersih,” kata Runa.
“Memangnya lehermu kena‒”
“Jaga tanganmu!” Aiden langsung menepis tangan Felix yang terulur untuk menyibak rambut Runa karena ingin melihat lehernya. Membuat Felix mendecih melihat betapa posesifnya Aiden pada Runa.
“Apa sekarang aku tidak boleh menyentuh anakku sendiri, uh?” tanya Felix yang membuat Andrew geleng-geleng kepala. Heran mengapa Felix bisa senang dan bangga sekali dengan perannya sebagai ayah angkat Runa.
“Ayo cepat berangkat!” ajak Felix. “Kita masih harus pergi sarapan di Bibi Lily.”
“Aku biasanya pergi sekolah tanpa sarapan,” ujar Runa yang membuat Felix menatapnya dengan sedih.
“Anakku harus sarapan dengan makanan yang hangat dan segelas s**u jika mau berangkat sekolah. Bagaimana kau bisa belajar dengan baik jika tidak sarapan, uh?” ujar Felix yang membuat Runa membulatkan kedua matanya.
“Aku bisa sarapan segelas s**u sebelum berangkat sekolah? Hanya anak orang kaya yang seperti itu.”
Ucapan Runa membuat Felix jadi semakin sedih. “Tentu saja kau akan sarapan s**u setiap hari karena kau anak orang kaya sekarang! Papamu ini pengusaha sukses, lho!”
“Oh, kupikir Tuan ini mafia.”
“Aku ini pengusaha! Tertulis seperti itu di surat adopsimu!” Felix berkata dengan nada tidak senang karena Runa menyebutnya mafia. Meski dirinya memang salah satu bagian terpenting dari organisasi mafia ini, namun ia jadi sedih jika anaknya yang menyebutnya seperti itu.
“Bos tidak mau ikut sarapan di rumah Bibi Lily?” tanya Andrew yang melihat Aiden tidak bersiap untuk pergi bersama mereka.
“Aku akan tidur setelah kalian pergi,” sahut Aiden.
“Tuan Aiden tidak bisa tidur semalaman karena tidak sabar melihatku pakai seragam, tas, dan sepatu baruku,” kata Runa yang membuat Felix mendecih dengan wajah menghina.
“Mengapa kau bersikap bodoh seperti itu padahal Runa yang akan sekolah biasa saja,” ejek Felix.
“Aku juga tidak bisa tidur. Aku dan Tuan Aiden sama-sama tidak bisa tidur karena tidak sabar menunggu pagi,” ucap Runa yang ingin membela Aiden karena tidak suka mendengar Felix menyebut pria itu bersikap kekanakan.
“Kalau putriku yang begitu tidak apa-apa. Kau kan masih kecil, jadi lucu-lucu saja bersikap begitu. Kalau orang yang sudah tua juga bersikap begitu kan jadi menyedihkan seka‒”
“Pergi sana!” usir Aiden sambil menendang p****t Felix. Tidak keras, namun cukup untuk membuat pria itu menjerit keras sekali. Ia lalu menatap Runa dan berkata, “Hubungi aku jika kau akan pulang.”
“Tuan akan menjemputku?” Runa bertanya penuh harap.
“Aku akan pulang sebelum kau pulang,” ujar Aiden yang membuat Runa jadi agak kecewa. “Belajarlah dengan baik. Jangan berteman dengan anak laki-laki mana pun dan jika ada anak yang mengganggumu, tanyakan saja namanya. Aku akan mengurusnya nanti.”
“Aku bisa mengurusnya sendiri,” kata Runa yang tidak ingin membayangkan jika sampai Aiden mengurus anak SMA yang mengganggunya dengan cara seorang mafia.
“Kau punya Papa, jadi adukan saja pada papamu ini jika ada yang nakal.” Felix tidak mau kalah dari Aiden karena merasa jika perannya sebagai ayah angkat Runa itu jauh lebih penting.
“Kau punya pengawal,” kata Andrew yang membuat Runa menoleh padanya. “Tapi kau sudah punya suami dan papa yang menjagamu, jadi tolong pecat saja pengawal yang tidak berguna ini agar aku bisa kembali ke kamarku dan melanjutkan tidurku, uh.”
“Suami apa, hah? Bagaimana bisa gadis yang pakai seragam seperti ini dibilang sudah punya suami? Jaga bicaramu!” Felix menyahuti ucapan Andrew dengan nada tidak terima sementara Runa yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Sepertinya ia harus melewatkan sarapannya karena jika Felix dan Andrew sudah adu mulut tidak akan bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
Sementara itu, Aiden diam-diam memperhatikan Runa. Gadis itu terlihat berbeda sekali saat memakai seragam sekolah lengkap dengan tasnya yang berwarna merah muda dan sepatu barunya yang mengkilap.
Runa terlihat sangat cantik, namun di saat yang bersamaan juga membuat hati Aiden merasa gelisah.
Karena Runa yang berdiri di hadapannya dengan mengenakan seragam SMA ini membuatnya merasa jika perbedaan antara dirinya dan gadis itu jadi semakin besar. Seorang ketua mafia dan gadis SMA yang masih begitu belia. Itu terdengar sangat tidak cocok dan membuat Aiden jadi sedih memikirkan betapa tidak cocoknya statusnya dan Runa padahal ia ingin berada di sisi gadis itu sebagai pasangannya.
Dan seperti bagaimana dirinya selalu bersikap labil dan berubah-ubah pikiran mengenai hal ini, pagi ini pun Aiden kembali berubah pikiran. Runa sudah melangkah keluar dari apartemennya bersama Andrew dan Felix saat apa yang Aiden ucapkan membuat mereka bertiga langsung berhenti melangkah dan menoleh dengan terkejut pada Aiden.
“Bagaimana jika kau tidak usah sekolah saja? Aku juga tidak lulus SMA dan bukan masalah besar. Lagipula aku akan terus bertanggungjawab pada hidupmu, jadi kau tidak perlu bersusah payah untuk sekolah lagi.”
**To Be Continued**