“Dia bahkan tidak bisa membuat keputusan dengan yakin, kenapa sudah sibuk memikirkan pernikahan? Dia terus mengubah-ubah keputusannya setiap hari seperti anak muda yang labil padahal usianya sudah setua itu!”
Runa hanya bisa cemberut mendengar Felix yang terus mengomel di sebelahnya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju sekolah‒melewatkan rencana untuk sarapan di rumah Bibi Lily karena perdebatan tidak penting Andrew dan Felix membuat Runa hampir terlambat.
Felix yang duduk di kursi belakang bersama Runa masih terus mengomel sementara Andrew yang menyetir bertampang cemberut. Masih kesal karena dipaksa bangun pagi untuk melakukan tugasnya sebagai pengawal pribadi Runa.
“Dengar, ya. Terserah Aiden mau berubah pikiran berapa kali atau kau juga ingin menikah dengan orang itu, jika kau belum lulus sekolah Papa tidak akan pernah memberi restu! Kau harus lulus sekolah lalu Papa akan menguliahkanmu di luar negeri. Kemudian kau harus jadi wanita karir yang sukses baru boleh memikirkan tentang pernikahan. Setidaknya pikirkan tentang pernikahan 10 tahun lagi!”
Andrew melirik kaca spion, dalam hati mengasihani Runa yang harus terus menengar semua omelan Felix dari sebelah pria itu karena dirinya saja yang mendengarnya dari depan sudah merasa sangat kesal dan ingin sekali membungkam mulut Felix dengan tinjunya jika tidak ingat dirinya bukan lagi mafia yang boleh bersikap kasar dengan mudahnya sekarang.
“Kenapa kau diam saja, uh? Kau tidak dengar apa kata papamu?” Felix meninggikan suaranya dan itu membuat Runa menatapnya dengan kesal.
“Papa, papa! Kenapa sih Tuan terus mengucapkan kata itu berulang-ulang? Itu membuatku merinding!” ketus Runa.
“Apanya yang merinding? Kau harusnya bangga papamu tampan dan mapan seperti ini!”
“Aku tidak bisa berhenti mengingat papaku jika Tuan terus menyebut papa-papa seperti itu terus! Aku tidak ingin mengingatnya lagi!”
Perkataan Runa membuat Felix terdiam dan seketika wajahnya langsung berubah muram saat teringat cerita Runa tentang papanya. Tentang pria biadab yang menjual anaknya sendiri ke rumah bordil demi 5 botol bir.
“Kalau begitu Daddy,” kata Felix. “Kita pakai gaya Amerika saja, uh. Panggil aku Daddy saja.”
Runa mendengus kesal sambil mengalihkan tatapannya ke depan. Pada Andrew yang meski kelihatan fokus mengemudi tapi tidak melewatkan setiap perdebatan Runa dan Felix‒menunggu Felix mengatakan sesuatu yang aneh untuk dilaporkan pada Aiden agar pria itu menghukumnya.
“Apa masih jauh, Tuan?” tanya Runa yang meski tidak suka pergi ke sekolah tapi rasanya ingin cepat-cepat sampai agar bisa segera terbebas dari Felix.
“Sudah dekat, sih. Tapi jika kau ingin aku menendangnya keluar sekarang juga aku bisa melakukannya,” ujar Andrew yang membuat Felix mendelik padanya. Namun Felix mengabaikannya dan justru bertanya, “Lalu apanya yang Daddy, uh? Kau ingin Aiden menggorokmu berani menyuruh Runa memanggilmu Daddy?”
“Memangnya kenapa? Runa sudah punya papa, jadi dia akan memanggilku Daddy,” ujar Felix. Ia lalu menatap Runa dan bertanya, “Kau suka gaya Amerika, kan? Daddy? Coba panggil aku Daddy!”
Runa hanya menghela napas panjang dan memilih untuk melemparkan pandangannya ke luar jendela. Ini masih pagi dan ia tidak ingin menghabiskan semua energinya hanya untuk meladeni Felix.
“Anakku benar-benar sudah besar. Tiba-tiba saja dia sudah sebesar ini dan pergi ke sekolah.” Felix berkata dengan rasa haru yang memenuhi dadanyasaat melihat Runa berjalan memasuki gerbang sekolah yang membuat Andrew menatapnya dengan kerutan di dahinya. Heran karena Felix bisa mendalami perannya sampai seperti ini.
“Lho, kau mau ke mana?” tanya Felix saat Andrew kembali mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah.
“Mau sarapan,” sahut Andrew.
“Di mana? Bukannya harusnya kau berjaga di sini sampai Runa pulang sekolah?”
“Memangnya kau pikir aku tidak punya pekerjaan sampai haru begitu?”
“Itu pekerjaanmu, bosoh! Kau harusnya menjaga Runa!”
“Ada orang lain yang menggantikan shift-ku saat di sekolah,” ujar Andrew yang membuat Felix menatapnya bingung. “Dia akan menjaga Runa saat di sekolah, jadi kau tidak perlu khawatir!”
Felix kelihatan berpikir sejenak sebelum kedua matanya melebar. “Bukan Harvie, kan? Bukan anak nakal itu yang akan menjaga putri kesayanganku saat di sekolah, kan?”
***
“Padahal belum lama hari Senin kenapa sekarang sudah Senin lagi?”
Ini Senin pagi dan saat murid lain sedang menyiapkan buku untuk memulai pelajaran karena bel sudah berbunyi, pemuda itu justru menyiapkan buku-bukunya untuk dijadikan bantal.
“Kenapa kau datang ke sekolah jika tidak ingin belajar, uh?” tanya seorang temannya, yang meski kelihatan pintar karena pakai kacamata namun sama saja bodohnya dengan Harvie.
“Aku tidak datang untuk belajar, tuh. Aku bekarja,” sahut Harvie sambil menguap lebar. “Aku akan tidur sebentar untuk mengumpulkan energi. Anak itu pasti akan sangat merepotkanku nanti.”
Harvie meletakkan kepalanya di atas bukunya yang terbuka. Anak itu selalu mengeluh insomnia di malam hari padahal hanya bermain game sepanjang malam tapi bisa langsung tidur hanya beberapa detik setelah meletakkan kepalanya di atas buku pelajarannya. Langsung tidur dengan nyenyak meski ruangan itu ramai sekali.
“Berdiri! Beri salam!”
Ketua kelas memberi aba-aba yang membuat semua murid langsung berdiri saat wali kelas mereka berjalan masuk dengan Runa yang mengekor di belakangnya. Membuat beberapa murid saling berbisik-bisik saat melihat kehadiran Runa.
“Hah~ Padahal masih pagi kenapa anak itu sudah tidur?” keluh Bu Guru saat melihat Harvie yang saking nyenyaknya tidur sampai membuka mulutnya yang membuat buku pelajarannya basah oleh air liurnya yang sangat banyak.
“Tidak usah dibangunkan,” kata Bu Guru saat teman Harvie mengulurkan tangannya untuk membangunkan pemuda itu. “Dia hanya akan mengganggu saja jika bangun atau malah kabur lagi nanti. Biarkan dia tidur saja. Aku akan menghukumnya saat dia bangun nanti.”
Bu Guru lalu beralih pada Runa. “Nah, silakan perkenalkan dirimu.”
Runa menatap teman-teman sekelasnya dengan gugup. Meski semua anak di kelas ini menatapnya dengan cara yang kelihatan bersahabat, Runa yang biasa direndahkan dan dimusuhi di sekolag lamanya jadi merasa takut.
“A-aku...” Runa berhenti sejenak, berusaha meyakinkan dirinya jika semua yang ada di kelas ini adalah anak-anak baik yang jauh berbeda dengan teman-teman di sekolah lamanya. Sekarang ia juga bukan anak seorang preman lagi, ia punya daddy seorang pengusaha kaya yang tidak akan membuatnya dimusuhi karena latar belakang keluarganya lagi.
“Namaku Runa. Kuharap kita semua bisa berteman dengan baik,” kata Runa yang tidak tahu harus bagaimana untuk memperkenalkan dirinya di depan teman-teman barunya.
“Masih beberapa bulan lagi sampai kalian lulus dan kalian akan terus bersama sampai lulus nanti. Karena itu bertemanlah dengan baik dan jangan bertengkar,” pesan Bu Guru. Ia lalu mencari bangku yang kosong untuk Runa namun satu-satunya bangku yang kosong adalah bangku di belakang di sebelah Harvie yang terkenal sebagai tempat berkumpulnya anak-anak nakal dan pemalas.
“Aku tidak bisa membiarkan anak ini duduk di sana,” gumam Bu Guru. Ia lalu menunjuk seorang anak laki-laki di bangku tengah. “Kau pindahlah ke sebelah Harvie. Runa akan duduk di tempatmu mulai sekarang.”
“Aku di belakang saja tidak apa-apa,” ujar Runa yang khawatir jika dirinya akan dibenci karena baru masuk ke kelas ini tapi sudah membuat seseorang terusir dari bangkunya.
“Tidak apa-apa, pakai saja bangkuku. Aku lebih suka duduk di belakang,” kata siswa itu sambil membereskan barang-barangnya.
“Aku tetap bisa mengawasimu meski kau duduk di belakang. Jadi jangan sampai‒”
“Kyaaa!”
Ucapan Bu Guru terpotong saat terdengar suara teriakan yang membuat seluruh kelas refleks menolehkan kepala mereka ke belakang. Ke arah Harvie yang terbangun dari tidurnya sambil menjerit.
“Oh, Tuan Muda sudah bangun. Apa tadi mimpi buruk?” tanya Bu Guru yang membuat beberapa murid terkekeh pelan.
“Aku mimpi ada monster yang tiba-tiba...” Ucapan Harvie terhenti begitu saja dan seolah jiwanya tiba-tiba ditarik keluar dari tubuhnya, Harvie langsung tertegun menatap Runa yang saat ini menatapnya dengan wajah jijik dari depan kelas.
Ini bukan pertama kalinya Harvie melihat Runa, namun ini pertama kalinya ada seorang gadis yang membuatnya terpesona hingga tidak bisa berkata-kata seperti ini.
Biasanya Harvie selalu melihat Runa pakai baju-baju yang cantik saat mereka bertemu dan itu membuat gadis itu terasa berasal dari dunia yang berbeda dengannya. Namun kini, dengan seragam sekolah yang sama dengannya, Harvie seperti melihat sosok Runa yang baru.
Tubuh mungilnya yang kelihatan manis dengan setelan seragam blazer dan rok kotak-kotak berwarna coklat yang dipadu dengan dasi pita warna merah. Gadis itu tidak memoleskan riasan apapun di wajahnya, namun kulitnya yang putih terlihat bersinar dengan bibir mungilnya yang sewarna ceri dan kedua pipinya yang dihiasi semburat merah muda tipis. Rambut panjangnya yang kecoklatan dan dibiarkan terurai membuat penampilan gadis itu semakin terlihat manis.
Harvie tidak yakin apa memang Runa selalu seperti ini atau tidak, tapi sepertinya gadis itu terlihat sangat indah di kedua mata Harvie yang berpikir jika seragam sekolah mereka sangat cocok untuk gadis itu.
“Harvie!”
Harvie tidak sadar sejak kapan mulutnya terbuka, namun ia buru-buru mengatupkannya saat Bu Guru memanggilnya sambil menepuk-nepuk tangannya untuk mendapatkan perhatiannya yang jadi terlalu terpesona dengan sosok Runa.
“Bawa mejamu ke luar dan berdiri di koridor sampai jam pelajaran pertama berakhir!” perintah Bu Guru yang membuat Harvie menatapnya dengan wajah memelas.
“Aku izin ke toilet dulu ya, Bu Guru. Mau cuci muka,” izin Harvie.
“Kau mau cuci muka di toilet mana, uh? Toilet warung internet? Cepat keluar saja! Jangan coba-coba kabur!”
Harvie menghela napas panjang, namun tetap menjalankan hukumannya dengan membawa mejanya ke luar bersamaan dengan Runa yang berjalan menuju bangkunya.
“Ewh. Air liurmu banyak sekali,” bisik Runa saat berpapasan dengan Harvie yang berjalan dengan mengangkat meja di atas kepalanya.
“Kenapa? Kau mau minta?” tanya Harvie sambil memajukan wajahnya ke arah Runa yang langsung membuat gadis itu menjerit jijik.
“Harvie!” Bu Guru memelototi Harvie. “Jangan ganggu murid baru!”
“Tidak akan kuganggu, kok,” kata Harvie. Ia
Harvie sudah berdiri di ambang pintu saat menolehkan kepalanya pada Runa kemudian dengan nada menggoda yang mengundang sorakan dari penjuru kelas ia berkata, “Malah akan kujaga dengan sepenuh hati. Karena mulai sekarang dia milikku, aku akan menghajar siapapun yang berani macam-macam dengannya.”
**To Be Continued**